Masuk"Gila! Masa saya telanjang di depan Mbak?!" teriakku sambil memegang erat ujung handuk.
"Halah, sok suci banget kamu. Sini, aku cuma mau lihat ukurannya pas atau nggak."
Mayden mendekat lagi. Jemari lenturnya mulai menyentuh pundakku yang masih basah. Sentuhannya itu seperti aliran listrik yang langsung menyambar 'si bunglon' di bawah sana. Aku merasa kayak objek penelitian yang sedang diperiksa harimau betina lapar.
"Mbak, jangan sentuh-sentuh gitu! Saya bisa jantungan!"
"Duh, galak banget sih pengawal baru ini. Padahal aku cuma mau bantu, lho."
"Bantu atau mau bikin saya gila?"
"Dua-duanya boleh. Lagian, kamu itu lucu kalau lagi salah tingkah begini."
Tiba-tiba, Mayden melakukan gerakan yang di luar nalar. Dia menyenggol botol air mineral di atas meja sampai tumpah ke lantai, tepat di depanku.
"Aduh, tumpah! Maaf ya, tanganku licin banget kalau lihat cowok ganteng."
"Biar saya bersihin, Mbak," kataku.
"Nggak usah, biar aku aja. Kamu berdiri saja di situ, Kipli."
Mayden kemudian berlutut di lantai. Dia merangkak pelan di depanku dengan posisi yang memancing gairah. Dia sengaja menonjolkan bagian belakangnya yang padat ke arahku. Aku bisa melihat dengan jelas apa yang seharusnya tidak kulihat.
"Mbak, itu... posisinya nggak enak dilihat..." gumamku dengan suara serak. Tenggorokanku rasanya tersumbat.
"Apanya yang nggak enak? Kamu nggak suka pemandangan di depan kamu ini?"
"Suka sih suka, tapi saya takut daki saya rontok saking tegangnya!"
"Makanya, jangan cuma dilihat. Sini, bantu aku berdiri kalau kamu memang laki-laki sejati."
Mayden mendongak. Tatapannya terlihat sangat haus. Dia merambat naik, tangannya mulai memegang lututku dan terus ke arah pinggang. Aku panik karena merasa kewarasanku sudah di ambang batas.
KRAK!
"Lho?! Mas?!" Mayden melotot. Posisinya masih berlutut di bawah kakiku. Tatapannya terpaku pada potongan besi gagang pintu lemari yang sekarang hancur berantakan di dalam kepalan tanganku.
"Eh... itu... maaf, Mbak, rusak ya?" tanyaku dengan muka bego. Napasku masih memburu menahan gairah yang tersendat.
"Kamu... tenaga kamu ini liar juga ya," gumam Mayden. Dia tidak takut, matanya malah berkilat penuh gairah. Dia mengelus pelan pergelangan tanganku yang masih tegang. "Besi aja bisa kamu remukkin gitu, gimana kalau kamu lagi pegang aku?"
"Mbak, tolong... jangan bercanda terus. Saya beneran bisa khilaf kalau Mbak sedeket ini!"
Belum sempat aku menarik tanganku dari elusan Mayden, daun pintu kamar mendadak terbuka lebar tanpa ketukan.
Ceklek.
Sesosok gadis mungil melangkah masuk sambil mendekap kotak rias hitam yang cukup besar. Langkah kakinya langsung terhenti di ambang pintu. Matanya yang bulat besar berkedip beberapa kali. Dia menatapku yang cuma pakai handuk hotel, lalu beralih menatap Mayden yang posisinya masih berlutut di depanku.
"Mayden?! Kamu... kalian lagi ngapain?!" jerit gadis itu. Suaranya jernih, tapi nadanya penuh keterkejutan.
Wajah gadis itu dalam sekejap langsung berubah merah padam sampai ke leher. Dia refleks menutup mata dengan satu tangan, sementara tangan lainnya gemetar memegangi kotak rias.
"Sora? Kamu udah sampe?" sahut Mayden dengan santai. Dia berdiri pelan sambil menepuk-nepuk rok mini hitamnya yang sempat tersingkap.
"Mbak Diva kan cuma nyuruh kamu anterin kemeja baru, kenapa kamu malah... malah minta jatah duluan?!" tuduh gadis bernama Sora itu. Dia mengintip dari sela jari sambil menatapku dengan pandangan panik sekaligus malu-malu.
Aku kelabakan membetulkan lilitan handukku. "Eh, demi Tuhan, Mbak! Ini salah paham! Saya nggak ngapa-ngapain sama Mbak Mayden!"
"Bohong! Posisi Mayden tadi jelas-jelas lagi... lagi mau buka handuk kamu, kan?!" Sora memekik kecil. Tubuh mungilnya bergetar tampak seperti kelinci penakut yang sedang terjebak.
Di bawah lampu kamar yang terang, aku baru bisa memperhatikan penampilan perias pribadi Diva ini dengan jelas.
Berbeda dengan Mayden yang auranya beringas menantang, gadis di depanku ini membuat dada cowok berdesir. Ada aura polos yang membuatku refleks ingin melindunginya. Wajahnya imut oriental mirip aktris fiksi, lengkap dengan bando telinga kucing hitam di kepala yang kontras dengan rambut pendeknya.
Namun, seragam pelayan yang dia pakai potongannya menguji iman. Bagian depannya memang tertutup rapi dengan apron putih. Tapi astaga, bagian samping badannya terbuka lebar dari ketiak sampai pinggang.
Setiap kali dia bergerak panik, mataku dipaksa melihat sekilas kulit putih mulus di area samping dadanya. Bagian tubuhnya yang ranum itu tersembul kencang tanpa terhalang selembar benang pun.
Ditambah lagi, rok berendanya yang mini bergoyang pelan, mengeksplorasi paha mungilnya yang bersih tanpa noda debu jalanan.
Sialan, batinku menjerit frustrasi melihat pemandangan ini.
"Hahaha! Sora, Sora... kamu kalau cemburu mukanya imut banget sih," goda Mayden sambil berjalan mendekati rekan kerjanya itu. Dia merangkul pundak Sora yang tampak kaku. "Kenalin dulu, ini Kipli. Pengawal pribadi barunya Mbak Diva yang dari tadi diributin di grup chat kita."
"Kipli?" Sora menurunkan tangannya perlahan. Dia menatapku ragu-ragu. Matanya yang polos bergerak malu-malu menyisir dada telanjangku yang masih menyisakan beberapa butir air mandi. "Jadi... ini Mas ojol yang dibilang Mbak Diva?"
"Iya, Mbak Sora. Saya Kipli. Dan sumpah, tadi itu gagang pintu rusak karena saya refleks kaget," ujarku mencoba meluruskan logika berpikirnya.
Sora menatap gagang besi yang remuk di lantai, lalu kembali menatap tanganku. Bilah mungil bibirnya mengerucut sedikit, tampak menggemaskan saat dia mencoba menyembunyikan rasa salah tingkah.
"Maaf, aku kira kalian lagi... ah, sudahlah!" Sora membuang muka untuk meredakan rona merah di pipinya. "Mbak Diva nyuruh aku ke sini untuk ngerias wajah kamu, Mas Kipli. Katanya biar tidak kelihatan kusam habis narik seharian."
Mayden menyeringai nakal melihat kepolosan Sora. Dia menyenggol siku Sora pelan. "Nah, kebetulan banget. Karena tugas aku sudah selesai, sekarang giliran kamu yang urus Kipli. Ingat ya Sora, kemejanya belum dikancingin. Sengaja aku sisain biar kamu bisa lihat dadanya yang bidang itu lebih dekat."
"Mayden! Jangan mulai deh!" bentak Sora dengan suara mencicit. Mukanya kembali merah seperti kepiting rebus.
"Sudah ya, aku ke bawah dulu nemuin Mbak Diva. Selamat menikmati mainan barunya, Sora!" Mayden melambaikan tangan, melangkah pergi keluar kamar sambil sengaja mengedipkan mata nakal ke arahku.
Ceklek.
Pintu tertutup, menyisakan aku yang cuma pakai handuk dan Sora yang berdiri mematung sambil memeluk kotak riasnya erat-erat. Suasana mendadak menjadi canggung. Aku bisa mendengar suara helaan napas Sora yang pendek-pendek karena gugup.
"Anu... Mas Kipli, bisa... bisa duduk di kursi itu dulu?" tanya Sora pelan dengan suara mencicit halus. Dia bahkan tidak berani menatap langsung ke arah mataku.
"Oh, iya, Mbak. Maaf ya kalau penampilan saya bikin Mbak nggak nyaman."
Aku berjalan canggung menuju kursi marmer di depan cermin besar. Sora melangkah mendekat dengan sangat pelan, seolah-olah aku ini monster yang siap menerkamnya kapan saja. Dia meletakkan kotak rias di meja, membukanya dengan jari-jari lentur yang gemetar, lalu mengambil sebotol pelembap wajah.
"Mas Kipli, permisi ya... aku mau bersihkan wajah kamu dulu," bisik Sora.
Dia melangkah ke hadapanku. Jarak kami mengikis, dan seketika aroma bedak bayi yang lembut dari tubuhnya langsung menyerang hidungku. Ini beda sekali dengan parfum Mayden yang agresif. Wangi Sora ini membuat cowok ingin memeluknya lama di kasur.
"Iya, Mbak, silakan," jawabku, mendadak ikut ketularan canggung.
Sora mulai menempelkan kapas lembut ke pipiku. Sentuhan jarinya yang dingin terasa sangat halus di kulit wajahku yang kasar. Karena tubuhnya yang mungil, dia harus sedikit berjinjit di depanku. Gerakan berjinjit itu membuat apron depannya sedikit terangkat.
Dari sudut mataku, aku bisa melihat dengan jelas belahan samping dadanya yang montok bergoyang tipis tepat di samping lenganku.
Langkah kaki Danang Kusuma yang menyedihkan semakin menjauh, melintasi halaman rumah mewahnya yang gelap gulita. Setelah sosoknya hilang, ruang tamu berkubah tinggi itu mendadak hening.Di atas meja kayu ukir yang megah, tumpukan berkas penyerahan aset dari Danang sudah lengkap berhias tanda tangan.Ciska merapikan lembar demi lembar dokumen itu sembari tersenyum tipis."Semua hak milik bisnis hiburan, izin klub, sampai rekening bank resmi berpindah tangan," ujar Ciska menoleh padaku. "Total nilainya triliunan rupiah. Dalam hitungan jam, semuanya bakal aku masukin ke PT Garuda Nusantara Holding.""Kerja bagus, Ciska," kataku pelan, menepuk bahunya hangat."Meyden, Kanya, Sora," panggil Diva dengan suara yang sedikit bergetar, berusaha menata emosinya. "Kalian urus pengamanan perimeter rumah ini sama tim di luar. Biarkan Kipli dan Ciska selesaikan verifikasi berkas terakhir di ruang kerja.""Siap, Mbak Diva!" sahut Kanya dan Meyden serentak. Sora mengangguk anggun, lalu ketiga wanita i
"Jaga mulut lo," desis Diva sangat dingin, menatap Danang dengan pandangan jijik yang amat pekat. "Pria yang lo sebut tukang ojol ini... jauh lebih hebat dan berkuasa daripada lo yang cuma bisa bersembunyi di balik uang dan preman!""Tahu diri sedikit," tambah Kanya dengan senyum meremehkan. "Mas Kipli itu pria yang hebat. Lo bahkan nggak pantas buat nyium alas sepatunya!""BANGSAT! MATI LO SEMUA!" teriak Danang histeris sembari menarik pelatuk pistolnya.Brak!Sebelum jarinya sempat menekan pelatuk, aku melesat maju bagaikan kilat. Hanya dalam satu persekian detik, jarak sepuluh meter di antara kami terkikis habis. Sebelum peluru sempat meletup, telapak tangan kananku yang terselimuti energi giok tebal sudah menyambar pergelangan tangan Danang.Krak!"AAAGHHHH! TANGAN GUEE!" jerit Danang histeris saat tulang pergelangan tangannya remuk seketika dalam genggamanku. Pistol di tangannya jatuh terlempar ke atas karpet mahal.Tanpa memberi jeda, aku mencengkeram kerah baju mewahnya, mengan
Kanya masih bersandar manja di pangkuanku, membiarkan jemariku mengusap lembut rambut panjangnya yang halus. Ciuman hangat kami baru saja terlepas, meninggalkan pendar kebahagiaan dan rona kemerahan yang begitu manis di kedua pipi mulusnya."Aku masih mau dipangku gini terus..." bisik Kanya halus, menyandarkan kepalanya di dadaku sembari memainkan kancing kemejaku dengan jemari lentiknya."Nanti kita sambung lagi," pungkasku lembut sembari meremas pinggul rampingnya dengan lembut, lalu menegakkan tubuh. "Sekarang saatnya kita selesaikan permainan ini."Kanya tersenyum manis, mengangguk pasrah lalu perlahan merosot turun dari pangkuanku.Diva, Meyden, Ciska, dan Sora yang sejak tadi memperhatikan langsung berdiri tegak. Suasana manis di ruang tengah seketika berubah menjadi sangat dingin oleh aura tempur yang membara."Semua persiapannya sudah selesai," ujar Ciska sembari menutup laptopnya. "Radar memantau bahwa kerumunan wartawan dan mobil polisi di depan gerbang kediaman Danang sudah
Bip!Siaran langsung dimulai. Dalam hitungan detik, penonton melonjak dari ribuan hingga menembus angka jutaan orang."T-tolong... siapapun yang lihat siaran ini... tolong aku..." ucap Kanya dengan suara bergetar dan napas terengah-engah yang amat meyakinkan. Air mata bening mengalir mulus melewati pipinya yang halus."Aku lagi diancam... ada pengusaha jahat bernama Danang Kusuma yang mau celakain aku dan keluarga aku... Dia punya bisnis judi ilegal dan jaringan kriminal berdarah..." Kanya melanjutkan sembari menayangkan beberapa dokumen digital bukti transaksi gelap milik Danang yang disiapkan Ciska."Aku takut banget... Rumahku di Kompleks Gemilang sekarang lagi dikepung preman... aku cuma mau minta perlindungan dari publik dan aparat..." rintih Kanya penuh penghayatan, menangkupkan kedua tangannya di depan kamera.Efeknya sungguh luar biasa.Kolom komentar langsung meledak oleh kemarahan netizen. Ratusan ribu bagikan dan komentar membanjiri jagat maya. Dalam waktu kurang dari tiga
Langkah kaki kami bergema pelan di koridor penthouse saat matahari subuh mulai membayang di ufuk timur. Diva berjalan menempel rapat di sisiku. Napasnya masih tersengal lembut, sisa dari pertempuran panas yang baru saja kami selesaikan di atas meja kerja Kasino Cempaka.Setiap usapan pelanku di punggungnya dibalas dengan sandaran kepala yang makin dalam. Tatapan matanya kini tak lagi memancarkan keraguan, melainkan kepatuhan mutlak seorang wanita yang telah menyerahkan seluruh hidupnya.Kemenangan malam ini benar-benar mematahkan tulang punggung finansial Danang Kusuma. Kasino terbesar yang menjadi sumber uangnya kini resmi berganti pemilik.Namun, begitu kami melangkah masuk ke ruang kendali utama, raut wajah Sora dan Ciska di depan layar monitor langsung memberi sinyal bahwa permainan belum sepenuhnya usai. Danang yang makin terdesak ternyata masih mencoba bertahan."Mas Kipli, lihat ini," sela Sora begitu kami melangkah masuk ke ruang kendali utama. Jemari lentiknya lincah menunjuk
Seluruh staf kasino dan pengunjung tercengang mendengar pengumuman berani tersebut."Kurang ajar! Bunuh mereka!" teriak Rudi histeris sembari menarik pistol otomatis dari balik jasnya. "Jangan biarkan mereka keluar hidup-hidup dari sini!""Cari mati," gumam Meyden dingin.Sebelum Rudi sempat mengarahkan moncong senjata api di tangannya, tubuh Meyden sudah bergerak secepat kilat. Gerakannya bagaikan bayangan hitam yang tak tertangkap mata telanjang.Brak!Dengan satu tebasan, Meyden menghantam pergelangan tangan Rudi hingga pistol itu terlempar. Tanpa memberi jeda, wanita itu menyusup ke belakang tubuh sang manajer, memuntir kedua lengannya dan mengunci leher pria itu.Klek!"AAAGHHH! AMPUN! LENGAN GUE!" jerit Rudi histeris, berlutut terpaksa di atas lantai marmer aula.Enam penjaga bersenjata lainnya yang hendak maju seketika menghentikan langkah mereka. Aku melangkah maju satu langkah, mengalirkan tipis energi giok di dalam inti tubuhku yang memancarkan gelombang intimidasi tak terli
Preman pertama melayangkan pukulan yang kelihatan lambat di mataku. Tanpa sadar, tubuhku menghindar dengan gerakan yang lentur banget. Tanganku bergerak lincah, kayak lele yang licin saat mau ditangkap."Jurus Kepala Lele!"Bugh!Pukulan lawan kutangkis dengan mudah, lalu sikutku menghantam ulu hat
"Ahhh... Emmhh... Terus, Mas... di situ... ahhh..." desahan Diva Prameswari yang serak itu terdengar nyata di telingaku.Dia cuma pakai selembar handuk putih yang melilit longgar, pamer pundak mulusnya di bawah lampu kamar yang remang. Wangi melati dari kulitnya tercium, membuat kepalaku pusing kar
"Sekarang coba aku lihat modal kamu," ujar Diva sambil bersandar santai di pinggiran meja riasnya yang penuh lampu. "Mana ponsel kamu? Sini, aku mau lihat.""Hah? Hape saya, Mbak?" Aku mendadak gagap. "Bu-buat apa? Hape saya mah hape kentang, Mbak. Layarnya aja udah retak seribu gara-gara keseringa
Aku mengenali setiap inci sudut ruangan itu dengan sangat detail di luar kepala. Ada sofa kulit hitam yang legendaris di bagian tengah, pencahayaan remang-remang dari lampu sorot atas, hingga vas bunga buatan di sudut ruangan yang posisinya tidak pernah berubah.Ini adalah set syuting film dewasa m







