FAZER LOGINBeberapa hari berlalu sejak kejadian di kolam. Hari-hari di kamar VIP itu berubah menjadi rutinitas yang lebih tenang. Obat. Pemeriksaan. Istirahat. Dan pengawasan yang berlebihan. Terutama dari Daniel. “Daniel, aku hanya mau duduk.” “Duduk di sini saja.” “Aku mau ke jendela.” “Aku yang buka tirainya.” “Daniel..” “Tidak.” Ayu yang melihat itu dari sofa hanya bisa menahan tawa. “Om Rudi lihat tuh, overprotective tingkat dewa.” Rudi mengangguk sambil tersenyum kecil. “Sepertinya dari dulu memang begitu.” “Sekarang lebih parah” ucap Lina. “Tuan Daniel hanya memastikan keselamatan madame” ucap Camille dengan tenang. Ayu menyeringai. “Bahasa halusnya, iya.” Elena duduk di samping Nadia. Tangannya tidak pernah jauh dari tangan wanita itu. Ia tidak banyak bicara seperti biasanya. Namun setiap kali Nadia bergerak sedikit, matanya langsung mengikuti. “Apa mama capek?” tanya Elena. Nadia tersenyum. “Tidak, sayang” jawab Nadia lembut. Elena mengangguk pelan. Namun te
Kamar VIP yang dipilih Daniel terasa seperti apartemen kecil di dalam rumah sakit. Ruangannya luas. Ada tempat tidur utama untuk Nadia. Satu tempat tidur pendamping di sisi lain. Ruang tamu kecil dengan sofa nyaman. Dan area perawatan yang terpisah. Semua tertata rapi. Tenang. Namun tetap tidak bisa sepenuhnya menghilangkan aroma khas rumah sakit. Nadia duduk bersandar dengan bantal tinggi. Elena berada di sampingnya, menggambar dengan serius. Sesekali ia melirik Nadia. Memastikan, bahwa wanita itu benar-benar ada. Masih di sana. Di ruang tamu Ayu duduk sambil menyilangkan kaki. Rudi berdiri di dekat jendela. Sementara Lina merapikan beberapa barang. “Om Rudi, jangan bengong terus,” kata Ayu santai. Rudi menoleh. “Kamu ini...” Ayu menyeringai. “Kenapa, om?” Rudi menggeleng kecil. “Tidak ada.” Lina tertawa pelan. “Ayu, jangan ganggu terus.” Ayu langsung menjawab, “Iya, tante” ucap Ayu yang nada suaranya sengaja dibuat manja. Lina hanya tersenyum. Tiba-tiba, ke
Pagi datang perlahan di rumah sakit. Cahaya matahari masuk lewat jendela, menyapu lembut ruangan yang semalam dipenuhi ketegangan. Kini lebih tenang. Lebih damai. Namun tidak sepenuhnya. Karena di luar kamar itu, pertanyaan masih menggantung. Di lorong rumah sakit, Rudi berdiri sambil menyandarkan tubuhnya ke dinding. Tangannya menyilang. Wajahnya terlihat serius. Lina duduk di kursi, memegang tas kecil di pangkuannya. Keduanya diam cukup lama. Seolah masih memproses apa yang terjadi. “Aku masih tidak habis pikir..” akhirnya Rudi bicara. Lina menoleh. “Apa?” tanya Lina. Rudi menghela napas. “Anak kita, Nadia” Ia menggeleng pelan. “Dia sedang hamil kembar,” Lina diam. “Tapi dia tetap lompat ke kolam tanpa pikir panjang untuk menolong Elena” lanjut Rudi. Nada suaranya bukan marah. Tapi lebih ke bingung. “Aku juga kaget, yah” ucap Lina sambil menundukan kepalanya sedikit. Ia mengusap tangannya pelan. “Tapi, aku nggak heran sama anak kita.” Ru
Malam semakin larut. Kamar rumah sakit akhirnya kembali tenang. Elena tertidur di sisi tempat tidur, masih menggenggam tangan Nadia. Wajahnya terlihat lebih damai, walaupun bekas air mata masih jelas terlihat di pipinya. Nadia sendiri mulai terlelap, napasnya pelan dan stabil. Lampu redup. Suara monitor tetap berdetak pelan. Dan di sudut ruangan, Daniel berdiri diam. Ia tidak duduk. Tidak bergerak. Hanya menatap dua sosok itu. Wanita yang ia cintai. Dan anak yang ia lindungi. Beberapa jam lalu, ia hampir kehilangan keduanya. Dan itu cukup untuk membuat sesuatu dalam dirinya berubah. Daniel berjalan perlahan mendekat. Duduk di kursi di samping tempat tidur. Tangannya menyentuh tangan Nadia. Hangat. Nyata. Masih di sana. Ia menunduk sedikit. Matanya tidak lepas dari wajah Nadia. Wajah yang beberapa jam lalu pucat karena kesakitan, namun karena ia memilih untuk melompat menyelamatkan putrinya. Tanpa berpikir. Tanpa ragu. “Gila..” bisik Dani
Di kamar rumah sakit, lampu diredupkan. Suara mesin monitor berdetak pelan, teratur, menenangkan setidaknya bagi sebagian orang. Namun tidak untuk Elena. Gadis kecil itu duduk di kursi dekat tempat tidur, memeluk bonekanya erat. Matanya tidak lepas dari Nadia. Seolah jika ia berpaling satu detik saja, semuanya akan hilang lagi. “Elena” Suara Daniel terdengar pelan dari sudut ruangan. “Kamu harus istirahat.” Elena menggeleng cepat. “Aku tidak mau tidur” ucap Elena pelan. Namun tegas. Daniel menatapnya beberapa detik. Ia ingin memaksa. Namun melihat mata itu, mata yang penuh ketakutan, ia tidak bisa memaksanya. Nadia membuka matanya perlahan. “Elena” ucap Nadia pelan. Gadis kecil itu langsung berdiri. “Mama ”kata Elena dan ia berjalan mendekat. Sangat pelan. Seolah takut menyentuh pun bisa menyakiti. Nadia tersenyum lemah. “Kamu belum tidur?” Elena menggeleng. “Aku mau di sini” jawab Elena. Beberapa detik hening. Namun Elena terlihat gelisah. Tangannya menggeng
Rumah sakit kembali menjadi tempat yang menegangkan. Lampu putih yang terang. Langkah kaki yang tergesa. Dan suara napas yang terasa terlalu keras di telinga. Daniel berjalan cepat di samping brankar. Tangannya tidak pernah lepas dari Nadia. “Nadia, lihat aku” ucap Daniel dengan suara panik. Nadia mencoba membuka matanya. Namun wajahnya masih pucat. Tangannya tetap memegang perutnya. “Perutku masih kram..” ucap Nadia. Suaranya lemah. Elena berjalan di belakang bersama Ayu. Wajahnya penuh air mata. “Mama Nadia..” Ia terus memanggil. Seolah takut jika suara itu berhenti, semuanya akan hilang lagi. Pintu ruang penanganan tertutup. Daniel terpaksa melepaskan tangan Nadia. Dan itu terasa seperti hal tersulit yang harus ia lakukan. “Nadia..” Namun pintu sudah tertutup. Beberapa detik. Sunyi. Daniel menutup matanya. Menarik napas dalam. Namun kali ini, bahkan itu tidak cukup untuk menenangkan dirinya. “Elena” ucap Ayu lembut. Ayu berlutut di depan gadis kecil itu.
Pesawat yang membawa Daniel meninggalkan Hamburg melaju di landasan dengan suara berat. Dari balik jendela kecil itu, kota yang selama berminggu-minggu menekannya perlahan menjauh. Di pangkuannya, laptop tertutup untuk pertama kalinya sejak ia tiba di Eropa. Ia sudah membuat keputusannya. Bukan k
Hamburg menyambut Daniel dengan angin musim gugur yang menusuk jaketnya, langit kelabu, dan ritme kota yang dingin namun efisien. Jauh berbeda dari Ubud yang hangat, penuh aroma kopi dan suara gamelan jauh di kejauhan. Di sini, semuanya terasa cepat, presisi, dan menuntut. Sejak perusahaan yang se
Senja mulai turun di Ubud, memandikan segala sesuatu dengan warna keemasan yang lembut namun sayangnya, tidak ada yang terasa lembut di dada Nadia sore itu. Setelah percakapan panjang dengan Daniel mengenai keputusannya kembali ke Eropa untuk menyelamatkan perusahaannya, dunia di sekitarnya terasa
Pagi di Ubud kembali berlinang cahaya lembut, tapi hati Nadia terasa semakin berat. Hari-hari ini ia semakin sering terbangun lebih pagi, bukan karena segar… melainkan karena kecemasan halus yang merayap sejak Daniel tiba di Eropa. Ia mengecek ponselnya begitu bangun. Tidak ada pesan.Biasanya Da







