LOGINKaivan keluar dari apartemen Vanessa dengan langkah cepat. Wajahnya terlihat dingin, menyimpan emosi yang sejak tadi berusaha ia tahan. Tangannya mengepal keras, sementara pikirannya dipenuhi semua kenyataan yang baru saja ia ketahui.
Hujan deras menyambut begitu pintu lobi apartemen terbuka. Angin malam bertiup cukup kencang, membuat beberapa tanaman di depan gedung bergerak liar. Namun Kaivan tidak peduli. Ia langsung berjalan menuju mobilnya tanpa menoleh ke belakang lagi.
"Kai! Tunggu!"
Suara Vanessa terdengar dari arah lobi, diiringi suara langkah kaki yang berlari menyusulnya, mengabaikan derasnya hujan.
Kaivan berhenti sesaat, tetapi tidak berbalik.
"Mau apa lagi?" tanyanya dingin.
Vanessa berlari mendekat dengan wajah panik. Rambutnya sedikit basah terkena hujan, riasannya mulai luntur di sudut mata.
"Aku bisa jelaskan semuanya," ucap Vanessa cepat. "Aku gak pernah berniat menyakiti kamu."
Kaivan tertawa dingin.
"Kalau begitu, seharusnya kamu tidak membohongiku sejak awal."
Vanessa langsung terdiam. Kaivan membuka pintu mobil dengan kasar, lalu melajukan mobilnya meninggalkan apartemen itu di tengah hujan yang semakin deras.
Di sepanjang jalan, wiper mobil bergerak cepat, tetapi pandangannya tetap terasa kabur oleh hujan yang terus menghantam kaca depan. Kaivan menggenggam setir erat dengan dada sesak, karena untuk pertama kalinya dalam hidupnya ia merasa benar-benar dipermainkan oleh orang yang paling ia percaya.
"Kenapa semua jadi seperti ini…" gumamnya pelan, suaranya hampir tidak terdengar di antara suara hujan yang menghantam atap mobil.
Lampu jalan terlihat samar, sementara jalanan tampak lebih sepi karena banyak orang memilih tetap berada di rumah malam ini. Namun di dalam mobil, pikirannya justru semakin kacau dan sulit dikendalikan.
Ia teringat semua hal yang pernah dilakukan demi Vanessa. Ia pernah membela, mempertahankan, bahkan menyakiti orang lain tanpa berpikir panjang. Dan kini, semua pengorbanan itu terasa seperti sebuah kebodohan besar, kebodohan yang berlangsung selama bertahun-tahun, dan baru ia sadari malam ini.
"Aku benar-benar bodoh," ucap Kaivan lirih sambil memukul setir sekali.
Bayangan seseorang tiba-tiba muncul di kepalanya. Tatapan terluka yang berusaha disembunyikan, mata yang berkaca-kaca, dan bagaimana dia tetap diam meski dipermalukan di depan banyak orang.
Ia memejamkan mata beberapa detik, mencoba mengusir semua bayangan itu. Namun untuk pertama kalinya, rasa bersalah mulai menghantui dirinya, menyelinap masuk ke dalam dada yang sudah terlalu penuh dengan amarah dan kekecewaan.
"Kalau saja waktu itu aku tidak…"
Namun kalimatnya terputus.
Mobil tiba-tiba sedikit berguncang saat melewati genangan air cukup besar di jalan tol. Kaivan langsung membuka mata dan berusaha mengendalikan setir.
Ban mobil mulai selip.
"Kenapa ini…"
Kaivan refleks menginjak rem, tetapi jalan yang terlalu licin membuat mobil kehilangan kendali. Mobil itu bergerak liar ke kanan dan kiri, sementara jantungnya berdetak keras saat ia mencoba memutar setir meski semuanya sudah terjadi terlalu cepat untuk bisa dikendalikan lagi.
BRAKKK!
Mobil itu menghantam pembatas jalan dengan suara benturan keras yang memecah suara hujan. Kaca depan retak membentuk jaring laba-laba, airbag langsung mengembang menghantam dadanya, dan tubuh pria itu terhempas ke depan sebelum tertahan sabuk pengaman. Di tengah suara hujan yang turun deras, darah mulai mengalir dari pelipisnya, menetes ke kerah kemejanya, sementara pandangannya perlahan berubah gelap.
Beberapa menit kemudian, sebuah mobil putih melintas di jalan yang sama. Alesha yang mengemudi sendirian langsung memperlambat laju mobilnya saat melihat kerumunan kecil dan sebuah mobil hitam yang ringsek di pinggir jalan tol. Entah kenapa dadanya tiba-tiba terasa tidak nyaman saat melihat mobil tersebut.
"Astaga…" gumamnya pelan.
Mobil Alesha berhenti tidak jauh dari lokasi kecelakaan. Awalnya ia hanya ingin memastikan keadaan korban baik-baik saja sebelum melanjutkan perjalanan pulang.
Namun saat matanya menangkap pelat nomor mobil itu, wajah Alesha langsung berubah pucat.
"Itu mobil Kaivan…"
Jantungnya langsung berdebar keras, lebih keras dari yang pernah ia rasakan selama ini.
Alesha segera mematikan mesin mobil lalu berlari keluar menerobos hujan deras menuju mobil yang mengalami kecelakaan itu, tanpa sempat memikirkan apakah dirinya membawa payung atau tidak.
"Kaivan!" panggilnya panik.
Alesha mencoba melihat ke dalam mobil melalui kaca depan yang retak. Dan begitu melihat Kaivan tidak bergerak dengan darah mengalir dari pelipisnya, tangan Alesha langsung gemetar hebat.
"Ya Tuhan…"
Alesha buru-buru mengambil ponselnya lalu menghubungi ambulans dan polisi dengan suara panik, jari-jarinya gemetar saat mengetikkan nomor darurat.
"Halo! Ada kecelakaan di jalan tol arah pusat kota! Korbannya masih terjebak di dalam mobil!"
Suara operator terdengar cepat dari seberang telepon.
"Ambulans sedang menuju lokasi. Tolong tetap tenang."
"Mobilnya rusak parah, tolong cepat!"
Setelah sambungan berakhir, Alesha kembali menatap pria itu dengan napas tidak teratur. Ia masih tidak sadarkan diri, sementara bagian depan mobil mulai mengeluarkan asap tipis di tengah hujan deras malam itu.
Alesha langsung berlari menuju mobilnya dan membuka bagasi dengan tangan gemetar. Ia mengambil dongkrak besi yang ada di sana sebelum kembali mendekati mobil yang ringsek itu, hujan membuat genggamannya hampir terlepas dua kali.
"Ayo… bertahanlah…" bisiknya pelan, lebih kepada dirinya sendiri.
Dengan kedua tangan, Alesha menghantam kaca pengemudi menggunakan dongkrak.
PRAKK!
Kaca retak lebih besar, tetapi belum pecah sepenuhnya.
Alesha kembali menghantamnya dengan panik, meski tangannya mulai terasa sakit dan napasnya terengah-engah karena hujan dan rasa takut yang bercampur jadi satu.
"Kaivan! Bangun!"
PRAKK!
Benturan ketiga akhirnya membuat kaca pecah sebagian.
Tangan Alesha terluka terkena serpihan kaca, tetapi ia tidak peduli. Dengan tergesa-gesa, perempuan itu membuka sisa kaca yang pecah, lalu mencoba melepaskan sabuk pengaman pria tersebut di tengah hujan yang masih turun deras.
Tubuh pria itu terasa berat dan lemas. Dengan seluruh tenaga yang dimilikinya, Alesha menarik tubuh itu perlahan keluar dari mobil sebelum akhirnya menyandarkannya di pinggir jalan, punggung Kaivan menyentuh aspal basah yang dingin.
"Kaivan… dengarkan aku…"
Namun pria itu tetap tidak merespons. Hujan terus mengguyur tubuh mereka tanpa ampun, membuat rambut Alesha menempel di wajahnya, sementara napasnya memburu dan tangannya gemetar karena panik.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama mencoba menjauh, Alesha benar-benar takut kehilangan Kaivan.
"Kai… Kaivan… sadar."
Alesha memegang wajah Kaivan dengan tangan gemetar. Wajah pria itu terlihat pucat, sementara darah masih terus mengalir pelan dari pelipisnya. Napas Kaivan terdengar lemah dan tidak teratur, membuat dada Alesha semakin sesak.
"Kai… buka matamu…"
Namun tidak ada jawaban.
Alesha langsung melepas blazer yang ia kenakan, lalu menekannya perlahan pada luka di kepala Kaivan agar darahnya tidak terus mengalir. Hujan yang turun deras membuat tubuh mereka sama-sama basah kuyup, tetapi Alesha tidak mempedulikannya sedikit pun.
"Tolong bertahan… ambulans sebentar lagi datang," ucapnya panik.
Tangannya terus gemetar hebat saat menatap wajah Kaivan. Selama ini Alesha sudah berusaha menjauh, terbiasa hidup tanpa pria itu, dan menerima bahwa dirinya tidak dicintai.
Namun malam ini semuanya terasa berbeda. Melihat Kaivan terbaring tidak sadarkan diri seperti itu justru membuat dadanya terasa sakit dengan cara yang tidak bisa ia jelaskan.
"Jangan pergi, Kai…" bisiknya lirih, suaranya hampir tenggelam oleh suara hujan.
Beberapa menit kemudian, suara sirene ambulans dan mobil polisi akhirnya terdengar mendekat, memantul di antara dinding beton jalan tol. Petugas medis segera turun dan menghampiri mereka dengan cepat.
"Korban masih sadar?" tanya salah satu petugas.
Alesha buru-buru menggeleng.
"Tidak. Dia belum sadar sejak saya mengeluarkannya dari mobil."
Petugas medis langsung memeriksa kondisi Kaivan, memeriksa napas, memeriksa pupil matanya dengan senter kecil, lalu saling bertukar pandang sebelum membawanya ke atas tandu. Sementara itu, polisi mulai mengamankan lokasi kecelakaan yang mulai dipenuhi beberapa kendaraan lain, lampu sirene merah dan biru berputar-putar di tengah hujan.
"Kondisinya cukup serius. Kami harus segera membawanya ke rumah sakit," ujar salah satu tenaga medis, suaranya terdengar tegang.
Alesha menatap Kaivan dengan wajah pucat, tubuhnya masih basah dan menggigil entah karena hujan atau karena rasa takut yang belum juga reda.
"Apakah dia akan baik-baik saja?"
"Kami akan berusaha semaksimal mungkin."
Jawaban itu tidak menenangkan Alesha sama sekali.
Pintu ambulans segera dibuka. Saat para petugas mulai mendorong tandu masuk, salah satu perawat menoleh ke arah Alesha.
"Anda keluarga korban?"
Alesha terdiam sesaat sebelum menjawab pelan.
"Saya… temannya."
Perawat itu mengangguk singkat.
"Kalau begitu ikut saja. Kami mungkin membutuhkan informasi tambahan selama perjalanan."
Alesha segera masuk ke dalam ambulans menemani Kaivan, duduk di bangku sempit di sisi tandu sambil masih menggenggam ujung blazernya sendiri yang sudah berlumur darah.
Pintu ambulans baru saja ditutup, dan mesin baru saja menyala, ketika salah satu alat di samping kepala Kaivan tiba-tiba berbunyi nyaring, bunyi panjang dan tajam yang membuat kedua petugas medis di dalam langsung bergerak cepat.
"Tensinya turun drastis. Kita kehilangan dia!"
Alesha membeku di tempatnya, menatap wajah Kaivan yang semakin pucat di bawah cahaya lampu ambulans, sementara salah satu petugas mulai berteriak meminta jalur dipercepat dan yang lain bersiap dengan alat di tangannya.
"Kaivan!"
Vanessa keluar dari kantor Adhitama Group dengan wajah yang masih menyimpan kekesalan luar biasa, kata-kata dingin Kaivan terus terngiang di kepalanya sepanjang perjalanan pulang. Namun bukannya langsung kembali ke apartemennya, ia justru mengarahkan mobilnya menuju kampus tempat Alesha mengajar, sebuah dorongan yang begitu kuat membuatnya ingin memastikan sendiri kecurigaan yang sejak tadi terus mengganggu pikirannya.Sesampainya di area parkir kampus, Vanessa turun dari mobilnya dengan langkah tegas, matanya mengedar mencari sosok yang selama ini ia anggap sebagai penghalang terbesar dalam rencananya untuk kembali dekat dengan Kaivan. Tidak lama kemudian, ia melihat Alesha keluar dari gedung fakultas dengan wajah yang masih terlihat begitu lelah, jelas menyisakan bekas dari pertemuan emosional yang baru saja terjadi beberapa jam sebelumnya."Alesha," panggil
Kaivan segera bergegas kembali ke kantor Adhitama Group begitu membaca pesan dari Bimo, pikirannya masih dipenuhi bayangan wajah Alesha yang menangis sebelum akhirnya pergi meninggalkannya di taman kampus tadi. Namun kabar tentang pergerakan Abitama yang semakin agresif membuatnya harus segera menepikan perasaannya sendiri dan kembali fokus pada tanggung jawabnya sebagai pemimpin perusahaan.Begitu sampai di ruang kerjanya, Sita sudah menunggu dengan wajah yang terlihat sedikit gelisah, tangannya memegang beberapa dokumen sambil sesekali melirik ke arah pintu seolah ada sesuatu yang ingin ia sampaikan namun masih ragu untuk mengatakannya."Pak Kaivan, sebelum bertemu Pak Bimo, ada tamu yang sudah menunggu sejak tadi di ruang tunggu," ucap Sita hati-hati, suaranya terdengar sedikit waswas seolah sudah menduga reaksi seperti apa yang akan ditunjukkan atasannya be
Alesha berdiri mematung, matanya masih basah oleh air mata namun kini menatap Kaivan dengan penuh kewaspadaan, seolah sudah bisa menebak arah pembicaraan yang akan dilontarkan pria itu selanjutnya. Tangan Kaivan masih menahan lengannya dengan lembut, tidak memberi kesempatan bagi Alesha untuk melangkah pergi sebelum ia benar-benar menyelesaikan apa yang ingin ia sampaikan."Katakan saja, Kaivan. Tapi cepat, aku benar-benar harus pergi," ucap Alesha dengan suara yang berusaha ia jaga tetap tegas, meski jelas ada kegugupan yang tidak bisa sepenuhnya ia sembunyikan dari nada bicaranya itu.Kaivan menghela napas panjang, melepaskan genggamannya dari lengan Alesha, memberi sedikit jarak agar gadis itu tidak merasa terlalu terpojok, namun matanya tetap menatap lurus dengan keberanian yang begitu besar yang jarang sekali ia tunjukkan selain dalam ruang rapat perusahaa
Alesha menatap Kaivan dengan mata yang membelalak tidak percaya, tangannya yang sejak tadi menggenggam tas kerjanya kini mengepal erat menahan gejolak emosi yang begitu besar tiba-tiba menguasainya. Ia tidak menyangka semua rahasia yang selama ini ia jaga rapat-rapat, bahkan rela berbohong kepada dirinya sendiri demi menjaganya, ternyata sudah sepenuhnya terbongkar di hadapan pria yang duduk di sampingnya itu."Bagaimana kamu bisa tahu semua itu, Kaivan?" tanya Alesha dengan suara bergetar, matanya menatap tajam ke arah Kaivan seolah mencoba mencari jawaban dari raut wajah pria itu sebelum benar-benar mendengar penjelasannya secara langsung.Kaivan menghela napas panjang, menatap Alesha dengan pandangan yang begitu tulus, tidak ada sedikit pun niat untuk menyembunyikan kebenaran lagi darinya setelah semua yang telah terjadi di antara mereka berdua selama ini."Mama yang cerita semuanya, setelah aku mendesaknya karena Vanessa mengirim pesan yang membuatku curiga," jelas Kaivan pelan, m
Bimo berhasil mendapatkan jadwal mengajar Alesha keesokan harinya dan mengirimkan informasi itu kepada Kaivan melalui pesan singkat, yang membuat jantung pemimpin muda Adhitama Group itu berdebar kencang sepanjang malam membayangkan pertemuan yang akan ia rencanakan.Pagi itu, Kaivan sengaja mengosongkan seluruh jadwalnya, sesuatu yang jarang sekali ia lakukan mengingat betapa padatnya rutinitas kerja yang biasa ia jalani sebagai pemimpin perusahaan besar. Ia berdiri di depan gedung fakultas hukum tempat Alesha mengajar, mengenakan pakaian kasual yang jauh berbeda dari kemeja formal yang biasa ia pakai di kantor, berharap penampilannya kali ini bisa membuat Alesha merasa lebih nyaman untuk berbicara dengannya."Pak Kaivan, apa Bapak yakin ingin melakukan ini?" tanya Sita yang ikut mendampinginya, suaranya terdengar sedikit khawatir melihat atasannya begitu gugu
Bimo mengangguk pelan mendengar permintaan itu, meski di balik ekspresinya yang tenang, ia bisa menangkap ada sesuatu yang jauh lebih personal di balik permintaan Kaivan untuk mencari tahu tentang Alesha, bukan sekedar kekhawatiran biasa seorang klien terhadap keselamatan orang lain."Baik, Pak Kaivan. Saya akan segera mulai penyelidikan itu," ucap Bimo profesional, mencatat sesuatu di buku kecilnya sebelum akhirnya menatap Kaivan dengan pandangan yang sedikit lebih santai dari sebelumnya.Kaivan menghela napas panjang, menyandarkan tubuhnya ke kursi kerja, pikirannya masih dipenuhi berbagai kekhawatiran yang bercampur menjadi satu antara ancaman bisnis dari Abitama dan kekhawatirannya yang begitu besar terhadap keselamatan Alesha."Terima kasih, Pak Bimo. Aku benar-benar menghargai bantuan kamu selama ini," ucap Ka







