LOGINOlivia merasakan ketegangan yang luar biasa sejak dirinya melangkah masuk ke dalam sebuah ruangan yang memiliki dua buah daun pintu itu.
Udara dingin seolah menyambut kehadirannya di sana. Mendengar suara berat seorang pria yang duduk di dalam ruangan itu membuat sekujur tubuhnya bergidik.
Kepalanya tertunduk. Olivia sama sekali tidak punya keberanian untuk mengangkat wajahnya menatap sosok pria di hadapannya.
Josh pergi meninggalkan mereka di ruangan itu atas perintah. Kini hanya ada mereka berdua di dalam ruangan tersebut. Olivia dan Aaron Kendrick.
Keheningan berlangsung cukup lama setelah kepergian Josh, sampai-sampai Olivia bisa mendengar suara nafasnya sendiri. Kepalanya masih tertunduk menatap lantai granit kilap yang nyaris memantulkan bayangan dirinya dengan jelas.
"Angkat wajahmu."
Ucapan Aaron barusan memecah keheningan, membuat Olivia terkesiap. Jantungnya nyaris melompat keluar saat mendengar suara berat pria itu.
Nada bicara Aaron terdengar pelan, namun kuat seperti sebuah perintah mutlak. Tapi ketakutan dalam diri Olivia jauh lebih besar. Ia sama sekali tidak mengikuti ucapan Aaron.
"Apa kau tidak diajarkan sopan santun oleh keluargamu?"
Kalimat yang baru saja dilontarkan Aaron seperti ribuan pisau yang menghujam dadanya. Menyakitkan. Apalagi ketika pria itu menyinggung keluarganya.
Tanpa sadar kedua tangan Olivia mengepal kuat. Buku-buku tangannya memutih menahan amarah yang berkecamuk dalam dirinya.
Perlahan dengan seluruh keberaniannya Olivia akhirnya mengangkat wajah. Ia tidak terima jika keluarganya dituduh tidak mengajarkan sopan santun padanya. Harga dirinya terasa dilukai.
Untuk pertama kalinya Olivia melihat secara langsung dan jelas rupa Tuan Muda keluarga Kendrick yang belakangan sering menjadi perbincangan orang-orang di sekitarnya.
Sosoknya berbeda dengan apa yang dikatakan orang-orang di luar sana. Penampilannya berantakan dengan janggut lebat di sekitar rahangnya. Bahkan wajahnya terlihat jauh lebih tua dari usianya yang sesungguhnya.
Itu yang didengar oleh Olivia tentang Aaron Kendrick selama ini. Namun semua itu salah.
Pria yang tengah duduk di balik sebuah meja kayu berkualitas baik itu memiliki wajah yang rupawan, meski terlihat pucat. Hidungnya tinggi dengan garis wajah yang tegas.
Meskipun begitu, kegelapan yang terpancar dari sepasang mata bermanik kecoklatan itu membuat sekujur tubuh Olivia membeku.
Jika tatapan matanya punya kekuatan, mungkin Olivia sudah terkapar di atas lantai granit tidak hanya mengkilap tapi juga dingin itu.
***
Cara Olivia Rose menatapnya saat itu jelas bukan sesuatu yang membuat Aaron senang. Tatapan mata wanita itu menyiratkan ketakutan dan kebencian terhadapnya.
Suasana hati Aaron seketika berubah buruk malam itu.
"Kenapa kau menatapku seperti itu? Apa aku terlihat seperti monster?" sergah Aaron dingin, juga tajam di sela keheningan.
Olivia diam-diam menelan ludah, lalu menggelengkan kepala. "Maaf, aku tidak bermaksud seperti itu."
Aaron menarik nafas panjang dan mengembuskannya perlahan. "Mendekatlah. Aku risih jika harus berbicara dengan jarak sejauh itu."
Jarak Olivia jauh lebih dekat dengan pintu ketimbang jaraknya dengan meja Aaron, seolah dirinya siap untuk membalikkan badan dan keluar dari sana.
Dengan sisa keberanian yang dimilikinya, Olivia maju beberapa langkah. Kini dirinya berada lebih dekat dengan meja kerja Aaron.
"Apa," Olivia masih berdiri di tempatnya. Tatapan matanya lurus ke arah Aaron yang saat itu juga tengah memperhatikannya. "Yang ingin Anda lakukan?"
Kening Aaron mengernyit mendengar pertanyaan Olivia barusan. Apa yang salah jika dia meminta gadis itu untuk mendekat?
"Menurutmu, apa yang ingin kulakukan?" Alih-alih menjawab, ia justru bertanya balik pada wanita itu.
"Membunuhku." gumam Olivia. Tatapan matanya berubah, tampak seperti sebuah perlawanan. "Kau ingin membunuhku. Itu yang ingin kau lakukan."
Nafas Aaron terhenti selama beberapa detik.
Bagaimana bisa gadis itu berpikir seperti tiu? Apa penampilannya sekarang terlihat seperti seorang pembunuh? Atau semacamnya? Bahkan tidak ada satu pun benda tajam di atas meja kerjanya sekarang.
Aaron tergelak hambar. "Kalau aku memang ingin membunuhmu, aku sudah melakukannya sejak jauh-jauh hari. Tanpa sepengetahuanmu."
Tuduhan Olivia barusan sudah membuat suasana hati Aaron semakin buruk.
Aaron memutar bangku dengan sandaran tinggi itu menghadap ke arah jendela besar di belakangnya. Sepertinya membawa gadis ini ke mansionnya bukan hal yang tepat. Ia sama sekali tidak berniat melanjutkan pembicaraan mereka.
"Sudahlah, kau boleh pergi sekarang." gumam Aaron yang kini duduk memunggungi Olivia.
Sontak kedua alis Olivia terangkat. Ketegangan yang sejak tadi terukir di wajahnya pun melunak. Aaron dapat melihatnya dari pantulan kaca jendela besar di hadapannya. "Minta Josh untuk mengantarmu ke ruanganmu."
Tidak ada jawaban selama beberapa saat, sebelum akhirnya Aaron mendengar suara derap kaki yang melangkah begitu terburu-buru. Tak lama kemudian, terdengar suara pintu ruangannya yang terbuka, lalu tertutup kembali.
Wanita yang semula dapat dilihatnya dari pantulan kaca di hadapannya, kini sudah pergi meninggalkannya, menyisakan perasaan aneh yang berkecamuk dalam hatinya.
Aaron mendesah keras sesaat setelah kepergian Olivia.
Olivia Rose membencinya.
Darahnya berdesir hingga membuat wajahnya memerah. Kilatan matanya memancarkan kebencian yang mengerikan."Si brengsek itu memang sudah sepantasnya mati!" desisnya tajam. "Seharusnya aku menghabisinya dengan tanganku sendiri waktu itu."Kalau saja Aaron tahu lebih awal tentang apa yang sudah dilakukan Jack terhadap Olivia, kakak tiri Olivia itu pasti sudah kehilangan nyawanya lebih cepat. Tidak perlu menunggu hingga Aaron berhasil membawa Olivia masuk ke mansionnya.Olivia meraih tangan Aaron yang mengepal tegang, lalu menggenggamnya. "Untuk apa mengotori tanganmu sendiri untuk orang sepertinya?""Karena dia sudah berani bersikap kurang ajar padamu, Liv!" sahut Aaron tidak terima. "Berani-beraninya dia mencoba menyentuhmu."Giginya bergemeretak melihat kemarahan yang terlukis jelas di wajah Aaron saat itu. Kepalanya sedikit tertunduk karena takut."Liv, lihat aku."Aaron tiba-tiba menggenggam kedua lengannya erat. Olivia langsung menurut dan mengangkat kepala dengan ragu. "Dengar," uc
Sudut matanya memanas menatap Aaron yang membatu di hadapannya.Bayang-bayang masa kelam yang pernah dialaminya dulu kembali berputar di benaknya saat melihat sikap Aaron tadi. Sorot matanya yang liar tadi berhasil membuat sekujur tubuhnya bergetar hebat.Aaron mengulurkan tangan, hendak menyentuhnya. Namun dengan spontan Olivia langsung bergerak menjauh."M-maafkan aku,"Sorot mata Aaron sudah kembali normal dan melunak. Rasa bersalah yang besar terpancar jelas di sana. Meskipun begitu, bayangan sosok yang mengerikan itu sudah terlanjur muncul di benaknya dan membuat Olivia merasa ngeri, juga ketakutan.Keheningan seketika menyelimuti ruangan tersebut, membuat suasana mendadak terasa menyesakkan. Aaron, maupun Olivia, keduanya hanya terdiam mematung di posisi masing-masing.aMereka bergeming cukup lama, seakan larut dengan pikiran masing-masing. Namun pada akhirnya, Aaron kembali membuka suara.Melihat ketakutan di wajah Olivia mulai samar, ia pun memberanikan diri untuk mendekatinya
🔞-----Sekeras apa pun Olivia berusaha mendorongnya menjauh, pada akhirnya usahanya itu hanya akan berakhir sia-sia dengan tenaga yang ikut terkuras habis.Tenaga Aaron jauh lebih besar darinya. Lengannya melingkar di pinggang Olivia, mengunci pergerakan tubuhnya. Sebelah tangannya berada di tengkuk lehernya, menahan kepalanya agar tidak bisa menjauh.Kalau Aaron tidak berhenti saat itu juga, mungkin Olivia akan pingsan karena kehabisan nafas.Nafas keduanya terengah-engah. Ciuman itu begitu intens. Lumatannya sangat mendominasi dan penuh dengan tuntutan.Bibir mungil di hadapannya tampak kemerahan dan sedikit membengkak. Sejujurnya Aaron masih belum puas. Ia masih ingin menikmatinya. Tapi nafasnya hampir habis. Ia pun terpaksa berhenti."Kau sudah gila!" seru Olivia marah. "Apa kau berniat membunuhku?"Aaron tergelak. Melihat Olivia yang marah seperti sekarang justru membuatnya seakan tengah melihat seekor kucing yang mengamuk karena makanannya diambil. Tidak menakutkan sama sekali
Aaron menunduk untuk menatap istrinya. Bayangan pepohonan yang menghalangi sinar matahari jatuh menutupi sebagian wajahnya di tengah langkah mereka menyusuri jalan tanah."Katakan saja," kata Aaron tenang.Belum bertanya saja, jantungnya sudah berdegup sangat keras. Bukan karena rasa takut, juga bukan karena rasa gugup. Olivia semakin tidak mengerti dengan tubuhnya sendiri akhir-akhir ini."Greg bilang padaku, kau memintanya untuk merawat taman bunga peony karena kau ingin mempersembahkannya pada seseorang."Aaron menoleh sekilas dengan alis terangkat, lalu kembali menatap depan. "Hm-mm," sahutnya berdeham."Siapa?" Olivia sendiri tidak tahu kenapa saat itu ia bisa begitu berani dan lancang, seakan tidak ada batasan apa pun antara dirinya dan Aaron sekarang."Sejak tadi kau menanyakan hal yang hampir serupa, Nyonya Kendrick." ujar Aaron tanpa menoleh ke arahnya."Karena sejak tadi kau juga tidak menjawab pertanyaanku." tukas Olivia agak sebal.Aaron tergelak pendek. Tapi tawa ringanny
Tempat tinggal Greg dan istrinya bersih dan tertata sangat rapi. Tidak banyak barang yang mereka miliki, semuanya tampak sangat sederhana.Ketika Olivia membantunya di dapur, Welly mengeluh. "Kau tidak seharusnya ikut bekerja di dapur seperti sekarang, Olivia."Sejak Olivia meminta mereka untuk memanggilnya hanya dengan nama saja, Greg dan Welly jadi berbicara lebih santai dengannya. Rasa canggung dan segan yang dirasakan Olivia pun hilang. Ia merasa jauh lebih nyaman, seperti tengah bersama keluarganya sendiri.Aaron dan Greg duduk di meja makan sambil bercengkerama. Sesekali terdengar suara Greg yang tertawa cukup keras."Dia itu benar-benar! Ketawanya tidak bisa berubah sama sekali, selalu sangat keras!" omel Welly lagi. Dan Olivia hanya terkekeh mendengarnya.Greg dan Welly memiliki dua orang anak yang keduanya sudah berusia dewasa. Anak pertamanya, laki-laki, adalah seorang koki yang bekerja di sebuah restoran. Dan anak bungsunya, perempuan, adalah seorang dokter di sebuah rumah
Villa itu tidak besar dan luas seperti mansion keluarga Kendrick. Ukuran dan penampilannya jauh lebih sederhana, namun desainnya tidak lepas dari kesan modern.Bangunan batu dua lantai yang berdiri di tepi tebing itu didominasi oleh warna putih dan abu-abu. Luasnya cocok untuk sebuah keluarga kecil yang terdiri dari satu ayah, satu ibu dan satu anak.Ruang duduknya tidak terlalu luas, namun juga tidak terkesan sempit. Ada sebuah sofa berlengan dan dua buah sofa tunggal berwarna senada di sana. Dan dapurnya sangat minimalis dengan sebuah meja batu yang bisa digunakan hingga enam orang.Beberapa sisi ruangan dibatasi oleh pintu kaca, sehingga cahaya matahari dari luar dapat masuk dan membanjiri setiap ruangan.Olivia berdiri di tepi salah satu pintu kaca yang menghadap langsung ke arah laut lepas. Dari tempatnya berdiri, ia dapat melihat dengan jelas hamparan laut luas di bawah sana. Pemandangan yang cukup memukau untuknya.Suara deru ombak yang bergulung dan menghantam karang seakan me
Aaron tidak pernah berpikir jika Olivia akan merasa sangat takut dan benci padanya. Padahal pikiran untuk menyakiti gadis itu tidak pernah terbersit di pikirannya, sama sekali."Banyak rumor buruk tentang Anda yang beredar di luar sana." jelas Josh.Setelah mengantar Olivia ke kamarnya, Josh kembal
Pintu tinggi yang terbuat dari kayu terbaik di hadapannya dibuka oleh Josh. Sebuah pemandangan yang tidak pernah dibayangkan oleh Olivia sebelumnya menyambut kehadirannya."Ini kamarmu, Olivia." kata Josh seraya mempersilakannya untuk masuk.Dengan langkah ragu, Olivia masuk ke dalam ruangan yang c
Sebuah mobil sedah mewah berwarna hitam sudah berdiri di luar pagar.Raut puas yang terukir di wajah Katrin dan Jack membuat hatinya terasa perih. Ia tidak menyangka jika Katrin akan menggunakan ayahnya untuk mendapatkan apa yang diinginkannya.Olivia menarik nafas panjang dan mengembuskannya perla
"Tidak ada yang gratis di dunia ini."Kalimat Aaron kemarin malam masih mengiang di telinga Olivia hingga pagi ini.Setelah mengatakan hal itu, Aaron langsung keluar dari kamarnya dan tidak kembali lagi. Para pelayan-lah yang datang membereskan sisa piring kotor di kamarnya.Pagi ini hanya ada Oliv







