LOGINKafe akhirnya dibuka. Matahari Ubud sudah naik, mengisi ruangan dengan cahaya keemasan yang membuat setiap sudut terlihat lebih hangat dari biasanya. Sayangnya, hangat dari sinar matahari itu tak cukup untuk mencairkan kekakuan antara Nadia dan Daniel.
Daniel duduk di salah satu meja dekat jendela yang selalu menjadi tempat favoritnya saat datang ke kafe milik Nadia, kamera kesayangannya diletakkan di atas meja. Ia tidak memotret Nadia, ia menunggu. Menunggu Nadia yang sibuk lebih tepatnya pura-pura sibuk. Nadia menyiapkan espresso kesukaan Daniel. Padahal tak ada pesanan dari Daniel. Tangan kanannya menggambar lingkaran di meja bar tanpa sadar, kebiasaan lama yang ia lakukan saat sedang gelisah. "Nadia," panggil Daniel dengan suara pelan. Nadia tak menoleh. "Kopi kamu? Sebentar ya." "Aku nggak pesan kopi." Suara Daniel terdengar lebih lembut dari sebelumnya. Nadia menghentikan gerakannya tanpa menoleh. "Terus?" "Aku mau kamu lihat aku. Just look at me for a second" ucap Daniel dengan lembut. Perlahan, Nadia menoleh ke arah Daniel. Dan seperti biasa, itu adalah sebuah kesalahan bagi Nadia. Dipandang oleh Daniel selalu membuatnya merasa terbuka, seperti tak ada lagi tempat untuknya bersembunyi. Daniel mengusap tengkuknya. "Aku tahu kamu takut. Tapi kamu nggak perlu ngumpet kayak gini Nadia. Aku bukan orang yang bakal pergi kalau kamu kasih aku alasan untuk tetap ada di sini." Nadia menatap ke bawah. "Aku cuma… butuh waktu." "Kita sudah dekat selama berbulan-bulan. Waktu bukan masalah di sini dan kamu tahu itu" ujar Daniel. "Justru itu, Daniel." Nadia menghela napas panjang dan terasa berat. "Aku mulai nyaman. Bahkan terlalu nyaman. Dan kamu tahu apa yang terjadi kalau aku mulai merasa nyaman sama seseorang?" Daniel mencondongkan tubuh ke depan. "Apa?" "Aku terpaut. Terlalu cepat. Terlalu dalam. Dan kamu… kamu bukan orang yang bisa aku pastikan besok masih ada di sini. Kamu bisa pergi kapan saja, dunia kita berbeda" ucap Nadia dengan nada bergetar. Daniel menatapnya lama, lalu berdiri. Ia berjalan pelan ke arah bar dan mendekat dengan Nadia. Setiap langkahnya membuat napas Nadia makin berat. Ia berhenti tepat di depan Nadia, jarak yang bahaya antara mereka. "Aku di sini sekarang, Nadia. Dan aku nggak akan pergi ke mana-mana hari ini" ucap Daniel dengan lembut. "Iya untuk hari ini, tapi untuk besok atau lusa? Aku tidak bisa memastikan kamu ada disini. Jadi, bukannya lebih baik aku menghindar darimu" ujar Nadia sambil menunduk. "Kamu tak perlu menghindar dariku Nadia" ucap Daniel dengan lembut. Nadia mencoba mundur sedikit, tapi punggungnya sudah menempel pada rak di belakangnya. Nadia merasa seperti terperangkap. Daniel mengangkat tangan, dan menyentuh pipinya pelan dengan ibu jari. Sentuhan yang begitu lembut… tapi intens. "Kamu nggak lihat? Apa kamu pikir cuma kamu yang takut?" bisik Daniel. "Aku takut juga Nadia. Takut kehilangan kamu sebelum kita sempat mulai apa pun." Nadia menelan ludah. "Daniel, cukup! Nanti orang bisa lihat kita." "Biarkan saja" jawab Daniel singkat. Kebetulan suasana kafe pagi itu masih sepi dan karyawan Nadia sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing sebelum ada pelanggan yang datang. "Daniel, ada karyawanku juga disini. Please jangan kayak gini" ucap Nadia dengan nada pelan. "Lalu apa masalahnya? Mereka masih sibuk sekarang. Mereka juga tahu kalau selama berbulan-bulan ini kita dekat dan mereka juga sudah mengenalku aku" jawab Daniel. "Nanti kalau ada pelanggan datang, mereka bisa lihat kita. Nggak enak juga kan?" ucap Nadia. "Biarin, biar mereka lihat. Salah kamu sendiri yang selalu menghindar dariku" ucap Daniel dengan nada menggoda. "Daniel…" suara Nadia pelan dan bergetar. Daniel semakin mempersempit jarak diantara mereka. "Kalau aku cium kamu sekarang, kamu bakal dorong aku?" Nadia hanya diam dan menunduk tanpa menjawab apa pun. Pertanyaan itu membuat jantung Nadia terasa seperti mau melompat. Rasa hangat menjalar dari perut ke seluruh tubuh. Nadia menunduk untuk menyembunyikan pipinya yang memerah. "Apa kamu bakal dorong aku kalau aku cium kamu sekarang?" bisik Daniel mengulangi pertanyaannya. "Daniel, kamu nggak boleh nanya gitu," jawab Nadia dengan suara pelan dan napasnya berat. "Kenapa? Karena kamu nggak yakin bisa bilang tidak?" ucap Daniel dengan nada menggoda. Nadia menutup mata sepersekian detik. "Karena kamu bikin semuanya jadi nggak jelas." Daniel tersenyum tipis. "Baik. Aku perjelas tolong dengarkan aku. Aku suka kamu, Nadia. Lebih dari yang seharusnya. Dan aku mau kamu tahu itu." Nadia tertegun. Kata-kata itu seperti sesuatu yang ia impikan selama ini tapi tak berani dia sentuh. "Tapi…" Daniel merendahkan suaranya, nada dalam dan menggoda itu kembali terasa. "Kalau kamu butuh waktu, aku bisa menunggu. Tapi aku nggak akan pura-pura nggak menginginkan kamu." Nadia merasakan tubuhnya memanas. "Kamu selalu ngomong hal-hal yang…" "Yang bikin kamu blushing?" Daniel memotong. Nadia memalingkan wajah. "Kamu nyebelin." Daniel tertawa kecil. "Tapi kamu suka kan?" Nadia ingin sekali menyangkal. Tapi gemuruh di dadanya membocorkan kebenaran tentang apa yang ia rasakan selama ini. Sebelum suasana makin panas, pintu kafe terbuka dan seorang pelanggan masuk. Nadia langsung menjauh, wajahnya memerah. Daniel hanya tersenyum kecil, penuh kemenangan yang samar. Pertarungan mereka belum selesai. Tapi kali ini… Nadia mulai kalah oleh perasaannya sendiri.Tiga bulan kemudian. Musim dingin mulai mendekati Hamburg. Udara pagi semakin dingin. Pepohonan di sekitar Villa Blankenese hampir kehilangan seluruh daunnya. Namun di dalam villa, suasana tetap hangat. Terutama karena Noah dan Nora yang kini berusia delapan bulan mulai merangkak ke mana-mana. Dan itu berarti, tidak ada sudut rumah yang aman lagi. "PAPA!" Teriakan Elena terdengar dari lantai bawah.Daniel yang sedang mengikuti rapat daring langsung memejamkan mata. Karena berdasarkan pengalaman, teriakan Elena biasanya berarti sesuatu telah terjadi. "Apa?" "Noah kabur!" Daniel langsung menutup laptop. Dan berlari keluar ruang kerja. Beberapa detik kemudian ia menemukan Noah sedang merangkak dengan penuh semangat menuju mangkuk makanan Bruno. Sedangkan Bruno sendiri terlihat bingung. "Noah." Daniel mengangkat putranya."Kita sudah membahas ini." Noah tertawa, seolah tidak merasa bersalah sama sekali. Sementara itu di sisi lain ruangan, Nora sedang mencoba memakan salah s
Malam itu hujan turun perlahan di Hamburg. Bukan hujan deras, hanya rintik-rintik lembut yang membuat suasana Villa Blankenese terasa semakin hangat. Di ruang keluarga, semua orang berkumpul seperti biasa. Noah dan Nora yang kini semakin aktif sedang menjadi pusat perhatian. Nora baru saja berhasil membalikkan tubuhnya sendiri untuk pertama kalinya. Prestasi yang langsung dirayakan seluruh keluarga seolah-olah ia baru memenangkan olimpiade. "Dia jenius" kata Elena bangga. "Itu hanya berguling" kata Daniel. "Tetap jenius." Yang membuat semua orang tertawa. Tak lama kemudian, Nora mulai menguap. Sedangkan Noah sudah tertidur di pelukan Nadia. Melihat kedua bayi mulai mengantuk, Nadia menyerahkan Nora kepada Daniel lalu duduk kembali di sofa. Entah bagaimana, pembicaraan malam itu beralih ke masa lalu. Awalnya karena Elena mendapat tugas sekolah untuk menulis tentang kisah cinta yang menginspirasi. Dan tentu saja, ia langsung menjadikan orang tuanya sebagai bahan wawancara. "M
Tiga bulan kemudian.Musim gugur telah tiba di Hamburg. Daun-daun berwarna emas dan jingga menghiasi jalanan Blankenese. Udara terasa lebih dingin. Namun Villa Blankenese tetap hangat seperti biasanya. Terutama karena dua bayi kecil yang kini menjadi pusat dunia semua orang, Noah Charter dan Nora Charter. Usia mereka kini hampir lima bulan. Dan keduanya tumbuh dengan sangat sehat. Noah mulai menunjukkan sifat yang sangat mirip Daniel tenang, jarang menangis, namun sangat keras kepala. Sedangkan Nora jauh lebih ekspresif, suka tertawa, suka mencari perhatian dan sangat senang berada dalam pelukan Nadia. "Yang ini anak mama" kata Nadia sambil menggendong Nora. "Yang itu anak papa" sahut Ayu sambil menunjuk Noah. Daniel yang sedang membaca laporan perusahaan hanya mengangkat alis. "Aku tidak sekeras kepala itu." Semua orang langsung tertawa. Bahkan Camille, yang biasanya paling sulit tertawa. Sementara itu Elena telah menjalani sekolah selama beberapa bulan. Dan ternyata ia san
Waktu berlalu dengan cepat. Musim panas perlahan mulai berakhir. Udara Hamburg mulai terasa sedikit lebih sejuk pada pagi hari. Pepohonan di sekitar Villa Blankenese masih hijau, tetapi tanda-tanda pergantian musim mulai terlihat. Dan untuk keluarga besar itu, kehidupan perlahan kembali ke rutinitas normal. Atau setidaknya senormal mungkin bagi keluarga Charter. Pagi itu suasana villa terasa sedikit berbeda. Karena Margaret dan Thomas akan kembali ke London. Setelah tinggal cukup lama di Hamburg untuk menemani Nadia setelah kelahiran Noah dan Nora, hingga pernikahan Paul dan Ayu. Kini mereka harus kembali. Meskipun sebenarnya tidak ada seorang pun yang benar-benar ingin berpisah. Di ruang makan, sarapan berlangsung lebih tenang dari biasanya. Margaret sedang menggendong Nora, sedangkan Thomas memangku Noah. Keduanya tampak menikmati setiap detik terakhir bersama cucu-cucu mereka. "Oma akan kembali bulan depan" kata Margaret kepada Nora yang sedang tertidur. "Aku rasa dia belum
Dua hari setelah pernikahan. Pagi di Villa Blankenese berlangsung seperti biasa atau setidaknya seperti biasa bagi keluarga Charter. Yang berarti cukup ramai. Noah menangis karena lapar, Nora ikut menangis karena Noah menangis. Bruno berlari ke sana kemari. Dan Elena sibuk mengawasi semua orang seolah-olah dirinya adalah manajer rumah tangga. Di tengah suasana itu, Nadia sedang menyusui Nora ketika Elena tiba-tiba datang membawa sebuah ide. "Ide bagus." Nadia langsung waspada. Karena biasanya kalimat itu berakhir dengan kekacauan kecil. "Apa?" "Kita harus mengunjungi rumah Tante Ayu." Nadia tersenyum. "Tante Ayu?" "Iya." "Bagus." Nadia mengangguk puas. Memang sejak lama ia mengajari Elena memanggil Ayu dengan sebutan tante. Karena suatu hari nanti Noah dan Nora pasti akan mengikuti apa yang dilakukan kakak mereka. Dan Nadia ingin mereka tumbuh dengan menganggap Ayu sebagai keluarga, bukan sekadar sahabat. "Kalau nanti Noah dan Nora besar..."kata Nadia. "Mereka juga har
Pagi hari setelah pernikahan.Matahari musim panas menyinari Hamburg dengan cahaya hangat. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Ayu bangun sebagai Nyonya Weiss. Dan untuk pertama kalinya pula, ia bangun di rumah yang secara resmi menjadi miliknya dan Paul. Rumah hadiah pernikahan dari Daniel dan Nadia. Rumah yang hanya berjarak beberapa menit dari Villa Blankenese. Rumah yang masih terasa seperti mimpi. Ayu membuka mata perlahan. Beberapa detik ia hanya menatap langit-langit kamar. Lalu menoleh ke samping, Paul masih tertidur. Sangat jarang melihat pria itu tertidur begitu pulas. Biasanya bahkan saat libur sekalipun ia selalu bangun lebih awal. Namun kemarin adalah hari yang panjang, hari yang penuh emosi dan hari yang mengubah hidup mereka. Senyum kecil muncul di wajah Ayu. Ia mengamati wajah suaminya beberapa saat, kemudian tertawa pelan. Karena kata "suami" masih terdengar aneh di telinganya. "Kenapa tertawa?" Ternyata Paul sudah bangun dan langsung menangkap basah dirin







