LOGIN"Mas Kipli... jantungnya kenapa detaknya kencang banget?" tanya Sora tiba-tiba. Dia menghentikan gerakan tangannya dan menatapku dengan mata bulatnya yang polos.
"Ya... gimana nggak kencang, Mbak Sora. Posisi Mbak dekat banget begini, terus baju Mbak itu... kurang bahan di samping," jawabku jujur, membuat batin ojolku menjerit frustrasi.
Mendengar jawabanku, Sora langsung tersentak. Dia melihat arah pandangan mataku, lalu refleks menutupi bagian samping tubuhnya dengan kedua tangan, membuat kotak rias di meja hampir tersenggol.
"Ah! Mas Kipli mesum!" pekik Sora pelan dengan nada panik, tapi dia tidak menjauh. Dia malah menggigit bibir bawahnya sambil menatapku dengan binar mata malu-malu yang sangat dalam. "Ini... ini memang seragam kerja dari Mbak Diva. Jangan dilihatin terus dong, aku jadi makin gugup..."
"Maaf, Mbak. Mata saya memang sering blong kalau lihat yang bening-bening begini," kataku mencoba mencairkan suasana dengan candaan pangkalan.
Sora tidak membalas makian. Dia malah menunduk untuk menyembunyikan senyum tipis yang mendadak terbit di bibir mungilnya. Jari-jarinya kembali bergerak menyentuh rahangku. Kali ini gerakannya terasa lebih lembut, seolah dia mulai menikmati keintiman yang tercipta di antara kami berdua di kamar yang terkunci ini.
Sentuhan lembut Sora di pipiku terhenti begitu saja ketika sepasang daun telinga kucing di kepalanya mendadak tegak. Wajah imutnya yang tadinya mulai santai dalam sekejap kembali memutih pucat. Sebelum aku sempat bertanya ada apa, suara langkah sepatu hak tinggi yang berirama tegas dan angkuh sudah menggema di lorong luar menuju tepat ke arah kamar ini.
Ceklek!
Pintu kamar terbuka tanpa peringatan, memotong seluruh kecanggungan sensual yang baru saja kami bangun. Suara Diva menggelegar menembus ruangan, meredam sisa keheningan di antara aku dan Sora seketika.
"Sudah selesai dandannya? Jangan sampai pengawal pribadiku ini malah kamu bikin lemas duluan di sini, Sora," ucap Diva dengan nada menyindir yang kuat. Matanya melirik tajam ke arah tangan Sora yang masih menempel di rahangku.
Sora yang panik langsung melompat mundur dua langkah sampai pantatnya membentur meja rias. Dia mendekap kotak riasnya erat-erat dengan muka yang kembali merah mirip kepiting rebus.
"Belum, Mbak Diva! Ini Sora baru bersihin wajahnya Mas Kipli, kok! Nggak ngapa-ngapain, sumpah!" cicit Sora dengan suara gemetar. Dia takut setengah mati dituduh yang tidak-tidak oleh sang majikan.
Aku sendiri langsung mendongak dari kursi rias. Detik itu juga duniaku seolah berhenti berputar.
Diva muncul di ambang pintu dalam balutan gaun merah yang ketat. Pakaian itu memeluk setiap lekuk tubuh dengan sempurna, menonjolkan bagian dada dan pinggul sintalnya. Penampilan aslinya ini jauh lebih cantik, lebih padat, dan lebih mematikan daripada versi digital yang selama ini kutonton di kamar kosan yang pengap.
"Lama sekali. Singkirkan bedakmu, Sora. Biarkan dia pakai kemejanya sekarang," perintah Diva tanpa memedulikan kepanikan periasnya. Pandangan matanya yang dingin kini beralih mengunci dadaku yang masih terekspos karena kemeja sutra putih ini belum dikancingkan dengan benar.
"Mbak... saya sudah siap," jawabku gagap sambil berusaha berdiri tegak. Sejujurnya sepasang dengkulku terasa lemas menghadapi kombinasi serbuan visual gaun merah Diva dan sisa aroma tubuh Sora yang masih menempel di hidungku.
"Bagus. Sora, panggil Mayden di bawah lalu siapkan mobil," ujar Diva dingin sambil membalikkan badannya dengan anggun.
Aku menyambar sisa kancing kemejaku, mengaitkannya dengan terburu-buru sambil melangkah cepat mengekor di belakang gaun merahnya yang meliuk indah keluar kamar.
"Tempat kerja, Mbak? Memangnya manajemennya buka jam segini?" tanya aku penuh rasa ingin tahu. Aku mencoba menyamai langkah kakinya yang cepat membelah lorong rumah mewah ini.
"Manajemen? Nggak, Kipli. Kita langsung ke lapangan. Aku punya jadwal pagi ini dan aku mau kamu lihat sendiri gimana duniaku bekerja," ucap Diva.
Diva terus melangkah tanpa memperlambat ritmenya sama sekali, membuatku harus setengah berlari di belakangnya melewati deretan pilar rumah yang megah. Begitu kami menuruni tangga utama menuju ruang depan, Mayden sudah berdiri di dekat pintu besar sambil memegang kunci mobil, sementara Sora mengekor di belakang kami dengan napas yang masih agak putus-putus.
"Mobilnya sudah siap di depan, Mbak Diva," lapor Mayden. Dia memberikan tatapan penuh arti ke arah kemeja baruku yang kancingnya masih agak mencong karena buru-buru.
"Bagus. Mayden, kamu dan Sora ikut di mobil belakang bawa peralatan. Kipli, kamu satu mobil denganku," perintah Diva mutlak sambil menyambar kunci dari tangan Mayden.
Aku cuma bisa menelan ludah saat Diva membawaku menuju mobil sport merah yang terparkir gagah di halaman depan.
Pintu mobil dibuka. Begitu pantat ojolku bersandar di jok kulitnya yang empuk, aroma parfum mahal Diva langsung mengunci seluruh kabin. Atmosfer di sekitarku mendadak terasa intim. Dan menjebak.
Diva langsung menginjak gas. Mesin mobil sport itu menggerung halus, sebelum melesat keluar menembus gerbang otomatis rumahnya.
Selama di perjalanan, aku hanya bisa bungkam sambil meremas celana kain baruku yang terasa licin. Aku tidak berani membuka suara. Nyaliku mendadak ciut melihat fokus Diva yang begitu dingin di balik kemudi.
Perlahan, jalanan Bekasi yang mulai diterangi fajar berganti menjadi pemandangan kawasan pergudangan sepi di pinggiran kota.
Mobil akhirnya melambat dan berbelok, berhenti tepat di depan sebuah bangunan raksasa tanpa papan nama yang seluruh dindingnya tertutup rapat. Diva mematikan mesin, menoleh ke arahku dengan senyuman yang sulit diartikan, lalu membuka pintu.
"Turun, Kipli. Selamat datang di dunia yang sebenarnya," ucap Diva sambil melangkah mendahuluiku.
Aku buru-buru keluar dan berjalan di belakangnya. Mengikuti langkah kakinya menuju sebuah pintu besi raksasa di bagian samping bangunan.
Begitu pintu besi raksasa itu terbuka, Diva langsung membawaku masuk ke dalam ruangan yang kedap suara.
Detik itu juga, aku langsung terpaku di tempat. Langkah kakiku mendadak terkunci rapat. Bahkan, napasku seolah tertahan di kerongkongan saking syoknya.
"Mbak... ini... ruangan ini..." gumamku dengan suara bergetar. Mataku bergerak liar menyapu seluruh area sekitar.
"Kenapa? Kamu pernah lihat ruangan ini sebelumnya?" tanya Diva sambil membalikkan badan, menatap reaksiku dengan sebelah alis yang terangkat tinggi.
Langkah kaki Danang Kusuma yang menyedihkan semakin menjauh, melintasi halaman rumah mewahnya yang gelap gulita. Setelah sosoknya hilang, ruang tamu berkubah tinggi itu mendadak hening.Di atas meja kayu ukir yang megah, tumpukan berkas penyerahan aset dari Danang sudah lengkap berhias tanda tangan.Ciska merapikan lembar demi lembar dokumen itu sembari tersenyum tipis."Semua hak milik bisnis hiburan, izin klub, sampai rekening bank resmi berpindah tangan," ujar Ciska menoleh padaku. "Total nilainya triliunan rupiah. Dalam hitungan jam, semuanya bakal aku masukin ke PT Garuda Nusantara Holding.""Kerja bagus, Ciska," kataku pelan, menepuk bahunya hangat."Meyden, Kanya, Sora," panggil Diva dengan suara yang sedikit bergetar, berusaha menata emosinya. "Kalian urus pengamanan perimeter rumah ini sama tim di luar. Biarkan Kipli dan Ciska selesaikan verifikasi berkas terakhir di ruang kerja.""Siap, Mbak Diva!" sahut Kanya dan Meyden serentak. Sora mengangguk anggun, lalu ketiga wanita i
"Jaga mulut lo," desis Diva sangat dingin, menatap Danang dengan pandangan jijik yang amat pekat. "Pria yang lo sebut tukang ojol ini... jauh lebih hebat dan berkuasa daripada lo yang cuma bisa bersembunyi di balik uang dan preman!""Tahu diri sedikit," tambah Kanya dengan senyum meremehkan. "Mas Kipli itu pria yang hebat. Lo bahkan nggak pantas buat nyium alas sepatunya!""BANGSAT! MATI LO SEMUA!" teriak Danang histeris sembari menarik pelatuk pistolnya.Brak!Sebelum jarinya sempat menekan pelatuk, aku melesat maju bagaikan kilat. Hanya dalam satu persekian detik, jarak sepuluh meter di antara kami terkikis habis. Sebelum peluru sempat meletup, telapak tangan kananku yang terselimuti energi giok tebal sudah menyambar pergelangan tangan Danang.Krak!"AAAGHHHH! TANGAN GUEE!" jerit Danang histeris saat tulang pergelangan tangannya remuk seketika dalam genggamanku. Pistol di tangannya jatuh terlempar ke atas karpet mahal.Tanpa memberi jeda, aku mencengkeram kerah baju mewahnya, mengan
Kanya masih bersandar manja di pangkuanku, membiarkan jemariku mengusap lembut rambut panjangnya yang halus. Ciuman hangat kami baru saja terlepas, meninggalkan pendar kebahagiaan dan rona kemerahan yang begitu manis di kedua pipi mulusnya."Aku masih mau dipangku gini terus..." bisik Kanya halus, menyandarkan kepalanya di dadaku sembari memainkan kancing kemejaku dengan jemari lentiknya."Nanti kita sambung lagi," pungkasku lembut sembari meremas pinggul rampingnya dengan lembut, lalu menegakkan tubuh. "Sekarang saatnya kita selesaikan permainan ini."Kanya tersenyum manis, mengangguk pasrah lalu perlahan merosot turun dari pangkuanku.Diva, Meyden, Ciska, dan Sora yang sejak tadi memperhatikan langsung berdiri tegak. Suasana manis di ruang tengah seketika berubah menjadi sangat dingin oleh aura tempur yang membara."Semua persiapannya sudah selesai," ujar Ciska sembari menutup laptopnya. "Radar memantau bahwa kerumunan wartawan dan mobil polisi di depan gerbang kediaman Danang sudah
Bip!Siaran langsung dimulai. Dalam hitungan detik, penonton melonjak dari ribuan hingga menembus angka jutaan orang."T-tolong... siapapun yang lihat siaran ini... tolong aku..." ucap Kanya dengan suara bergetar dan napas terengah-engah yang amat meyakinkan. Air mata bening mengalir mulus melewati pipinya yang halus."Aku lagi diancam... ada pengusaha jahat bernama Danang Kusuma yang mau celakain aku dan keluarga aku... Dia punya bisnis judi ilegal dan jaringan kriminal berdarah..." Kanya melanjutkan sembari menayangkan beberapa dokumen digital bukti transaksi gelap milik Danang yang disiapkan Ciska."Aku takut banget... Rumahku di Kompleks Gemilang sekarang lagi dikepung preman... aku cuma mau minta perlindungan dari publik dan aparat..." rintih Kanya penuh penghayatan, menangkupkan kedua tangannya di depan kamera.Efeknya sungguh luar biasa.Kolom komentar langsung meledak oleh kemarahan netizen. Ratusan ribu bagikan dan komentar membanjiri jagat maya. Dalam waktu kurang dari tiga
Langkah kaki kami bergema pelan di koridor penthouse saat matahari subuh mulai membayang di ufuk timur. Diva berjalan menempel rapat di sisiku. Napasnya masih tersengal lembut, sisa dari pertempuran panas yang baru saja kami selesaikan di atas meja kerja Kasino Cempaka.Setiap usapan pelanku di punggungnya dibalas dengan sandaran kepala yang makin dalam. Tatapan matanya kini tak lagi memancarkan keraguan, melainkan kepatuhan mutlak seorang wanita yang telah menyerahkan seluruh hidupnya.Kemenangan malam ini benar-benar mematahkan tulang punggung finansial Danang Kusuma. Kasino terbesar yang menjadi sumber uangnya kini resmi berganti pemilik.Namun, begitu kami melangkah masuk ke ruang kendali utama, raut wajah Sora dan Ciska di depan layar monitor langsung memberi sinyal bahwa permainan belum sepenuhnya usai. Danang yang makin terdesak ternyata masih mencoba bertahan."Mas Kipli, lihat ini," sela Sora begitu kami melangkah masuk ke ruang kendali utama. Jemari lentiknya lincah menunjuk
Seluruh staf kasino dan pengunjung tercengang mendengar pengumuman berani tersebut."Kurang ajar! Bunuh mereka!" teriak Rudi histeris sembari menarik pistol otomatis dari balik jasnya. "Jangan biarkan mereka keluar hidup-hidup dari sini!""Cari mati," gumam Meyden dingin.Sebelum Rudi sempat mengarahkan moncong senjata api di tangannya, tubuh Meyden sudah bergerak secepat kilat. Gerakannya bagaikan bayangan hitam yang tak tertangkap mata telanjang.Brak!Dengan satu tebasan, Meyden menghantam pergelangan tangan Rudi hingga pistol itu terlempar. Tanpa memberi jeda, wanita itu menyusup ke belakang tubuh sang manajer, memuntir kedua lengannya dan mengunci leher pria itu.Klek!"AAAGHHH! AMPUN! LENGAN GUE!" jerit Rudi histeris, berlutut terpaksa di atas lantai marmer aula.Enam penjaga bersenjata lainnya yang hendak maju seketika menghentikan langkah mereka. Aku melangkah maju satu langkah, mengalirkan tipis energi giok di dalam inti tubuhku yang memancarkan gelombang intimidasi tak terli
"Duh, Mbak... malu saya nyebutnya. Pokoknya banyak lah buat ukuran ojol yang makan warteg aja masih sering utang.""Sepuluh juta? Dua puluh juta? Atau cuma recehan lima juta?""Ya... sekitar sepuluh jutaan kalau dihitung sama bunganya, Mbak. Buat saya itu duitnya bisa buat beli kerupuk se-Bekasi."
Preman pertama melayangkan pukulan yang kelihatan lambat di mataku. Tanpa sadar, tubuhku menghindar dengan gerakan yang lentur banget. Tanganku bergerak lincah, kayak lele yang licin saat mau ditangkap."Jurus Kepala Lele!"Bugh!Pukulan lawan kutangkis dengan mudah, lalu sikutku menghantam ulu hat
"Ahhh... Emmhh... Terus, Mas... di situ... ahhh..." desahan Diva Prameswari yang serak itu terdengar nyata di telingaku.Dia cuma pakai selembar handuk putih yang melilit longgar, pamer pundak mulusnya di bawah lampu kamar yang remang. Wangi melati dari kulitnya tercium, membuat kepalaku pusing kar
"Sekarang coba aku lihat modal kamu," ujar Diva sambil bersandar santai di pinggiran meja riasnya yang penuh lampu. "Mana ponsel kamu? Sini, aku mau lihat.""Hah? Hape saya, Mbak?" Aku mendadak gagap. "Bu-buat apa? Hape saya mah hape kentang, Mbak. Layarnya aja udah retak seribu gara-gara keseringa







