Inicio / Romansa / Obsesi Tuan Kaivan / Bab 7 Kepanikan Keluarga

Compartir

Bab 7 Kepanikan Keluarga

Autor: Ibu3Dara
last update Fecha de publicación: 2026-07-19 11:00:14

Tangan Alesha gemetar semakin hebat saat mendengar suara panik mamanya Kaivan dari seberang telepon. Ia menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan diri sendiri sebelum menjawab, meskipun kenyataannya hatinya sendiri masih dipenuhi ketakutan yang sama.

"Kaivan mengalami kecelakaan di jalan tol, Tante. Sekarang dia sedang ditangani dokter di ruang operasi," jawab Alesha dengan suara bergetar, berusaha terdengar setenang mungkin meski nyatanya ia sendiri masih syok.

Suara isak tangis samar terdengar dari seberang telepon, bercampur dengan suara langkah kaki yang tergesa-gesa.

"Ya Tuhan... kami langsung ke sana sekarang. Tolong jaga dia, Alesha," ucap mamanya Kaivan dengan suara yang nyaris pecah, sebelum sambungan telepon terputus tanpa sempat Alesha membalas.

Alesha menatap layar ponselnya yang sudah gelap, dadanya semakin terasa sesak membayangkan bagaimana wajah kedua orang tua Kaivan nanti saat tiba di rumah sakit. Ia menyandarkan kepalanya ke dinding ruang tunggu, mencoba mengatur napas yang sejak tadi tidak juga stabil, sementara pakaiannya yang masih basah membuat tubuhnya semakin menggigil kedinginan.

Sekitar dua puluh menit kemudian, suara langkah kaki tergesa-gesa terdengar dari ujung lorong. Alesha mendongak dan melihat Adrian Adhitama serta Lavienna Adhitama, kedua orang tua Kaivan, berlari kecil menuju ruang tunggu dengan wajah pucat pasi.

"Alesha!" panggil Lavienna dengan suara yang langsung bergetar begitu melihat sosok Alesha duduk sendirian di kursi ruang tunggu.

Alesha segera berdiri, namun sebelum ia sempat mengucapkan sepatah kata pun, Lavienna sudah mencengkeram kedua bahunya dengan tangan yang gemetar hebat.

"Di mana Kaivan? Bagaimana keadaannya sekarang?" tanya Lavienna dengan suara panik, matanya yang sudah berkaca-kaca menatap lurus ke wajah Alesha seolah mencari jawaban yang bisa menenangkan hatinya.

"Kaivan masih di ruang operasi, Tante. Dokter belum memberi kabar apa-apa sejak tadi," jawab Alesha pelan, berusaha menjaga suaranya tetap tenang meski kenyataannya ia sendiri tidak yakin dengan keadaan yang sebenarnya.

Adrian yang berdiri di samping istrinya terlihat mencoba menahan gejolak emosinya sendiri, meski rahangnya yang mengeras dan tangannya yang terkepal erat menunjukkan betapa besar kepanikan yang ia rasakan di dalam hati.

"Bagaimana bisa terjadi kecelakaan seperti ini? Kaivan selalu berhati-hati kalau menyetir," ucap Adrian dengan suara berat, lebih terdengar seperti pertanyaan untuk dirinya sendiri daripada untuk Alesha.

Lavienna langsung menoleh ke arah Alesha, wajahnya semakin dipenuhi kebingungan dan kecemasan yang sulit disembunyikan.

"Terakhir yang kami tahu, Kaivan pergi dalam keadaan marah menuju apartemen Vanessa untuk meminta penjelasan. Apa yang sebenarnya terjadi malam ini, Alesha?" tanya Lavienna dengan suara yang mulai tercekat, seakan ia takut mendengar jawabannya sendiri.

Alesha terdiam sesaat, bingung harus menjelaskan dari mana. Ia sendiri sebenarnya tidak tahu persis apa yang terjadi di dalam apartemen Vanessa sebelum kecelakaan itu terjadi, ia hanya kebetulan melintas dan menemukan mobil Kaivan sudah ringsek di pinggir jalan tol.

"Saya tidak tahu pasti apa yang terjadi di apartemen Vanessa, Tante. Saya hanya kebetulan lewat dan menemukan mobil Kaivan sudah ringsek di jalan tol," jelas Alesha sambil menundukkan kepala, merasa bersalah karena tidak bisa memberikan jawaban yang lebih jelas.

Lavienna menutup mulutnya dengan kedua tangan, matanya mulai berkaca-kaca semakin deras mendengar penjelasan itu. Adrian segera merangkul bahu istrinya, mencoba memberikan kekuatan meski wajahnya sendiri juga tidak kalah pucat dan tegang.

"Apa dia sempat sadar sebelum dibawa ke sini? Apa dia bilang sesuatu?" tanya Adrian kemudian, suaranya terdengar penuh harap meski matanya menyiratkan ketakutan yang sama besarnya.

Alesha menggeleng pelan, mengingat kembali bagaimana Kaivan sama sekali tidak merespons ketika ia berusaha membangunkannya di pinggir jalan tadi.

"Dia sudah tidak sadarkan diri sejak saya menemukannya, Om. Sepanjang perjalanan ke rumah sakit juga dia tidak merespons apa pun," jawab Alesha dengan suara semakin pelan, seolah setiap kata yang keluar dari mulutnya menambah beban di dada ketiga orang itu.

Lavienna akhirnya tidak bisa lagi menahan tangisnya. Ia terduduk lemas di kursi ruang tunggu, wajahnya ia tutup dengan kedua tangan sementara bahunya bergetar hebat menahan isak yang semakin sulit dikendalikan.

"Anakku... kenapa harus seperti ini..." lirih Lavienna di sela isak tangisnya, suaranya nyaris tidak terdengar namun begitu menyayat hati siapa pun yang mendengarnya.

Adrian berusaha menenangkan istrinya sambil sesekali menatap ke arah pintu ruang operasi yang masih tertutup rapat, seolah berharap pintu itu segera terbuka dan membawa kabar baik untuk mereka semua. Alesha berdiri tidak jauh dari pasangan itu, merasa serba salah karena tidak bisa berbuat lebih banyak selain menunggu bersama.

Waktu terus berjalan tanpa ada satu pun petugas medis yang keluar memberi kabar. Setiap kali pintu ruang operasi bergerak sedikit, ketiga orang itu langsung menoleh dengan penuh harap, namun kembali kecewa ketika ternyata bukan dokter yang menangani Kaivan yang keluar.

Hingga akhirnya, setelah hampir satu jam menunggu dalam diam yang mencekam, pintu ruang operasi terbuka lebar. Seorang dokter berpakaian hijau melangkah keluar dengan wajah serius, masker yang masih menggantung di lehernya, langsung menghampiri mereka bertiga.

"Keluarga dari pasien Kaivan Adhitama?" tanya dokter itu dengan nada datar yang sulit ditebak, membuat ketiga orang yang menunggu itu seketika menegang mendengarnya.

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Obsesi Tuan Kaivan   Bab 91 Keinginan yang Disampaikan

    Pertanyaan Kaivan menggantung di udara, namun ayahnya tidak segera menjawab. Ia hanya menggeleng pelan, seakan takut menyebutkan nama itu secara langsung, lalu berdiri dan berjalan perlahan meninggalkan ruangan. Kaivan tidak mengejarnya; ia tahu jawaban itu akan datang pada waktunya. Namun saat ini, pikirannya justru tertuju pada hal lain. Saran yang terus berputar di kepalanya, yang semakin lama semakin sulit untuk diabaikan. Ia merasa terjepit di antara keputusasaan dan keinginan untuk memiliki Alesha. Akhirnya, ia memutuskan untuk berbicara jujur kepada kedua orang tuanya, berharap mereka akan mengerti, berharap mereka akan mendukungnya.Malam itu, setelah makan malam, Kaivan duduk di hadapan ayah dan ibunya di ruang tengah. Ia menarik napas panjang, menata kata-kata yang selama ini mengganjal di tenggorokannya. Wajahnya tegang, namun suaranya mantap saat ia mulai berbicara.

  • Obsesi Tuan Kaivan   Bab 90 Perdebatan Batin

    Kata-kata ayahnya menggantung di udara, membuat napas Kaivan tertahan seketika. Ia menatap pria yang selama ini ia anggap teladan itu, mencari tanda-tanda kebohongan atau sekadar kiasan, namun tidak ada. Wajah ayahnya penuh penyesalan yang mendalam, seakan kata-kata itu mengembalikannya puluhan tahun ke masa lalu yang ingin ia lupakan. Keheningan yang menyelimuti ruangan terasa berat, menekan dada Kaivan yang masih berusaha mencerna apa yang baru didengarnya. Jika ayahnya pernah melakukan hal serupa, jika pernikahan mereka pun bermula dari langkah yang kelam, apakah itu berarti saran temannya tidak sepenuhnya salah? Pertanyaan itu muncul perlahan, menyusup ke celah keraguannya yang paling rapuh.“Apa maksud Papa?” tanya Kaivan pelan, suaranya bergetar. “Apakah… pernikahan Papa dan Mama juga dimulai dengan cara itu?”Ayahnya mengan

  • Obsesi Tuan Kaivan   Bab 89 Kegigihan yang Mulai Pudar

    Kabar kesembuhan ayah Alesha menjadi awal yang baru bagi keluarganya, namun bagi Kaivan justru sebaliknya. Ia tetap datang setiap pagi, kadang membawa makanan kesukaan Alesha, kadang sekedar membantu urusan rumah yang berat, kadang hanya duduk di teras menunggu sekedar untuk menyapa. Setiap kali ia menyampaikan maksud hatinya, Alesha menyampaikan penolakan dengan lembut. Semakin ia berusaha mendekat, semakin Alesha mundur perlahan, menjaga jarak yang tegas seakan ada tembok tidak terlihat di antara mereka. Kaivan mulai menyadari, kehadirannya bukannya mendekatkan, justru membuat perempuan itu semakin menjauh.Suatu sore, saat matahari mulai condong ke barat, Kaivan berdiri di depan pagar rumah Wijanarka. Ia baru saja menyampaikan niatnya untuk berbicara sebentar, namun jawaban Alesha sama seperti biasanya, ia menolak dan memintanya untuk tidak menunggu lebih lama lagi. Ia menatap punggung Alesha yang masuk

  • Obsesi Tuan Kaivan   Bab 88 Kesembuhan yang Tak Mengubah Apa Pun

    Pintu ruangan dokter terbuka lebar. Dokter tersenyum ramah menyampaikan kabar yang dinanti, kondisi ayah Alesha sudah stabil, tidak ada resiko tersisa, dan ia dinyatakan sudah sehat sepenuhnya. Mahesa tersenyum lebar, memeluk istrinya yang tampak lega tidak terlukiskan. Suasana di ruangan itu seharusnya penuh sukacita, namun Alesha berdiri agak terpisah, tersenyum tipis tanpa benar-benar ikut merasakannya. Ia bersyukur ayahnya sembuh, namun kabar baik itu tidak mampu mengangkat beban yang masih membebani hatinya. Bayangan masa lalu, penolakan yang telah ia sampaikan, dan pesan misterius yang belum terjawab. Semuanya bercampur menjadi satu, membuat hatinya tetap berat.Di perjalanan pulang, suasana di dalam mobil terasa hangat. Ayahnya bercerita tentang rencana kegiatan yang ingin dilakukannya setelah sekian lama sakit. Namun sesampainya di rumah, saat semua mulai tenang, ayahnya menatap putrinya dengan pan

  • Obsesi Tuan Kaivan   Bab 87 Alesha Menolak

    Pesan itu masih terngiang di pikiran Alesha meski layar ponsel sudah kembali gelap. Ia berdiri terpaku, tangan masih gemetar memegang benda itu. Manipulasi? Apakah mungkin sikap dingin dan kata-kata kasar Kaivan dulu bukan sepenuhnya kehendak hatinya sendiri? Pertanyaan itu muncul sekaligus disangkalnya sendiri, terlalu mustahil, dan terlalu menyakitkan jika ternyata benar. Ia menggeleng pelan, berusaha mengusir pikiran itu. Apa pun alasannya, kenyataan tetap sama, luka itu nyata dan belum sembuh. Ia tidak bisa membiarkan keraguan baru mengubah keputusan yang sudah bulat di hatinya.Pintu perlahan terbuka. Kaivan berdiri di ambang pintu, belum pergi sepenuhnya. Ia menatap Alesha, menyadari ada sesuatu yang berubah. Keraguan di wajah perempuan itu bukan lagi sekedar ketakutan, melainkan bercampur kebingungan yang mendalam. Ia melangkah masuk kembali perlahan, menutup pintu di belakangnya, namun tidak mendekat. Ia berdiri di tempat yang sama, menjaga jarak yang sopan, seakan takut kehad

  • Obsesi Tuan Kaivan   Bab 86 Luka yang Belum Sembuh

    Kata-kata itu menggantung berat di ruangan itu, lalu pria itu berbalik pergi, meninggalkan keheningan yang mencekam. Tak ada yang mengejarnya, tak ada yang meminta penjelasan lebih lanjut; semua orang terpaku mendengar apa yang baru saja terucap. Kaivan berdiri diam, bingung sekaligus tertekan. Tuduhan itu datang dari orang yang seharusnya mendukungnya, dan kenyataan yang tersisa terasa makin mengancam.Namun bagi Alesha, keraguannya bukan hanya soal rahasia masa lalu keluarga. Setiap kali ia melihat Kaivan, wajah dingin dan kata-kata tajam yang dulu pernah diucapkan pria itu kembali muncul di pikirannya. Ia ingin percaya perubahan ini nyata, tapi luka lama belum kering, apalagi sembuh.Mahesa menghela napas panjang, memecah keheningan. “Kami melihat usahamu selama ini, Kaivan,” ucapnya pelan namun tegas, menatap pemuda itu. “Kamu datang setia

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status