/ Romansa / Obsesi Tuan Kaivan / Bab 3 Perubahan Alesha

공유

Bab 3 Perubahan Alesha

작가: Ibu3Dara
last update 게시일: 2026-06-16 15:19:54

Jari Alesha masih membeku di atas layar ponselnya. Foto Kaivan dan Vanessa berpelukan mesra, diambil hanya beberapa menit setelah dirinya jatuh pingsan di lantai ballroom yang sama terasa seperti tamparan terakhir dari malam yang sudah cukup menghancurkan.

Ia membaca ulang keterangan foto itu sekali lagi. *Siapa wanita yang ditinggalkan ini?*

Tenggorokannya tercekat. Ada dorongan untuk melempar ponsel itu sekuat tenaga, untuk berteriak, untuk menangis sampai tidak ada lagi air mata yang tersisa. Namun yang keluar hanyalah satu tarikan napas panjang yang gemetar.

Alesha mengunci ponselnya, lalu meletakkannya di meja balkon dengan tangan gemetar. Dadanya masih terasa sesak, tetapi entah kenapa, tidak sehancur yang ia kira.

Mungkin karena ia mulai lelah berharap. Di tengah hujan malam yang turun pelan dan udara dingin yang menusuk kulit, Alesha akhirnya menyadari bahwa selama ini hanya dirinya yang berjuang sendirian dalam hubungan yang bahkan belum pernah benar-benar dimulai.

"Alesha…"

Suara Helena terdengar dari balik pintu kamar.

Alesha buru-buru menghapus air matanya sebelum membuka pintu. Ibunya berdiri sambil membawa segelas susu hangat, tatapannya penuh kekhawatiran.

"Kamu belum tidur?"

Alesha tersenyum tipis.

"Sebentar lagi, Ma."

Helena mengusap lembut rambut putrinya. "Kalau sakit, gak usah dipaksa kuat."

Kalimat sederhana itu hampir menghancurkan pertahanan Alesha lagi. Namun kali ini ia menarik napas panjang dan menahannya pelan.

"Aku akan baik-baik saja, Ma."

Untuk pertama kalinya sejak pertunangan itu, Alesha benar-benar ingin mencoba baik-baik saja.

“Aku harus kuat. Aku harus tetap hidup, dengan atau tanpa Kaivan,” ucapnya dalam hati, berulang-ulang, seolah ingin menanamkan kalimat itu jauh ke dalam dirinya.

Pagi harinya, ia duduk diam di depan meja kerja sambil menatap satu nama di layar ponselnya. Kaivan Adhitama. Nama yang selama bertahun-tahun selalu menjadi alasan dirinya tersenyum, tetapi kini justru membuat dadanya terasa nyeri.

Dengan tangan gemetar, Alesha akhirnya menghapus kontak itu. Hanya satu sentuhan kecil, sederhana namun air matanya tetap jatuh tanpa bisa ditahan.

"Aku benci diriku sendiri," bisiknya lirih.

Ia tidak tahu kenapa hal sesederhana menghapus nomor Kaivan terasa seperti mengubur sebagian dari hatinya. Namun kalau terus seperti ini, dirinya tidak akan pernah bisa keluar dari rasa sakit itu.

Ponselnya kembali bergetar. Pesan masuk dari Maya.

"Al, hari ini kamu ada kelas jam sembilan, kan? Jangan telat ya, Bu Dosen cantik."

Alesha tertawa kecil untuk pertama kalinya dalam beberapa hari terakhir.

"Ternyata hidup tetap berjalan," gumamnya pelan.

Dan mungkin, dirinya juga harus mulai berjalan maju ke depan.

Pagi itu, Universitas Arkanusa cukup ramai. Beberapa mahasiswa masih menoleh saat melihat Alesha berjalan melewati koridor fakultas hukum, ada yang berbisik, ada yang sekadar menatap dengan rasa ingin tahu. Namun kali ini Alesha memilih tidak peduli. Ia datang lebih awal, merapikan bahan presentasi, dan menyiapkan materi kelas karena menyibukkan diri terasa jauh lebih baik daripada terus memikirkan Kaivan.

"Selamat pagi, Bu Alesha!"

Beberapa mahasiswa menyapanya dengan ceria.

Alesha membalas dengan senyum tipis. "Pagi."

Untuk beberapa saat, Alesha benar-benar lupa tentang rasa sakitnya. Saat mengajar, ia terlihat jauh lebih tenang, dengan suara lembut namun tegas, menjelaskan materi hukum perdata di depan kelas. Bahkan beberapa mahasiswa terlihat fokus, seolah ikut merasakan perubahan kecil dalam diri dosen mereka pagi itu.

"Kalau seseorang melakukan wanprestasi dalam sebuah perjanjian, maka pihak yang dirugikan memiliki hak untuk menghentikan hubungan hukum tersebut."

Kalimat itu membuat Alesha terdiam sepersekian detik. ‘Hubungan hukum.’ Ironis sekali mendengarnya di saat dirinya justru menyadari bahwa selama ini ia tidak pernah benar-benar memiliki hubungan apa pun dengan Kaivan.

Yang ada hanyalah harapan sepihak yang terus ia pertahankan sendirian, sementara Kaivan bahkan tidak pernah melihatnya dengan cara yang sama.

"Bu?"

Salah satu mahasiswa memanggilnya, bingung.

Alesha langsung tersadar, lalu tersenyum kecil. "Kita lanjut halaman dua puluh tiga."

Ia kembali mengajar seolah tidak terjadi apa-apa, meski di dalam dirinya masih ada luka yang belum benar-benar sembuh. Ia memilih tetap tersenyum dan menyibukkan diri, berharap rasa sakit itu perlahan menghilang dengan sendirinya.

Sementara itu, di gedung utama Adhitama Group, Kaivan baru saja menyelesaikan rapat bersama jajaran direksi. Pria itu berjalan keluar ruang rapat dengan ekspresi datar seperti biasa. Jas hitam mahal membungkus tubuh tingginya dengan sempurna, hingga setiap orang yang berpapasan otomatis menunduk hormat.

"Pak Kaivan, jadwal makan siang Anda dengan Nyonya Lavienna dipindahkan ke jam dua siang," ujar sekretarisnya.

Kaivan mengangguk singkat, tetapi langkahnya mendadak terhenti saat tanpa sadar ia membuka ponselnya. Tidak ada pesan dari Alesha. Biasanya perempuan itu selalu mengirim pesan, menanyakan kabarnya, atau sekadar mengingatkannya untuk makan.

Kali ini tidak ada. Hening. Dan entah kenapa, hal itu terasa aneh bagi Kaivan.

"Pak. Ada masalah?"

Kaivan mengangkat wajah. "Tidak ada."

Ia memasukkan kembali ponselnya ke saku celana. “Bagus kalau Alesha mulai menyerah bukankah memang itu yang ia inginkan sejak awal?” Ujarnya dalam hati.

Kaivan tidak ingin memberi harapan pada perempuan yang tidak pernah ia cintai, karena satu-satunya wanita yang ada di hatinya hanyalah Vanessa.

Malam harinya, keluarga Adhitama mengadakan makan malam kecil di rumah. Namun begitu duduk di meja makan, Kaivan langsung menyadari ada sesuatu yang berbeda.

"Alesha gak datang?" tanya Lavienna sambil meletakkan gelasnya.

Biasanya Alesha selalu hadir di setiap makan malam, entah membantu Helena menyiapkan makanan atau hanya duduk diam mendengarkan pembicaraan keluarga mereka. Namun malam itu, kursi yang biasa ditempatinya justru kosong.

Raditya, adik bungsu Kaivan, tersenyum tipis. "Alesha masih sibuk di kampus."

"Dia biasanya selalu datang," ujar Lavienna lagi.

Kaivan mengambil minumannya tanpa menjawab.

"Mungkin akhirnya dia sadar kalau terlalu dekat dengan keluarga kita hanya akan membuat semuanya jadi salah paham," ucap Kaivan datar.

Suasana meja makan langsung sedikit canggung.

Adrian menatap putranya tajam. "Kamu bicara seolah semua ini sepenuhnya salah Alesha."

Kaivan tidak menjawab karena malas membahas tentang Alesha lagi. Namun anehnya, malam itu terasa sedikit berbeda tanpa keberadaan perempuan tersebut. Tidak ada suara lembut maupun tatapan penuh perhatian yang biasanya selalu mengikutinya. Dan untuk pertama kalinya, Kaivan menyadari bahwa seseorang yang selama ini selalu ada perlahan mulai menjauh.

Hari-hari berikutnya berjalan begitu cepat. Alesha mengambil lebih banyak pekerjaan, mengikuti berbagai kegiatan kampus, dan menyibukkan diri agar tidak memiliki waktu untuk memikirkan Kaivan. Perlahan, semuanya mulai terasa biasa saja, meski sesekali rasa sakit itu masih datang diam-diam di malam hari, saat rumah sudah sunyi dan tidak ada lagi yang bisa ia sibukkan.

"Aku dengar keluarga Adhitama mengadakan acara perayaan ulang tahun pernikahan Om Adrian dan Tante Lavienna," ujar Maya saat mereka makan siang bersama di kantin kampus.

Alesha hanya mengangguk pelan, menyendok sup di mangkuknya tanpa benar-benar berminat memakannya.

"Biasanya kamu datang, kan?"

"Sekarang gak lagi."

Jawaban itu terdengar tenang. Terlalu tenang, sampai Maya menatapnya hati-hati.

"Kamu yakin?"

Alesha terdiam beberapa detik sebelum tersenyum kecil.

"Saat ini aku sedang belajar berhenti berharap."

Kalimat itu terdengar sederhana, padahal bagi dirinya itu adalah salah satu hal tersulit yang pernah ia lakukan.

Suatu sore, saat tanpa sengaja Alesha dan Kaivan bertemu di sebuah restoran.

Alesha duduk di meja seberang, mengenakan blazer abu-abu, tertawa kecil mendengar sesuatu yang dikatakan rekan kerjanya. Untuk pertama kalinya, tidak ada senyum gugup maupun tatapan berbinar saat mata mereka bertemu sekilas. Alesha hanya menoleh sejenak, lalu kembali melanjutkan percakapannya seolah Kaivan hanyalah orang biasa yang duduk di seberang ruangan.

“Kenapa Alesha sekarang berubah ya?” ucapnya dalam hati.

Dan entah kenapa, hal kecil itu membuat dada Kaivan terasa tidak nyaman, seperti ada sesuatu yang hilang tanpa ia sadari sebelumnya.

Ia masih menatap ke arah meja itu ketika ponselnya bergetar. Sebuah panggilan masuk dari nomor yang tidak ia kenal.

"Halo?"

"Kaivan." Suara di seberang terdengar berat dan familiar. Suara ayahnya, tetapi dengan nada yang belum pernah Kaivan dengar sebelumnya. Tegang. Hampir terdengar marah.

"Pa? Ada apa?"

"Pulang sekarang. Ada sesuatu yang harus kamu lihat."

"Sekarang? Aku masih ada meeting, Pa."

"Kaivan." Suara Adrian memotong, tegas. "Ini soal Vanessa."

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Obsesi Tuan Kaivan   Bab 12 Kejang di Ruang ICU

    Panggilan mendadak itu membuat semua orang di ruang tunggu langsung berdiri serentak, jantung mereka berdebar kencang antara harap dan cemas. Adrian bergegas menggandeng tangan Lavienna yang sudah lebih dulu melangkah cepat menuju lorong ruang ICU, sementara Alesha dan Vanessa mengikuti dari belakang dengan langkah tergesa-gesa."Ada apa, Suster? Apa yang terjadi pada anak saya?" tanya Lavienna panik begitu sampai di depan pintu ICU, suaranya bergetar menahan ketakutan yang tiba-tiba kembali muncul.Dari balik pintu kaca ruang ICU, mereka bisa melihat beberapa tenaga medis bergerak cepat mengelilingi ranjang Kaivan. Tubuh pria itu tampak menghentak-hentak tidak terkendali, sementara alat pemantau di sampingnya berbunyi nyaring bersahutan."Pasien mengalami kejang mendadak! Siapkan obat antikonvulsan sekarang!" seru

  • Obsesi Tuan Kaivan   Bab 11 Kabar dari Ruang ICU

    Adrian segera berdiri dan menghampiri perawat itu, diikuti Lavienna yang berjalan dengan wajah penuh cemas. Vanessa dan Alesha juga ikut berdiri, tetapi tetap menjaga jarak satu sama lain karena suasana di antara mereka masih terasa canggung."Saya ayahnya. Bagaimana keadaan anak saya sekarang?" tanya Adrian dengan nada cemas.Perawat itu tersenyum tipis, seolah berusaha menenangkan keluarga Kaivan sebelum menjelaskan kondisinya.."Pasien sudah dipindahkan ke ruang ICU. Kondisinya sudah lebih stabil dibanding sebelumnya, meski masih memerlukan pemantauan intensif," jelas perawat itu dengan nada menenangkan, membuat semua orang di ruang tunggu sedikit menghela napas lega.Lavienna langsung meremas tangan suaminya erat, air mata yang tadinya karena kesedihan kini bercampur

  • Obsesi Tuan Kaivan   Bab 10 Kedatangan yang Tidak Diinginkan

    Vanessa berjalan cepat menuju ruang tunggu dengan napas memburu, penampilannya masih terlihat rapi meski matanya sembap seolah baru selesai menangis di dalam mobil. Begitu melihat Adrian dan Lavienna duduk berdampingan dengan wajah lelah, langkahnya sedikit melambat, seakan ragu untuk berjalan mendekat."Tante, Om," sapa Vanessa pelan, suaranya terdengar hati-hati begitu berdiri di hadapan kedua orang tua Kaivan.Lavienna langsung berdiri dari kursinya, menatap Vanessa dengan tatapan tajam yang jarang sekali ia tunjukkan kepada siapa pun. Kesedihan yang sejak tadi memenuhi wajahnya kini bercampur dengan kemarahan yang sulit ia sembunyikan."Kamu masih berani datang ke sini setelah tahu apa yang terjadi pada Kaivan?" tanya Lavienna dengan suara bergetar menahan amarah, matanya menatap lurus ke wajah Vanessa tanpa ber

  • Obsesi Tuan Kaivan   Bab 9 Panggilan yang Tidak Terjawab

    Pertanyaan Lavienna menggantung di udara, membuat Adrian ikut terdiam beberapa saat sebelum akhirnya merangkul bahu istrinya lebih erat. Ia tidak memiliki jawaban pasti untuk menenangkan kecemasan itu, karena jauh di dalam hatinya sendiri, ketakutan yang sama juga mulai menggerogoti pikirannya."Jangan berpikir yang macam-macam dulu, Sayang. Kita tunggu saja perkembangannya, jangan berandai-andai tentang hal buruk yang belum tentu terjadi," ucap Adrian dengan suara pelan, meski nada bicaranya sendiri terdengar kurang meyakinkan.Lavienna hanya mengangguk lemah, air matanya masih terus mengalir sementara pandangannya kosong menatap lantai rumah sakit yang dingin. Alesha yang berdiri tidak jauh dari mereka mendengar percakapan itu dengan dada yang semakin sesak, sementara ponsel di tangannya masih terus bergetar tanpa henti.

  • Obsesi Tuan Kaivan   Bab 8 Vonis Dokter

    Lavienna Adhitama langsung berdiri dari kursinya begitu mendengar pertanyaan dokter, tubuhnya sedikit oleng karena terlalu cepat bangkit setelah sekian lama menunggu dalam ketegangan. Adrian segera menopang bahu istrinya, meski wajahnya sendiri juga tidak lepas dari raut cemas yang sulit disembunyikan."Saya papanya, Dokter. Bagaimana keadaan anak saya sekarang?" tanya Adrian dengan suara yang berusaha ia jaga tetap tegas, meski nada bicaranya sedikit bergetar di akhir kalimat.Dokter itu menghela napas pelan sebelum menjawab, tangannya masih memegang beberapa lembar hasil pemeriksaan yang baru saja keluar dari ruang operasi."Pasien mengalami cedera kepala cukup serius akibat benturan keras, disertai patah tulang rusuk dan pendarahan internal yang sempat membuat kondisinya kritis di perjalanan," jelas dokter itu de

  • Obsesi Tuan Kaivan   Bab 7 Kepanikan Keluarga

    Tangan Alesha gemetar semakin hebat saat mendengar suara panik mamanya Kaivan dari seberang telepon. Ia menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan diri sendiri sebelum menjawab, meskipun kenyataannya hatinya sendiri masih dipenuhi ketakutan yang sama."Kaivan mengalami kecelakaan di jalan tol, Tante. Sekarang dia sedang ditangani dokter di ruang operasi," jawab Alesha dengan suara bergetar, berusaha terdengar setenang mungkin meski nyatanya ia sendiri masih syok.Suara isak tangis samar terdengar dari seberang telepon, bercampur dengan suara langkah kaki yang tergesa-gesa."Ya Tuhan... kami langsung ke sana sekarang. Tolong jaga dia, Alesha," ucap mamanya Kaivan dengan suara yang nyaris pecah, sebelum sambungan telepon terputus tanpa sempat Alesha membalas.Alesha m

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status