Home / Romansa / Obsesi Tuan Kaivan / Bab 6 Antara Hidup dan Mati

Share

Bab 6 Antara Hidup dan Mati

Author: Ibu3Dara
last update publish date: 2026-07-18 22:57:45

Suara alat pemantau jantung yang berbunyi nyaring membuat seisi ambulans mendadak tegang. Salah satu petugas medis bergerak cepat memasang masker oksigen ke wajah Kaivan, sementara yang lain menekan dadanya dengan ritme cepat dan terukur.

"Detak jantungnya melemah, kita butuh defibrillator sekarang!" seru petugas berseragam biru itu dengan suara tegas, matanya tak lepas dari monitor yang menunjukkan garis yang mulai tidak stabil.

Alesha hanya bisa duduk membeku di sudut ambulans, tangannya mencengkeram ujung kursi hingga buku-buku jarinya memutih. Air matanya bercampur dengan sisa hujan yang masih membasahi wajahnya, namun ia sama sekali tidak menghapusnya. Pandangannya terus terpaku pada wajah Kaivan yang semakin pucat, seolah jika ia berkedip sedetik saja, pria itu akan benar-benar pergi.

"Kumohon... jangan pergi," bisik Alesha lirih, suaranya nyaris tidak terdengar di antara riuhnya suara alat medis dan sirene yang masih meraung di luar.

Ambulans melaju kencang membelah jalanan yang basah, lampu sirene merah-biru berpendar di kaca jendela yang buram oleh hujan. Setiap guncangan kecil dari jalan membuat jantung Alesha ikut berdegup tidak karuan, seakan ia bisa merasakan setiap detik yang terbuang begitu berharga bagi nyawa Kaivan.

"Clear!" teriak petugas medis itu sambil menempelkan alat kejut jantung ke dada Kaivan.

Tubuh Kaivan sedikit terangkat karena aliran listrik yang dialirkan, lalu kembali terkulai lemas di atas tandu. Semua mata tertuju pada monitor, menunggu dengan napas tertahan.

Garis di layar masih datar sesaat, sebelum akhirnya kembali bergerak naik turun dengan ritme yang tidak menentu namun ada.

"Ada detak! Meski lemah, tapi ada!" seru petugas itu dengan nada sedikit lega, meski ketegangan di wajahnya belum sepenuhnya hilang.

Alesha merasakan dadanya seperti dilepaskan dari cengkeraman yang mencekik sejak tadi. Namun ia tahu, ini belum berakhir. Wajah Kaivan masih sepucat kertas, dan darah dari pelipisnya masih merembes meski sudah ditekan dengan kain kasa.

"Kapan kita akan tiba di rumah sakit?" tanya Alesha dengan suara bergetar, menatap petugas medis yang sibuk memeriksa jalur infus di lengan Kaivan.

"Sekitar lima menit lagi. Kami akan berusaha semaksimal mungkin," jawab petugas itu tanpa menoleh, tangannya masih sibuk bekerja.

Lima menit terasa seperti waktu paling panjang dalam hidup Alesha. Setiap detik yang berlalu membawa perasaan campur aduk antara harapan dan ketakutan yang belum pernah ia rasakan sedahsyat ini. Ia mengenang kembali betapa selama ini ia berusaha menjauh dari Kaivan, meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia sudah bisa hidup tanpa pria itu. Namun kini, melihat Kaivan berjuang antara hidup dan mati di depan matanya, semua pertahanan yang ia bangun selama ini runtuh seketika.

Ambulans akhirnya berhenti di depan pintu UGD rumah sakit. Pintu belakang ambulans terbuka lebar, dan beberapa perawat serta dokter sudah menunggu dengan tandu darurat, siap mengambil alih.

"Korban kecelakaan lalu lintas, cedera kepala, tekanan darah sempat drop drastis di perjalanan!" lapor petugas medis dengan cepat sambil membantu memindahkan Kaivan.

"Bawa langsung ke ruang operasi, siapkan tim bedah!" perintah salah satu dokter dengan nada tegas, matanya cepat menilai kondisi pasien di hadapannya.

Alesha berusaha mengikuti langkah cepat para tenaga medis yang mendorong tandu Kaivan menyusuri lorong rumah sakit yang terang benderang, jauh berbeda dengan kegelapan dan hujan yang baru saja mereka lewati. Namun sebelum ia sempat melangkah lebih jauh, seorang perawat menahan bahunya.

"Maaf, keluarga pasien tidak diperbolehkan masuk lebih jauh dari sini," ucap perawat itu dengan nada tegas namun tetap ramah, menghalangi langkah Alesha di depan pintu berlabel 'Ruang Operasi'.

"Tapi saya bukan…" Alesha berusaha membantah, namun suaranya tercekat di tenggorokan.

"Anda bisa menunggu di ruang tunggu. Kami akan memberi kabar begitu ada perkembangan," lanjut perawat itu sambil menunjuk arah lorong.

Alesha berdiri terpaku di depan pintu ruang perawatan yang perlahan tertutup, memisahkannya dari Kaivan yang masih tidak sadarkan diri. Tubuhnya yang basah mulai terasa dingin, tetapi pikirannya hanya dipenuhi rasa cemas dan bayangan kondisi Kaivan. Ia kemudian berjalan ke ruang tunggu dan duduk dengan tangan yang masih gemetar.

Tidak lama kemudian, ponselnya bergetar. Alesha mengeluarkannya dari dalam tas dan melihat nama mama Kaivan muncul di layar. Dadanya kembali berdebar karena bingung harus berkata apa, tetapi setelah menarik napas pelan, ia akhirnya mengangkat panggilan itu.

"Halo Tante?" jawab Alesha pelan.

Suara di seberang telepon terdengar panik dan terengah-engah.

"Alesha! Kamu di mana? Tante baru dapat kabar dari polisi, katanya ada kecelakaan yang melibatkan mobil Kaivan. Apa itu benar? Bagaimana keadaan Kaivan?!"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Obsesi Tuan Kaivan   Bab 91 Keinginan yang Disampaikan

    Pertanyaan Kaivan menggantung di udara, namun ayahnya tidak segera menjawab. Ia hanya menggeleng pelan, seakan takut menyebutkan nama itu secara langsung, lalu berdiri dan berjalan perlahan meninggalkan ruangan. Kaivan tidak mengejarnya; ia tahu jawaban itu akan datang pada waktunya. Namun saat ini, pikirannya justru tertuju pada hal lain. Saran yang terus berputar di kepalanya, yang semakin lama semakin sulit untuk diabaikan. Ia merasa terjepit di antara keputusasaan dan keinginan untuk memiliki Alesha. Akhirnya, ia memutuskan untuk berbicara jujur kepada kedua orang tuanya, berharap mereka akan mengerti, berharap mereka akan mendukungnya.Malam itu, setelah makan malam, Kaivan duduk di hadapan ayah dan ibunya di ruang tengah. Ia menarik napas panjang, menata kata-kata yang selama ini mengganjal di tenggorokannya. Wajahnya tegang, namun suaranya mantap saat ia mulai berbicara.

  • Obsesi Tuan Kaivan   Bab 90 Perdebatan Batin

    Kata-kata ayahnya menggantung di udara, membuat napas Kaivan tertahan seketika. Ia menatap pria yang selama ini ia anggap teladan itu, mencari tanda-tanda kebohongan atau sekadar kiasan, namun tidak ada. Wajah ayahnya penuh penyesalan yang mendalam, seakan kata-kata itu mengembalikannya puluhan tahun ke masa lalu yang ingin ia lupakan. Keheningan yang menyelimuti ruangan terasa berat, menekan dada Kaivan yang masih berusaha mencerna apa yang baru didengarnya. Jika ayahnya pernah melakukan hal serupa, jika pernikahan mereka pun bermula dari langkah yang kelam, apakah itu berarti saran temannya tidak sepenuhnya salah? Pertanyaan itu muncul perlahan, menyusup ke celah keraguannya yang paling rapuh.“Apa maksud Papa?” tanya Kaivan pelan, suaranya bergetar. “Apakah… pernikahan Papa dan Mama juga dimulai dengan cara itu?”Ayahnya mengan

  • Obsesi Tuan Kaivan   Bab 89 Kegigihan yang Mulai Pudar

    Kabar kesembuhan ayah Alesha menjadi awal yang baru bagi keluarganya, namun bagi Kaivan justru sebaliknya. Ia tetap datang setiap pagi, kadang membawa makanan kesukaan Alesha, kadang sekedar membantu urusan rumah yang berat, kadang hanya duduk di teras menunggu sekedar untuk menyapa. Setiap kali ia menyampaikan maksud hatinya, Alesha menyampaikan penolakan dengan lembut. Semakin ia berusaha mendekat, semakin Alesha mundur perlahan, menjaga jarak yang tegas seakan ada tembok tidak terlihat di antara mereka. Kaivan mulai menyadari, kehadirannya bukannya mendekatkan, justru membuat perempuan itu semakin menjauh.Suatu sore, saat matahari mulai condong ke barat, Kaivan berdiri di depan pagar rumah Wijanarka. Ia baru saja menyampaikan niatnya untuk berbicara sebentar, namun jawaban Alesha sama seperti biasanya, ia menolak dan memintanya untuk tidak menunggu lebih lama lagi. Ia menatap punggung Alesha yang masuk

  • Obsesi Tuan Kaivan   Bab 88 Kesembuhan yang Tak Mengubah Apa Pun

    Pintu ruangan dokter terbuka lebar. Dokter tersenyum ramah menyampaikan kabar yang dinanti, kondisi ayah Alesha sudah stabil, tidak ada resiko tersisa, dan ia dinyatakan sudah sehat sepenuhnya. Mahesa tersenyum lebar, memeluk istrinya yang tampak lega tidak terlukiskan. Suasana di ruangan itu seharusnya penuh sukacita, namun Alesha berdiri agak terpisah, tersenyum tipis tanpa benar-benar ikut merasakannya. Ia bersyukur ayahnya sembuh, namun kabar baik itu tidak mampu mengangkat beban yang masih membebani hatinya. Bayangan masa lalu, penolakan yang telah ia sampaikan, dan pesan misterius yang belum terjawab. Semuanya bercampur menjadi satu, membuat hatinya tetap berat.Di perjalanan pulang, suasana di dalam mobil terasa hangat. Ayahnya bercerita tentang rencana kegiatan yang ingin dilakukannya setelah sekian lama sakit. Namun sesampainya di rumah, saat semua mulai tenang, ayahnya menatap putrinya dengan pan

  • Obsesi Tuan Kaivan   Bab 87 Alesha Menolak

    Pesan itu masih terngiang di pikiran Alesha meski layar ponsel sudah kembali gelap. Ia berdiri terpaku, tangan masih gemetar memegang benda itu. Manipulasi? Apakah mungkin sikap dingin dan kata-kata kasar Kaivan dulu bukan sepenuhnya kehendak hatinya sendiri? Pertanyaan itu muncul sekaligus disangkalnya sendiri, terlalu mustahil, dan terlalu menyakitkan jika ternyata benar. Ia menggeleng pelan, berusaha mengusir pikiran itu. Apa pun alasannya, kenyataan tetap sama, luka itu nyata dan belum sembuh. Ia tidak bisa membiarkan keraguan baru mengubah keputusan yang sudah bulat di hatinya.Pintu perlahan terbuka. Kaivan berdiri di ambang pintu, belum pergi sepenuhnya. Ia menatap Alesha, menyadari ada sesuatu yang berubah. Keraguan di wajah perempuan itu bukan lagi sekedar ketakutan, melainkan bercampur kebingungan yang mendalam. Ia melangkah masuk kembali perlahan, menutup pintu di belakangnya, namun tidak mendekat. Ia berdiri di tempat yang sama, menjaga jarak yang sopan, seakan takut kehad

  • Obsesi Tuan Kaivan   Bab 86 Luka yang Belum Sembuh

    Kata-kata itu menggantung berat di ruangan itu, lalu pria itu berbalik pergi, meninggalkan keheningan yang mencekam. Tak ada yang mengejarnya, tak ada yang meminta penjelasan lebih lanjut; semua orang terpaku mendengar apa yang baru saja terucap. Kaivan berdiri diam, bingung sekaligus tertekan. Tuduhan itu datang dari orang yang seharusnya mendukungnya, dan kenyataan yang tersisa terasa makin mengancam.Namun bagi Alesha, keraguannya bukan hanya soal rahasia masa lalu keluarga. Setiap kali ia melihat Kaivan, wajah dingin dan kata-kata tajam yang dulu pernah diucapkan pria itu kembali muncul di pikirannya. Ia ingin percaya perubahan ini nyata, tapi luka lama belum kering, apalagi sembuh.Mahesa menghela napas panjang, memecah keheningan. “Kami melihat usahamu selama ini, Kaivan,” ucapnya pelan namun tegas, menatap pemuda itu. “Kamu datang setia

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status