로그인Ketika Olivia menoleh, ia melihat senyuman getir terlukis di wajah Aaron. Seakan ada rasa senang, juga kesedihan yang tersimpan dalam sorot matanya.Menyadari ucapan suaminya yang sudah membuat suasana berubah kurang nyaman, wanita bertubuh gembul itu langsung menyikut lengan suaminya dengan kesal. Namun tampaknya si pria tua itu tidak terlalu peka dan justru kebingungan.Jika diperhatikan baik-baik, usia pria tua ini kelihatannya jauh lebih tua dari Josh. Entah karena penampilannya atau hal lain.Olivia berpikir, mungkin karena usianya yang bisa dikatakan sudah cukup berumur, pria itu jadi berbicara sesuka hatinya tanpa pikir panjang. Meskipun kelihatannya ia tidak sedikit pun ada keinginan atau kesengajaan untuk menyakiti lawan bicaranya.Aaron sendiri tampaknya tidak ingin berlama-lama di sana. Ia segera mengalihkan pembicaraan dengan memperkenalkan sepasang suami istri di hadapan mereka itu pada Olivia."Perkenalkan, ini Greg Gardner dan istrinya Welly."Suasana yang sempat tegang
Jika Olivia tahu bahwa pertanyaannya akan membuka luka lama Aaron, ia pasti tidak akan menanyakannya dan memilih untuk tidak tahu apa-apa.Meskipun tidak terlihat ekspresi apa pun di wajah pria itu. Tapi Olivia yakin jauh di lubuk hatinya, Aaron pasti merasa sangat terluka.Sayangnya nasi sudah menjadi bubur. Pertanyaan itu sudah meluncur keluar dari mulutnya, dan Olivia agak menyesalinya."Maaf, aku tidak bermaksud..." Ucapannya kemudian menggantung di udara. Olivia bingung harus mengatakan apa sekarang."Dulu setiap aku berulang tahun, ibuku suka membuatkan kue untukku." ucap Aaron melanjutkan kisahnya tanpa peduli dengan ucapan Olivia sebelumnya."Aaron, kau tidak perlu melanjutkannya." tukas Olivia merasa bersalah.Terlihat seulas senyum pendek di wajah Aaron. "Aku tidak apa-apa."Karena Aaron sudah berkata begitu, apa boleh buat. Olivia tidak memaksa lagi dan hanya diam mendengarkan."Tapi hari itu, di hari ulang tahunku yang ke lima belas, tidak satu pun dari kami yang tahu bahw
Hari bahkan masih terlalu pagi. Selain kesadarannya, Olivia juga butuh waktu sebentar untuk mengingat bahwa hari itu adalah hari ulang tahun Aaron.Olivia mendongak menatapnya dengan canggung, lalu berkata dengan suara yang sangat pelan. "Selamat ulang tahun."Senyuman di wajah Aaron berubah semakin lebar. Tatapan matanya semakin lekat, membuat Olivia semakin gugup."Bukankah kau bilang perjalanan kita sangat jauh?" ujar Olivia sembari menarik diri menjauh. Semakin lama seperti ini, Olivia bisa kehilangan kesadarannya karena detak jantungnya yang kian brutal."Ayo, kita berangkat. Aku sudah selesai."Olivia langsung berlari kecil menuju meja rias untuk memoles bibirnya dengan sedikit warna, lalu mengambil tas rajut kecil miliknya. Ada untungnya juga ia mempersiapkan semuanya dengan rapi semalam.Tingkah Olivia membuat Aaron tergelak pelan. "Baiklah, aku akan menunggumu di bawah sambil memanaskan mesin mobil." Kemudian ia mengambil koper dan keluar dari kamar.Setelah sosok Aaron mengh
Matahari bahkan belum benar-benar tegak ketika Aaron mengguncang pelan tubuhnya.Tidurnya yang lelap terganggung, membuat wajah Olivia tampak agak kusut. Dengan kedua mata yang masih terasa berat, ia memutar badan ke belakang dan melihat Aaron yang duduk di tepi kasur.Sebelah tangannya masih berada di lengan Olivia, menyentuhnya sambil mengusapnya lembut. "Maaf sudah mengganggu tidurmu. Tapi kau harus bangun sekarang, Olivia Rose." kata Aaron lembut.Olivia bergumam tidak jelas, lalu dengan susah payah menegakkan tubuh. Rambut kecoklatannya yang bergelombang terurai agak berantakan di punggungnya.Pandangannya menoleh ke arah jendela yang tirainya sudah dibuka. Langit masih terlihat agak gelap. Jam kecil di atas nakas bahkan belum menunjukkan pukul lima! Kenapa Aaron membangunkannya sepagi ini?"Perjalanan kita agak jauh, jadi kita harus berangkat dari sekarang." ujar Aaron lagi seolah menjawab pertanyaan yang tidak diucapkan oleh Olivia.Butuh waktu beberapa detik untuk Olivia mengu
"Aku menolaknya." tambah Aaron lagi setelah diam sejenak.Olivia membenarkan posisi duduknya. Ia memutar sedikit tubuhnya menghadap Aaron, lalu bertanya, "Kenapa kau menolaknya?"Aaron tidak langsung menjawab. Jadi Olivia kembali menambah pertanyaan. "Karina Burgess cukup cantik. Dia juga wanita berkelas. Setidaknya kalian sama-sama berasal dari kalangan bangsawan."Saat mendengar pernyataan Olivia yang begitu polos, Aaron langsung menoleh ke arahnya. Tatapan matanya berubah cukup intens ke arah Olivia yang mendadak terpaku karena ditatap seperti itu."Kau mau tahu alasanku yang sebenarnya?" Suara Aaron terdengar pelan, namun juga serius. Ekspresi wajahnya terlihat sulit diartikan.Kedua mata Olivia mengerjap, lalu ia mengangguk ragu. "Kalau kau tidak mau memberitahu alasanmu juga tidak masalah." kata Olivia seraya menunduk menatap kedua tangannya yang ada di atas pangkuannya. "Aku hanya bertanya."Suasana berubah hening sejenak. Dedaunan yang bergemerisik tertiup angin malam yang ber
Melihat sikap Aaron barusan terhadap Karina membuat Olivia menegang. Ia tidak menyangka jika pria itu juga bisa bersikap begitu mengerikan pada seorang wanita.Tapi kalau melihat sikap Karina yang seperti itu, wanita itu memang pantas mendapatkannya.Raut wajah Aaron langsung melunak saat berhadapan dengan Olivia. Tangan besarnya kembali merangkul pundaknya, lalu menuntunnya ke ruang makan."Aku sudah lapar." bisiknya setelah kegaduhan di belakangnya lenyap. "Aku akan menceritakan semuanya, seperti yang sudah kujanjikan, setelah kita selesai makan malam. Bagaimana?"Olivia melirik ke arahnya sekilas, lalu tergelak pelan. "Ternyata kau bisa lapar juga." balasnya meledek. "Baiklah."Suasana di mansion Kendrick kembali tenang dan damai setelah kepergian Karina yang diusir secara tidak terhormat. Jika Olivia adalah Karina, ia lebih baik langsung meninggalkan mansion sebelum pemilik mansion memerintahkan penjaga untuk menyeretnya.Sepertinya Karina Burgess memang begitu tergila-gila pada A
"Tidak ada yang gratis di dunia ini."Kalimat Aaron kemarin malam masih mengiang di telinga Olivia hingga pagi ini.Setelah mengatakan hal itu, Aaron langsung keluar dari kamarnya dan tidak kembali lagi. Para pelayan-lah yang datang membereskan sisa piring kotor di kamarnya.Pagi ini hanya ada Oliv
Aaron tidak pernah berpikir jika Olivia akan merasa sangat takut dan benci padanya. Padahal pikiran untuk menyakiti gadis itu tidak pernah terbersit di pikirannya, sama sekali."Banyak rumor buruk tentang Anda yang beredar di luar sana." jelas Josh.Setelah mengantar Olivia ke kamarnya, Josh kembal
Pintu tinggi yang terbuat dari kayu terbaik di hadapannya dibuka oleh Josh. Sebuah pemandangan yang tidak pernah dibayangkan oleh Olivia sebelumnya menyambut kehadirannya."Ini kamarmu, Olivia." kata Josh seraya mempersilakannya untuk masuk.Dengan langkah ragu, Olivia masuk ke dalam ruangan yang c
Olivia merasakan ketegangan yang luar biasa sejak dirinya melangkah masuk ke dalam sebuah ruangan yang memiliki dua buah daun pintu itu.Udara dingin seolah menyambut kehadirannya di sana. Mendengar suara berat seorang pria yang duduk di dalam ruangan itu membuat sekujur tubuhnya bergidik.Kepalany







