MasukAlena masih belum sepenuhnya percaya dengan percakapan mereka di dalam mobil tadi. Ia tidak menyangka Leon sudah tidak sabar untuk menikahinya, karena awalnya saat dia minta waktu setahun, Leon terlihat tenang-tenang saja.Dan pria itu mengatakannya dengan wajah begitu serius. Ia bahkan belum sempat memikirkan bagaimana harus menjawab jika Leon benar-benar membawa pembicaraan itu ke tahap yang lebih serius.Namun ternyata... Leon jauh lebih gercep daripada yang Alena bayangkan. Begitu mobil berhenti di depan rumah, Alena langsung menoleh."Om?""Hm?""Kenapa berhenti di sini?"Leon mematikan mesin."Kan mau mengantarkan kamu pulang.""Iya, tapi..."Alena melihat ke arah rumah."Om tidak mau langsung pulang?"Leon tersenyum."Memangnya kenapa?""Biasanya Om cuma mengantar sampai depan.""Hari ini beda.""Bedanya apa?"Leon membuka sabuk pengamannya."Om mau mampir."Alena langsung menatapnya tidak percaya."Hah?""Ayo.""Om!"Leon sudah turun dari mobil.. Alena buru-buru menyusul. Dia
Mobil melaju meninggalkan tempat mereka menghabiskan sore. Alena duduk santai di samping Leon. Wajahnya terlihat jauh lebih cerah dibandingkan beberapa jam sebelumnya. Bahkan senyum kecil masih tersisa di bibirnya.Leon sesekali melirik ke arahnya."Sudah lebih segar?"Alena mengangguk."Sudah.""Berarti jalan-jalan tadi berhasil.""Berhasil banget."Alena tersenyum."Terima kasih ya, Om.""Jangan terima kasih dulu.""Kenapa?""Kalau besok kamu kembali bekerja sampai lupa waktu, Om culik lagi."Alena tertawa."Emang Om mau culik pacar sendiri?""Kalau perlu.""Terus kalau aku berteriak?""Om tutup mulutmu.""Ih, malah serem."Leon ikut tertawa."Tapi..."Ia melirik Alena sekilas dengan senyum jahil."Om bisa tutup mulutmu dengan cara lain."Alena yang tidak menyadari maksud perkataan itu langsung bertanya polos,"Cara apa, Om?"Leon tidak menjawab. Ia hanya menaikkan kedua alisnya sambil tersenyum penuh arti. Alena masih menatapnya dengan wajah bingung. Namun beberapa detik kemudian,
Setelah presentasi selesai, para peserta rapat mulai meninggalkan ruangan. Alena masih membereskan laptop dan dokumen di atas meja ketika Nadia memanggilnya."Alena."Alena menoleh."Iya, Bu?""Jangan pulang dulu."Alena mengangguk."Baik."Beberapa menit kemudian, ruang rapat sudah jauh lebih sepi. Nadia kembali duduk sambil membuka dokumen hasil presentasi tadi."Bagaimana menurutmu hasilnya?"Alena berpikir sebentar."Menurut saya cukup baik, Bu.""Cukup?"Alena tersenyum."Masih ada beberapa bagian yang bisa diperbaiki."Nadia mengangkat wajah."Bagian mana?"Alena langsung menunjuk beberapa halaman."Di bagian ini, saya rasa strategi yang kami ajukan masih terlalu bergantung pada kondisi pasar saat ini.""Kalau kondisi pasar berubah, hasilnya juga bisa ikut berubah."Nadia diam memperhatikan."Lalu solusinya?"Alena menjawab tanpa ragu."Kita harus menyiapkan alternatif.""Misalnya?"Alena menjelaskan beberapa kemungkinan yang sudah dipikirkannya. Nadia kemudian memberikan pertan
Tiga hari berlalu dengan cepat. Alena hampir tidak memiliki waktu untuk bersantai. Setiap pagi ia datang lebih awal, memeriksa kembali data yang sudah dikumpulkannya, lalu menghabiskan sebagian besar waktu untuk menyusun proposal proyek tersebut.Bahkan ketika jam kerja hampir berakhir, ia masih sering terlihat di depan laptop.Maya yang awalnya hanya memperhatikan dari jauh mulai semakin sering melihatnya.Tidak ada perlakuan khusus.Tidak ada orang yang mengerjakan tugas Alena.Bahkan ketika menemukan data yang tidak sesuai, Alena sendiri yang mencari sumbernya dan memperbaikinya.Suatu sore, Maya tanpa sengaja melihat Alena masih berada di mejanya ketika sebagian besar karyawan sudah bersiap pulang."Kamu belum pulang?"Alena mengangkat wajah."Belum.""Masih banyak?""Sedikit lagi."Maya berdiri di dekat meja Alena."Besok presentasi, kan?"Alena mengangguk."Iya.""Kalau begitu jangan terlalu malam."Alena tersenyum."Aku tahu."Maya hendak pergi, tetapi langkahnya terhenti."Ale
Keesokan paginya, suasana kantor sudah jauh berbeda. Sejak hubungan Alena dan Leon diketahui, hampir tidak ada lagi bisikan sembunyi-sembunyi seperti sebelumnya. Sebagian besar karyawan justru mulai bersikap lebih terbuka. Ada yang mengucapkan selamat. Ada yang menggoda. Dan ada pula yang mulai memperlakukannya sedikit berbeda. Namun Alena justru ingin secepatnya kembali ke rutinitas. Ia tidak ingin statusnya sebagai calon istri Leon menjadi alasan orang-orang menilai pekerjaannya. Begitu sampai di mejanya, ia langsung membuka laptop. "Fokus." Ia menggumam pelan. "Kerja saja." Belum sempat membuka dokumen pertama, Nadia datang menghampirinya. "Alena." Alena langsung berdiri. "Iya, Bu?" "Ikut saya sebentar." Alena mengikuti Nadia menuju ruangannya. Begitu pintu tertutup, Nadia mengambil sebuah map tebal dari atas meja. "Saya punya proyek baru untukmu." Alena menerima map tersebut. "Proyek baru?" "Iya." Ia membuka halaman pertama. Matanya langsung membesar. "Ini..."
Leon akhirnya mengetik balasan."Iya."Beberapa detik kemudian, ia menambahkan,"Nanti kita bicara di rumah Lena saja."Pesan itu terkirim. Tidak lama kemudian, tanda pesan sudah dibaca muncul. Balasan Alena segera masuk."Jangan. Nanti Om capek."Leon tersenyum kecil. Jarinyapun kembali mengetik."Mana mungkin capek.""Kalau ketemu Lena, Om malah tambah semangat."Beberapa detik kemudian, balasan Alena muncul."Dasar gombal."Leon tertawa kecil. Seorang staf yang kebetulan lembur dan berada tidak jauh dari meja langsung menoleh."Pak?"Leon segera mengembalikan wajah seriusnya."Ada apa?""Tidak ada, Pak."Staf itu buru-buru kembali bekerja. Leon menatap layar ponselnya lagi. Senyumnya muncul kembali. Setidaknya Alena belum benar-benar marah.Atau... mungkin justru sedang menunggu dirinya datang untuk mengomel. Leon menghela napas."Ya sudah.""Hadapi saja.""Berani berbuat, berani menanggung."---Malam itu, Leon tiba di rumah Alena saat jam sudah menunjukkan hampir pukul delapan.
Sejak pagi, Alena sudah merasa tubuhnya tidak nyaman. Kepalanya terasa berat, sementara matanya sesekali berkunang setiap kali terlalu lama menatap layar komputer. Namun wanita itu tetap berusaha bekerja seperti biasa sambil sesekali meminum kopi dingin yang bahkan sudah tidak terasa efeknya.“Aduh
Hari ketiga Alena bekerja di Mahardika Group seharusnya berjalan seperti biasa. Ia sudah mulai hafal ritme divisi sales, mengenal beberapa rekan kerja, dan menyesuaikan diri dengan suasana kantor yang cepat dan kompetitif. Namun pagi itu, suasana berubah sejak sebuah pesan dari atasannya masuk ke p
Pintu ruang wawancara tertutup pelan di belakang Alena, namun detak jantungnya masih belum benar-benar stabil. Beberapa menit sebelumnya, ia baru saja bertemu kembali dengan Leon di dalam lift. Pria itu tetap sama, tampan, dingin, dan memancarkan aura yang membuat orang otomatis menjaga jarak. Dan
Lima tahun kemudian, Alena berdiri di depan cermin kamar sambil menatap pantulan dirinya dalam diam yang cukup lama. Wanita di depannya bukan lagi gadis kecil yang pernah nekat mengajak pria asing menikah demi dua mangkuk bakso dan segelas es teh. Wajahnya kini lebih dewasa, dengan garis rahang yang







