LOGINBab 116: Rumah Kecil di Pinggiran Kota** Waktu adalah penyembuh yang aneh. Ia tidak benar-benar menghapus rasa sakit atau menimbun bekas luka hingga tak berbekas. Namun, waktu mengajarkan seseorang bagaimana cara melangkah di atas puing-puing masa lalu tanpa harus terus-menerus meratapi kehancurannya. Empat tahun telah berlalu sejak malam dingin di Terminal 4 Bandara Internasional Adolfo Suárez Madrid-Barajas, saat Aixa melangkah masuk ke dalam kabin pesawat menuju benua yang baru. Kota Madrid yang megah, nama besar keluarga Castello, kilatan kamera media, serta tatapan merendahkan dari kalangan atas kini telah menjadi kenangan samar yang makin pudar dari hari ke hari. Di sebuah kota kecil yang tenang di pinggiran Buenos Aires, kehidupan Aixa bertransformasi sepenuhnya. Tidak ada dering telepon dari pengacara, tidak ada agenda sosial yang melelahkan, dan tidak ada lagi rasa dingin dari lorong-lorong megah mansion Castello. Yang ada hanyalah sebuah rumah sederhana bercat putih bersi
Penyesalan Fernando dan Awal Pencarian** Mobil sedan hitam bertenaga tinggi itu berhenti secara mendadak di area pengedropan penumpang Terminal 4 Bandara Internasional Adolfo Suárez Madrid-Barajas. Ban mobil bercicit keras bergesekan dengan aspal basah, memicu perhatian orang-orang di sekitar. Belum sempat pengawal pribadinya membukakan pintu, Fernando sudah menerobos keluar. Jas mahal yang tersampir di bahunya sedikit kusut, dan dasi hitamnya telah terlepas longgar dari kerah kemeja. Pria itu melangkah lebar menembus pintu kaca otomatis bandara. Langkah kakinya yang berat dan terburu-buru berbunyi nyaring di atas lantai marmer yang mengilap, membelah kerumunan penumpang yang sedang berlalu-lalang. Wajahnya yang biasanya tenang dan dominan kini tertutup guratan kepanikan serta kecemasan yang amat sangat. Matanya yang memerah akibat kurang tidur menyapu seluruh sudut terminal, mencari bayangan sosok perempuan yang sangat dikenalnya. Namun, bandara itu terlalu luas, dipenuhi ribu
**Bab 114: Selamat Tinggal, Madrid** Di dalam kabin pesawat yang diterangi pendar lampu temaram, Aixa duduk membisu di kursi dekat jendela. Gemuruh halus mesin jet bertenaga besar yang mulai menyala di bawah sayap pesawat mengirimkan getaran konstan yang merambat hingga ke pijakan kakinya. Di sekelilingnya, suasana kabin terasa riuh oleh pergerakan penumpang yang sibuk merapikan bagasi kabin, berbisik-bisik dalam berbagai bahasa, serta suara melodi menenangkan yang diputar melalui sistem audio. Di lorong tengah, para pramugari memperagakan instruksi keselamatan penerbangan secara profesional, memperagakan penggunaan sabuk pengaman dan masker oksigen dengan gerakan yang luwes dan teratur. Aixa menempelkan dahinya pada kaca jendela yang dingin, memandang ke luar, menerobos kegelapan malam. Di bawah sana, hamparan lampu-lampu kota Madrid membentang luas bagaikan lautan permata yang berkilauan di atas permadani hitam. Pemandangan itu begitu megah, indah, namun sekaligus menghanyutkan
**Bab 113: Sinyal yang Terputus** Di dalam gedung pencakar langit pusat kota Madrid yang dingin dan megah, waktu seolah berjalan merambat menyiksa. Keheningan di ruang kerja Fernando terasa makin pekat, menekan dada hingga tiap tarikan napas terasa membakar. Di luar, hujan deras mulai mereda menjadi gerimis tipis, meninggalkan kabut tipis yang menggantung di balik kaca-kaca jendela raksasa. Di tengah keheningan yang mencekam itu, sebuah getaran keras memecah udara. Ponsel pribadi Fernando yang tergeletak di atas meja kayu mahoni berdering nyaring. Pria itu tidak menunggu detik kedua. Dengan gerakan kilat, jemarinya yang tegang menyambar perangkat tersebut dan menempelkannya ke telinga. "Bicara," peritahnya dingin, suara seraknya memendam kecemasan yang teramat sangat. "Tuan Fernando," suara Mateo, sekretaris pribadinya, terdengar tegang di seberang saluran. Ada helaan napas berat sebelum sang sekretaris melanjutkan, "Kami menemukan rekaman CCTV apartemen tempat tinggal sementara N
Bandara Internasional Adolfo Suárez Madrid-Barajas dipenuhi hiruk-pikuk manusia sejak pagi hari. Suara pengumuman penerbangan bergema secara berkala melalui pengeras suara, bersahut-sahutan dengan langkah kaki ribuan penumpang yang berlarian membawa koper, derit roda bagasi di atas lantai marmer, serta keramaian percakapan dalam berbagai bahasa dunia. Di tengah hilir-mudik kerumunan yang sibuk dengan urusan masing-masing, atmosfer bandara terasa amat asing, dingin, dan impersonal. Aixa duduk di salah satu kursi besi ruang tunggu terminal keberangkatan internasional. Tubuhnya terbungkus mantel kain tebal berwarna krem yang sedikit kebesaran—sebuah pilihan busana sederhana untuk menyembunyikan siluet tubuhnya yang kian kurus serta tonjolan kecil di perutnya yang mulai terbentuk. Di genggaman tangannya yang dingin, ia memegang erat sebuah paspor baru bernuansa biru tua yang permukaannya masih terasa kaku dan licin. Izin dokumen itu diterbitkan secara resmi melalui jalur khusus dengan
Jejak Terakhir dan Harapan Kecil** Malam berlarut-larut dalam keheningan yang kian pekat di sudut kota Madrid. Di dalam apartemen sempit yang temaram, Aixa duduk bertelanjang kaki di atas lantai ubin yang dingin. Di sekelilingnya, koper-koper tua tergeletak terbuka dengan pakaian dan barang-barang pribadi yang sudah setengah terisi. Penerangan dari lampu gantung yang remang-remang membingkai sosoknya yang tampak semakin kurus, namun menyimpan kelembutan yang tak terhingga. Jemarinya yang gemetar memegang sebuah pakaian bayi berukuran sangat kecil yang baru saja dibelinya siang tadi dari sebuah toko kain di pinggiran kota. Warna putih. Sederhana. Tanpa hiasan berlebihan, tanpa renda-renda mewah yang biasa menghiasi perlengkapan bayi dari kelas atas. Bahan katunnya lembut di bawah sentuhan tangannya, membawa kehangatan nyata yang menyengat kalbunya. Aixa memeluk baju mungil itu ke dadanya. Air matanya kembali mengalir tanpa terbendung, menetes basah membentangi kain katun putih terse







