Share

Bab 67

Penulis: Olivia Yoyet
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-02 10:26:48
67

Semua lampu di ballroom itu meredup. Yang tersisa hanya dua lampu sorot yang mengarah ke panggung. Khalayak celingukan. Mereka penasaran dengan pertunjukan kedua.

"Bang, tim dua, kok, nggak muncul-muncul?" tanya Hana, memecah kesunyian.

"Bentar. Kutanyain dulu ke Abang kembar. Mereka ketua tim 2," jawab Akhtar.

Pria bersetelan tuksedo hitam itu mengayunkan tungkai ke belakang panggung. Tidak berselang lama terdengar percakapannya dengan kedua ajudan kembar, yang berada di balik layar.

"Diganti aja orangnya, Bang," usul Akhtar.

"Enggak bisa, Thar. Dia tokoh utama," sanggah Trisda.

"Bukannya ada cadangan?" desak Akhtar.

"Iya, tapi tokoh B itu masih capek. Dia tampil di tim 1 tadi," terang Krisda, yang suaranya lebih berat dari sang adik.

"Nyomot ajalah. Siapa, gitu. Ini mepet waktu," ungkap Akhtar. "Atau, kita panggil perwakilan tim kuis dari PG, PC dan PCD " sambungnya.

"Ayo!" ajak Krisda.

Ketiganya keluar dari sisi kanan. Penonton berteriak ketika melihat penampilan kedua Adik D
Olivia Yoyet

Emak nyempil dikit 🤣

| Sukai
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Om, Nikah, Yuk!   Bab 86

    86 *Tim Proyek Spanyol* Alvaro : @Tanzil, selamat, ya. Linggha : Alhamdulilah. Bujang lapuk kita laku satu. Zein : Urang sorak! Farisyasa : Aku langsung sujud syukur. Dhruvi : Aku nangis. Mas-ku akhirnya nggak jomlo lagi. Zijl : Aku nggak bisa berhenti senyum-senyum.Ghaziya Sarfaraz : Selamat, @Mas Tanzil. Ditunggu undangannya.Tio : Ada apakah? Benigno : Orang Bandung, terangkanlah. Bryan : Aku menunggu. Baskara : Sambil makan gehu. Bahiga Mahasura : Sapo tahu. Bahzar Naranta : Kupat tahu. Barry Samuel : Martabak tahu. Biantara Balasena : Kroket tahu. Beni Indrayana : Dadar tahu. Bayu Hendrawan : Surabi tahu. Bhadra Janardana : Baso tahu. Bruce Amartya : Semur tahu.Bazyli Vardhaman : Balado tahu. Brayden Raffles : Perkedel tahu. Bhagawanta Lakeswara : Pepes tahu. Bertrand Luiz : Aku tidak tahu makanan apa lagi yang berasal dari tahu. Bram Mahardika : Tsunami tahu. Yasuo : Baru dengar ada tsunami tahu. Kayak gimana bentuknya? @Bram. Bram : Tahu dicacah. Bum

  • Om, Nikah, Yuk!   Bab 85

    85Dua orang pria berbeda tampilan, duduk saling berhadapan. Mereka menikmati hidangan sembari berbincang tentang bisnis, yang akan mereka tangani bersama pada beberapa bulan mendatang. Tanzil yang telah selesai makan, menunggu Yasuo menghabiskan makanannya. Tanzil menyusun kalimat dalam benak, sembari memerhatikan sekitar yang dipenuhi pengunjung lainnya, karena saat itu bertepatan dengan jam makan siang. "Mas, aku boleh nanya sesuatu yang agak pribadi?" tanya Tanzil, seusai melihat Yasuo meletakkan gelas kosong ke meja. "Boleh," jawab Yasuo."Ini tentang ... hubungan Mas dan Widya." "Hmm, gimana?" "Aku penasaran. Dulu itu, apa kalian saling mencintai?" Yasuo tertegun sesaat, lalu menggeleng. "Enggak. Kami cuma saling sayang." "Kenapa nggak bisa cinta?" "Kalau dariku, itu karena aku nggak mau pindah agama. Dari awal hubungan kami, Widya sudah menegaskan tentang itu. Jadi ... aku sedikit terintimidasi, dan mungkin itu menyebabkan aku sulit mencintainya." "Kamu pasti kenal kar

  • Om, Nikah, Yuk!   Bab 84

    84Tanzil mengusap pelan punggung tangan kiri ibunya, yang balas menatapnya dengan pandangan sayu. Tanzil memaksakan senyuman, supaya Puspita bisa lebih tenang. Tanzil mengalihkan pandangan pada sang bapak yang berada di kursi seberang. Tanzil mendengarkan penuturan Amrish, yang menyampaikan keinginan Puspita, yang berulang kali disebutkan perempuan tua tersebut. "Aku mau saja menikah, Pak. Tapi, masalahnya, nggak ada perempuan yang mau sama aku," jelas Tanzil. "Kamu yang tidak serius mencari. Apalagi standarmu tinggi, dan dikaitkan dengan mantanmu. Jelas nggak ada perempuan yang mau dibandingkan, dengan orang masa lalu," kilah Amrish. "Enggak gitu, Pak. Aku cuma mau cari yang terbaik. Nggak mau gagal dan pengen nikah itu cuma sekali," sahut Tanzil. "Ibumu sudah menentukan calon buatmu." "Ehm, tapi ...." "Jangan membantah terus, Mas. Bapak dan Ibu nggak terima penolakan!" Tanzil yang hendak menyanggah, akhirnya memutuskan untuk diam. Dia melirik kedua adiknya yang menempati dua

  • Om, Nikah, Yuk!   Bab 83

    83Sepanjang perjalanan menuju Bandung, Yasuo sibuk menghubungi teman-temannya yang menetap di sana. Yasuo mengucap syukur dalam hati, karena Linggha, Zein, Farisyasa, dan ketiga bersaudara Janardana, langsung bergerak ke rumah sakit, tempat ibunya Tanzil dirawat. Sementara di kursi belakang, Dilara berbalas pesan dengan teman-temannya yang juga bermukim di Bandung. Dia menghela napas lega, setelah mendengar penjelasan Varsa, bila para bos PG dan PC area Bandung, sudah menangani masalah itu. Sementara di Toronto, Tanzil tengah termangu. Pikirannya kalut, hingga tidak berbicara sedikit pun dengan teman-temannya. Tanzil hanya memandangi kehebohan Leander, Denzel, Bruce, dan Drhuvi, yang tengah mengemasi barang-barang mereka. Diaz Zidane, ketua pengawal area Kanada, memasuki kamar yang ditempati keempat bos muda itu. Disusul Sakha, manajer operasional cabang PBK, yang langsung menyeret koper besar milik Dhruvi keluar ruangan.Tanzil tertegun saat Diaz membantunya mengenakan jaket, yan

  • Om, Nikah, Yuk!   Bab 82

    82Tio mengerutkan dahi, sesaat setelah mendengar penuturan Wisnu dan Widya, yang menemuinya di kantor PG. Tio menggeleng pelan sambil mendengkus, menyesali sikap Naomi yang menyebalkan. Tidak lama kemudian, Yasuo tiba bersama Riku dan Emryn. Wisnu kembali mengulang ceritanya, yang menyebabkan Yasuo terperangah. Widya turut menerangkan tentang hinaan Naomi, yang menjadikan Yasuo emosi."Aku sudah bilang, dia jangan dibaikin!" desis Yasuo. "Adiknya sama Nina datang ke sini, Mas. Mereka bawa surat permohonan dari kedua orang tua, yang meminta bantuanku, supaya hukuman buat Naomi dan Clive, bisa dikurangi," terang Tio. "Aku nggak nyangka kalau Naomi berani ngatain Widya. Kalau tahu, pasti aku nggak ngutus dia dan Wisnu ke sana," lanjutnya. "Cynthia dan Nina, kapan nemuin kamu?" "Kemaren sore. Bareng W dan Endra." "Sama W?" "Ya. Bos baruku itu mengakuisisi perusahaan keluarga Nina." "Di mana lokasinya?" "Semarang. W sudah ngecek dan dia tertarik dengan lokasi kantornya. Strategis

  • Om, Nikah, Yuk!   Bab 81

    81Suara erangan menjadi satu-satunya bunyi di dalam ruangan luas, pada rumah dua lantai di cluster 7 kompleks perumahan elite. Sepasang manusia saling memeluk, sembari terus bergerak memberi dan menerima kenikmatan duniawi. Bulir keringat yang keluar dari pori-pori tubuh, tidak dihiraukan. Mereka bergantian memimpin pergulatan, sebelum sama-sama mencapai puncak gunung kesenangan, sembari melenguh panjang. Sekian menit berlalu. Dilara yang telah membersihkan diri, tertegun melihat Yasuo yang sedang mengganti seprai. Dilara meringis, seusai menyaksikan gumpalan seprai lama, yang beberapa titiknya basah. Dilara menduduki tepi kanan kasur. Dia mengecek ponsel terlebih dahulu, sebelum menonaktifkan benda bercashing merah itu. Dilara meletakkan telepon genggam ke meja, lalu berbaring. Yasuo memasuki toilet dan keluar beberapa menit berselang. Dia tertegun melihat Dilara telah tertidur, sembari meringkuk. Yasuo menyelimuti istrinya dengan kain tebal, hingga batas pundak. Dia merunduk un

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status