MasukTangan Alesha gemetar semakin hebat saat mendengar suara panik mamanya Kaivan dari seberang telepon. Ia menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan diri sendiri sebelum menjawab, meskipun kenyataannya hatinya sendiri masih dipenuhi ketakutan yang sama.
"Kaivan mengalami kecelakaan di jalan tol, Tante. Sekarang dia sedang ditangani dokter di ruang operasi," jawab Alesha dengan suara bergetar, berusaha terdengar setenang mungkin meski nyatanya ia sendiri masih syok.
Suara isak tangis samar terdengar dari seberang telepon, bercampur dengan suara langkah kaki yang tergesa-gesa.
"Ya Tuhan... kami langsung ke sana sekarang. Tolong jaga dia, Alesha," ucap mamanya Kaivan dengan suara yang nyaris pecah, sebelum sambungan telepon terputus tanpa sempat Alesha membalas.
Alesha menatap layar ponselnya yang sudah gelap, dadanya semakin terasa sesak membayangkan bagaimana wajah kedua orang tua Kaivan nanti saat tiba di rumah sakit. Ia menyandarkan kepalanya ke dinding ruang tunggu, mencoba mengatur napas yang sejak tadi tidak juga stabil, sementara pakaiannya yang masih basah membuat tubuhnya semakin menggigil kedinginan.
Sekitar dua puluh menit kemudian, suara langkah kaki tergesa-gesa terdengar dari ujung lorong. Alesha mendongak dan melihat Adrian Adhitama serta Lavienna Adhitama, kedua orang tua Kaivan, berlari kecil menuju ruang tunggu dengan wajah pucat pasi.
"Alesha!" panggil Lavienna dengan suara yang langsung bergetar begitu melihat sosok Alesha duduk sendirian di kursi ruang tunggu.
Alesha segera berdiri, namun sebelum ia sempat mengucapkan sepatah kata pun, Lavienna sudah mencengkeram kedua bahunya dengan tangan yang gemetar hebat.
"Di mana Kaivan? Bagaimana keadaannya sekarang?" tanya Lavienna dengan suara panik, matanya yang sudah berkaca-kaca menatap lurus ke wajah Alesha seolah mencari jawaban yang bisa menenangkan hatinya.
"Kaivan masih di ruang operasi, Tante. Dokter belum memberi kabar apa-apa sejak tadi," jawab Alesha pelan, berusaha menjaga suaranya tetap tenang meski kenyataannya ia sendiri tidak yakin dengan keadaan yang sebenarnya.
Adrian yang berdiri di samping istrinya terlihat mencoba menahan gejolak emosinya sendiri, meski rahangnya yang mengeras dan tangannya yang terkepal erat menunjukkan betapa besar kepanikan yang ia rasakan di dalam hati.
"Bagaimana bisa terjadi kecelakaan seperti ini? Kaivan selalu berhati-hati kalau menyetir," ucap Adrian dengan suara berat, lebih terdengar seperti pertanyaan untuk dirinya sendiri daripada untuk Alesha.
Lavienna langsung menoleh ke arah Alesha, wajahnya semakin dipenuhi kebingungan dan kecemasan yang sulit disembunyikan.
"Terakhir yang kami tahu, Kaivan pergi dalam keadaan marah menuju apartemen Vanessa untuk meminta penjelasan. Apa yang sebenarnya terjadi malam ini, Alesha?" tanya Lavienna dengan suara yang mulai tercekat, seakan ia takut mendengar jawabannya sendiri.
Alesha terdiam sesaat, bingung harus menjelaskan dari mana. Ia sendiri sebenarnya tidak tahu persis apa yang terjadi di dalam apartemen Vanessa sebelum kecelakaan itu terjadi, ia hanya kebetulan melintas dan menemukan mobil Kaivan sudah ringsek di pinggir jalan tol.
"Saya tidak tahu pasti apa yang terjadi di apartemen Vanessa, Tante. Saya hanya kebetulan lewat dan menemukan mobil Kaivan sudah ringsek di jalan tol," jelas Alesha sambil menundukkan kepala, merasa bersalah karena tidak bisa memberikan jawaban yang lebih jelas.
Lavienna menutup mulutnya dengan kedua tangan, matanya mulai berkaca-kaca semakin deras mendengar penjelasan itu. Adrian segera merangkul bahu istrinya, mencoba memberikan kekuatan meski wajahnya sendiri juga tidak kalah pucat dan tegang.
"Apa dia sempat sadar sebelum dibawa ke sini? Apa dia bilang sesuatu?" tanya Adrian kemudian, suaranya terdengar penuh harap meski matanya menyiratkan ketakutan yang sama besarnya.
Alesha menggeleng pelan, mengingat kembali bagaimana Kaivan sama sekali tidak merespons ketika ia berusaha membangunkannya di pinggir jalan tadi.
"Dia sudah tidak sadarkan diri sejak saya menemukannya, Om. Sepanjang perjalanan ke rumah sakit juga dia tidak merespons apa pun," jawab Alesha dengan suara semakin pelan, seolah setiap kata yang keluar dari mulutnya menambah beban di dada ketiga orang itu.
Lavienna akhirnya tidak bisa lagi menahan tangisnya. Ia terduduk lemas di kursi ruang tunggu, wajahnya ia tutup dengan kedua tangan sementara bahunya bergetar hebat menahan isak yang semakin sulit dikendalikan.
"Anakku... kenapa harus seperti ini..." lirih Lavienna di sela isak tangisnya, suaranya nyaris tidak terdengar namun begitu menyayat hati siapa pun yang mendengarnya.
Adrian berusaha menenangkan istrinya sambil sesekali menatap ke arah pintu ruang operasi yang masih tertutup rapat, seolah berharap pintu itu segera terbuka dan membawa kabar baik untuk mereka semua. Alesha berdiri tidak jauh dari pasangan itu, merasa serba salah karena tidak bisa berbuat lebih banyak selain menunggu bersama.
Waktu terus berjalan tanpa ada satu pun petugas medis yang keluar memberi kabar. Setiap kali pintu ruang operasi bergerak sedikit, ketiga orang itu langsung menoleh dengan penuh harap, namun kembali kecewa ketika ternyata bukan dokter yang menangani Kaivan yang keluar.
Hingga akhirnya, setelah hampir satu jam menunggu dalam diam yang mencekam, pintu ruang operasi terbuka lebar. Seorang dokter berpakaian hijau melangkah keluar dengan wajah serius, masker yang masih menggantung di lehernya, langsung menghampiri mereka bertiga.
"Keluarga dari pasien Kaivan Adhitama?" tanya dokter itu dengan nada datar yang sulit ditebak, membuat ketiga orang yang menunggu itu seketika menegang mendengarnya.
Alesha yang masih berdiri di balik kaca jendela merasakan dadanya semakin sesak mendengar permintaan mendesak Kaivan untuk bertemu dengannya. Air mata yang sejak tadi sudah menggenang kini mengalir semakin deras, membasahi pipinya tanpa bisa ia tahan lagi. Ia mundur perlahan dari jendela itu, tidak sanggup lagi menyaksikan pemandangan yang begitu menyayat hatinya sendiri.Alesha bergegas melangkah menjauh dari ruang ICU, langkahnya semakin cepat seiring dengan air mata yang terus mengalir tanpa henti, seolah setiap detik yang ia habiskan di lorong rumah sakit itu membuat dadanya semakin terasa sesak dan sulit bernapas."Alesha!" Suara Reyhan yang kebetulan sedang berjalan di lorong yang sama memanggil namanya, membuat langkah Alesha sedikit terhenti meski ia tidak sepenuhnya menoleh ke arah suara itu.Reyhan segera menghampiri Alesha yang tampak begitu terburu-buru, wajahnya menunjukkan kekhawatiran begitu melihat kondisi gadis itu yang basah oleh air mata dan terlihat begitu ingin se
Adrian dan Lavienna bergegas mengikuti perawat itu menuju ruang ICU dengan langkah cepat, jantung mereka berdebar kencang antara rasa lega dan cemas yang bercampur menjadi satu. Alesha yang tadinya ikut melangkah mendadak berhenti di depan pintu, memilih untuk tidak masuk dan hanya mengintip dari balik kaca jendela ruang ICU yang tidak sepenuhnya tertutup tirai."Kaivan! Anakku!" seru Lavienna begitu masuk ke dalam ruangan, langsung menghambur mendekati ranjang tempat Kaivan terbaring dengan mata yang kini terbuka meski masih terlihat lemah.Kaivan menoleh perlahan ke arah suara itu, matanya yang sayu mencoba fokus menatap sosok ibunya yang berdiri dengan air mata yang sudah tidak terbendung lagi membasahi wajahnya."Mama..." lirih Kaivan dengan suara serak, jelas masih begitu lemah setelah sekian lama tidak sadarka
Alesha terdiam sejenak mendengar pertanyaan Lavienna, matanya menerawang jauh mengenang kembali kejadian yang sudah begitu lama ia coba kubur dalam-dalam, kejadian yang tidak pernah ia ceritakan kepada siapa pun sejak dulu. Ia menghela napas panjang, mencoba mengumpulkan keberanian untuk akhirnya membuka luka lama yang selama ini ia simpan sendirian."Sebenarnya, ada satu hal yang belum pernah aku ceritakan pada siapa pun, Tante," ucap Alesha pelan, suaranya mulai bergetar menahan emosi yang tiba-tiba begitu besar menguasainya.Lavienna dan Adrian saling bertukar pandang cemas, keduanya mendekat sedikit ke arah Alesha, menunjukkan perhatian penuh yang begitu tulus untuk mendengarkan apa pun yang akan disampaikan gadis itu selanjutnya."Ceritakan saja, Alesha. Kami akan mendengarkan," ucap Lavienna lembut, tangannya terulur menggenggam tangan Alesha yang mulai terasa dingin karena kecemasan yang begitu besar.Alesha menarik napas panjang, mencoba menguatkan dirinya sendiri sebelum akhi
Alesha segera mengangkat panggilan itu dengan tangan yang sedikit gemetar, menempelkan ponsel ke telinganya sementara semua orang di ruangan menatapnya dengan napas tertahan, mencoba menebak kabar apa yang akan mereka dengar selanjutnya."Halo, ini dengan siapa?" tanya Alesha cepat dengan suara tegang. Berbagai kemungkinan langsung muncul di pikirannya.Suara di seberang telepon terdengar tenang, jauh dari nada panik yang biasanya menandakan kabar buruk, membuat Alesha sedikit menghela napas meski tetap waspada mendengarkan setiap kata yang disampaikan."Kami dari pihak rumah sakit, ingin memberi tahu keluarga pasien Kaivan Adhitama agar segera datang ke rumah sakit. Ada perkembangan penting mengenai kondisinya," ucap suara di seberang telepon, tidak memberikan detail lebih lanjut yang membuat Alesha semakin penasar
Adrian menempelkan ponsel ke telinganya dengan tangan yang masih sedikit gemetar, menunggu jawaban dari sekretaris Kaivan dengan hati yang berdebar kencang. Semua orang di ruangan itu menahan napas, menatap Adrian dengan penuh harap sambil menunggu kabar yang akan menentukan nasib perusahaan yang selama ini mereka bangun bersama."Sita, tolong cepat cek arsip dokumen Kaivan. Apa ada tanda tangan dia di dokumen investasi atau pengalihan saham baru-baru ini?" tanya Adrian tegas, suaranya berusaha terdengar tenang meski dadanya sendiri berdebar begitu keras menunggu jawaban itu.Suara di seberang telepon terdengar sedikit gugup, jelas ikut merasakan ketegangan yang tersirat dari nada bicara Adrian yang begitu mendesak itu."Baik, Pak. Saya cek dulu sebentar," ucap Sita cepat, terdengar suara kertas yang dibolak-balik dengan tergesa-gesa di seberang telepon, membuat semua orang di ruangan itu semakin menahan napas menunggu kepastian.Beberapa detik yang terasa begitu panjang berlalu, hing
Bimo membuka lembar dokumen terakhir itu dengan hati-hati, menyerahkannya kepada Adrian yang segera menerimanya dengan tangan yang mulai terasa dingin membayangkan kebenaran apa lagi yang harus ia hadapi setelah ini. Seisi ruangan itu kembali hening, hanya diselingi suara detak jam dinding yang terasa begitu keras di tengah ketegangan yang menyelimuti semua orang."Silakan dibaca sendiri, Pak Adrian. Saya rasa Bapak perlu melihat langsung bukti-bukti yang telah saya kumpulkan ini," ucap Bimo serius, matanya mengamati reaksi Adrian yang mulai membaca dokumen itu dengan raut wajah yang perlahan berubah semakin tegang.Adrian membaca dokumen itu dengan seksama, rahangnya semakin mengeras di setiap barisnya, hingga akhirnya ia menghela napas panjang dan menatap Bimo dengan mata yang penuh amarah yang begitu besar."Jadi







