تسجيل الدخولPanggilan misterius itu terputus tiba-tiba, meninggalkan Kaivan berdiri mematung dengan ponsel masih menempel di telinganya, wajahnya begitu pucat pasi mencoba mencerna kalimat aneh yang baru saja ia dengar dari suara yang begitu ia kenali sebagai suara Alesha itu. Adrian segera mendekat, menatap anaknya dengan penuh kekhawatiran, menyadari bahwa situasi yang mereka hadapi ternyata jauh lebih rumit dari yang ia bayangkan sebelumnya.
Panggilan misterius itu terputus tiba-tiba, meninggalkan Kaivan berdiri mematung dengan ponsel masih menempel di telinganya, wajahnya begitu pucat pasi mencoba mencerna kalimat aneh yang baru saja ia dengar dari suara yang begitu ia kenali sebagai suara Alesha itu. Adrian segera mendekat, menatap anaknya dengan penuh kekhawatiran, menyadari bahwa situasi yang mereka hadapi ternyata jauh lebih rumit dari yang ia bayangkan sebelumnya.Sementara itu, di tempat lain, Lavienna yang sejak tadi duduk gelisah di rumah, memutuskan untuk mengambil langkah yang sudah lama ia pertimbangkan sejak mendengar kabar tentang kondisi Alesha yang begitu terpuruk akibat fitnah keji itu. Ia meraih kunci mobilnya, tidak ingin menunggu lebih lama lagi untuk menemui gadis yang selama ini telah begitu banyak berkorban untuk keluarganya."Aku harus menemui Alesha," gumam Lavienna pelan p
Suasana di ruang kerja Kaivan tiba-tiba tegang setelah menerima panggilan telepon yang seketika menghancurkan ketenangannya. Tanpa mempedulikan puluhan wartawan yang masih menunggu, ia berbalik dan melangkah cepat pergi dengan wajah pucat serta jantung yang berpacu kencang. Adrian segera menyusul putranya, menyadari sesuatu yang buruk baru saja terjadi. Di dalam mobil yang melaju kencang, Kaivan mencengkeram setir erat hingga urat-uratnya menonjol, menatap lurus dengan panik dan ketakutan. Alesha hilang dan firasat buruk itu terus mengingatkannya pada ancaman yang pernah dilontarkan seseorang.Sesampainya di rumah, Kaivan tidak sempat menenangkan napas sebelum Adrian mendahuluinya masuk dan menutup pintu dengan bantingan keras. Suara dentuman itu menggema di seluruh ruangan, namun Kaivan sama sekali tidak tergoyahkan. Ia berbalik hendak kembali melangkah keluar, berniat segera menyusuri setiap jalan
Kaivan baru saja mengakhiri panggilan telepon dengan Bimo ketika pintu ruang kerjanya terbuka mendadak, menampilkan Sita yang berlari kecil dengan wajah begitu panik, sesuatu yang jarang sekali ditunjukkan oleh sekretarisnya yang biasanya begitu tenang dan profesional itu."Pak Kaivan, Pak Bimo baru mengirimkan bukti lengkap soal siapa dalang di balik artikel fitnah itu," ucap Sita terengah-engah, menyerahkan sebuah tablet yang menampilkan laporan lengkap dari Bimo, membuat Kaivan segera meraihnya dengan tangan yang begitu tidak sabar.Kaivan membaca laporan itu dengan mata yang semakin tajam menyipit, menemukan rekaman percakapan telepon antara Vanessa dengan seorang pria bayaran yang mengaku telah membuat foto-foto rekayasa serta menyebarkan artikel fitnah itu ke berbagai grup media sosial, lengkap dengan bukti transfer pembayaran yang begitu jelas mengarah l
Beberapa jam sebelum kabar itu sampai ke telinga Lavienna, Alesha duduk sendirian di ruang dekan fakultas hukum, menghadapi tiga orang petinggi universitas yang duduk berjajar di hadapannya dengan wajah begitu serius. Sebuah artikel yang sudah tersebar luas di media sosial tergeletak di atas meja, dicetak rapi sebagai bukti untuk sidang dadakan yang begitu tidak terduga itu."Ibu Alesha, kami sudah menerima banyak keluhan dari orang tua mahasiswa dan beberapa rekan dosen soal berita ini," ucap salah satu petinggi universitas itu tegas, matanya menatap Alesha dengan pandangan yang begitu dingin, seolah sudah menjatuhkan vonis bahkan sebelum memberikan kesempatan bagi Alesha untuk membela diri.Alesha menatap lembar artikel itu dengan mata yang begitu tenang, meski dadanya sendiri terasa begitu sesak menahan berbagai emosi yang bergejolak hebat di dalam dirinya,
Kaivan menekan tombol hijau dengan tangan yang masih sedikit gemetar, suara Alesha di seberang telepon terdengar begitu tenang, hanya menanyakan apakah ia sudah makan malam, membuat Kaivan menghela napas lega sekaligus merasa semakin bersalah karena telah meragukan ketulusan gadis itu meski hanya sesaat. Percakapan singkat itu berakhir dengan hangat, namun pesan misterius dari nomor tidak dikenal tetap tersimpan di benaknya, membuat malam itu terasa begitu panjang bagi Kaivan yang terus dihantui pikiran tentang apa yang akan ia temukan keesokan harinya.Keesokan paginya, sebelum Kaivan sempat menindaklanjuti pesan misterius itu, Lavienna sudah menunggunya di ruang makan dengan wajah yang begitu tegang, sebuah ponsel tergenggam erat di tangannya, membuat Kaivan yang baru saja turun dari kamarnya langsung merasakan firasat buruk yang begitu kuat."Kaivan, tolong
Vanessa duduk di sudut sebuah kafe yang cukup jauh dari pusat kota, memilih tempat yang begitu sepi agar tidak ada seorang pun yang mengenalinya di sana. Di hadapannya duduk seorang pria berpenampilan biasa saja, seseorang yang selama ini ia bayar untuk melakukan berbagai pekerjaan kotor yang tidak bisa ia lakukan sendiri secara langsung."Kamu sudah siapkan semua yang aku minta?" tanya Vanessa dingin, matanya menatap tajam ke arah pria itu, tidak ada sedikit pun basa-basi dalam nada bicaranya yang begitu terburu-buru itu.Pria itu mengangguk pelan, mengeluarkan sebuah amplop cokelat dari dalam tas yang ia bawa, menyerahkannya kepada Vanessa dengan gerakan yang begitu hati-hati, seolah isi amplop itu adalah sesuatu yang begitu berharga dan berbahaya sekaligus."Semua sudah saya siapkan, Bu Vanessa. Foto-foto ini sud







