LOGIN"Pa, apa ini?"
Kaivan menatap amplop cokelat yang baru saja diletakkan Adrian di atas meja kerjanya. Jam dinding di ruangan itu menunjukkan hampir pukul tujuh malam.
"Ini semua bukti-bukti tentang Vanessa," jawab Adrian.
Kaivan menghela napas. "Aku sudah katakan berkali-kali kalau soal Vanessa. Papa tidak perlu ikut campur."
"Justru karena kamu tidak pernah mau mendengarkan, Papa harus menunjukkan bukti."
Kaivan menatap ayahnya tajam, tetapi tangannya tetap mengambil amplop itu. Sejenak ia hanya menggenggamnya, melihat beberapa lembar foto dan laporan tertulis.
Di foto pertama, Vanessa terlihat keluar dari sebuah hotel bersama seorang pria bertubuh tinggi. Di foto kedua, tangan pria itu berada di pinggang Vanessa, begitu akrab seolah mereka sudah melakukannya berkali-kali. Di foto ketiga, Vanessa masuk ke mobil pria tersebut sambil tertawa. Tawa yang sangat dikenal Kaivan, tawa yang biasanya hanya ia dengar.
"Siapa pria ini?" tanya Kaivan pelan, suaranya terdengar lebih datar daripada yang ia rasakan.
"Manajernya. Raka Mahendra. Sudah menikah dan punya dua anak."
Kaivan langsung menatap Adrian. "Ini bisa saja salah paham."
Adrian tidak membantah. Ia hanya mendorong satu map lagi ke arah Kaivan. "Kalau menurutmu foto itu salah paham, baca laporan berikutnya."
Kaivan membuka map itu perlahan, hampir ragu. Di sana ada catatan yang berisi tanggal, lokasi, durasi pertemuan, dan beberapa foto lain. Tidak hanya sekali. Vanessa dan Raka bertemu berkali-kali. Di hotel berbeda, di apartemen pribadi, bahkan di sebuah vila di luar kota.
Untuk beberapa saat, Kaivan tidak bicara. Ia hanya membaca satu halaman ke halaman lain dengan napas yang mulai tidak teratur, tangannya mulai terasa dingin meski ruangan itu tidak sedingin biasanya. Semua detail di laporan itu terlalu rapi untuk disebut kebetulan.
"Papa menyewa penyelidik?" suara Kaivan terdengar lebih rendah.
"Ya."
"Sejak kapan?"
Adrian terdiam sejenak sebelum menjawab, seolah memilih kata-katanya dengan hati-hati.
"Sejak kamu mulai menjalin hubungan dengan perempuan itu."
Kaivan terdiam beberapa detik.
Map di tangannya yang masih terbuka, tanpa sadar ia meremasnya.
"Apa kamu masih bisa membela Vanessa setelah melihat semua ini?"
"Aku harus mendengarkan penjelasannya dulu."
"Penjelasan apa yang kamu tunggu? Bahwa dia tidak sengaja masuk hotel berkali-kali dengan suami orang?"
Kaivan mengepalkan tangan. Amarahnya naik, tetapi ia sendiri tidak tahu amarah itu ditujukan kepada siapa, kepada ayahnya karena menyelidiki Vanessa, atau kepada Vanessa karena bukti itu terlalu jelas untuk disangkal.
Lavienna yang sejak tadi duduk diam akhirnya menaruh cangkir tehnya di meja. Wajahnya tenang, tetapi sorot matanya tegas. Sejak awal, ibunya memang tidak pernah menyukai Vanessa. Dulu Kaivan mengira itu hanya karena ibunya terlalu pemilih.
"Kami tidak ingin menghancurkanmu, Kai," ujar Lavienna pelan.
"Kalau begitu kenapa Mama ikut menyembunyikan ini sampai sekarang?"
"Karena kami menunggu sampai buktinya cukup. Kami tahu kamu tidak akan percaya tanpa bukti."
Kaivan tidak menjawab. Ia kembali membaca halaman berikutnya, lalu tubuhnya menegang ketika menemukan bagian yang membahas masa lalu Vanessa. Ia membaca nama ibu Vanessa, riwayat pekerjaan, hubungan lama dengan beberapa pejabat, lalu satu nama yang membuat alisnya berkerut.
‘Almarhum Pradipta Suryanegara. Mantan Hakim Agung Negara Nusavera.’
Kaivan membaca nama itu sekali lagi, memastikan matanya tidak salah.
"Apa maksudnya ini?" tanya Kaivan, suaranya kini benar-benar terdengar tidak yakin.
Adrian menjawab tanpa mengubah ekspresi. "Pradipta adalah ayah kandung Vanessa. Vanessa lahir dari hasil hubungan gelap."
Kaivan menatap laporan itu lagi, membacanya perlahan kata demi kata, seolah berharap salah satu kalimat akan berubah jika ia membacanya cukup lama. Tertulis jelas bahwa ibu Vanessa dulunya seorang model yang menjadi simpanan Pradipta selama bertahun-tahun. Selama pria itu masih hidup, Vanessa dan ibunya tinggal di rumah mewah dan mendapat uang bulanan dalam jumlah besar.
Namun setelah Pradipta meninggal, istri sahnya mengetahui semuanya. Rumah yang selama ini ditempati Vanessa dan ibunya diambil kembali. Semua fasilitas berhenti. Mereka jatuh miskin dalam waktu singkat.
"Itu masa lalunya," ujar Kaivan, masih berusaha membela kekasihnya. "Seorang anak tidak bisa memilih siapa orang tuanya."
"Benar," sahut Lavienna. "Tapi seseorang bisa memilih menjadi seperti apa setelah dewasa."
Kaivan membuka halaman berikutnya dengan tangan yang mulai sedikit gemetar. Di sana tertulis bahwa ibu Vanessa sengaja mendorong putrinya masuk dunia modeling, bukan hanya untuk karier, tetapi juga untuk mendekati laki-laki kaya. Ada daftar nama pejabat dan pengusaha yang pernah berhubungan dengan Vanessa, lengkap dengan bukti transfer uang, foto-foto liburan, hingga potret mesra yang diambil diam-diam.
Satu per satu nama itu terasa seperti pukulan kecil yang menumpuk menjadi satu pukulan besar.
Namun satu kalimat di bagian akhir laporan membuat napas Kaivan terasa berat, seolah seluruh udara di ruangan itu tersedot keluar.
‘Vanessa dikenal di kalangan tertentu sebagai perempuan panggilan bagi pejabat dan pengusaha.’
Untuk beberapa detik, Kaivan hanya bisa menatap tulisan itu tanpa bergerak, seolah seluruh kepercayaannya runtuh dalam satu malam.
"Tidak," gumam Kaivan, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada siapa pun di ruangan itu.
Adrian menatap putranya. "Kamu boleh tidak percaya. Tapi semua bukti ada di sana."
"Ini fitnah."
"Kalau begitu cari tahu sendiri kebenarannya."
Kaivan langsung berdiri. Kursinya terdorong ke belakang dan menimbulkan suara keras yang memecah keheningan ruangan. Ia mengambil map itu lalu berjalan keluar dari ruang kerja tanpa menoleh lagi. Lavienna ikut berdiri, tetapi Adrian mengangkat tangan, memberi isyarat agar istrinya tidak menahan Kaivan.
Kaivan berjalan cepat menuju parkiran mobil dengan kepala yang terasa penuh. Setiap langkahnya terasa berat, seolah lantai di bawah kakinya ikut bergetar. Selama ini ia selalu membela Vanessa di depan semua orang dan mengabaikan semua peringatan tentang perempuan itu. Ia bahkan rela menyakiti orang lain dan menyakiti Alesha demi mempertahankan hubungannya dengan Vanessa.
"Kenapa kamu membohongiku, Vanessa?!" gumam Kaivan pelan sambil memukul setir mobilnya keras.
Mobil Kaivan melaju keluar dari gedung Adhitama Group beberapa menit kemudian. Ia tidak langsung menelepon Vanessa. Ia ingin membuktikan bahwa semua laporan itu salah. Ia ingin menemukan satu celah yang bisa membuatnya tetap percaya pada wanita yang selama ini ia cintai.
Namun saat tiba di apartemen Vanessa, terlihat sebuah mobil sport berwarna hitam sudah terparkir di basement. Kaivan mengenal nomor plat itu dari foto laporan. Ia duduk diam di dalam mobilnya selama beberapa menit, menatap kendaraan itu tanpa berkedip, berharap matanya salah lihat.
"Tidak mungkin," ucapnya pelan.
Kaivan keluar dari mobil lalu berjalan cepat menuju unit Vanessa. Ia masih memiliki akses masuk yang dulu diberikan oleh Vanessa sendiri.
Begitu pintu apartemen terbuka, suara tawa Vanessa langsung terdengar. Langkah Kaivan perlahan terhenti saat menyadari perempuan itu tidak sendirian.
"Raka, jangan di sini. Kaivan bisa datang kapan saja," ujar Vanessa sambil tertawa kecil, suaranya manja seperti biasa.
"Tenang saja, Baby," jawab suara pria. "Kamu yang bilang sendiri, dia tergila-gila denganmu. Jadi tidak mungkin dia curiga."
Kaivan berhenti di depan pintu apartemen. Tubuhnya mendadak terasa kaku. Semua yang baru saja ia lihat dalam laporan itu, perlahan, satu per satu, terbukti benar di hadapannya sendiri.
Beberapa detik kemudian, Vanessa muncul dari ruang tengah. Wajah perempuan itu langsung berubah pucat saat melihat Kaivan berdiri di sana dengan tatapan dingin.
"Kai?" suara Vanessa tercekat.
Raka yang menyusul dari belakang ikut membeku.
Kaivan menatap mereka bergantian. Tidak ada kemarahan. Justru ketenangan yang terasa berbahaya membuat Vanessa tampak semakin panik.
"Jadi benar," ujar Kaivan, suaranya datar.
Vanessa segera mendekat, tangannya terulur. "Kai, dengarkan aku dulu. Ini tidak seperti yang kamu pikirkan."
"Lalu seperti apa?"
Vanessa membuka mulut, tetapi tidak ada jawaban yang keluar. Matanya bergerak gelisah ke arah Raka, seolah berharap pria itu membantu mencari alasan.
Raka justru mundur selangkah, menjauh dari Vanessa. "Aku sebaiknya pergi."
Kaivan menoleh ke arahnya, tatapannya tajam. "Jadi kamu selingkuhannya?"
Wajah Raka menegang. Tanpa menjawab, pria itu segera mengambil jaketnya dan bergerak melewati Kaivan, hampir berlari keluar dari apartemen.
Vanessa cepat-cepat memegang lengan Kaivan. "Kai, aku bisa jelaskan.”
Kaivan menepis tangan Vanessa. "Jangan sentuh aku!"
Vanessa mulai menangis. Tetapi kali ini Kaivan tidak merasa iba. Dulu ia selalu luluh. Dulu ia selalu percaya.
Sekarang, tangisan itu hanya terlihat seperti bagian dari kebiasaannya untuk bertahan.
"Apa salahku?" tanya Kaivan, lebih kepada dirinya sendiri.
Vanessa terisak. "Aku mencintaimu."
"Jangan bohong."
"Aku benar-benar mencintaimu, Kai. Tapi aku juga manusia yang bisa khilaf.”
Kaivan tertawa pahit, “khilaf katamu?”
Vanessa hanya diam tanpa mampu membantah.
"Bisa jelaskan ini apa?” Tanya Kaivan sambil melemparkan map coklat di tangannya ke arah Vanessa.
Vanessa mengambil map coklat itu dan membuka isinya, tangannya gemetar. Semua kebohongannya sudah terbongkar.
“Aku… aku minta maaf Kai. Aku hanya bertahan hidup. Mama bilang kami tidak boleh jatuh miskin lagi.”
"Aku menyakiti perempuan yang tulus mencintaiku, demi kamu," katanya pelan, hampir seperti bisikan.
Ia hanya menatap Vanessa sekali lagi, tatapan terakhir, penuh kekecewaan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata lalu berbalik pergi.
"Kai, tunggu!" Vanessa mengejarnya, suaranya mulai panik.
Kaivan berhenti di ambang pintu, tangannya memegang kenop. Ia tidak menoleh.
"Kita selesai."
Lavienna segera menghampiri anaknya, menahan bahu Kaivan yang sudah setengah bangkit dari ranjang dengan tenaga yang masih begitu terbatas, wajahnya menunjukkan kekhawatiran yang begitu besar melihat tekad anaknya yang begitu terburu-buru itu."Kaivan, tenang dulu, Nak. Kondisimu masih belum sepenuhnya pulih, kamu baru saja pulang dari rumah sakit hari ini," ucap Lavienna cemas, tangannya mencoba menahan tubuh Kaivan yang masih terlihat begitu lemah untuk memaksakan diri bergerak seperti itu.Kaivan menggeleng keras kepala, matanya menatap ibunya dengan tatapan penuh keteguhan meski tubuhnya sendiri jelas belum siap untuk melakukan aktivitas seberat yang ia inginkan saat itu."Aku tidak peduli, Ma. Aku harus menemuinya sekarang, aku sudah menunggu terlalu lama," ucap Kaivan keras kepala, mencoba kembali bangkit mesk
Kaivan menatap layar ponselnya yang menampilkan sebuah pesan singkat dari Vanessa, matanya membaca setiap kata dengan dahi yang semakin berkerut, wajahnya berubah pucat seiring dengan makna kalimat itu perlahan meresap ke dalam pikirannya.Pesan itu berbunyi: "Apa kamu memutuskanku karena Alesha yang selama ini menemanimu di rumah sakit, Kai?"Kaivan terdiam mematung menatap layar itu, tangannya yang tadi masih gemetar menahan amarah kini gemetar karena alasan yang begitu berbeda, pikirannya langsung dipenuhi kebingungan yang begitu besar mengingat jawaban yang ia terima dari ibunya beberapa waktu lalu."Ma," ucap Kaivan pelan, suaranya terdengar begitu berat, matanya menatap lurus ke arah Lavienna yang duduk tidak jauh darinya dengan raut wajah yang seketika berubah tegang begitu mendengar nada bicara anaknya itu.
Kaivan menatap layar ponselnya yang terus bergetar dengan nama Vanessa terpampang jelas, wajahnya seketika berubah dingin dan penuh kebencian. Tangannya yang tadi masih gemetar menahan emosi kini mengepal semakin erat, tidak sanggup lagi menyentuh benda itu meski hanya untuk menolak panggilan."Ma, tolong angkat saja. Aku tidak mau bicara dengannya lagi," ucap Kaivan pelan, suaranya bergetar menahan amarah yang begitu besar, menyerahkan ponselnya kepada Lavienna yang segera menerimanya dengan tatapan penuh kemarahan yang sama besarnya.Lavienna menatap layar ponsel itu sejenak sebelum akhirnya menekan tombol hijau, mengaktifkan mode pengeras suara agar Adrian dan Kaivan bisa mendengar langsung percakapan yang akan terjadi selanjutnya."Halo, dengan siapa ini?" tanya Lavienna dengan nada dingin dan sinis, meski jelas ia sudah tahu betul siapa yang menghubungi ponsel anaknya itu.Suara Vanessa terdengar sedikit terkejut di seberang telepon, jelas tidak menduga akan mendapati suara Lavie
Lavienna berdiri mematung mendengar pertanyaan Kaivan, hatinya bergejolak hebat antara keinginan untuk jujur dan janji yang sudah ia buat pada Alesha. Ia menatap wajah anaknya yang begitu penuh harap, dadanya terasa begitu sesak menahan kebohongan yang harus ia ucapkan demi menghormati permintaan gadis yang begitu berjasa bagi keluarganya itu."Tidak, Nak. Alesha tidak pernah datang ke rumah sakit selama kamu koma," ucap Lavienna akhirnya, suaranya berusaha terdengar setenang mungkin meski hatinya sendiri terasa begitu perih mengucapkan kebohongan itu di hadapan anaknya sendiri.Kaivan menatap ibunya lama, dahinya berkerut seolah ada sesuatu yang begitu janggal dari jawaban yang baru saja ia dengar, namun ia tidak bisa membantah lebih jauh mengingat dirinya sendiri memang tidak sadarkan diri selama delapan bulan terakhir ini."Aneh, padahal ingatan terakhirku begitu jelas soal dia yang menolongku keluar dari mobil," gumam Kaivan pelan, matanya menerawang jauh mencoba mengingat kembali
Alesha menatap layar ponselnya lama, tangannya masih sedikit gemetar menahan berbagai perasaan yang begitu campur aduk sejak mendengar pertanyaan Lavienna barusan. Ia menghela napas panjang, mencoba menenangkan diri sebelum akhirnya menekan tombol hijau untuk menjawab panggilan itu."Tante, maaf, tapi jawabanku tetap sama. Aku tidak bisa menemui Kaivan," ucap Alesha pelan, suaranya sudah terdengar jauh lebih tenang dibanding beberapa menit lalu saat ia masih menangis di dalam mobilnya.Lavienna terdengar menghela napas kecewa di seberang telepon, jelas berharap keputusan Alesha bisa berubah demi melihat anaknya yang begitu berharap bisa bertemu dengan gadis yang telah menyelamatkan nyawanya itu."Alesha, Kaivan terus bertanya soal kamu. Tante tidak tega melihatnya seperti itu," ucap Lavienna memohon, suaranya penuh harap meski jelas ia juga mencoba memahami posisi Alesha yang begitu sulit.Alesha memejamkan matanya sejenak, mengumpulkan kekuatan untuk menjelaskan keputusannya dengan l
Alesha yang masih berdiri di balik kaca jendela merasakan dadanya semakin sesak mendengar permintaan mendesak Kaivan untuk bertemu dengannya. Air mata yang sejak tadi sudah menggenang kini mengalir semakin deras, membasahi pipinya tanpa bisa ia tahan lagi. Ia mundur perlahan dari jendela itu, tidak sanggup lagi menyaksikan pemandangan yang begitu menyayat hatinya sendiri.Alesha bergegas melangkah menjauh dari ruang ICU, langkahnya semakin cepat seiring dengan air mata yang terus mengalir tanpa henti, seolah setiap detik yang ia habiskan di lorong rumah sakit itu membuat dadanya semakin terasa sesak dan sulit bernapas."Alesha!" Suara Reyhan yang kebetulan sedang berjalan di lorong yang sama memanggil namanya, membuat langkah Alesha sedikit terhenti meski ia tidak sepenuhnya menoleh ke arah suara itu.Reyhan segera menghampiri Alesha yang tampak begitu terburu-buru, wajahnya menunjukkan kekhawatiran begitu melihat kondisi gadis itu yang basah oleh air mata dan terlihat begitu ingin se







