LOGINDavid tidak menjawab. Ia hanya terus melangkah mendekat sementara Bianca mulai memundurkan tubuhnya hingga terpojok di sandaran sofa kulit mahal itu. Kemeja putih David kini terbuka di bagian atas, menampilkan dada bidangnya yang kokoh. Atmosfer di dalam ruangan yang berpendingin udara itu mendadak terasa panas dan menyesakkan."Mas... ini kantor!" cicit Bianca dengan wajah yang sudah semerah kepiting rebus.David menyeringai tipis, tipe seringai yang membuat bulu kuduk Bianca meremang sekaligus jantungnya berdisko tidak keruan. Pria itu menumpukan kedua tangannya di sisi tubuh Bianca, mengurungnya sepenuhnya."Kantorku, aturanku," bisik David rendah. Suaranya yang serak tepat di depan wajah Bianca membuat gadis itu reflek memejamkan mata.David tidak benar-benar melakukan 'hukuman' yang ada di pikiran mesum Bianca. Alih-alih bertindak brutal, ia justru meraih remote kontrol di meja kerja dan menekan sebuah tombol. Seketika, kaca besar transparan yang menghadap ke arah meja sekretaris
Pagi itu, suasana di meja makan terasa jauh lebih dingin dari biasanya, meski matahari bersinar terik di luar. Bianca duduk dengan gelisah, sesekali melirik ponselnya yang terus bergetar di saku hoodie-nya. Ada serentetan pesan dari nomor tidak dikenal yang membuat jantungnya hampir melompat keluar. “Temui aku di belakang gedung fakultas jam 10 pagi. Atau foto-foto mesra kita dulu akan sampai ke meja kerja suamimu yang terhormat itu. — Rendi.” Bianca menelan ludah. Ia melirik David yang sedang tenang memotong omelet-nya. Pria itu tampak tidak terganggu, namun matanya yang tajam sempat menangkap kegelisahan istrinya. “Makan makananmu, Bianca. Kau terlihat seperti orang yang sedang menunggu vonis mati,” tegur David tanpa menoleh. “A-aku nggak apa-apa, Mas. Cuma kepikiran tugas bimbingan aja,” kilah Bianca cepat. Veronica, yang duduk di samping David, tersenyum penuh arti. Ia tahu sesuatu sedang terjadi. “Anak muda zaman sekarang memang gampang stres ya, Dav. Mungkin Bianca butuh li
David langsung melompat dari kursinya. Tanpa memedulikan Veronica yang masih berdiri mematung di depannya, ia melesat keluar ruang kerja. Aroma hangit itu semakin menusuk indra penciumannya saat ia mendekati area dapur. "Bianca!" teriaknya dengan nada rendah namun penuh penekanan. Di depan matanya, kepulan asap tipis menyelimuti area kompor. Bianca berdiri dengan wajah coreng-moreng hitam, memegang spatula seolah itu adalah pedang perang. Di sampingnya, Arjuna sedang sibuk mengibaskan serbet ke arah detektor asap agar alarm tidak berbunyi. "Aduh, Mas! Jangan teriak-teriak, aku lagi konsentrasi!" sahut Bianca tanpa menoleh, matanya perih karena asap. David melangkah lebar, langsung mematikan kenop kompor dengan kasar. Ia merebut spatula dari tangan Bianca dan membantingnya ke wastafel. "Konsentrasi apa? Membakar rumahku? Aku sudah bilang jangan menyentuh dapur kalau hanya ingin membuat kekacauan!" "Aku cuma mau bikin steak buat Kak Juna! Tadi apinya tiba-tiba membesar," bela Bianc
Pagi itu rumah terasa berbeda. Lebih ramai. Tapi tidak hangat. Mungkin karena para penghuni sementara yang sejujurnya membuat kedua belah pihak tak nyaman. Bianca yang tidak suka dengan kehadiran Veronica, pun dengan David yang tak suka dengan kehadiran Arjuna, sepupunya sendiri. Bianca sedang berada di taman belakang bersama Arjuna. Pria itu duduk santai di bangku kayu, lengan bersandar di sandaran, sementara Bianca berdiri memegang segelas jus jeruk. “Aku baru tahu,” ucap Arjuna sambil menatap langit, “kau suka tanaman bunga.” Bianca mengangkat bahu. “Lebih tepatnya… aku suka sesuatu yang bisa tumbuh kalau dirawat. Di rumahku, ada taman mawar. Mama selalu merawatnya," ucapnya sambil tersenyum. "Ah, jadi kangen rumah." Arjuna menoleh padanya, tersenyum tipis. "David tidak pernah mengajakmu pulang? Bukankah Nyonya Rachel sudah pulang dari rumah sakit?" tanya Arjuna, sedikit banyak tahu tentang Bianca dari keluarganya. Termasuk tentang ibunya Bianca yang kini sudah semakin memb
David berdiri kaku beberapa detik setelah Tuan Agra menyampaikan keputusan final. Wajahnya datar, tapi Bianca yang kini sudah cukup mengenalnya, bisa melihat jelas rahang pria itu mengeras, urat di pelipisnya menegang. “Baik, Kek,” ucap David akhirnya, suaranya rendah dan tertahan. “Dia boleh tinggal disini selama proyek kita masih berjalan." “Bagus,” jawab Tuan Agra singkat. “Aku percaya kau cukup dewasa untuk menempatkan keluarga di atas ego.”Ego? Bianca mengerutkan keningnya, ego apa yang pria tua itu maksud? Apakah sebelumnya hubungan David dengan sepupunya itu memang kurang baik?Suasana cukup tegang, hingga akhirnya muncul Veronica yang sudah sangat rapi dengan setelan yang cukup formal namun tetap stylish."Hallo, Opa Agra. How are you?"Tuan Agra mengerutkan keningnya, cukup terkejut melihat wanita yang tak asing baginya itu. "Veronica? Oh ya ampun, kapan datang?"Bianca yang awalnya tersenyum miring dan punya kesempatan untuk mengadukan kelakuan David pada kakeknya, dibu
Bianca melangkah ke ruang makan dengan perasaan yang campur aduk. Satu sisi masih gengsi dan kesal dengan sikap David, namun sisi lain ia puas jika melihat yang menggatal itu kepanasan."Semoga aja si ulat bulu itu cepat pergi deh. Gue sih gak masalah juga CEO kulkas itu mau sama siapa, tapi gak dibawa ke rumah juga kelezz," batinnya. Ia duduk kemudian menatap sajian lezat disana. "Wah, enak nih! semoga saja bukan buatan model sok kece itu.""Ehmmm..." Suara dehaman itu datang dari arah tangga. Bianca refleks mendongak. David berdiri di sana, rapi dengan setelan abu-abu gelap. Rambutnya tersisir sempurna, wajahnya kembali menjadi topeng dingin yang biasa. Tidak ada jejak pria semalam. "Eh, Mas. Mau sarapan?" tanyanya basa-basi. David menatapnya beberapa detik. Tatapan itu misterius, sedikit menyebalkan. “Aku langsung berangkat," jawabnya datar. Bianca mendelik sebal seraya menahan napas saat David melewatinya. Aroma parfumnya singgah sebentar, cukup untuk membuat jantungnya berd
David berdiri terlalu dekat. Jarak mereka hanya sehela napas, dan Bianca bisa merasakan ketegangan yang terpancar dari tubuh pria itu. Bukan amarah yang meledak, melainkan tekanan dingin yang justru lebih menakutkan.Pria itu menunggu Bianca mengatakan sesuatu. Ia ingin tahu apa reaksinya? Akankah
Bianca mengunyah roti tawar itu tanpa benar-benar merasakan rasanya. Rahangnya bekerja cepat, seolah ingin melampiaskan sesuatu yang mengganjal di dadanya. Suara dari ruang tamu samar terdengar, tawa ringan Veronica, rendah dan feminin, terlalu akrab untuk tamu yang baru datang. Ia meneguk air put
"Cemburu? Ckkk...." David tersenyum sinis, matanya menatap remeh pada wanita di hadapannya yang sejak tadi menguji kesabarannya itu."Ya, kau bersikap sangat aneh, Pak Dav. Apa kalau bukan cemburu?" Bianca semakin berani.David mendekat, berdiri tepat di depan wanita itu hingga jarak mereka hanya s
“Breng-sek!!!” Suara Bianca menggema di selasar fakultas. Tiga wanita itu terkejut. Mereka tidak menyangka Bianca yang biasanya memilih diam akan meledak begitu saja. Tatapan Bianca tajam, rahangnya mengeras. “Jaga mulut kalian,” ucapnya dingin. “Dasar geng l*nte! Bukankah kalian ayam kampus s







