Share

Pakaian Seksi

Author: Adelia17
last update publish date: 2026-07-03 15:55:41

Sementara itu di kediaman Emiko.

Gadis itu mengayunkan langkah dengan cepat, masuk ke dalam rumah seolah tidak ada sesuatu yang dapat menghentikan hingga dia tiba di kamarnya.

“Ha!” Emiko menghembuskan napas keras-keras sambil memegangi dadanya, berharap debaran yang dirasakannya dapat sedikit berkurang.

Bukan! Itu bukan jenis debaran yang disebabkan oleh perasaan jatuh cinta! Emiko hanya merasa sesak berada di dekat Zayn. Sejak tadi dia ingin menghindari laki-laki itu, tetapi situasi dan kondisi memaksanya untuk terus berdekatan. Sungguh menyebalkan!

“Aku tidak boleh bertemu dengannya lagi!” Emiko berkata pada dirinya sendiri.

Setelah memantapkan hati dan merasa yakin tidak akan bertemu dengan pria yang sangat dibencinya, Emiko meletakkan tas dan melepaskan cardigan hendak masuk ke dalam kamar mandi.

“Emiko!” teriak Kirani.

Urung melanjutkan langkah, Emiko berseru menjawab mamanya tanpa beranjak, “Ya!”

“Ternyata benar kamu sudah pulang. Ayo temani Mama masak!” seru Kirani senang.

Emiko kembali menghela napas, lalu menyahut, “Ya, Ma!”

Gadis itu memutuskan untuk tidak mandi dan segera menghampiri mamanya.

“Nanti sore kita akan kedatangan tamu. Jadi, Mama harus memasak untuk menjamu mereka,” ujar Kirani ketika Emiko sudah berada di dapur.

“Di mana Bik Sumi?” tanya Emiko mencari-cari keberadaan asisten rumah tangga mereka.

“Pergi bersama Pak Adi untuk belanja bahan-bahan yang masih kurang. Kamu tahu sendiri, Papa itu gemar memberi tahu segala sesuatunya secara mendadak, sedangkan bahan makanan di kulkas terbatas hanya untuk kita sekeluarga,” lanjut Kirani.

Dengan enggan Emiko meraih mangkuk berisi taoge yang harus dibersihkan. Walaupun tidak bisa memasak, gadis itu terbiasa membantu mamanya di dapur. Setidaknya, dia tahu yang harus dilakukan.

“Kamu dari mana?” tanya Kirani kembali membuka pembicaraan.

“Kerja,” jawab Emiko asal.

“Kerja? Dengan pakaian seksi begitu?” tanya Kirani terbelalak.

Emiko praktis melihat ke arah pakaiannya yang memang sedikit terbuka. Dia tidak pernah mengenakan pakaian yang seperti itu ketika bekerja.

“Eee, aku tadi membawa cardigan panjang. Mama tidak perlu melihatku seperti itu!” gerutu Emiko seraya mengerucutkan bibirnya.

Bukannya berhenti memandangi putrinya, Kirani justru berjalan mendekat dan menatap Emiko lekat.

“Kamu tidak sedang praktik mencari jodoh dengan mengenakan pakaian seksi begini, bukan?” tanya Kirani lagi.

“Astaga, Mama! Selalu saja berpikiran negatif terhadapku!” pekik Emiko kesal.

“Bergegaslah mencari pria untuk pendamping hidup! Usia kamu sudah layak untuk menikah. Hm, kalau dipikir-pikir, itu sangat tidak lucu. Bekerja sebagai konsultan jodoh, tetapi tidak pernah merasakan belaian seorang kekasih,” ejek Kirani.

“Terus saja menghina anak sendiri!” sungut Emiko.

“Oh! Kalau Mama tidak salah ingat, tamu kita nanti sepertinya belum menikah. Kamu bisa berkenalan dengannya. Orangnya tampan dan mapan,” sambung Kirani seakan tidak peduli dengan perasaan Emiko.

“Tidak perlu repot, Nyonya Kirani! Putrimu ini cantik. Alam semesta pasti sudah menyiapkan jodohnya. Mari kita lanjut memasak saja!” tolak Emiko dengan penuh penekanan.

“Ck! Semua memang sudah disediakan oleh alam semesta, tetapi kita harus tetap berusaha,” ujar Kirani masih tidak menyerah.

“Ma, aku ….”

“Ini bahan-bahannya, Bu,” sela Bik Sumi yang baru saja datang. Wanita yang kesulitan membawa banyak tas belanja penuh dengan bahan makanan itu tidak menyadari kalau Kirani dan Emiko sedang berbincang.

“Berikan pada Emiko semuanya!” perintah Kirani.

“Ma! Aku juga mau istirahat!” pekik Emiko kesal.

“Pikiran kamu harus dibuat fokus dan lurus!” tutur Kirani.

“Mama yang punya pikiran negatif. Kenapa aku yang harus dibuat lurus?” Emiko menggerutu pelan.

Sembari membersihkan taoge, Emiko melirik ke arah dress selutut berwarna putih tulang tanpa lengan yang masih melekat di tubuhnya. Pakaian itu menampilkan setiap lekukan dengan jelas bila dikenakan begitu saja.

Tiba-tiba gadis itu ingat kejadian buruk yang hampir menimpanya. Apa itu berkaitan dengan pakaian? Oh! Dia tiba-tiba ingat tangan Zayn yang sempat meremas salah satu bukit kembarnya. Pun laki-laki itu mencuri ciuman pertamanya.

Ah! Lagi-lagi Emiko ingat pria tampan itu. Dia menjadi curiga, jangan-jangan Zayn berpikir dirinya sengaja mengenakan pakaian kurang bahan untuk menarik perhatian, padahal bukan begitu ceritanya.

Zanna pesan agar Emiko mengenakan pakaian tidur yang seksi untuk mendukung perannya. Oleh karena itu, dia memutuskan untuk mengenakan dress berwarna putih tulang yang lebih layak untuk dikenakan saat di luar rumah dan menutupinya dengan cardigan panjang. Seharusnya itu tidak menjadi masalah.

Berulang kali Emiko mendesah sambil menggeleng pelan. Walaupun terasa memalukan untuk diingat, tetapi semua sudah terlanjur terjadi. Dia sungguh hanya memenuhi permintaan seorang klien.

“Hei! Raut wajah apa itu? Mengapa kamu terus mendesah dan menggeleng?” tanya Kirani mengejutkan.

“Tidak ada apa-apa,” jawab Emiko gugup.

“Ish! Isi kepala kamu ini pasti sudah mesum,” ujar Kirani sengaja menuduh, membuat putrinya terkejut luar biasa.

***

Di dalam sebuah cafe.

Dhefin dan Tama praktis mendekati Zayn ketika mereka mendengar sahabatnya itu bicara sendiri dengan raut wajah serius.

“Ada apa?” tanya Dhefin penasaran.

Zayn menunjuk bagian berwarna putih di atas punggung seseorang tanpa berkata-kata.

“Apa itu bagian dari hantu di film horor?” racau Tama yang langsung mendapat pukulan di kepalanya.

“Jangan bicara sembarangan!” tukas Dhefin.

“Itu … kain putih dan rambut terurai yang sedikit terlihat …,” sahut Tama tidak terima.

“Aku sendiri tidak tahu, tetapi sepertinya wanita itu sudah menjadi mayat,” ujar Zayn.

“Apa?! Mayat?” pekik Dhefin dan Tama bersamaan.

Zayn melihat ke sekeliling ruangan. Beruntung para pengunjung cafe sedang sibuk dengan urusan masing-masing.

“Apa kalian bisa memelankan suara sedikit?” bisik Zayn tanpa menggerakkan bibir.

“Tunggu dulu! Mayat kamu bilang? Apa kamu syuting untuk film horor?” tanya Tama memelankan suaranya.

“Tidak ada film horor! Itu mayat asli,” jawab Zayn.

“Sebentar! Aku tidak mengerti. Apa kamu bisa merangkai seluruh isi kepalamu dengan sebuah kalimat yang lebih jelas?” tanya Dhefin.

“Apakah ini semua ada hubungannya dengan kasus hilangnya para artis cantik selama beberapa bulan terakhir?” Bukannya menjawab, Zayn justru balik bertanya. Lebih tepatnya laki-laki itu bicara pada dirinya sendiri.

“Jadi, para artis itu hilang karena dibunuh?” Dhefin mencoba memperjelas kalimat sahabatnya.

“Entahlah,” sahut Zayn ragu.

“Kamu belum menceritakan semua yang terjadi saat syuting tadi. Aku dan Tama bingung mencerna semua perkataanmu,” ujar Dhefin masih tidak mengerti.

“Tunggu dulu! Apa ketika aku datang Roy juga sudah ada di dalam ruangan?” tanya Zayn menggerakkan tangannya untuk memeriksa CCTV.

Dhefin dan Tama saling perpandangan, lalu kembali melihat Zayn yang masih menatap layar laptop dengan serius dan mendengarkan suara melalui alat penyuara telinga.

“Seandainya benar wanita itu meninggal. Siapa yang membunuh dan bagaimana cara dia dibunuh?” Zayn kembali bertanya.

“Ish! Mana kutahu?! Bukankah kamu pergi ke tempat syuting sendiri?” sahut Tama kesal karena sahabatnya terus menerus bertanya.

Zayn menatap kedua temannya dengan raut wajah bingung. Dia lalu kembali bertanya, “Kalau benar mereka semua dibunuh maka kita harus mencari tahu di mana semua jasad itu disembunyikan. Apa sebenarnya tujuan pembunuhan itu?”

“Zayn, sepertinya kamu harus kembali ke sana untuk mencari tahu semua pertanyaan yang tidak mungkin kami jawab,” ujar Dhefin.

“Itu bukan solusi. Aku tadi berakting sangat buruk dan Roy pasti tidak ingin melihatku lagi,” jawab Zayn.

Dhefin dan Tama praktis terbatuk-batuk. Firasat mereka tidak baik mendengar jawaban Zayn itu.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • One Two Three and Action   Zayn Bertanggung Jawab

    Zayn memutuskan untuk menuruti perkataan Emiko karena bagaimanapun gadis itu sudah dewasa dan tahu yang terbaik untuk dirinya sendiri. Akan tetapi, laki-laki tampan yang berpenampilan cukup berantakan akibat melawan Roy sebelumnya itu hanya diam.“Zayn,” panggil Emiko setelah beberapa saat suasana hening menyelimuti keduanya.“Hm,” gumam Zayn untuk menanggapi.“Terima kasih sudah menolongku,” ucap Emiko lirih.Lagi-lagi Zayn hanya berdeham seakan enggan bicara lebih banyak.“Tadinya aku berpikir waktuku di bumi ini sudah berakhir dan seseorang yang masuk dari pintu itu adalah malaikat pencabut nyawa. Tidak aku sangka, ternyata itu kamu,” sambung Emiko seraya tertawa sumbang.Zayn menatap Emiko dari arah kaca spion sambil berdecak, “Kamu bicara seolah-olah kecewa karena aku bukan malaikat pencabut nyawa.”“Bukan begitu. Ah! Sudahlah! Apa yang bisa kuharapkan darimu?” jawab Emiko masih dengan suara pelan.“Apa kamu berharap aku akan bercanda di situasi seperti ini?” tanya Zayn.“Jangan

  • One Two Three and Action   Hampir Saja

    “Ada apa?” tanya Dhefin setelah Zayn mengajukan beberapa pertanyaan yang lain dan memutuskan sambungan telepon.“Roy menyamar menjadi seorang klien dan Emiko sedang menemuinya sekarang,” jawab Zayn.“Kalau begitu, kita harus menyusulnya. Apa lagi yang kamu pikirkan?” tanya Tama seraya buru-buru mematikan mesin mobil.“Tidak bisa! Di dalam ada orang lain yang masih berkonsultasi. Pak Danu memberi kita kuasa untuk menangkap Roy, dengan syarat tidak boleh ada kekacauan,” jawab Zayn bingung.“Kita lakukan saja dengan tenang … seperti biasa,” sela Dhefin dengan gerakan tangan yang menunjuk ke arah leher.Benar! Seperti yang pernah disinggung sebelumnya, para anggota Tthree memang cukup kejam ketika membereskan masalah. Tentu saja, itu kalau diperlukan. Namun, mereka tidak ingin disebut sebagai kelompok mafia.Zayn, Dhefin, dan Tama pada dasarnya orang-orang yang baik. Hati mereka hanya mudah tergugah ketika melihat sesuatu yang tidak benar.Untuk kasus Roy, semua bisa saja terjadi tergantu

  • One Two Three and Action   Bahaya Mengancam

    “Aku bisa menghadirkan seseorang yang akan mengatakan bahwa Roy sudah tidur dengan banyak gadis,” ujar Zayn dengan tenang. Dia masih berusaha untuk menyulut agar wanita itu bisa bicara lebih banyak.“Tidak! Aku sudah memastikan kalau Roy hanya pernah tidur denganku,” jawab Zanna masih dengan penuh emosi.“Apa kamu yakin?” tanya Zayn. Dia meletakkan sebuah alat berukuran kecil di atas meja dan melihat ke arah wanita itu sebelum berniat menyalakannya.Jelas Zanna tahu benda itu dan dia memandang ke arah Zayn dengan tatapan bertanya-tanya.“Pengalamanku mengatakan, seseorang yang sangat menyukai para gadis akan dengan mudah mencampakkan mereka yang sudah berhasil dimilikinya. Aku rasa Roy juga sama. Dia pasti mengabaikan para wanita yang sudah pernah tidur dengannya,” sambung Zayn sengaja menyakiti hati Zanna.“Tidak! Roy tidak mengabaikanku!” pekik Zanna.Tidak ingin berlama-lama, Zayn menekan tombol pada alat rekaman yang dia letakkan di atas meja.Bagai kilas balik yang membuka luka h

  • One Two Three and Action   Tidak Sengaja Bicara

    Suara klakson mobil yang saling bersahutan membuat Emiko kebingungan sendiri. Pasalnya, tiga orang laki-laki yang bersamanya tadi sedang mengejar Roy dan meninggalkan mobil di tengah jalan begitu saja.Tak ingin dimaki-maki para pengemudi lebih lama lagi, Emiko bergegas melompat ke kursi bagian supir dan menepikan kendaraan. Sesudah merasa aman, dia kembali duduk di bangku penumpang bagian belakang. Tidak lupa, gadis itu mengunci mobil tanpa mematikan mesinnya.Kaburnya Roy jelas membuat Emiko khawatir. Di tengah kesendiriannya, gadis itu memikirkan semua perkataan para anggota Tthree. Dia masih belum bisa merangkai situasi yang sedang terjadi sampai kasus pembunuhan yang sempat didengarnya tadi. Akan tetapi, menurut pemikirannya, sutradara jahat itu tidak mungkin hanya sekadar ingin menculik dan membunuh.“Apa Roy membunuh semua gadis yang sudah tidur dengannya? Jangan-jangan aku menjadi target pembunuhan selanjutnya,” ujar Emiko pada dirinya sendiri. Gadis itu lantas menggeleng kera

  • One Two Three and Action   Tom dan Jerry

    Pengakuan tidak terduga yang dilakukan oleh Zanna jelas mempermudah pekerjaan para anggota Tthree.Beruntung Tama berhasil meletakkan beberapa alat penyadap di kamar yang biasa ditempati oleh Roy sebelum orang-orang yang menculik Emiko tiba di hotel. Jadi, semua pembicaraan dapat direkam dengan baik oleh Zayn, sang ahli IT yang kadang-kadang kemampuannya melebihi nalar.Awalnya, Zayn tidak berencana untuk membawa tim dari kepolisian. Akan tetapi, demi melindungi Emiko, para anggota Tthree sepakat untuk bekerja sama dengan pihak berwajib. Tidak disangka, mereka justru mendapatkan tangkapan yang lebih besar.Setelah membuat kehebohan di lokasi syuting, kini kendaraan yang ditumpangi oleh Zayn dan kedua sahabatnya sedang dalam perjalanan mengikuti mobil polisi. Tidak lupa, Emiko yang masih dalam keadaan tertidur juga ada bersama mereka. Rencananya, tim Tthree akan mengantarkan gadis itu pulang ke rumah.“Perasaan, baru saja aku menikmati peranku menjadi orang tolol di area syuting. Sekar

  • One Two Three and Action   Pengakuan Tidak Terduga

    Sore hari di area pusat kota.Emiko yang kebetulan dijemput oleh supir, mendadak merasa gelisah sampai dia berulang kali mengedarkan pandangan ke sekitar. Hingga beberapa saat kemudian gadis itu menyadari kalau seseorang sedang mengikutinya dengan menggunakan motor.“Pak Adi, kita sedang diikuti,” ujar Emiko seraya menoleh ke belakang mobil. Raut wajah gadis itu sangat panik, apalagi ketika pemilik motor sempat berhenti di sisi samping kiri dan memperhatikan dirinya.Ya! Walaupun pemilik motor menggunakan kacamata hitam, tetapi Emiko dapat merasakan sorot tajam matanya.“Jalanan sedang macet. Semua kendaraan berdesakan berharap bisa saling mendahului. Maafkan kelancangan saya, Non. Namun, rasanya tidak mungkin ada yang berniat mengikuti kita. Mungkin kebetulan saja perjalanan mereka searah,” jawab Pak Adi.“Apa Pak Adi melihat seseorang mengenakan kostum serba hitam di sebelah … kiri?” tanya Emiko seraya menoleh. Namun, yang dibicarakan sudah tidak ada.“Tidak, Non. Bapak fokus meliha

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status