LOGINSuara alat pemantau jantung yang berbunyi nyaring membuat seisi ambulans mendadak tegang. Salah satu petugas medis bergerak cepat memasang masker oksigen ke wajah Kaivan, sementara yang lain menekan dadanya dengan ritme cepat dan terukur.
"Detak jantungnya melemah, kita butuh defibrillator sekarang!" seru petugas berseragam biru itu dengan suara tegas, matanya tak lepas dari monitor yang menunjukkan garis yang mulai tidak stabil.
Alesha hanya bisa duduk membeku di sudut ambulans, tangannya mencengkeram ujung kursi hingga buku-buku jarinya memutih. Air matanya bercampur dengan sisa hujan yang masih membasahi wajahnya, namun ia sama sekali tidak menghapusnya. Pandangannya terus terpaku pada wajah Kaivan yang semakin pucat, seolah jika ia berkedip sedetik saja, pria itu akan benar-benar pergi.
"Kumohon... jangan pergi," bisik Alesha lirih, suaranya nyaris tidak terdengar di antara riuhnya suara alat medis dan sirene yang masih meraung di luar.
Ambulans melaju kencang membelah jalanan yang basah, lampu sirene merah-biru berpendar di kaca jendela yang buram oleh hujan. Setiap guncangan kecil dari jalan membuat jantung Alesha ikut berdegup tidak karuan, seakan ia bisa merasakan setiap detik yang terbuang begitu berharga bagi nyawa Kaivan.
"Clear!" teriak petugas medis itu sambil menempelkan alat kejut jantung ke dada Kaivan.
Tubuh Kaivan sedikit terangkat karena aliran listrik yang dialirkan, lalu kembali terkulai lemas di atas tandu. Semua mata tertuju pada monitor, menunggu dengan napas tertahan.
Garis di layar masih datar sesaat, sebelum akhirnya kembali bergerak naik turun dengan ritme yang tidak menentu namun ada.
"Ada detak! Meski lemah, tapi ada!" seru petugas itu dengan nada sedikit lega, meski ketegangan di wajahnya belum sepenuhnya hilang.
Alesha merasakan dadanya seperti dilepaskan dari cengkeraman yang mencekik sejak tadi. Namun ia tahu, ini belum berakhir. Wajah Kaivan masih sepucat kertas, dan darah dari pelipisnya masih merembes meski sudah ditekan dengan kain kasa.
"Kapan kita akan tiba di rumah sakit?" tanya Alesha dengan suara bergetar, menatap petugas medis yang sibuk memeriksa jalur infus di lengan Kaivan.
"Sekitar lima menit lagi. Kami akan berusaha semaksimal mungkin," jawab petugas itu tanpa menoleh, tangannya masih sibuk bekerja.
Lima menit terasa seperti waktu paling panjang dalam hidup Alesha. Setiap detik yang berlalu membawa perasaan campur aduk antara harapan dan ketakutan yang belum pernah ia rasakan sedahsyat ini. Ia mengenang kembali betapa selama ini ia berusaha menjauh dari Kaivan, meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia sudah bisa hidup tanpa pria itu. Namun kini, melihat Kaivan berjuang antara hidup dan mati di depan matanya, semua pertahanan yang ia bangun selama ini runtuh seketika.
Ambulans akhirnya berhenti di depan pintu UGD rumah sakit. Pintu belakang ambulans terbuka lebar, dan beberapa perawat serta dokter sudah menunggu dengan tandu darurat, siap mengambil alih.
"Korban kecelakaan lalu lintas, cedera kepala, tekanan darah sempat drop drastis di perjalanan!" lapor petugas medis dengan cepat sambil membantu memindahkan Kaivan.
"Bawa langsung ke ruang operasi, siapkan tim bedah!" perintah salah satu dokter dengan nada tegas, matanya cepat menilai kondisi pasien di hadapannya.
Alesha berusaha mengikuti langkah cepat para tenaga medis yang mendorong tandu Kaivan menyusuri lorong rumah sakit yang terang benderang, jauh berbeda dengan kegelapan dan hujan yang baru saja mereka lewati. Namun sebelum ia sempat melangkah lebih jauh, seorang perawat menahan bahunya.
"Maaf, keluarga pasien tidak diperbolehkan masuk lebih jauh dari sini," ucap perawat itu dengan nada tegas namun tetap ramah, menghalangi langkah Alesha di depan pintu berlabel 'Ruang Operasi'.
"Tapi saya bukan…" Alesha berusaha membantah, namun suaranya tercekat di tenggorokan.
"Anda bisa menunggu di ruang tunggu. Kami akan memberi kabar begitu ada perkembangan," lanjut perawat itu sambil menunjuk arah lorong.
Alesha berdiri terpaku di depan pintu ruang perawatan yang perlahan tertutup, memisahkannya dari Kaivan yang masih tidak sadarkan diri. Tubuhnya yang basah mulai terasa dingin, tetapi pikirannya hanya dipenuhi rasa cemas dan bayangan kondisi Kaivan. Ia kemudian berjalan ke ruang tunggu dan duduk dengan tangan yang masih gemetar.
Tidak lama kemudian, ponselnya bergetar. Alesha mengeluarkannya dari dalam tas dan melihat nama mama Kaivan muncul di layar. Dadanya kembali berdebar karena bingung harus berkata apa, tetapi setelah menarik napas pelan, ia akhirnya mengangkat panggilan itu.
"Halo Tante?" jawab Alesha pelan.
Suara di seberang telepon terdengar panik dan terengah-engah.
"Alesha! Kamu di mana? Tante baru dapat kabar dari polisi, katanya ada kecelakaan yang melibatkan mobil Kaivan. Apa itu benar? Bagaimana keadaan Kaivan?!"
Kaivan berdiri mematung mendengar nama itu disebutkan, jantungnya berdebar begitu kencang hingga terasa hampir melompat keluar dari dadanya sendiri. Setelah enam bulan penuh pencarian yang sia-sia, sosok yang begitu ia rindukan itu kini benar-benar berdiri tidak jauh dari ruang kerjanya."Alesha? Suruh dia masuk, Sita," ucap Kaivan cepat, suaranya terdengar begitu bersemangat, tangannya buru-buru merapikan kemeja yang ia kenakan meski sebenarnya penampilannya sudah cukup rapi sejak pagi tadi.Sita mengangguk dan segera keluar, tidak sampai satu menit kemudian pintu ruang kerja itu kembali terbuka, menampilkan sosok Alesha yang berdiri dengan sebuah kotak kecil berbalut kain beludru di tangannya, wajahnya terlihat begitu tenang meski sorot matanya menyimpan sesuatu yang sulit diartikan."Alesha," ucap Kaivan pelan, s
Lavienna segera menghampiri anaknya, menahan bahu Kaivan yang sudah setengah bangkit dari ranjang dengan tenaga yang masih begitu terbatas, wajahnya menunjukkan kekhawatiran yang begitu besar melihat tekad anaknya yang begitu terburu-buru itu."Kaivan, tenang dulu, Nak. Kondisimu masih belum sepenuhnya pulih, kamu baru saja pulang dari rumah sakit hari ini," ucap Lavienna cemas, tangannya mencoba menahan tubuh Kaivan yang masih terlihat begitu lemah untuk memaksakan diri bergerak seperti itu.Kaivan menggeleng keras kepala, matanya menatap ibunya dengan tatapan penuh keteguhan meski tubuhnya sendiri jelas belum siap untuk melakukan aktivitas seberat yang ia inginkan saat itu."Aku tidak peduli, Ma. Aku harus menemuinya sekarang, aku sudah menunggu terlalu lama," ucap Kaivan keras kepala, mencoba kembali bangkit mesk
Kaivan menatap layar ponselnya yang menampilkan sebuah pesan singkat dari Vanessa, matanya membaca setiap kata dengan dahi yang semakin berkerut, wajahnya berubah pucat seiring dengan makna kalimat itu perlahan meresap ke dalam pikirannya.Pesan itu berbunyi: "Apa kamu memutuskanku karena Alesha yang selama ini menemanimu di rumah sakit, Kai?"Kaivan terdiam mematung menatap layar itu, tangannya yang tadi masih gemetar menahan amarah kini gemetar karena alasan yang begitu berbeda, pikirannya langsung dipenuhi kebingungan yang begitu besar mengingat jawaban yang ia terima dari ibunya beberapa waktu lalu."Ma," ucap Kaivan pelan, suaranya terdengar begitu berat, matanya menatap lurus ke arah Lavienna yang duduk tidak jauh darinya dengan raut wajah yang seketika berubah tegang begitu mendengar nada bicara anaknya itu.
Kaivan menatap layar ponselnya yang terus bergetar dengan nama Vanessa terpampang jelas, wajahnya seketika berubah dingin dan penuh kebencian. Tangannya yang tadi masih gemetar menahan emosi kini mengepal semakin erat, tidak sanggup lagi menyentuh benda itu meski hanya untuk menolak panggilan."Ma, tolong angkat saja. Aku tidak mau bicara dengannya lagi," ucap Kaivan pelan, suaranya bergetar menahan amarah yang begitu besar, menyerahkan ponselnya kepada Lavienna yang segera menerimanya dengan tatapan penuh kemarahan yang sama besarnya.Lavienna menatap layar ponsel itu sejenak sebelum akhirnya menekan tombol hijau, mengaktifkan mode pengeras suara agar Adrian dan Kaivan bisa mendengar langsung percakapan yang akan terjadi selanjutnya."Halo, dengan siapa ini?" tanya Lavienna dengan nada dingin dan sinis, meski jelas ia sudah tahu betul siapa yang menghubungi ponsel anaknya itu.Suara Vanessa terdengar sedikit terkejut di seberang telepon, jelas tidak menduga akan mendapati suara Lavie
Lavienna berdiri mematung mendengar pertanyaan Kaivan, hatinya bergejolak hebat antara keinginan untuk jujur dan janji yang sudah ia buat pada Alesha. Ia menatap wajah anaknya yang begitu penuh harap, dadanya terasa begitu sesak menahan kebohongan yang harus ia ucapkan demi menghormati permintaan gadis yang begitu berjasa bagi keluarganya itu."Tidak, Nak. Alesha tidak pernah datang ke rumah sakit selama kamu koma," ucap Lavienna akhirnya, suaranya berusaha terdengar setenang mungkin meski hatinya sendiri terasa begitu perih mengucapkan kebohongan itu di hadapan anaknya sendiri.Kaivan menatap ibunya lama, dahinya berkerut seolah ada sesuatu yang begitu janggal dari jawaban yang baru saja ia dengar, namun ia tidak bisa membantah lebih jauh mengingat dirinya sendiri memang tidak sadarkan diri selama delapan bulan terakhir ini."Aneh, padahal ingatan terakhirku begitu jelas soal dia yang menolongku keluar dari mobil," gumam Kaivan pelan, matanya menerawang jauh mencoba mengingat kembali
Alesha menatap layar ponselnya lama, tangannya masih sedikit gemetar menahan berbagai perasaan yang begitu campur aduk sejak mendengar pertanyaan Lavienna barusan. Ia menghela napas panjang, mencoba menenangkan diri sebelum akhirnya menekan tombol hijau untuk menjawab panggilan itu."Tante, maaf, tapi jawabanku tetap sama. Aku tidak bisa menemui Kaivan," ucap Alesha pelan, suaranya sudah terdengar jauh lebih tenang dibanding beberapa menit lalu saat ia masih menangis di dalam mobilnya.Lavienna terdengar menghela napas kecewa di seberang telepon, jelas berharap keputusan Alesha bisa berubah demi melihat anaknya yang begitu berharap bisa bertemu dengan gadis yang telah menyelamatkan nyawanya itu."Alesha, Kaivan terus bertanya soal kamu. Tante tidak tega melihatnya seperti itu," ucap Lavienna memohon, suaranya penuh harap meski jelas ia juga mencoba memahami posisi Alesha yang begitu sulit.Alesha memejamkan matanya sejenak, mengumpulkan kekuatan untuk menjelaskan keputusannya dengan l







