Share

Bab 5

Author: Author Lee
last update publish date: 2026-04-25 17:37:24

Olivia merasakan ketegangan yang luar biasa sejak dirinya melangkah masuk ke dalam sebuah ruangan yang memiliki dua buah daun pintu itu.

Udara dingin seolah menyambut kehadirannya di sana. Mendengar suara berat seorang pria yang duduk di dalam ruangan itu membuat sekujur tubuhnya bergidik.

Kepalanya tertunduk. Olivia sama sekali tidak punya keberanian untuk mengangkat wajahnya menatap sosok pria di hadapannya.

Josh pergi meninggalkan mereka di ruangan itu atas perintah. Kini hanya ada mereka berdua di dalam ruangan tersebut. Olivia dan Aaron Kendrick.

Keheningan berlangsung cukup lama setelah kepergian Josh, sampai-sampai Olivia bisa mendengar suara nafasnya sendiri. Kepalanya masih tertunduk menatap lantai granit kilap yang nyaris memantulkan bayangan dirinya dengan jelas.

"Angkat wajahmu."

Ucapan Aaron barusan memecah keheningan, membuat Olivia terkesiap. Jantungnya nyaris melompat keluar saat mendengar suara berat pria itu.

Nada bicara Aaron terdengar pelan, namun kuat seperti sebuah perintah mutlak. Tapi ketakutan dalam diri Olivia jauh lebih besar. Ia sama sekali tidak mengikuti ucapan Aaron.

"Apa kau tidak diajarkan sopan santun oleh keluargamu?"

Kalimat yang baru saja dilontarkan Aaron seperti ribuan pisau yang menghujam dadanya. Menyakitkan. Apalagi ketika pria itu menyinggung keluarganya.

Tanpa sadar kedua tangan Olivia mengepal kuat. Buku-buku tangannya memutih menahan amarah yang berkecamuk dalam dirinya.

Perlahan dengan seluruh keberaniannya Olivia akhirnya mengangkat wajah. Ia tidak terima jika keluarganya dituduh tidak mengajarkan sopan santun padanya. Harga dirinya terasa dilukai.

Untuk pertama kalinya Olivia melihat secara langsung dan jelas rupa Tuan Muda keluarga Kendrick yang belakangan sering menjadi perbincangan orang-orang di sekitarnya. 

Sosoknya berbeda dengan apa yang dikatakan orang-orang di luar sana. Penampilannya berantakan dengan janggut lebat di sekitar rahangnya. Bahkan wajahnya terlihat jauh lebih tua dari usianya yang sesungguhnya.

Itu yang didengar oleh Olivia tentang Aaron Kendrick selama ini. Namun semua itu salah.

Pria yang tengah duduk di balik sebuah meja kayu berkualitas baik itu memiliki wajah yang rupawan, meski terlihat pucat. Hidungnya tinggi dengan garis wajah yang tegas.

Meskipun begitu, kegelapan yang terpancar dari sepasang mata bermanik kecoklatan itu membuat sekujur tubuh Olivia membeku.

Jika tatapan matanya punya kekuatan, mungkin Olivia sudah terkapar di atas lantai granit tidak hanya mengkilap tapi juga dingin itu.

***

Cara Olivia Rose menatapnya saat itu jelas bukan sesuatu yang membuat Aaron senang. Tatapan mata wanita itu menyiratkan ketakutan dan kebencian terhadapnya.

Suasana hati Aaron seketika berubah buruk malam itu.

"Kenapa kau menatapku seperti itu? Apa aku terlihat seperti monster?" sergah Aaron dingin, juga tajam di sela keheningan.

Olivia diam-diam menelan ludah, lalu menggelengkan kepala. "Maaf, aku tidak bermaksud seperti itu."

Aaron menarik nafas panjang dan mengembuskannya perlahan. "Mendekatlah. Aku risih jika harus berbicara dengan jarak sejauh itu."

Jarak Olivia jauh lebih dekat dengan pintu ketimbang jaraknya dengan meja Aaron, seolah dirinya siap untuk membalikkan badan dan keluar dari sana.

Dengan sisa keberanian yang dimilikinya, Olivia maju beberapa langkah. Kini dirinya berada lebih dekat dengan meja kerja Aaron.

"Apa," Olivia masih berdiri di tempatnya. Tatapan matanya lurus ke arah Aaron yang saat itu juga tengah memperhatikannya. "Yang ingin Anda lakukan?"

Kening Aaron mengernyit mendengar pertanyaan Olivia barusan. Apa yang salah jika dia meminta gadis itu untuk mendekat?

"Menurutmu, apa yang ingin kulakukan?" Alih-alih menjawab, ia justru bertanya balik pada wanita itu.

"Membunuhku." gumam Olivia. Tatapan matanya berubah, tampak seperti sebuah perlawanan. "Kau ingin membunuhku. Itu yang ingin kau lakukan."

Nafas Aaron terhenti selama beberapa detik.

Bagaimana bisa gadis itu berpikir seperti tiu? Apa penampilannya sekarang terlihat seperti seorang pembunuh? Atau semacamnya? Bahkan tidak ada satu pun benda tajam di atas meja kerjanya sekarang.

Aaron tergelak hambar. "Kalau aku memang ingin membunuhmu, aku sudah melakukannya sejak jauh-jauh hari. Tanpa sepengetahuanmu."

Tuduhan Olivia barusan sudah membuat suasana hati Aaron semakin buruk.

Aaron memutar bangku dengan sandaran tinggi itu menghadap ke arah jendela besar di belakangnya. Sepertinya membawa gadis ini ke mansionnya bukan hal yang tepat. Ia sama sekali tidak berniat melanjutkan pembicaraan mereka.

"Sudahlah, kau boleh pergi sekarang." gumam Aaron yang kini duduk memunggungi Olivia.

Sontak kedua alis Olivia terangkat. Ketegangan yang sejak tadi terukir di wajahnya pun melunak. Aaron dapat melihatnya dari pantulan kaca jendela besar di hadapannya. "Minta Josh untuk mengantarmu ke ruanganmu."

Tidak ada jawaban selama beberapa saat, sebelum akhirnya Aaron mendengar suara derap kaki yang melangkah begitu terburu-buru. Tak lama kemudian, terdengar suara pintu ruangannya yang terbuka, lalu tertutup kembali.

Wanita yang semula dapat dilihatnya dari pantulan kaca di hadapannya, kini sudah pergi meninggalkannya, menyisakan perasaan aneh yang berkecamuk dalam hatinya.

Aaron mendesah keras sesaat setelah kepergian Olivia.

Olivia Rose membencinya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Obsesi Sang Pewaris Tunggal   Bab 22

    Aaron sedang berbaring di atas tempat tidurnya ketika Olivia masuk ke dalam kamarnya.Mulanya ia merasa ragu. Tapi kemudian ia memutuskan untuk berjalan mendekat ke arah ranjang berukuran cukup luas itu.Wajah pria itu tampak pucat. Aaron sama sekali tidak bergerak saat Olivia mendekatinya.Bibir tipisnya mengatup rapat. Kedua matanya terpejam. Selimut tebal menutupi tubuhnya hingga setinggi dada.Olivia berdiri di tepi ranjang dengan tatapan melekat ke arah pria yang tengah berbaring itu. Melihatnya tidak sedikit pun bergerak membuat Olivia agak was-was.Apa pria ini sungguh baik-baik saja? Atau dia hanya sedang tidur dan tidak menyadari kehadiran Olivia di kamarnya sama sekali?Rasa khawatir mulai menjalar di pikiran Olivia. Pikiran negatif semakin bermunculan di benaknya.Bagaimana jika ternyata pria ini tidak sadarkan diri? Atau jangan-jangan...Dengan gerakan perlahan, Olivia mengulurkan tangan mendekat ke arah wajah Aaron. Jari telunjuknya ia letakkan di dekat hidung pria itu un

  • Obsesi Sang Pewaris Tunggal   Bab 21

    Hujan turun deras di luar ketika Olivia terjaga dari tidurnya.Pagi telah tiba. Namun langit tidak terlihat cerah seperti biasanya dari balik jendela. Sesekali terdengar gemuruh petir yang mengisi kesunyian.Rasanya malas sekali untuk bangkit dari tempat tidur. Cuaca cukup sejuk pagi itu. Olivia menarik selimutnya, membiarkan dirinya terbungkus rapat dan hangat di dalam.Beberapa kali ia berusaha memejamkan mata, berharap akan tertidur kembali. Tapi kesadarannya kini sudah penuh. Karena tidak mengantuk sama sekali lagi, akhirnya ia memutuskan untuk bangkit dari atas tempat tidur.Jarum jam di atas nakas sudah menunjukkan hampir pukul delapan. Spontan Olivia melompat turun dan segera membersihkan diri di kamar mandi.Sebelum tinggal di mansion keluarga Kendrick, Olivia bangun pagi-pagi sekali setiap hari untuk memulai aktivitas.Ia harus menyiapkan sarapan untuk ayahnya, mengurus segala keperluannya sebelum berangkat ke toko bunga peninggalan mendiang ibunya.Omong-omong soal toko bung

  • Obsesi Sang Pewaris Tunggal   Bab 20

    Aaron Kendrick ingin menciumnya.Olivia baru menyadarinya setelah ia berada di kamarnya, duduk di atas tempat tidur empuknya dengan selimut tebal yang menutupi setengah tubuhnya.Mendadak wajahnya terasa memanas.Perasaan ini sangat aneh. Jantungnya berdetak kencang saat mengingat kembali apa yang ingin dilakukan Aaron tadi di ruang kerjanya.Bagaimana Aaron memangkas jarak di antara mereka, hembusan nafasnya yang menerpa kulit wajah Olivia yang putih dalam keheningan dan ketegangan.Namun kemudian, pria itu tiba-tiba menjauh dan meminta Olivia untuk keluar dari ruangannya, menganggap pembicaraan mereka sudah selesai.Sikapnya mendadak berubah dingin, dan Olivia tidak tahu apa penyebabnya.Tidak ada yang terjadi di antara mereka setelah itu.Olivia langsung berdiri, tanpa mengatakan apa pun. Lalu ia melangkah pergi dari ruang kerja Aaron, meninggalkan pria itu tanpa sedikit pun menoleh ke belakang.Kepalanya menggeleng cepat, berusaha mengusir perasaan aneh yang dirasakannya malam itu

  • Obsesi Sang Pewaris Tunggal   Bab 19

    Olivia diam selama beberapa saat menatap gaun yang diremasnya.Wajahnya kemudian terangkat dan tatapan matanya tertuju lurus ke arah pria yang duduk di seberangnya."Jadi, kau ingin aku membayar apa yang sudah kau lakukan secara sepihak?" ucap Olivia getir.Aaron membalas tatapannya, lalu mengangguk. "Rasanya kurang menyenangkan kalau kau bilang 'secara sepihak', Olivia.""Tapi memang itu kenyataannya!" Suara Olivia naik satu tingkat lebih keras. "Kau tidak meminta persetujuanku sama sekali!"Hening sejenak.Suasana di ruangan itu menjadi menegangkan dan cukup panas. Kesabaran Olivia mulai terkikis perlahan.Tiba-tiba Aaron berdiri. Pria itu melangkah ke arah Olivia. Tangan besarnya terulur ke wajah Olivia, lalu menarik dagunya dengan tegas."Katakan padaku," gumam Aaron ke arah Olivia yang kini mendongak menatapnya."Kalau ibu tiri dan kakak tirimu itu masih hidup dan sekarang mereka berdiri di hadapanmu, apa kau tidak akan melakukan hal yang sama seperti yang kulakukan?"Sorot mata

  • Obsesi Sang Pewaris Tunggal   Bab 18

    "Tidak ada yang gratis di dunia ini, Olivia Rose."Setelah mengucapkan kalimat itu lagi, Aaron langsung melangkah meninggalkan ruang tengah. Ia terlihat tidak tertarik untuk menunggu jawaban atau respon apa pun dari Olivia.Nafas Olivia terhenti seiring menghilangnya pria itu dari hadapannya.Entahlah. Setiap kali pria itu mengatakannya, dadanya berdegup kencang. Ada sesuatu yang mengusiknya setiap kali mendengar ucapan itu.Perasaannya berubah tidak enak. Entah apa yang direncanakan pria itu. Mengingat tatapannya yang dingin dan sulit ditebak membuat firasat Olivia selalu buruk.Hingga jam makan malam tiba.Seperti yang ditebak Olivia pagi tadi. Aaron duduk di sisi tengah meja makan, sementara Olivia duduk di sisi sebelah kanannya.Suasana yang hening dan dingin menyelimuti kegiatan makan malam. Hanya terdengar suara alat makan yang beradu dengan piring keramik yang tampak elegan. Amat khas dengan gaya bangsawan.Aaron tampak begitu fokus dengan hidangan makan malam di atas piringnya

  • Obsesi Sang Pewaris Tunggal   Bab 17

    Aaron dan Josh akhirnya tiba kembali di mansion tepat ketika matahari turun di arah barat.Mobil mewah yang mereka duduki berhenti tepat di depan pintu masuk utama mansion. Sebelum turun dari mobil, Aaron memanggil Josh."Ya, Tuan?" sahut Josh.Aaron berdeham pelan, lalu berkata, "Jangan ceritakan apa pun pada Olivia. Aku tidak ingin dia tahu tentang masalah kematian ayahnya."Josh menarik nafas panjang dan mengembuskannya perlahan, lalu ia mengangguk. "Baik, Tuan. Saya sebenarnya juga sudah berpikir untuk menyembunyikan hal ini dari Nona Olivia." ujar Josh jujur.Katrin dan Jack sudah berencana untuk kabur tepat setelah Aaron menyatakan bahwa ia ingin mereka menyerahkan Olivia padanya sebagai bayaran atas hutang-hutang Jack.Mereka sudah sangat yakin jika Olivia akan berakhir tragis di tangan Aaron Kendrick. Atau paling tidak, mungkin wanita itu akan menjadi budak di mansionnya.Setelah memikirkannya matang-matang, mereka pun memutuskan untuk menghabisi nyawa ayah Olivia yang tengah

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status