LOGINAku mengenali setiap inci sudut ruangan itu dengan sangat detail di luar kepala. Ada sofa kulit hitam yang legendaris di bagian tengah, pencahayaan remang-remang dari lampu sorot atas, hingga vas bunga buatan di sudut ruangan yang posisinya tidak pernah berubah.
Ini adalah set syuting film dewasa miliknya yang selama ini kutonton berulang kali di kamar kos gelapku sampai layar ponsel retakku buram dan panas.
Rasa senang yang meluap karena bisa bertemu sang idola di tempat aslinya kini bercampur aduk dengan rasa bersalah. Aku sadar betul sudah membayangkan hal-hal ekstrem tentang Diva di atas sofa hitam itu.
"Kipli, jangan cuma melongo. Ayo ikut aku," perintah Diva sambil menarik tanganku menuju kerumunan orang di tengah studio.
"Semuanya berhenti! Aku bawa orang spesial hari ini!" teriak Diva. Seluruh kru kamera langsung menoleh ke arah kami.
"Siapa dia, Diva?" sahut seorang pria tua dengan kacamata tebal dan muka sinis yang berdiri di balik monitor.
"Namanya Kipli. Dan dia adalah calon pemeran utama pria untuk proyek kita berikutnya," ucap Diva dengan tegas.
Suasana studio mendadak sunyi sesaat sebelum akhirnya tawa sinis sang sutradara pecah. Dia berjalan mendekat dan memperhatikanku dari ujung kaki sampai rambut dengan tatapan merendahkan.
"Kamu bercanda? Lihat orang ini! Walaupun bajunya mahal, auranya masih aura tukang ojek yang belum mandi!"
"Jaga mulut kamu, Sutradara! Dia punya kemampuan yang tidak dimiliki aktor manapun di studio ini!"
"Kemampuan apa? Kemampuan nyelip di antara truk? Badannya saja biasa, nggak ada otot yang menonjol seperti artis kita yang lain. Penonton mau lihat pria perkasa, bukan mantan ojol krempeng!" seru sang sutradara dengan nada menghina.
Cemoohan itu menusuk harga diriku. Aku merasa sangat malu dan tidak pantas berdiri di bawah lampu studio yang silau ini.
"Mbak Diva, kayaknya bapak ini bener. Saya mending balik narik aja..." bisikku sambil menunduk.
"Kipli! Jangan jadi pengecut! Kamu tetap di sini atau aku mogok syuting!" ancam Diva pada seluruh orang di sana.
"Diva! Jangan gila kamu! Kontraknya sudah ditandatangani!" teriak sutradara dengan muka merah padam.
"Aku nggak peduli! Kipli adalah aset unikku! Kalau dia nggak jadi pemeran utama, cari saja aktris lain!"
Tepat saat ketegangan itu memuncak, ponsel di saku celanaku bergetar kencang. Aku merogohnya dengan tangan gemetar. Namun, yang muncul di layar justru jauh lebih menyakitkan.
Pesan dari Risa, mantan pacarku yang meninggalkanku demi pria kaya.
“Kipli, lihat nih. David jauh lebih hebat dari kamu. Kamu mah cuma bisa narik motor, nggak bisa narik gairah cewek. Kasihan ya, ojol miskin.”
Di bawah pesan itu terpampang foto Risa yang sedang bermesraan dengan David di atas ranjang mewah. Ejekan itu sangat telak dan menghancurkan rasa maluku dalam sekejap. Kemarahan mulai merayap dari perut ke kepalaku, membakar semua rasa tidak percaya diri yang tadi menghimpit.
"Kipli? Kamu kenapa? Muka kamu merah banget," tanya Sora yang berdiri di dekatku.
Aku tidak menjawab ucapan Sora. Mataku menatap tajam ke arah sutradara yang masih mendumel soal casting yang buruk. Api balas dendam ini sudah berkobar. Ini bukan lagi soal uang, tapi soal harga diri di hadapan Risa dan David yang sudah menginjak-injakku.
"Pak Sutradara! Berhenti mengoceh soal penampilan saya!" teriakku dengan suara lantang yang membuat semua orang kaget.
"Kamu ngomong apa?! Berani kamu nentang saya?"
"Saya terima tawarannya, Mbak Diva! Saya akan jadi aktor utama di sini!"
"Nah, gitu dong! Itu baru laki-laki pilihanku!" Diva tersenyum puas sambil merangkul pundakku dengan bangga.
"Dengarkan saya baik-baik, Pak Sutradara! Saya akan buktikan kalau saya bisa jadi aktor terbaik yang pernah Bapak temui!"
"Bicara emang gampang! Tapi kamu punya apa selain mulut besar?" tanya sutradara itu.
"Saya punya motivasi yang lebih besar dari sekadar kontrak Bapak! Saya akan buktikan bahwa saya bisa mendapatkan wanita yang jauh lebih hebat, lebih mewah, dan lebih terkenal daripada mantan pacar saya yang murahan itu!"
Sutradara itu tertegun melihat api yang menyala di mataku. Diva tertawa puas, sementara Mayden dan Sora menatapku dengan kagum. Aku tidak peduli lagi dengan apa yang akan terjadi nanti.
"Jadi, kapan kita mulai syutingnya?" tantangku sambil menatap Diva dengan tajam.
"Sabar, Sayang. Kita harus tanda tangan kontrak dulu. Setelah itu, kamu bebas melakukan apa saja padaku di bawah lampu studio ini."
"Bagus! Aku akan buat Risa menyesal karena sudah memilih orang yang salah!" bisikku dalam hati
Aku melangkah maju dengan kepala tegak, meninggalkan sisa-sisa bayangan motor bebekku di pintu studio. Pintu dunia yang penuh kemewahan ini sudah terbuka, dan aku tidak akan sudi menoleh ke belakang lagi. Masa bodoh dengan Risa. Masa bodoh dengan David.
"Gila kamu, Diva. Benar-benar tidak ada otaknya," gerutu sutradara sambil melepas kacamatanya yang berembun. Dia memijat pangkal hidungnya yang merah, tampak seperti orang yang baru saja tertimpa musibah besar.
Diva tidak menjawab. Dia hanya melempar senyum tipis yang bikin aku merasa kalau aku ini bukan lagi manusia, tapi mangsa yang sudah masuk perangkapnya. Tanpa peduli dengan kru studio yang mulai bisik-bisik, tangan halusnya tiba-tiba menyambar kerah kemeja sutraku.
Sret!
Dia menarikku sampai hidung kami hampir bersentuhan. Aroma parfum mahalnya langsung menusuk, bikin otakku yang tadinya panas karena dendam, mendadak korslet karena gairah.
"Gila itu mahal harganya, Pak sutradara. Dan Kipli punya kegilaan yang bakal bikin film kita laku keras," tantang Diva tanpa sekalipun memutuskan kontak mata denganku.
"Laku dari mana kalau dia kaku begitu?! Lihat badannya, dia berdiri saja kayak lagi nungguin lampu merah!" balas sutradara sambil menunjukku dengan telunjuk yang gemetar. "Kita nggak bisa syuting kalau pemeran utamanya kayak kayu begini!"
Diva melepaskan kerah bajuku, lalu mengelus pundakku seolah sedang menenangkan kuda liar.
"Makanya, jadwal hari ini kita tunda. Semua kru boleh istirahat atau urus yang lain."
"Lho, terus si ojol ini mau diapain?" tanya sutradara bingung.
Diva menoleh ke arah sutradara dengan tatapan yang bikin pria tua itu langsung bungkam. "Kipli urusan aku. Aku sendiri yang bakal kasih dia pelatihan intensif. Privat. Sampai dia benar-benar tahu gimana caranya jadi binatang di depan kamera."
Dengar kata privat, jantungku mendadak balapan lagi. Aku tahu ini tidak cuma soal akting, tapi soal penyerahan diri secara total kepada dewi yang ada di depanku ini.
Melihat mukaku yang mendadak salah tingkah, Diva justru semakin gemas. Tanpa membuang waktu, tangan halusnya yang sedari tadi menempel di pundakku langsung turun dan mencengkeram pergelangan tanganku erat-erat.
"Ayo ikut aku, Sayang. Kita mulai kelas privatnya sekarang," bisik Diva dengan nada rendah yang bikin jakun menyundul tenggorokan.
Dia menarikku setengah menyeret ke dalam sebuah ruangan khusus di sudut studio. Ruang istirahat pribadi sang diva yang kuncinya dipegang sendiri olehnya.
Begitu pintu tertutup dengan bunyi klik yang solid, suasana bising studio langsung lenyap. Keadaan berganti dengan aroma lilin terapi melati yang bikin bulu kuduk meremang nikmat.
Seluruh staf kasino dan pengunjung tercengang mendengar pengumuman berani tersebut."Kurang ajar! Bunuh mereka!" teriak Rudi histeris sembari menarik pistol otomatis dari balik jasnya. "Jangan biarkan mereka keluar hidup-hidup dari sini!""Cari mati," gumam Meyden dingin.Sebelum Rudi sempat mengarahkan moncong senjata api di tangannya, tubuh Meyden sudah bergerak secepat kilat. Gerakannya bagaikan bayangan hitam yang tak tertangkap mata telanjang.Brak!Dengan satu tebasan, Meyden menghantam pergelangan tangan Rudi hingga pistol itu terlempar. Tanpa memberi jeda, wanita itu menyusup ke belakang tubuh sang manajer, memuntir kedua lengannya dan mengunci leher pria itu.Klek!"AAAGHHH! AMPUN! LENGAN GUE!" jerit Rudi histeris, berlutut terpaksa di atas lantai marmer aula.Enam penjaga bersenjata lainnya yang hendak maju seketika menghentikan langkah mereka. Aku melangkah maju satu langkah, mengalirkan tipis energi giok di dalam inti tubuhku yang memancarkan gelombang intimidasi tak terli
Ciska yang melihat adegan itu langsung bangkit dari kursinya, mendekat dengan senyum menggoda dan menaikkan kacamata tebalnya."Masa cuma Sora yang dapet imbalan sih, Mas Kipli?" goda Ciska manja, melingkarkan tangannya di bahuku dari sisi lain. "Ciska kan juga kerja keras mindahin uang empat puluh lima miliar tadi!"Aku tertawa pelan, lalu menarik tengkuk Ciska mendekat.Tanpa membuang waktu, aku memagut bibirnya dengan panas, membagikan ciuman bergairah secara bergantian pada dua wanita jenius siber di pangkuanku ini.Ciska mendesah nikmat di dalam pelukanku. Ia membiarkan jemariku meremas pinggul mulusnya dengan bebas, tepat di hadapan Diva, Meyden, dan Kanya yang menyaksikan dengan senyum puas.Diva melangkah mendekat, membuang jauh-jauh sisa-sisa sikap dinginnya sebagai mantan pimpinan. Ia berlutut kecil di samping kursiku, menggenggam tanganku yang bebas dan menempelkannya di pipinya yang hangat."Kipli..." panggil Diva dengan suara lembut yang penuh ketundukan."Bukan cuma keua
"Sora, Ciska," panggilku tegas, memecah suasana tegang di ruang kendali. "Langsung ambil alih konsol utama. Kita lumpuhkan Kasino Cempaka dari akarnya malam ini juga.""Siap, Mas Kipli!" sahut Sora bersemangat. Tangannya yang mungil dan lincah langsung menari cepat di atas kibor virtual.Ciska ikut menarik kursi di sebelah Sora, membetulkan posisi kacamatanya sembari menatap deretan data keuangan yang mulai bermunculan di layar raksasa. "Aku udah masuk ke jaringan server transaksi Kasino Cempaka. Arus perputaran uang di meja judi utama mereka malam ini luar biasa masif.""Saya mau uang itu lenyap," perintahku dingin, melangkah mendekat ke meja kerja mereka. "Kuras seluruh kas digital mereka dan acak sistem judi otomatisnya. Bikin para penjudi di sana panik total."Diva yang berdiri tak jauh dariku mendadak memegang lenganku. Wajah cantiknya menyiratkan kecemasan yang amat pekat."Kipli... tunggu dulu," bisik Diva lirih, matanya menatapku khawatir. "Mencoba membobol sistem kasino skala
Kanya mengikis jarak di wajahku, berbisik tepat di depan bibirku dengan napas memburu. "Aku juga mau dipuaskan, Mas Kipli... sentuh aku..."Aku mencengkeram pinggul Kanya yang polos di balik gaun merahnya yang tersingkap makin tinggi. Tanpa banyak bicara, aku menekan tubuhnya rapat-rapat ke badanku, memaksa setiap lekuk tubuh mulusnya menempel sempurna.Desahan Kanya pecah seketika di telingaku begitu jemariku menyusup makin jauh, menyentuh area paling sensitif di balik pakaian dalamnya yang sudah basah oleh gairahnya sendiri."Aah... Mas Kipli..." bisik Kanya terengah-engah, memejamkan mata sembari menengadahkan leher jenjangnya. Tangannya meremas bahuku kuat-kuat, pasrah membiarkan jariku memegang kendali penuh atas tubuhnya.Di bawah, Meyden tidak tinggal diam. Ia makin mempercepat ritme hisapannya, memanjakanku tanpa ampun. Tatapan matanya yang mendongak dari bawah dipenuhi kepatuhan, melihat bagaimana dua wanita yang ditakuti para preman jalanan tadi, kini berlutut dan mengemis k
Aku mencengkeram kerah baju Bambang dengan satu tangan, mengangkat tubuh pria berbadan tegap itu begitu mudah hingga ujung kakinya melayang di atas lantai marmer."L-lepasin... tolong lepasin gue..." cicit Bambang dengan wajah memerah menahan napas.Aku mengalirkan sedikit tekanan energi giok dari telapak tanganku langsung menembus pundaknya. Sensasi panas dan menyengat seketika merambat ke seluruh jaringan sarafnya, membuat lutut Bambang melemas seolah tak bertulang."Nggak usah banyak gaya," bisikku dingin tepat di depan wajahnya. "Suara lo yang tadi lantang banget di mana?"Di sampingku, Kanya melangkah maju dengan keanggunan yang memikat. Gaun malam merah menyala yang membalut ketat lekuk tubuh indahnya tampak sangat kontras dengan situasi berdarah di ruangan ini. Jemarinya dengan santai memegang ponsel pintar berteknologi tinggi, merekam wajah Bambang yang penuh keringat dingin dan ketakutan dari berbagai sudut."Senyum sedikit ke kamera," goda Kanya dengan nada manja yang menges
"Diva nggak bakal datang buat berlutut di depan orang kayak lo," kataku tenang, terus melangkah maju sampai jarak kami hanya tersisa beberapa meter dari meja Bambang. "Gue pimpinan baru di tempat ini. Mau ngomong apa?"Bambang tertegun sejenak, lalu tawa marahnya pecah memenuhi ruangan VIP."Pimpinan baru?" kekeh Bambang sinis. "Ooh... jadi lo pria simpanan yang dipelihara Diva? Hahaha! Cuma gini doang peliharaan Diva sekarang? Pria ingusan yang nggak tahu diri!"Bambang melempar cerutunya ke lantai, lalu memberi isyarat tangan kepada empat anak buah terdepannya."Hajar bocah ini sampai cacat! Biar Diva tahu apa konsekuensinya kalau berani ngirim simpanan murahan buat hadapin gue!" perintah Bambang dingin.Empat pria berbadan besar langsung melangkah maju mengelilingiku. Dua di antaranya mencabut double stick besi dari balik jaket mereka, sementara dua lainnya mengepalkan tinju sebesar buah kelapa.Di saat yang sama, jauh di dalam ruang kendali penthouse, Diva menahan napasnya di depa
"Sekarang coba aku lihat modal kamu," ujar Diva sambil bersandar santai di pinggiran meja riasnya yang penuh lampu. "Mana ponsel kamu? Sini, aku mau lihat.""Hah? Hape saya, Mbak?" Aku mendadak gagap. "Bu-buat apa? Hape saya mah hape kentang, Mbak. Layarnya aja udah retak seribu gara-gara keseringa
"Mas Kipli... jantungnya kenapa detaknya kencang banget?" tanya Sora tiba-tiba. Dia menghentikan gerakan tangannya dan menatapku dengan mata bulatnya yang polos."Ya... gimana nggak kencang, Mbak Sora. Posisi Mbak dekat banget begini, terus baju Mbak itu... kurang bahan di samping," jawabku jujur,
"Gila! Masa saya telanjang di depan Mbak?!" teriakku sambil memegang erat ujung handuk."Halah, sok suci banget kamu. Sini, aku cuma mau lihat ukurannya pas atau nggak."Mayden mendekat lagi. Jemari lenturnya mulai menyentuh pundakku yang masih basah. Sentuhannya itu seperti aliran listrik yang lan
Aku memejamkan mata. Kepalaku pening bukan main karena gairah yang sudah meluap sampai ke ubun-ubun. Tapi, tepat saat tangannya mau menyentuh ikat pinggangku, sebuah bayangan horor muncul.Wajah Pak Jaka yang keriput mendadak lewat di pikiranku. Sialan, rentenir itu merusak segalanya! Aku kaget set







