分享

BAB 7

作者: Prince Molina
last update publish date: 2026-05-24 20:12:58

Aku mengenali setiap inci sudut ruangan itu dengan sangat detail di luar kepala. Ada sofa kulit hitam yang legendaris di bagian tengah, pencahayaan remang-remang dari lampu sorot atas, hingga vas bunga buatan di sudut ruangan yang posisinya tidak pernah berubah.

Ini adalah set syuting film dewasa miliknya yang selama ini kutonton berulang kali di kamar kos gelapku sampai layar ponsel retakku buram dan panas.

Rasa senang yang meluap karena bisa bertemu sang idola di tempat aslinya kini bercampur aduk dengan rasa bersalah. Aku sadar betul sudah membayangkan hal-hal ekstrem tentang Diva di atas sofa hitam itu.

"Kipli, jangan cuma melongo. Ayo ikut aku," perintah Diva sambil menarik tanganku menuju kerumunan orang di tengah studio.

"Semuanya berhenti! Aku bawa orang spesial hari ini!" teriak Diva. Seluruh kru kamera langsung menoleh ke arah kami.

"Siapa dia, Diva?" sahut seorang pria tua dengan kacamata tebal dan muka sinis yang berdiri di balik monitor.

"Namanya Kipli. Dan dia adalah calon pemeran utama pria untuk proyek kita berikutnya," ucap Diva dengan tegas.

Suasana studio mendadak sunyi sesaat sebelum akhirnya tawa sinis sang sutradara pecah. Dia berjalan mendekat dan memperhatikanku dari ujung kaki sampai rambut dengan tatapan merendahkan.

"Kamu bercanda? Lihat orang ini! Walaupun bajunya mahal, auranya masih aura tukang ojek yang belum mandi!"

"Jaga mulut kamu, Sutradara! Dia punya kemampuan yang tidak dimiliki aktor manapun di studio ini!"

"Kemampuan apa? Kemampuan nyelip di antara truk? Badannya saja biasa, nggak ada otot yang menonjol seperti artis kita yang lain. Penonton mau lihat pria perkasa, bukan mantan ojol krempeng!" seru sang sutradara dengan nada menghina.

Cemoohan itu menusuk harga diriku. Aku merasa sangat malu dan tidak pantas berdiri di bawah lampu studio yang silau ini.

"Mbak Diva, kayaknya bapak ini bener. Saya mending balik narik aja..." bisikku sambil menunduk.

"Kipli! Jangan jadi pengecut! Kamu tetap di sini atau aku mogok syuting!" ancam Diva pada seluruh orang di sana.

"Diva! Jangan gila kamu! Kontraknya sudah ditandatangani!" teriak sutradara dengan muka merah padam.

"Aku nggak peduli! Kipli adalah aset unikku! Kalau dia nggak jadi pemeran utama, cari saja aktris lain!"

Tepat saat ketegangan itu memuncak, ponsel di saku celanaku bergetar kencang. Aku merogohnya dengan tangan gemetar. Namun, yang muncul di layar justru jauh lebih menyakitkan. 

Pesan dari Risa, mantan pacarku yang meninggalkanku demi pria kaya.

“Kipli, lihat nih. David jauh lebih hebat dari kamu. Kamu mah cuma bisa narik motor, nggak bisa narik gairah cewek. Kasihan ya, ojol miskin.”

Di bawah pesan itu terpampang foto Risa yang sedang bermesraan dengan David di atas ranjang mewah. Ejekan itu sangat telak dan menghancurkan rasa maluku dalam sekejap. Kemarahan mulai merayap dari perut ke kepalaku, membakar semua rasa tidak percaya diri yang tadi menghimpit.

"Kipli? Kamu kenapa? Muka kamu merah banget," tanya Sora yang berdiri di dekatku.

Aku tidak menjawab ucapan Sora. Mataku menatap tajam ke arah sutradara yang masih mendumel soal casting yang buruk. Api balas dendam ini sudah berkobar. Ini bukan lagi soal uang, tapi soal harga diri di hadapan Risa dan David yang sudah menginjak-injakku.

"Pak Sutradara! Berhenti mengoceh soal penampilan saya!" teriakku dengan suara lantang yang membuat semua orang kaget.

"Kamu ngomong apa?! Berani kamu nentang saya?"

"Saya terima tawarannya, Mbak Diva! Saya akan jadi aktor utama di sini!"

"Nah, gitu dong! Itu baru laki-laki pilihanku!" Diva tersenyum puas sambil merangkul pundakku dengan bangga.

"Dengarkan saya baik-baik, Pak Sutradara! Saya akan buktikan kalau saya bisa jadi aktor terbaik yang pernah Bapak temui!"

"Bicara emang gampang! Tapi kamu punya apa selain mulut besar?" tanya sutradara itu.

"Saya punya motivasi yang lebih besar dari sekadar kontrak Bapak! Saya akan buktikan bahwa saya bisa mendapatkan wanita yang jauh lebih hebat, lebih mewah, dan lebih terkenal daripada mantan pacar saya yang murahan itu!"

Sutradara itu tertegun melihat api yang menyala di mataku. Diva tertawa puas, sementara Mayden dan Sora menatapku dengan kagum. Aku tidak peduli lagi dengan apa yang akan terjadi nanti.

"Jadi, kapan kita mulai syutingnya?" tantangku sambil menatap Diva dengan tajam.

"Sabar, Sayang. Kita harus tanda tangan kontrak dulu. Setelah itu, kamu bebas melakukan apa saja padaku di bawah lampu studio ini."

"Bagus! Aku akan buat Risa menyesal karena sudah memilih orang yang salah!" bisikku dalam hati

Aku melangkah maju dengan kepala tegak, meninggalkan sisa-sisa bayangan motor bebekku di pintu studio. Pintu dunia yang penuh kemewahan ini sudah terbuka, dan aku tidak akan sudi menoleh ke belakang lagi. Masa bodoh dengan Risa. Masa bodoh dengan David.

"Gila kamu, Diva. Benar-benar tidak ada otaknya," gerutu sutradara sambil melepas kacamatanya yang berembun. Dia memijat pangkal hidungnya yang merah, tampak seperti orang yang baru saja tertimpa musibah besar.

Diva tidak menjawab. Dia hanya melempar senyum tipis yang bikin aku merasa kalau aku ini bukan lagi manusia, tapi mangsa yang sudah masuk perangkapnya. Tanpa peduli dengan kru studio yang mulai bisik-bisik, tangan halusnya tiba-tiba menyambar kerah kemeja sutraku.

Sret!

Dia menarikku sampai hidung kami hampir bersentuhan. Aroma parfum mahalnya langsung menusuk, bikin otakku yang tadinya panas karena dendam, mendadak korslet karena gairah.

"Gila itu mahal harganya, Pak sutradara. Dan Kipli punya kegilaan yang bakal bikin film kita laku keras," tantang Diva tanpa sekalipun memutuskan kontak mata denganku.

"Laku dari mana kalau dia kaku begitu?! Lihat badannya, dia berdiri saja kayak lagi nungguin lampu merah!" balas sutradara sambil menunjukku dengan telunjuk yang gemetar. "Kita nggak bisa syuting kalau pemeran utamanya kayak kayu begini!"

Diva melepaskan kerah bajuku, lalu mengelus pundakku seolah sedang menenangkan kuda liar.

"Makanya, jadwal hari ini kita tunda. Semua kru boleh istirahat atau urus yang lain."

"Lho, terus si ojol ini mau diapain?" tanya sutradara bingung.

Diva menoleh ke arah sutradara dengan tatapan yang bikin pria tua itu langsung bungkam. "Kipli urusan aku. Aku sendiri yang bakal kasih dia pelatihan intensif. Privat. Sampai dia benar-benar tahu gimana caranya jadi binatang di depan kamera."

Dengar kata privat, jantungku mendadak balapan lagi. Aku tahu ini tidak cuma soal akting, tapi soal penyerahan diri secara total kepada dewi yang ada di depanku ini.

Melihat mukaku yang mendadak salah tingkah, Diva justru semakin gemas. Tanpa membuang waktu, tangan halusnya yang sedari tadi menempel di pundakku langsung turun dan mencengkeram pergelangan tanganku erat-erat.

"Ayo ikut aku, Sayang. Kita mulai kelas privatnya sekarang," bisik Diva dengan nada rendah yang bikin jakun menyundul tenggorokan.

Dia menarikku setengah menyeret ke dalam sebuah ruangan khusus di sudut studio. Ruang istirahat pribadi sang diva yang kuncinya dipegang sendiri olehnya.

Begitu pintu tertutup dengan bunyi klik yang solid, suasana bising studio langsung lenyap. Keadaan berganti dengan aroma lilin terapi melati yang bikin bulu kuduk meremang nikmat.

在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP

最新章節

  • Ojol Simpanan Artis Cantik   BAB 205

    "Jaga mulut lo," desis Diva sangat dingin, menatap Danang dengan pandangan jijik yang amat pekat. "Pria yang lo sebut tukang ojol ini... jauh lebih hebat dan berkuasa daripada lo yang cuma bisa bersembunyi di balik uang dan preman!""Tahu diri sedikit," tambah Kanya dengan senyum meremehkan. "Mas Kipli itu pria yang hebat. Lo bahkan nggak pantas buat nyium alas sepatunya!""BANGSAT! MATI LO SEMUA!" teriak Danang histeris sembari menarik pelatuk pistolnya.Brak!Sebelum jarinya sempat menekan pelatuk, aku melesat maju bagaikan kilat. Hanya dalam satu persekian detik, jarak sepuluh meter di antara kami terkikis habis. Sebelum peluru sempat meletup, telapak tangan kananku yang terselimuti energi giok tebal sudah menyambar pergelangan tangan Danang.Krak!"AAAGHHHH! TANGAN GUEE!" jerit Danang histeris saat tulang pergelangan tangannya remuk seketika dalam genggamanku. Pistol di tangannya jatuh terlempar ke atas karpet mahal.Tanpa memberi jeda, aku mencengkeram kerah baju mewahnya, mengan

  • Ojol Simpanan Artis Cantik   BAB 204

    Kanya masih bersandar manja di pangkuanku, membiarkan jemariku mengusap lembut rambut panjangnya yang halus. Ciuman hangat kami baru saja terlepas, meninggalkan pendar kebahagiaan dan rona kemerahan yang begitu manis di kedua pipi mulusnya."Aku masih mau dipangku gini terus..." bisik Kanya halus, menyandarkan kepalanya di dadaku sembari memainkan kancing kemejaku dengan jemari lentiknya."Nanti kita sambung lagi," pungkasku lembut sembari meremas pinggul rampingnya dengan lembut, lalu menegakkan tubuh. "Sekarang saatnya kita selesaikan permainan ini."Kanya tersenyum manis, mengangguk pasrah lalu perlahan merosot turun dari pangkuanku.Diva, Meyden, Ciska, dan Sora yang sejak tadi memperhatikan langsung berdiri tegak. Suasana manis di ruang tengah seketika berubah menjadi sangat dingin oleh aura tempur yang membara."Semua persiapannya sudah selesai," ujar Ciska sembari menutup laptopnya. "Radar memantau bahwa kerumunan wartawan dan mobil polisi di depan gerbang kediaman Danang sudah

  • Ojol Simpanan Artis Cantik   BAB 203

    Bip!Siaran langsung dimulai. Dalam hitungan detik, penonton melonjak dari ribuan hingga menembus angka jutaan orang."T-tolong... siapapun yang lihat siaran ini... tolong aku..." ucap Kanya dengan suara bergetar dan napas terengah-engah yang amat meyakinkan. Air mata bening mengalir mulus melewati pipinya yang halus."Aku lagi diancam... ada pengusaha jahat bernama Danang Kusuma yang mau celakain aku dan keluarga aku... Dia punya bisnis judi ilegal dan jaringan kriminal berdarah..." Kanya melanjutkan sembari menayangkan beberapa dokumen digital bukti transaksi gelap milik Danang yang disiapkan Ciska."Aku takut banget... Rumahku di Kompleks Gemilang sekarang lagi dikepung preman... aku cuma mau minta perlindungan dari publik dan aparat..." rintih Kanya penuh penghayatan, menangkupkan kedua tangannya di depan kamera.Efeknya sungguh luar biasa.Kolom komentar langsung meledak oleh kemarahan netizen. Ratusan ribu bagikan dan komentar membanjiri jagat maya. Dalam waktu kurang dari tiga

  • Ojol Simpanan Artis Cantik   BAB 202

    Langkah kaki kami bergema pelan di koridor penthouse saat matahari subuh mulai membayang di ufuk timur. Diva berjalan menempel rapat di sisiku. Napasnya masih tersengal lembut, sisa dari pertempuran panas yang baru saja kami selesaikan di atas meja kerja Kasino Cempaka.Setiap usapan pelanku di punggungnya dibalas dengan sandaran kepala yang makin dalam. Tatapan matanya kini tak lagi memancarkan keraguan, melainkan kepatuhan mutlak seorang wanita yang telah menyerahkan seluruh hidupnya.Kemenangan malam ini benar-benar mematahkan tulang punggung finansial Danang Kusuma. Kasino terbesar yang menjadi sumber uangnya kini resmi berganti pemilik.Namun, begitu kami melangkah masuk ke ruang kendali utama, raut wajah Sora dan Ciska di depan layar monitor langsung memberi sinyal bahwa permainan belum sepenuhnya usai. Danang yang makin terdesak ternyata masih mencoba bertahan."Mas Kipli, lihat ini," sela Sora begitu kami melangkah masuk ke ruang kendali utama. Jemari lentiknya lincah menunjuk

  • Ojol Simpanan Artis Cantik   BAB 201

    Seluruh staf kasino dan pengunjung tercengang mendengar pengumuman berani tersebut."Kurang ajar! Bunuh mereka!" teriak Rudi histeris sembari menarik pistol otomatis dari balik jasnya. "Jangan biarkan mereka keluar hidup-hidup dari sini!""Cari mati," gumam Meyden dingin.Sebelum Rudi sempat mengarahkan moncong senjata api di tangannya, tubuh Meyden sudah bergerak secepat kilat. Gerakannya bagaikan bayangan hitam yang tak tertangkap mata telanjang.Brak!Dengan satu tebasan, Meyden menghantam pergelangan tangan Rudi hingga pistol itu terlempar. Tanpa memberi jeda, wanita itu menyusup ke belakang tubuh sang manajer, memuntir kedua lengannya dan mengunci leher pria itu.Klek!"AAAGHHH! AMPUN! LENGAN GUE!" jerit Rudi histeris, berlutut terpaksa di atas lantai marmer aula.Enam penjaga bersenjata lainnya yang hendak maju seketika menghentikan langkah mereka. Aku melangkah maju satu langkah, mengalirkan tipis energi giok di dalam inti tubuhku yang memancarkan gelombang intimidasi tak terli

  • Ojol Simpanan Artis Cantik   BAB 200

    Ciska yang melihat adegan itu langsung bangkit dari kursinya, mendekat dengan senyum menggoda dan menaikkan kacamata tebalnya."Masa cuma Sora yang dapet imbalan sih, Mas Kipli?" goda Ciska manja, melingkarkan tangannya di bahuku dari sisi lain. "Ciska kan juga kerja keras mindahin uang empat puluh lima miliar tadi!"Aku tertawa pelan, lalu menarik tengkuk Ciska mendekat.Tanpa membuang waktu, aku memagut bibirnya dengan panas, membagikan ciuman bergairah secara bergantian pada dua wanita jenius siber di pangkuanku ini.Ciska mendesah nikmat di dalam pelukanku. Ia membiarkan jemariku meremas pinggul mulusnya dengan bebas, tepat di hadapan Diva, Meyden, dan Kanya yang menyaksikan dengan senyum puas.Diva melangkah mendekat, membuang jauh-jauh sisa-sisa sikap dinginnya sebagai mantan pimpinan. Ia berlutut kecil di samping kursiku, menggenggam tanganku yang bebas dan menempelkannya di pipinya yang hangat."Kipli..." panggil Diva dengan suara lembut yang penuh ketundukan."Bukan cuma keua

  • Ojol Simpanan Artis Cantik   BAB 8

    "Sekarang coba aku lihat modal kamu," ujar Diva sambil bersandar santai di pinggiran meja riasnya yang penuh lampu. "Mana ponsel kamu? Sini, aku mau lihat.""Hah? Hape saya, Mbak?" Aku mendadak gagap. "Bu-buat apa? Hape saya mah hape kentang, Mbak. Layarnya aja udah retak seribu gara-gara keseringa

  • Ojol Simpanan Artis Cantik   BAB 6

    "Mas Kipli... jantungnya kenapa detaknya kencang banget?" tanya Sora tiba-tiba. Dia menghentikan gerakan tangannya dan menatapku dengan mata bulatnya yang polos."Ya... gimana nggak kencang, Mbak Sora. Posisi Mbak dekat banget begini, terus baju Mbak itu... kurang bahan di samping," jawabku jujur,

  • Ojol Simpanan Artis Cantik   BAB 5

    "Gila! Masa saya telanjang di depan Mbak?!" teriakku sambil memegang erat ujung handuk."Halah, sok suci banget kamu. Sini, aku cuma mau lihat ukurannya pas atau nggak."Mayden mendekat lagi. Jemari lenturnya mulai menyentuh pundakku yang masih basah. Sentuhannya itu seperti aliran listrik yang lan

  • Ojol Simpanan Artis Cantik   BAB 4

    Aku memejamkan mata. Kepalaku pening bukan main karena gairah yang sudah meluap sampai ke ubun-ubun. Tapi, tepat saat tangannya mau menyentuh ikat pinggangku, sebuah bayangan horor muncul.Wajah Pak Jaka yang keriput mendadak lewat di pikiranku. Sialan, rentenir itu merusak segalanya! Aku kaget set

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status