로그인: Konfrontasi Sebelum Altar Suasana manis nan elegan mewarnai ruang pengantin wanita yang terletak tidak jauh dari lorong samping altar gereja. Aroma wewangian mawar putih dan lilin aromaterapi menyeruak lembut di udara. Di tengah ruangan yang dihiasi cermin berukir emas dan lampu-lampu temaram yang hangat, Valeria duduk di depan meja rias berukuran besar. Jemarinya yang lentik menyentuh lembut gaun pengantin sutra yang membalut tubuhnya, sementara riasan wajahnya memancarkan pesona penuh kemenangan. Seorang perias wanita yang berdiri di sampingnya sibuk merapikan helai demi helai rambut Valeria agar terpasang sempurna bersama mahkota berlian kecil di kepalanya. Perias itu menatap pantulan wajah Valeria dari cermin dengan senyum mengagumi. "Fernando pasti akan terpesona saat melihatmu," puji seorang perias di ruang pengantin dengan nada penuh ketakjuban. Valeria tersenyum manis. Kepuasan membuncah di dalam dadanya, melapisi jiwanya dengan rasa bangga yang luar biasa. Sanjungan itu
: Kebenaran Empat Tahun Lalu Suasana di dalam gereja megah berarsitektur klasik di pusat kota Madrid itu kian riuh dan semarak. Alunan musik organ yang dimainkan secara lembut bergema halus, memenuhi setiap sudut ruangan bertiang tinggi dan berdinding batu pahat tersebut. Cahaya matahari pagi yang menerobos masuk melalui kaca patri berwarna-warni membiaskan pendar redup nan indah di atas karpet merah tebal yang terbentang lurus menuju altar. Gereja tua itu mulai dipenuhi oleh ratusan tamu undangan kelas atas. Anggota keluarga besar Castello hadir dengan mengenakan pakaian formal terbaik mereka—para pria berbalut jas buatan penjahit ternama dan para wanita mengenakan gaun malam yang anggun berhias perhiasan mewah. Tak hanya lingkaran keluarga, jajaran pebisnis ternama dari berbagai sektor industri Spanyol, tokoh-tokoh masyarakat yang disegani, hingga para jurnalis dan media papan atas berkumpul di sana untuk menyaksikan peristiwa besar hari itu: pernikahan sang konglomerat muda berda
Sedangkan ditempat yang berbeda Pantulan di balik cermin berbingkai ukiran emas itu memperlihatkan sosok wanita anggun bertubuh tinggi semampai. Gaun pengantin berwarna putih bersih buatan perancang busana ternama Eropa itu tampak melekat sempurna di tubuh Valeria. Kain sutra berkilau yang berpadu dengan renda buatan tangan menyapu lantai marmer ruang rias yang mewah. Cahaya lampu gantung kristal di atas kepala memantul indah pada titik-titik berlian yang tersemat rapi di sepanjang sulaman gaun tersebut. Valeria berdiri di depan cermin besar itu dengan senyum puas yang nyaris tak bisa lagi ia sembunyikan. Bibirnya yang terpoles lipstik merah merekah membentuk kurva penuh kebanggaan. Dengan perlahan dan penuh penghayatan, jemarinya yang lentik mengusap lembut sebuah cincin berlian berukuran besar yang melingkar cantik di jari manis tangan kirinya. Kilau berlian itu seolah menjadi simbol dari segala perjuangan, manipulasi, dan ambisi yang selama ini ia rakit dengan cermat. Hari in
## **Bab 120: Rumah yang Sesungguhnya** Sore harinya, langit di atas kota pinggiran Buenos Aires berhiaskan nuansa jingga dan keemasan yang memukau. Angin sore bertiup sepoi-sepoi, membawa kesegaran setelah seharian matahari memancarkan hangatnya. Setelah menutup toko roti bersama Isabel dan menyelesaikan seluruh urusan pekerjaan, Aixa berjalan berdampingan bersama kedua anak kembarnya menuju arah rumah. Tangan kanan Aixa digenggam erat oleh jemari kecil Aaron, sementara tangan kirinya berada dalam genggaman hangat Elena. Langkah-langkah kecil kedua bocah itu di atas trotoar berbatu menciptakan irama yang menenangkan. Di sepanjang perjalanan pulang, halaman-halaman rumah tetangga dipenuhi oleh derai tawa warga lokal yang sedang menyiram tanaman atau bersantai di teras rumah mereka. "Mama, tahu tidak?" ujar Aaron antusias sambil mengayunkan tangannya yang menggenggam jemari Aixa. "Tadi di sekolah, Pak Guru cerita tentang burung elang yang bisa terbang sangat tinggi melintasi
Bab 119: Keberanian dan Cita-Cita Aaron** Matahari pagi terbit memancarkan sinar keemasan yang hangat, mengusir sisa-sisa embun dingin yang menempel di daun-daun pohon mangga di halaman depan rumah Aixa. Burung-burung gereja berkicau riang, menyambut pagi yang baru dengan penuh semangat. Di dalam dapur, Aixa sedang sibuk memotong buah-buahan segar untuk kotak bekal sekolah anak-anaknya ketika tiba-tiba suara derap langkah kaki yang tergesa-gesa terdengar berlari dari arah halaman depan. Pintu dapur terdorong keras. Aaron muncul di ambang pintu dengan wajah pucat pasi dan napas terengah-engah. "Mama! Mama! Cepat keluar!" seru Aaron panik sambil menunjuk-nunjuk ke arah luar rumah. Aixa seketika meletakkan pisau buahnya di atas meja, rasa panik langsung menjalar di dadanya. "Ada apa, Aaron? Ada apa dengan Elena?!" "Elena... Elena memanjat pohon mangga besar di depan!" teriak Aaron dengan nada penuh cemas. "Apa?!" Aixa melangkah cepat keluar rumah tanpa sempat melepas apro
Bab 118: Foto Pernikahan dan Pertanyaan Elena** Malam telah larut di pemukiman pinggiran Buenos Aires. Angin malam yang sejuk bertiup lembut melalui celah jendela teras, membawa aroma daun eucalyptus yang menenangkan. Suasana di dalam rumah kecil bercat putih itu terasa begitu hening dan damai. Di dalam kamar tidur anak-anak, Aaron dan Elena telah tertidur lelap di atas ranjang tingkat mereka. Selimut katun bergambar kartun menyelimuti tubuh kecil mereka hingga batas dada. Aixa berdiri sejenak di ambang pintu kamar, memandangi deru napas teratur dari kedua buah hatinya dengan sunggingan senyum penuh kasih sebelum perlahan menarik pintu hingga tersisa celah kecil. Aixa melangkah pelan menuju teras belakang rumah. Di tangannya, ia menggenggam sebuah album foto bersampul kulit cokelat yang tampak sedikit kusam di bagian sudutnya. Album itu adalah satu-satunya benda kenangan dari masa lalunya yang masih ia simpan hingga hari ini. Ia duduk di atas kursi kayu goyang di teras, membia







