LOGINSementara itu di kediaman Emiko.
Gadis itu mengayunkan langkah dengan cepat, masuk ke dalam rumah seolah tidak ada sesuatu yang dapat menghentikan hingga dia tiba di kamarnya. “Ha!” Emiko menghembuskan napas keras-keras sambil memegangi dadanya, berharap debaran yang dirasakannya dapat sedikit berkurang. Bukan! Itu bukan jenis debaran yang disebabkan oleh perasaan jatuh cinta! Emiko hanya merasa sesak berada di dekat Zayn. Sejak tadi dia ingin menghindari laki-laki itu, tetapi situasi dan kondisi memaksanya untuk terus berdekatan. Sungguh menyebalkan! “Aku tidak boleh bertemu dengannya lagi!” Emiko berkata pada dirinya sendiri. Setelah memantapkan hati dan merasa yakin tidak akan bertemu dengan pria yang sangat dibencinya, Emiko meletakkan tas dan melepaskan cardigan hendak masuk ke dalam kamar mandi. “Emiko!” teriak Kirani. Urung melanjutkan langkah, Emiko berseru menjawab mamanya tanpa beranjak, “Ya!” “Ternyata benar kamu sudah pulang. Ayo temani Mama masak!” seru Kirani senang. Emiko kembali menghela napas, lalu menyahut, “Ya, Ma!” Gadis itu memutuskan untuk tidak mandi dan segera menghampiri mamanya. “Nanti sore kita akan kedatangan tamu. Jadi, Mama harus memasak untuk menjamu mereka,” ujar Kirani ketika Emiko sudah berada di dapur. “Di mana Bik Sumi?” tanya Emiko mencari-cari keberadaan asisten rumah tangga mereka. “Pergi bersama Pak Adi untuk belanja bahan-bahan yang masih kurang. Kamu tahu sendiri, Papa itu gemar memberi tahu segala sesuatunya secara mendadak, sedangkan bahan makanan di kulkas terbatas hanya untuk kita sekeluarga,” lanjut Kirani. Dengan enggan Emiko meraih mangkuk berisi taoge yang harus dibersihkan. Walaupun tidak bisa memasak, gadis itu terbiasa membantu mamanya di dapur. Setidaknya, dia tahu yang harus dilakukan. “Kamu dari mana?” tanya Kirani kembali membuka pembicaraan. “Kerja,” jawab Emiko asal. “Kerja? Dengan pakaian seksi begitu?” tanya Kirani terbelalak. Emiko praktis melihat ke arah pakaiannya yang memang sedikit terbuka. Dia tidak pernah mengenakan pakaian yang seperti itu ketika bekerja. “Eee, aku tadi membawa cardigan panjang. Mama tidak perlu melihatku seperti itu!” gerutu Emiko seraya mengerucutkan bibirnya. Bukannya berhenti memandangi putrinya, Kirani justru berjalan mendekat dan menatap Emiko lekat. “Kamu tidak sedang praktik mencari jodoh dengan mengenakan pakaian seksi begini, bukan?” tanya Kirani lagi. “Astaga, Mama! Selalu saja berpikiran negatif terhadapku!” pekik Emiko kesal. “Bergegaslah mencari pria untuk pendamping hidup! Usia kamu sudah layak untuk menikah. Hm, kalau dipikir-pikir, itu sangat tidak lucu. Bekerja sebagai konsultan jodoh, tetapi tidak pernah merasakan belaian seorang kekasih,” ejek Kirani. “Terus saja menghina anak sendiri!” sungut Emiko. “Oh! Kalau Mama tidak salah ingat, tamu kita nanti sepertinya belum menikah. Kamu bisa berkenalan dengannya. Orangnya tampan dan mapan,” sambung Kirani seakan tidak peduli dengan perasaan Emiko. “Tidak perlu repot, Nyonya Kirani! Putrimu ini cantik. Alam semesta pasti sudah menyiapkan jodohnya. Mari kita lanjut memasak saja!” tolak Emiko dengan penuh penekanan. “Ck! Semua memang sudah disediakan oleh alam semesta, tetapi kita harus tetap berusaha,” ujar Kirani masih tidak menyerah. “Ma, aku ….” “Ini bahan-bahannya, Bu,” sela Bik Sumi yang baru saja datang. Wanita yang kesulitan membawa banyak tas belanja penuh dengan bahan makanan itu tidak menyadari kalau Kirani dan Emiko sedang berbincang. “Berikan pada Emiko semuanya!” perintah Kirani. “Ma! Aku juga mau istirahat!” pekik Emiko kesal. “Pikiran kamu harus dibuat fokus dan lurus!” tutur Kirani. “Mama yang punya pikiran negatif. Kenapa aku yang harus dibuat lurus?” Emiko menggerutu pelan. Sembari membersihkan taoge, Emiko melirik ke arah dress selutut berwarna putih tulang tanpa lengan yang masih melekat di tubuhnya. Pakaian itu menampilkan setiap lekukan dengan jelas bila dikenakan begitu saja. Tiba-tiba gadis itu ingat kejadian buruk yang hampir menimpanya. Apa itu berkaitan dengan pakaian? Oh! Dia tiba-tiba ingat tangan Zayn yang sempat meremas salah satu bukit kembarnya. Pun laki-laki itu mencuri ciuman pertamanya. Ah! Lagi-lagi Emiko ingat pria tampan itu. Dia menjadi curiga, jangan-jangan Zayn berpikir dirinya sengaja mengenakan pakaian kurang bahan untuk menarik perhatian, padahal bukan begitu ceritanya. Zanna pesan agar Emiko mengenakan pakaian tidur yang seksi untuk mendukung perannya. Oleh karena itu, dia memutuskan untuk mengenakan dress berwarna putih tulang yang lebih layak untuk dikenakan saat di luar rumah dan menutupinya dengan cardigan panjang. Seharusnya itu tidak menjadi masalah. Berulang kali Emiko mendesah sambil menggeleng pelan. Walaupun terasa memalukan untuk diingat, tetapi semua sudah terlanjur terjadi. Dia sungguh hanya memenuhi permintaan seorang klien. “Hei! Raut wajah apa itu? Mengapa kamu terus mendesah dan menggeleng?” tanya Kirani mengejutkan. “Tidak ada apa-apa,” jawab Emiko gugup. “Ish! Isi kepala kamu ini pasti sudah mesum,” ujar Kirani sengaja menuduh, membuat putrinya terkejut luar biasa. *** Di dalam sebuah cafe. Dhefin dan Tama praktis mendekati Zayn ketika mereka mendengar sahabatnya itu bicara sendiri dengan raut wajah serius. “Ada apa?” tanya Dhefin penasaran. Zayn menunjuk bagian berwarna putih di atas punggung seseorang tanpa berkata-kata. “Apa itu bagian dari hantu di film horor?” racau Tama yang langsung mendapat pukulan di kepalanya. “Jangan bicara sembarangan!” tukas Dhefin. “Itu … kain putih dan rambut terurai yang sedikit terlihat …,” sahut Tama tidak terima. “Aku sendiri tidak tahu, tetapi sepertinya wanita itu sudah menjadi mayat,” ujar Zayn. “Apa?! Mayat?” pekik Dhefin dan Tama bersamaan. Zayn melihat ke sekeliling ruangan. Beruntung para pengunjung cafe sedang sibuk dengan urusan masing-masing. “Apa kalian bisa memelankan suara sedikit?” bisik Zayn tanpa menggerakkan bibir. “Tunggu dulu! Mayat kamu bilang? Apa kamu syuting untuk film horor?” tanya Tama memelankan suaranya. “Tidak ada film horor! Itu mayat asli,” jawab Zayn. “Sebentar! Aku tidak mengerti. Apa kamu bisa merangkai seluruh isi kepalamu dengan sebuah kalimat yang lebih jelas?” tanya Dhefin. “Apakah ini semua ada hubungannya dengan kasus hilangnya para artis cantik selama beberapa bulan terakhir?” Bukannya menjawab, Zayn justru balik bertanya. Lebih tepatnya laki-laki itu bicara pada dirinya sendiri. “Jadi, para artis itu hilang karena dibunuh?” Dhefin mencoba memperjelas kalimat sahabatnya. “Entahlah,” sahut Zayn ragu. “Kamu belum menceritakan semua yang terjadi saat syuting tadi. Aku dan Tama bingung mencerna semua perkataanmu,” ujar Dhefin masih tidak mengerti. “Tunggu dulu! Apa ketika aku datang Roy juga sudah ada di dalam ruangan?” tanya Zayn menggerakkan tangannya untuk memeriksa CCTV. Dhefin dan Tama saling perpandangan, lalu kembali melihat Zayn yang masih menatap layar laptop dengan serius dan mendengarkan suara melalui alat penyuara telinga. “Seandainya benar wanita itu meninggal. Siapa yang membunuh dan bagaimana cara dia dibunuh?” Zayn kembali bertanya. “Ish! Mana kutahu?! Bukankah kamu pergi ke tempat syuting sendiri?” sahut Tama kesal karena sahabatnya terus menerus bertanya. Zayn menatap kedua temannya dengan raut wajah bingung. Dia lalu kembali bertanya, “Kalau benar mereka semua dibunuh maka kita harus mencari tahu di mana semua jasad itu disembunyikan. Apa sebenarnya tujuan pembunuhan itu?” “Zayn, sepertinya kamu harus kembali ke sana untuk mencari tahu semua pertanyaan yang tidak mungkin kami jawab,” ujar Dhefin. “Itu bukan solusi. Aku tadi berakting sangat buruk dan Roy pasti tidak ingin melihatku lagi,” jawab Zayn. Dhefin dan Tama praktis terbatuk-batuk. Firasat mereka tidak baik mendengar jawaban Zayn itu.“Bali? Kamu serius akan mengajakku ke Bali? Whoa! Mimpi apa aku semalam?” tanya Eleni gembira.“Benarkah? Mengapa kamu tidak mengatakannya padaku?” Emiko ikut bertanya.Tanpa banyak bicara, Zayn hanya menunjukkan layar ponsel yang menampilkan e-tiket perjalanan ke Bali dengan business class.“Ck! Boros sekali! Bali itu dekat. Mengapa harus kelas bisnis?” ujar Eleni menyembunyikan rasa senangnya.“Agar aku bisa duduk berduaan dengan Emiko,” jawab Zayn menarik dagu istrinya paksa dan mencium bibirnya.“Astaga! Apa aku akan menjadi obat nyamuk! Pastikan aku mendapat kamar hotel dengan dinding yang tebal agar tidak mendengar suara-suara kalian saat bermesraan!” ujar Eleni sambil mengipasi wajahnya yang merona.Zayn dan Emiko hanya tertawa geli untuk menanggapi.“Kapan kita berangkat? Aku harus menyelesaikan pekerjaan dulu,” tanya Emiko.“Besok pagi. Hm, kita mungkin harus membawa pekerjaan ke sana. Liburan kali ini khusus untuk menghibur Eleni,” jawab Zayn.“Wah! Mengharukan! Terima kasih
“Zayn, kamu tadi juga melihatnya, bukan? Apa Riko tadi kesandung sesuatu? Apa yang membuatnya terpental? Aku hanya mendengar suara teriakan peringatan yang membuatku menoleh, lalu melihat seseorang berputar sampai tergeletak di lantai dan tidak bisa bangun lagi. Kejadiannya secepat cahaya. Sungguh membingungkan,” ujar Eleni menyambung perkataannya.Gadis itu masih mengunyah seraya menampilkan raut wajah kebingungan.“Entahlah. Aku hanya fokus pada Brian yang tiba-tiba mengeluarkan benda tajam. Untungnya tidak mengenaimu,” jawab Zayn masih melirik ke arah istrinya yang tetap diam.“Bagaimana keadaannya sekarang? Apa tadi kamu memanggil ambulans untuk menolong Riko?” tanya Eleni membuat Emiko bernapas lega karena pembicaraan telah teralihkan.Mata elang Zayn melihat respons Emiko, tetapi pertanyaan Eleni membuatnya refleks menjawab, “Apa kamu masih mengkhawatirkan laki-laki itu?”“Tidak tidak! Hm, aku hanya … takut kita akan disalahkan,” jawab Eleni lirih.“Aku sudah mengurus semuanya.
“Perempuan gila! Apa kamu siluman? Tiba-tiba datang tak diundang. Jangan kamu kira aku akan takut! Pergi sana! Jangan ikut campur masalah kami!” Dengan susah payah dan dalam keadaan terbaring di atas aspal, Riko berteriak memaki Emiko.Tubuhnya terasa seperti sudah tidak pada tempatnya lagi. Sakit bukan gambaran yang tepat karena laki-laki itu merasa sedang berada di ambang kematian dan hidup.“Huft!” Emiko meniup poninya dan memutar bola matanya malas. “Dasar licik! Bisanya main sembunyi-sembunyi untuk menyerang dari belakang. Bangunlah kalau masih mampu!”“Argh! Siapa kamu! Aku akan menuntutmu atas serangan yang kamu lakukan.” Riko masih saja marah walaupun badannya sulit digerakkan.“Tuntut saja! Siapa takut?” jawab Emiko.Di sisi lain, Zayn sudah berhasil membuat Brian melepaskan benda tajam yang dibawanya. Laki-laki itu mendadak lemas saat melihat Riko tidak berdaya. Pun dia lupa tujuannya ingin menyakiti Eleni.“Riko! Bangun, woi! Bercandamu tidak lucu!” Brian berjalan perlahan
Raut wajah terkejut yang sangat kentara itu membuat kemarahan Eleni kembali memuncak.“Eleni? Mengapa kamu ada di sini?” Brian buru-buru mendekati gadis yang dikiranya masih berstatus sebagai kekasih itu.Eleni buru-buru mundur dan mengangkat kedua tangannya. “Stop! Cukup jelaskan dari posisimu itu, mengapa kamu menjalin hubungan denganku? Berapa upah yang kamu dapatkan dari laki-laki itu untuk membalas dendam?”“Sayang! Ayolah! Jangan menuduhku begitu!” ujar Brian membuat gadis itu seketika bergidik.“Jangan berani memanggilku dengan sebutan sayang! Itu menjijikkan!” jawab Eleni dengan tatapan tajam.“Baiklah!” Brian masih saja berusaha melangkah perlahan untuk mendekati gadis itu.“Aku bilang berhenti! Jangan mendekatiku!” teriak Eleni histeris.“Eleni, tenangkan dirimu! Mari kita bicara di unit apartment milik Riko! Bisa kamu lihat, di sini ada banyak orang,” jawab Brian seraya mengedarkan pandangan ke sekitar. Akan tetapi, laki-laki itu segera menghentikan perkataannya, karena ter
“Zayn?!”Emiko dan Eleni kompak melebarkan netranya karena sangat terkejut dengan kehadiran laki-laki itu.“Jangan bergerak dan jangan turun dari mobil! Aku akan duduk di bangku penumpang bagian belakang,” ujar Zayn dengan tatapan tajam ke arah Eleni yang seakan telah lupa caranya berkedip.Pun Emiko sampai belum menutup mulutnya yang sedikit terbuka sambil mengikuti arah pergerakan Zayn.Hanya dalam hitungan detik, Zayn sudah duduk di bangku penumpang bagian belakang dan segera bergeser ke tengah.“Zayn ….”“Apa yang kalian lakukan di sini?” tanya Zayn dengan tatapan ke arah Eleni, karena gadis itu yang tadi sudah mengirimkan pesan untuk meminta izin.“Aku … itu ….” Tatapan Zayn yang mengintimidasi membuat Eleni tidak bisa berkata-kata.“Zayn, kami sedang mengintai ….”“Riko. Apa kamu mengabaikan peringatan Oma Rosa?” Zayn masih saja menatap Eleni dengan raut wajah marah.“Bukan begitu ….”“Zayn, tolong dengarkan penjelasan kami dulu!” ujar Emiko berusaha menengahi pembicaraan antara
Emiko sudah terbiasa melihat seseorang yang tadinya terlihat tenang, berubah menjadi penuh emosi. Jadi, dia sama sekali tidak terpengaruh oleh kilat kemarahan Eleni saat menceritakan secara detail tentang kekasihnya itu.“Makanan ini terlalu lezat untuk dinikmati dengan hati yang kesal. Makanlah terlebih dahulu! Setelah perut kenyang, pikiran akan bekerja dengan baik.” Emiko berkata.Perlu waktu sebentar bagi Eleni untuk menenangkan diri, sebelum gadis itu melanjutkan makan.“Apa kamu pernah menangani kasus rumit seperti yang aku alami?” tanya Eleni.“Banyak yang lebih rumit. Meskipun begitu, aku tidak bisa mengatakan bahwa masalah yang kamu alami ini sepele atau tidak, sebab setiap orang memiliki batas kerumitan masing-masing,” jawab Emiko.Eleni hanya mengangguk-angguk sambil berusaha mengeluarkan tulang ikan yang tidak sengaja ikut masuk ke dalam mulut.“Ngomong-ngomong, apa yang kamu katakan pada suamiku untuk meminta izin?” tanya Emiko.“Aku hanya mengatakan akan menculikmu untuk







