Beranda / Romansa / Om Bule Kekasihku / Kembali Dan Kejutan Yang Disimpan Rapi

Share

Kembali Dan Kejutan Yang Disimpan Rapi

Penulis: Sabrina dewi
last update Tanggal publikasi: 2026-03-20 22:35:23

Langit pagi di Paris tampak lebih jernih dari biasanya.

Hari terakhir residensi akhirnya tiba.

Di studio kecil di Montmartre, suasana terasa berbeda tidak lagi penuh tekanan, melainkan dipenuhi perasaan yang sulit dijelaskan.

Selesai.

Namun bukan akhir.

Melainkan awal dari sesuatu yang lebih besar.

Nadia berdiri di tengah ruangan yang kini hampir kosong.

Beberapa lukisan sudah dikemas.

Beberapa dikirim ke galeri l
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Om Bule Kekasihku   Api Yang Pelan Tapi Nyata

    Hari-hari di villa Blankenese kembali berjalan dengan ritme yang lebih tenang. Namun tidak berarti semuanya benar-benar tenang. Karena ada hal-hal yang tidak terlihat tapi terasa. Sore itu, Nadia duduk di balkon kamar. Angin musim semi menyentuh rambutnya pelan. Tangannya mengusap perutnya yang kini semakin jelas membesar. Ia tersenyum. Namun di balik itu, ada sesuatu yang mengganggu pikirannya. Bukan rasa sakit. Bukan ketakutan. Tapi sesuatu yang lebih halus. Dan semakin hari, semakin kuat. Pintu kamar terbuka. Daniel masuk. Masih dengan kemeja kerja, namun tanpa jas. Ia langsung melihat Nadia. “Kamu di luar?” Nadia menoleh. “Iya, bosan di dalam kamar terus.” Daniel mendekat. “Jangan terlalu lama diluar.” Nada suaranya refleks. Protektif. Nadia tersenyum kecil. “Kamu ini..” Daniel berdiri di depannya. Menatapnya. “Aku serius.” Nadia tidak menjawab. Ia hanya menatap Daniel. Lebih lama dari biasanya. Daniel mengerutkan kening sedikit. “Ada apa?” Nadia ber

  • Om Bule Kekasihku   Tatapan Di Meja Makan

    Langit Hamburg mulai berubah warna saat mobil hitam itu melaju keluar dari gedung kantor. Sore menjelang malam. Cahaya keemasan menyelimuti jalanan. Di dalam mobil, suasana tenang. Daniel duduk di kursi belakang. Jasnya masih rapi. Namun dasinya sudah sedikit dilonggarkan. Hari yang panjang, akhirnya selesai. Paul menyetir dengan fokus. Namun sesekali ia melirik ke kaca spion. “Tuan ingin langsung kembali ke villa?” tanya Paul. “Iya. Sebelum makan malam” jawab Daniel. Paul mengangguk. “Baik.” Beberapa menit hening. “Bagaimana progress galeri?” tanya Daniel. “Saya sudah menghubungi tim arsitek” jawab Paul. “Lokasi sedang diproses.” “Dan desain awal bisa kita review besok, tuan.” Daniel mengangguk pelan. “Cepat.” Paul tersenyum tipis. “Sesuai dengan perintah.” Mobil akhirnya memasuki area Blankenese. Gerbang villa terbuka. Dan pada hari itu, Daniel terlihat sedikit lebih rileks. Mobil berhenti. Paul turun lebih dulu. Membukakan pintu.

  • Om Bule Kekasihku   Rencana Besar Dan Candaan Kecil

    Pagi di villa Blankenese terasa lebih hidup. Udara segar masuk dari jendela-jendela besar. Dan suasana hati semua orang, jauh lebih ringan dibanding beberapa hari sebelumnya. Nadia duduk di ruang keluarga dengan secangkir teh hangat. Tangannya sesekali menyentuh perutnya. Masih teringat jelas gerakan kecil semalam. Senyumnya tidak pernah benar-benar hilang sejak itu. Elena duduk di karpet, menggambar. Namun kali ini, ia menggambar sesuatu yang berbeda. “Tiga orang?” tanya Ayu sambil melirik. Elena menggeleng. “Empat.” Ayu mengerutkan kening. Elena menunjuk gambar itu. “Aku, mama, papa dan dua adik bayi.” Ayu tertawa kecil. “Oh iya.. kan harusnya lima.” Elena langsung mengangguk. “Iya, lupa” jawab Elena sambil menutup mulutnya. Di sisi lain, Daniel duduk di kursi sambil membaca beberapa dokumen. Namun fokusnya tidak sepenuhnya di sana. Sesekali, ia melirik Nadia. Seperti memastikan semuanya baik-baik saja. Ketukan pintu terdengar. Camille m

  • Om Bule Kekasihku   Peringatan Daniel

    Malam semakin larut, villa Blankenese kembali sunyi setelah makan malam. Lampu-lampu mulai diredupkan. Dan satu per satu orang kembali ke kamar masing-masing. Di luar, mesin mobil Paul baru saja menyala. Namun sebelum mobil itu sempat bergerak, Daniel keluar dari pintu utama. “Paul.” Suara itu membuat Paul langsung mematikan mesin. Ia keluar dari mobil. “Iya, Tuan.” Daniel berjalan mendekat. Tangannya masuk ke saku celana. Wajahnya tenang. Namun tatapannya, tajam seperti biasa. “Ada yang ingin saya bicarakan,” kata Daniel. Paul langsung berdiri lebih tegak. “Tentu.” Beberapa detik hening. Angin malam berhembus pelan. “Kamu semakin sering ke sini akhir-akhir ini,” ujar Daniel. Paul tidak menyangkal. “Iya.” Daniel menatapnya. “Bukan hanya karena pekerjaan.” Paul diam. Namun kali ini ia tidak menghindar. “Benar,” jawab Paul akhirnya. Daniel mengangguk pelan. Seolah sudah tahu. “Ayu.” Satu nama itu cukup. Paul menarik napas. “Iya.” Daniel berjalan sedikit m

  • Om Bule Kekasihku   Kembali Ke Dunia Lama

    Pagi itu terasa berbeda di villa Blankenese. Bukan karena suasana. Bukan karena rutinitas. Tapi karena satu hal yang sudah lama tidak terlihat, Daniel kembali mengenakan setelan formalnya. Di kamar, Daniel berdiri di depan cermin. Kemeja putih rapi. Jas hitam yang pas di tubuhnya. Dasi yang terikat sempurna. Wajahnya kembali dingin. Tegas. Seperti sosok CEO yang selama ini ia tinggalkan, demi keluarga. Nadia yang duduk di tempat tidur memperhatikannya. Sudah lama ia tidak melihat sisi ini. “Kamu terlihat berbeda hari ini” kata Nadia pelan. Daniel menoleh. “Lebih buruk?” Nadia tersenyum kecil. “Lebih berbahaya.” Daniel mendekat. “Mungkin.” Ia membungkuk sedikit. Mencium kening Nadia. “Aku harus ke kantor hari ini.” Nadia mengangguk. “Hati-hati ya” Daniel menatapnya. “Kamu juga.” Tangannya menyentuh perut Nadia dengan lembut. Sejenak. Namun penuh arti. Di ruang bawah, Ayu hampir menjatuhkan gelasnya saat melihat Daniel turun. “Wow.” Rudi mengangkat alis.

  • Om Bule Kekasihku   Kejutan untuk Nadia

    Malam turun perlahan di villa Blankenese. Lampu-lampu menyala hangat, namun suasana di dalam rumah terasa berbeda. Lebih sunyi. Lebih dalam. Nadia berdiri di dekat jendela kamarnya. Tablet masih ada di tangannya. Layar itu sudah mati. Namun pikirannya, tidak. Undangan itu masih terbayang jelas. Paris. Residensi. Kesempatan. Mimpi. Di sisi lain, Daniel dan Elena. Dua bayi dalam kandungan yang sedang ia jaga. Pintu terbuka pelan. Daniel masuk. Langkahnya tenang. Namun tatapannya langsung tertuju pada Nadia. “Kamu belum tidur?” Nadia tidak menoleh. “Belum.” Beberapa detik. Hening. Namun bukan hening yang kosong. Melainkan yang penuh ketenangan. Daniel mendekat. Berhenti di belakangnya. “Kamu masih memikirkan residensi.” Bukan pertanyaan. Pernyataan. Nadia tersenyum kecil. “Iya.” Akhirnya ia menoleh. Menatap Daniel. “Aku tidak bisa pura-pura tidak peduli.” Daniel mengangguk pelan. “Aku tahu.” Nadia berjalan pelan kembali ke tempat tidur. Duduk. Meng

  • Om Bule Kekasihku   Saat Segalanya Tak Lagi Runtuh

    Hamburg menyambut Daniel dengan ritme yang berbeda dari bulan-bulan sebelumnya. Tidak ada panggilan darurat di tengah malam. Tidak ada email berjudul urgent yang berlapis tanda seru. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, pagi Daniel dimulai dengan secangkir kopi panas yang diminum perlahan,

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-26
  • Om Bule Kekasihku   Ketika Jarak Belajar Bicara

    Waktu mulai bergerak dengan caranya sendiri. Hari-hari Nadia di Kopenhagen berjalan cepat namun sunyi. Setelah euforia pembukaan pameran mereda, ritme residensi kembali ke bentuk aslinya, pagi yang panjang di studio, siang dengan diskusi, dan malam yang sering berakhir dalam kelelahan yang tidak s

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-25
  • Om Bule Kekasihku   Retakan Yang Hampir Tak Terlihat

    Musim gugur mulai merayap ke Kopenhagen. Daun-daun cokelat mengendap di tepi kanal, dan udara membawa aroma dingin yang lebih tajam dari biasanya. Nadia berjalan pulang dari galeri dengan langkah pelan, mantel menutup tubuhnya rapat. Hari itu panjang, lebih panjang dari yang ia perkirakan. Diskus

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-25
  • Om Bule Kekasihku   Percakapan Yang Tidak Bisa Ditunda

    Hujan turun pelan di Kopenhagen malam itu. Bukan hujan yang deras, melainkan rintik yang konsisten dan cukup untuk membuat kota terasa lebih sunyi. Nadia berdiri di dekat jendela studionya, memandangi lampu-lampu yang memantul di permukaan jalan basah. Pikirannya belum tenang sejak percakapan tera

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-25
Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status