Share

Bab 11

***

"Oke. Tunggu di sana, aku akan keluar," putus Gabriella kemudian sesaat sebelum mematikan sambungan telepon.

Yerinsa tersenyum lega sambil memasukkan handphone ke dompet kembali. Mengalihkan perhatian pada sekitar yang masih banyak tamu berdatangan, padahal acara pasti sudah dimulai lama.

Ngomong-ngomong, apa Luga sudah datang?

Yerinsa saja tidak tau seperti apa sosok laki-laki yang dikatakan dalam novel berusia sekitar 22 tahun itu. Visualisasi dari penulis sangat kuat, menjelaskan detail dan jeli tentang karakter Luga yang intinya berpenampilan khas anak gangster, di satu sisi juga penuh kharisma.

Sejauh ini, Yerinsa tidak bisa membayangkan seberapa sempurna fisik karakter itu. Seberapa kental darah Italia mengalir pada sosok Luga, karena itu tanah kelahirannya.

"Yerin."

Panggilan dari arah belakang membuat Yerinsa menoleh, mendapati Gabriella muncul di pintu masuk dengan langkah cepat.

"Gabby," sapa Yerinsa sumringah, mendekat.

Gabriella sesaat bertukar sapaan dengan para penjaga di pintu, sebelum menatap fokus pada Yerinsa lagi, menyambutnya yang tampak senang.

"Astaga, kamu bahkan belum mengganti pakaian dari tadi siang. Apa yang kamu lakukan di sini? Apa Ibu tau?" tanya Gabriella langsung begitu sudah berhadapan dengan gadis cerminan dirinya itu.

Yerinsa menggeleng. "Bisa kita cari tempat lain dulu? Di sini dingin sekali," pintanya lagi.

Gabriella berdecak sebal, tapi segera mengangguk dan membawa Yerinsa pindah tempat, memasuki hotel agar udara dingin tidak terus menyerang badan.

"Aku hanya ingin datang ke pesta, jadi diam-diam menyusul ke sini," kata Yerinsa pelan, setelah mereka sempat diam melangkah di lorong hotel, mengutarakan alasan yang hanya kebohongan.

"Jika Ayah dan Ibu tau, mereka akan marah besar," ujar Gabriella, melirik Yerinsa setengah gemas.

"Aku tau. Tapi aku tidak akan lama di sini, aku akan kembali ke rumah lebih dulu sebelum kalian pulang," balas Yerinsa dengan senyum lemah.

Alasannya di sini mungkin tampak terlalu tidak masuk akal bagi Gabriella, tapi Yerinsa tidak terlalu peduli, hanya ingin sang kakak –hanya berbeda sepuluh menit dengannya– tidak ada di ballroom acara untuk beberapa waktu.

"Bagaimana caramu keluar dari kamar?" tanya Gabriella menoleh dengan sorot berubah geli.

Yerinsa cengengesan tanpa dosa. "Uh, itu, aku mengikat selimut dan turun dari balkon kamar," jawabnya tidak menjelaskan panjang lebar.

"Dasar nekat. Sejak kapan aku memiliki kembaran pembangkang," kritik pedas Gabriella sambil menyentil kening gadis itu.

"Aw! Hey, itu bukan nekat, tapi aku pemberani. Dan pembangkang itu wajar karena aku masih berjiwa muda," protes Yerinsa setelah memekik tertahan, mengelus kening yang disentil.

Gabriella mencibir dengan bibir bawah maju sepersekian senti. "Ya ya ya, pemberani dan berjiwa muda, kita bahkan seumuran, dasar," katanya meledek.

Tawa ringan Yerinsa berderai mengisi keheningan lorong hotel, diikut kekehan geli Gabriella.

"Apa pemilik acara malam ini menyewa seluruh hotel?" tanya Yerinsa mengganti topik.

Dua pasang langkah kaki itu tiba di sebuah lorong dengan salah satu dinding berupa kaca dari bawah hingga ke langit-langit. Mempertontonkan keindahan taman hotel yang dihiasi lampu dan bunga hias, serta air mancur di tengah rumput menghijau.

"Iya. Roosevelt adalah keluarga besar di dunia bisnis, menyewa satu hotel untuk semalam pasti bukan masalah besar. Hari ini pembukaan perdana cabang baru perusahaan mereka. Semua orang di ballroom sangat kaku, wajah-wajah mereka sangat tegang seperti akan menunjukkan presentasi di kantor," jawab Gabriella panjang lebar karena menjelaskan situasi di dalam pesta.

Yerinsa terkikik kecil. "Oh, apa perwakilan keluarga Roosevelt sudah ada yang terlihat?" tanyanya santai, bersikap seolah tidak tau apapun.

"Belum. Aku tidak melihat siapapun, semua hanya tamu undangan." Gabriella menggeleng menjawab.

Dua kakak beradik itu memilik duduk di kursi yang tersedia di lorong, menghadap pemandangan taman hotel, menatap bintang bertabur di langit malam.

Tanpa Gabriella ketahui, Yerinsa menghela napas lega, bersyukur sang kakak belum melihat Luga yang merupakan perwakilan keluarga Roosevelt sekaligus salah satu pewaris saham besar perusahaan itu.

Adegan saat pertama kali Gabriella dan Luga bertatapan adalah di ballroom tempat pesta sekarang berlangsung. Jadi, Yerinsa hanya perlu mengulur waktu sedikit agar saat Luga memasuki ballroom, tidak bertatapan pertama kali dengan Gabriella.

"Kudengar semua pewaris saham Roosevelt tampan-tampan dan cantik," tambah Gabriella dengan pandangan menerawang.

Yerinsa melirik wajah tenang Gabriella yang seperti fokus menghitung bintang.

"Kalaupun tampan, belum tentu jodohmu," kata Yerinsa sengit, akan mematahkan harapan sekecil apapun jika hati Gabriella ingin berkenalan dengan Luga.

Gabriella mendadak tersedak dan tertawa lepas, memukul pelan pundak Yerinsa sebagai respon natural.

"Ya Tuhan, sangat jujur," komentar Gabriella geli.

Yerinsa tersenyum, menggedikkan bahu ringan. Kemudian celingak-celinguk melihat lorong sepi sejauh mata memandang, hanya diterangi cahaya dari lampu kristal di langit-langit.

"Aku ingin buang air kecil sejak tadi, tapi tidak tau di mana toilet," gumam Yerinsa dengan menggigit bibir malu.

Gabriella menoleh dengan satu alis terangkat. "Toilet? Itu di sana," katanya menunjuk ke lorong sebelah kiri mereka.

Yerinsa mengikuti arah tunjukan itu, menegakkan postur tubuh. Memang sudah kebelet sejak kedinginan di pintu masuk tadi, tapi terus ditahan.

"Hanya perlu lurus dan belok kanan, di ujung lorong ada toilet di sebelah kanan. Aku baru saja ke toilet saat kamu menelepon tadi, perlu kutemani?" terang Gabriella berakhir menawarkan diri.

Yerinsa cepat-cepat menggeleng, mengambil dompetnya dan bangkit berdiri. "Tidak perlu. Aku bisa sendiri, kamu lupa adikmu ini pemberani. Aku akan kembali, tunggu di sini jangan ke mana-mana," tolaknya lugas.

"Hanya sepuluh menit, tetap di sini. Awas saja jika kamu pergi." Yerinsa memperingati lagi sebelum benar-benar berbalik pergi ke arah yang ditunjukkan Gabriella.

Setengah berlari di lorong senyap itu, Yerinsa sudah tidak bisa menahan diri untuk melepas hajat. Meninggalkan Gabriella yang memperhatikan dengan tawa kecil.

Ingin berlari cepat, tapi takut terpeleset dan jatuh, jadi Yerinsa hanya melangkah lebar-lebar sesuai arahan.

"Aduh-!"

Tepat di belokan ke kanan ke dua, akan memasuki toilet, Yerinsa bertabrakan dengan seseorang hingga sesuatu menyakiti pergelangan tangan kanannya.

***

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status