공유

Dini Hari

작가: Adelia17
last update 게시일: 2026-09-23 22:48:36

Hangat. Hanya satu kata itu yang mungkin bisa menggambarkan suasana hati Emiko ketika netranya terkunci rapat oleh tatapan Zayn. Hingga tanpa terasa butiran air mata tiba-tiba mengalir begitu saja di pipi gadis itu.

Sebelah tangan Zayn terulur untuk mengusap lembut air mata Emiko, membuat gadis itu tersadar dan buru-buru membersihkan wajahnya dengan kedua tangan.

Saat itulah, Emiko sadar kalau sedari tadi, Zayn memegangi tangannya.

“Ah! Kamu khawatir aku lompat rupanya,” ujar Emiko mencoba untu
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터

최신 챕터

  • One Two Three and Action   Umpan

    “Si-siapa yang datang? Di luar sana bahkan matahari masih belum menampakkan cahayanya,” ujar Zoya yang mendadak khawatir.“Aku tidak tahu,” jawab Araki.Suara ketukan pintu terdengar semakin keras dan memaksa hingga membuat Pino ikut bangun.“Hei! Mengapa kamu hanya mematung di sana dan belum membukakan pintu?” tanya Pino marah. Dia merasa terganggu tidurnya.“Aku mau membukakan pintu. Akan tetapi, itu akan sangat berbahaya kalau polisi yang datang. Bagaimana ini? Apa sebaiknya kita lompat saja dari jendela?” Araki balik bertanya dengan nada gusar.Pino yang masih sangat mengantuk mendadak sadar kalau saat itu mereka sedang menjadi incaran polisi. Mereka tidak boleh sembarangan membuka pintu.Belum sempat Zoya, Pino, dan Araki menemukan ide, tiba-tiba seorang pelayan datang dari arah dapur dengan tergesa-gesa, hendak membuka pintu.“Tunggu dulu!” Zoya berteriak.Seorang pelayan itu menoleh dan melihat secara bergantian ke arah Zoya, Pino, serta Araki. Dia terkejut karena ternyata pint

  • One Two Three and Action   Dini Hari

    Hangat. Hanya satu kata itu yang mungkin bisa menggambarkan suasana hati Emiko ketika netranya terkunci rapat oleh tatapan Zayn. Hingga tanpa terasa butiran air mata tiba-tiba mengalir begitu saja di pipi gadis itu.Sebelah tangan Zayn terulur untuk mengusap lembut air mata Emiko, membuat gadis itu tersadar dan buru-buru membersihkan wajahnya dengan kedua tangan.Saat itulah, Emiko sadar kalau sedari tadi, Zayn memegangi tangannya.“Ah! Kamu khawatir aku lompat rupanya,” ujar Emiko mencoba untuk menepis kehangatan yang baru saja dirasakan. Dia hanya ingin mempertahankan keteguhan hatinya.Zayn tertawa kecil sambil berkata, “Tujuanku mengajakmu merasakan suasana malam hari di balkon ini sebenarnya untuk menghilangkan stress, bukan memberimu ide gila dengan melompat ke bawah sana. Jadi, lebih baik aku berjaga-jaga.”Emiko mendadak ingat dengan perkataan Zoya yang menyuruhnya bunuh diri. Saat itu, dia merasa direndahkan dan pikirannya hanya tertuju pada Kirani yang menanti di rumah. Terb

  • One Two Three and Action   Semakin Dekat

    Zayn yang belum terbiasa menghadapi seorang wanita masih heran dengan sikap Emiko yang menurutnya aneh. Dia menoleh sejenak ke arah pintu untuk memastikan sudah terkunci dengan baik, lalu mengejar Emiko dan mengajaknya duduk di sofa ruang tengah.Saat itu sudah larut malam. Wajar kalau mama Emiko, Anna, dan Didi sudah terlelap, tetapi bagaimana dengan gadis yang sedang duduk di sampingnya itu? Sehari penuh isi kepala Zayn terbagi dua memikirkannya.“Apa kamu baik-baik saja? Ah! Aku salah memberi pertanyaan. Kamu terlihat ….”“Aku baik-baik saja ….”“Matamu bengkak dan penampilanmu berantakan. Maaf! Maksudku ….”“Aku jelek. Ya, wajahku memang tidak cantik. Apalagi ketika aku tidak meriasnya. Jadi, wajar kalau kamu melihat ….”“Bukan begitu, Emiko. Kamu itu manis. Eee, maksudku ….” Zayn kehilangan kata-kata ketika gadis itu menatapnya dengan raut wajah terkejut.“Terima kasih. Aku akan menganggapnya sebagai pujian,” jawab Emiko setelah beberapa saat lamanya mereka hanya diam.Zayn terse

  • One Two Three and Action   Pencarian yang Gagal

    “Sejak tadi aku sudah bertanya tentang tujuan kita dan kamu terlalu sibuk memikirkan Emiko. Jadi, aku melaju saja sesuai arahan hati,” ujar Tama ringan.“Apa hatimu mengarahkan kita ke jalan buntu dan … di tengah pepohonan seperti ini?” tanya Zayn yang sempat menghentikan sejenak kalimatnya di tengah seraya mengedarkan pandangan ke sekitar.Tama menghentikan kendaraan karena di depan mereka terdapat banyak pohon berukuran tinggi. Mobil tidak mungkin melaluinya.Di sekitar sana hanya ada dua rumah yang posisinya berdekatan. Tipe bangunannya sama, yakni menggunakan atap yang terbuat dari batu bata dan jendela kaca berukuran sangat besar. Tidak ada tirai yang menutupi sehingga siapa saja yang melihat akan merasa yakin kalau tidak ada penghuni di dalamnya.“Hatiku berkata, Zoya akan mencari tempat persembunyian di area seperti ini. Jauh dari keramaian pusat kota dan di luar jangkauan warga setempat yang kita kenal. Perempuan itu pasti tahu kalau seisi kota sedang mencarinya,” ujar Tama ya

  • One Two Three and Action   Gerak-gerik Emiko

    Emiko tertawa terbahak-bahak dengan sengaja ketika menyadari arti tatapan Kirani, Anna, Didi, Zayn, dan Tama.“Bercanda! Bagaimana kalian bisa menatapku dengan begitu serius? Tentu saja aku tidak memukul mereka. Mana bisa aku melawan mereka? Secara kebetulan mereka lengah sehingga aku bisa kabur dan bertemu dengan Zayn di perjalanan. Aku cukup beruntung, bukan? Alam semesta ternyata masih menyayangiku.” Emiko meralat ucapannya dengan gerakan tangan yang sedikit berlebihan. Lagi-lagi untuk menutupi degup jantung yang tidak beraturan.Hening. Semua orang masih memandangi Emiko yang berusaha menahan diri agar tidak salah tingkah dan lucunya, mereka sama sekali tidak ikut tertawa.Emiko memandangi satu per satu wajah orang-orang terdekatnya yang penuh dengan tatapan mengintimidasi terhadap dirinya, lalu berkata, “Hei! Ada apa dengan kalian? Ayolah! Tadi aku hanya bercanda.”“Itu tidak lucu, Emiko! Kami sedang membicarakan sesuatu yang serius dan ingin tahu keadaanmu,” sahut Kirani.“Ah! B

  • One Two Three and Action   Jawaban Pesan

    “Apa maksudmu? Aku hanya bergerak refleks demi menyelamatkan diri.” Emiko memberi alasan setelah berhasil menahan degup jantung yang masih tidak beraturan.Zayn bergeming seraya menatap Emiko selama beberapa saat hingga tiba-tiba tangannya bergerak cepat seakan dengan sengaja ingin memukul wajah gadis itu.Emiko yang terkejut dengan cepat menutup kedua matanya sembari menahan napas. Sedangkan genggaman tangan Zayn berhenti persis di depan hidung gadis itu.“Ck! Seharusnya kamu menghindar, bukan menutup mata seperti itu,” ujar Zayn yang perlahan menurunkan tangannya dan kembali bersandar.Dia menghela napas pelan sembari berpikir bahwa kecurigaannya tidak memiliki dasar. Tidak mungkin Emiko yang selama ini selalu menjadi incaran laki-laki berhidung belang mendadak jago bela diri.Emiko membuka sebelah matanya sebelum kedua matanya terbuka lebar dan melotot ke arah laki-laki di sebelahnya.“Hei! Apa yang kamu lakukan? Mengapa kamu hendak memukulku seperti itu?!” Emiko protes dengan nada

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status