Inicio / Romansa / One Two Three and Action / Seseorang Tidak Bernyawa

Compartir

Seseorang Tidak Bernyawa

Autor: Adelia17
last update Fecha de publicación: 2026-07-03 15:54:59

Merasa bersalah terhadap Zayn sekaligus merasa tidak ada harapan ketika melihat laki-laki itu tidak menanggapi teriakannya, Emiko berusaha melepaskan diri dari Roy. Namun, tenaganya tidak cukup kuat untuk melawan cengkeraman sutradara jahat itu.

Herannya, semua karyawan hotel bersikap seolah-olah tidak melihat ada sesuatu yang salah. Mereka semua bekerja seperti biasa, bahkan saat terdengar suara teriakan minta tolong yang menggema di lobby hotel.

“Simpan tenagamu untuk melayaniku! Aku sudah membayar mereka semua untuk diam.” Roy berkata.

“Hei! Kamu sudah salah sangka! Aku tidak menjual tubuhku! Aku bisa menuntutmu jika terus memaksaku seperti ini!” teriak Emiko sebelum mereka sampai di depan pintu lift.

“Silakan saja menuntutku! Kita lihat nanti pemenangnya!” cemooh Roy membuat Emiko semakin panik.

“Aku ini wanita baik-baik dan bukan artis! Aku tidak perlu belajar apa pun darimu!” sergah Emiko.

Roy mendekatkan diri dan berbisik di telinga Emiko, “Justru wanita baik-baik itu yang paling indah untuk dinikmati. Oh! Aku bisa membayangkan warna merah muda di bawah sana yang sudah basah. Sungguh aku tidak sabar ingin mendengarmu mendesah! Ayo! Bergegaslah! Kita akan melakukannya dengan cepat.”

“Jangan mimpi! Lepaskan aku!” pekik Emiko sampai menjatuhkan diri di lantai agar Roy kesulitan menariknya.

“Hei! Kamu tidak perlu khawatir! Walaupun baru pertama kali, aku jamin kamu tidak akan merasa sakit. Aku sudah pengalaman,” ujar Roy.

Tidak kehilangan akal, Roy segera menggendong Emiko ala bridal dan membawanya masuk ke dalam lift.

Tidak sulit bagi Roy yang memiliki tubuh kekar untuk menahan tubuh mungil Emiko yang sedang meronta. Itu justru membuat bagian bawahnya bergejolak ingin segera mendapatkan kepuasan seperti yang ada di dalam imajinasinya.

Roy tersenyum penuh kemenangan ketika pintu lift hendak menutup. Sedangkan Emiko yang putus asa semakin meronta dan berteriak sekuat tenaga.

Di tengah situasi yang menakutkan bagi Emiko, tiba-tiba ada tangan yang menahan pintu lift hingga kembali terbuka.

“Maaf, gadis itu milikku.” Itu suara Zayn.

Seketika suasana menjadi hening. Roy tercengang mendapati seseorang berniat menolong perempuan yang akan dia bawa ke kamar. Pun Emiko tertegun ketika suara tegas milik Zayn memasuki indera pendengarannya.

Tak ingin membuang waktu, Zayn segera mengambil alih tubuh Emiko dan menurunkannya agar mereka bisa berlari bersama-sama.

“Siapa saja yang mendengarku! Kejar mereka!” perintah Roy saat menyadari arah pandang laki-laki tampan itu nyata dan tertuju padanya. Tatapannya tajam dan tidak menyenangkan.

Zayn dan Emiko beruntung karena ada rombongan yang baru saja datang untuk check in sehingga semua petugas sedang sibuk menyambut. Kebetulan orang-orang Roy tidak ada yang berkeliaran di area lobby hotel.

“Terima kasih sudah menolongku! Di sana ada taxi. Aku bisa langsung pulang,” ucap Emiko membuat Zayn memutar bola matanya malas.

“Ikut aku!” ajak Zayn yang masih belum melepaskan tangannya dari tangan Emiko.

“Tidak. Sudah cukup pertolonganmu,” tolak Emiko bersikeras.

Alih-alih membiarkan gadis itu pergi, Zayn justru memaksa Emiko masuk ke dalam mobilnya.

“Jangan berani-berani keluar dari mobil ini kalau kamu tidak ingin mendesah di bawah tubuh Roy!” Zayn mengancam.

Laki-laki itu lantas setengah berlari menuju ke sisi pengemudi. Tepat ketika dia menyalakan mesin dan melajukan kendaraan, orang-orang Roy baru saja keluar dari pintu utama untuk mengejar Emiko.

Zayn mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi dan berbelok ke segala arah menurut intuisinya.

“Hei! Kamu akan membawaku ke mana?” tanya Emiko ketika mereka sudah jauh.

“Apa kamu masih memikirkan tujuan kita? Orang-orang Roy bisa menemukanmu!” jawab Zayn.

“Kita sudah jauh dari mereka. Kamu bisa memperlambat laju kendaraan!” ujar Emiko.

Zayn melihat melalui kaca spion untuk memastikan. Dia lantas memperlambat laju kendaraan ketika merasa sudah aman.

“Maaf. Aku sudah salah sangka dengan mengira kamu adalah seorang artis,” ucap Zayn.

Emiko mengernyit sesaat, lalu mengangguk.

“Aku tadi juga mengira kamu adalah artis papan atas,” jawab Emiko tertawa kecil.

“Ke mana aku harus mengantarmu?” tanya Zayn membuat situasi tetap serius.

“Aku sebenarnya bisa naik taxi ….”

“Aku bukan orang yang suka melakukan pekerjaan setengah-setengah. Jadi, katakan saja di mana rumahmu!” potong Zayn tidak sabar.

Emiko menatap kesal ke arah Zayn, lalu menunjukkan arah menuju ke rumahnya. Laki-laki itu benar-benar mengantarnya dengan selamat sampai tujuan.

“Terima kasih!” ucap Emiko sebelum turun dari mobil.

“Jaga dirimu baik-baik! Orang-orang Roy mungkin akan mencarimu,” ujar Zayn memperingatkan.

“Ya, aku tahu,” sahut Emiko yang buru-buru keluar dan menutup pintu.

“Ck! Dasar perempuan aneh,” gerutu Zayn.

Laki-laki itu melihat ke sekitar rumah Emiko untuk memastikan keadaan aman. Dia lantas kembali melajukan kendaraan dan berhenti di sebuah cafe yang kebetulan tidak terlalu jauh. Di sana sudah ada Dhefin dan Tama, rekan kerja sekaligus sahabat Zayn.

“Hai, sobat!! Bagaimana rasanya menjadi pemeran utama?” Dhefin memberi salam.

Zayn hanya memutar bola matanya dan segera memesan caramel hazelnut.

“Ada masalah apa?” tanya Tama yang melihat temannya buru-buru menyalakan laptop.

“Aku tadi berhasil memasang alat penyadap di tas milik Roy dan Kaila. Aku ingin mendengar pembicaraan mereka,” jawab Zayn.

“Siapa Roy?” tanya Tama.

“Siapa Kaila? Apa mereka sepasang kekasih?” sambung Dhefin.

“Sutradara dan kekasihnya. Hm, mungkin Kaila itu asisten sutradara. Entahlah!” jawab Zayn tidak yakin.

“Apa kamu mencurigai mereka sebagai pelaku utama?” Dhefin kembali bertanya.

“Aku mencurigai semua orang.” Zayn menjawab sambil memasang alat penyuara telinga dan mulai mendengarkan. Dia bahkan mengabaikan kedatangan seorang pelayan cafe yang menyajikan minuman kesukaannya.

Dhefin dan Tama saling berpandangan. Mereka lalu kembali fokus pada ponsel masing-masing.

“Ahhh … Roy!” Terdengar suara seorang wanita mendesah.

Tunggu dulu! Zayn yang tadinya sudah mau melepaskan alat penyuara telinga karena merasa jijik kembali menajamkan pendengaran. Itu bukan suara desahan yang penuh gairah, melainkan suara seseorang yang sedang kesakitan. Laki-laki itu berpikir, apa Roy mungkin menyiksa Kaila?

“Kamu tahu aku sangat menginginkan perempuan itu! Mengapa kamu melepaskan dia?!” teriak Roy.

Benar! Roy sedang marah. Zayn berkata sendiri di dalam hati.

“Aku tahu dan bukan sengaja melepaskannya. Pemeran utama pria yang membawanya pergi. Kamu bisa memeriksanya melalui CCTV!” jelas Kaila lirih.

“Argh! Apa yang bisa aku harapkan darimu? Mengurus wanita yang sudah mati saja tidak bisa, apalagi dia yang masih hidup,” keluh Roy.

“Bukankah kamu yang meniduri wanita itu sebelum kita syuting? Aku bahkan tidak berpikir wanita itu akan meninggal!” seru Kaila tidak terima.

“Apa kamu ingin aku bunuh? Mengapa kamu bicara sangat keras?” Roy berteriak marah.

“Mengapa kamu terus menyalahkan aku setiap kali wanita yang kamu tiduri meninggal dunia?!” Kaila terisak.

Zayn mengernyit. Dia ingat seorang wanita yang mendesah di kamar paling ujung. Apa wanita itu sudah tidak bernyawa? Dengan lincah jari-jarinya meretas CCTV hotel tempat dia syuting.

“Astaga! Apa dia wanita itu?” lirih Zayn.

Laki-laki tampan itu melihat seseorang membawa sesuatu di punggungnya yang ditutup dengan selimut putih. Jelas dia ingat seseorang melewati dirinya ketika sedang menunggu Emiko di dekat pintu kamar.

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Comentarios (1)
goodnovel comment avatar
daffa
terahir x kau dengar,dia masih mendesah Zayn.....
VER TODOS LOS COMENTARIOS

Último capítulo

  • One Two Three and Action   Menghibur Eleni

    “Bali? Kamu serius akan mengajakku ke Bali? Whoa! Mimpi apa aku semalam?” tanya Eleni gembira.“Benarkah? Mengapa kamu tidak mengatakannya padaku?” Emiko ikut bertanya.Tanpa banyak bicara, Zayn hanya menunjukkan layar ponsel yang menampilkan e-tiket perjalanan ke Bali dengan business class.“Ck! Boros sekali! Bali itu dekat. Mengapa harus kelas bisnis?” ujar Eleni menyembunyikan rasa senangnya.“Agar aku bisa duduk berduaan dengan Emiko,” jawab Zayn menarik dagu istrinya paksa dan mencium bibirnya.“Astaga! Apa aku akan menjadi obat nyamuk! Pastikan aku mendapat kamar hotel dengan dinding yang tebal agar tidak mendengar suara-suara kalian saat bermesraan!” ujar Eleni sambil mengipasi wajahnya yang merona.Zayn dan Emiko hanya tertawa geli untuk menanggapi.“Kapan kita berangkat? Aku harus menyelesaikan pekerjaan dulu,” tanya Emiko.“Besok pagi. Hm, kita mungkin harus membawa pekerjaan ke sana. Liburan kali ini khusus untuk menghibur Eleni,” jawab Zayn.“Wah! Mengharukan! Terima kasih

  • One Two Three and Action   Dasar Suami dan Istri!

    “Zayn, kamu tadi juga melihatnya, bukan? Apa Riko tadi kesandung sesuatu? Apa yang membuatnya terpental? Aku hanya mendengar suara teriakan peringatan yang membuatku menoleh, lalu melihat seseorang berputar sampai tergeletak di lantai dan tidak bisa bangun lagi. Kejadiannya secepat cahaya. Sungguh membingungkan,” ujar Eleni menyambung perkataannya.Gadis itu masih mengunyah seraya menampilkan raut wajah kebingungan.“Entahlah. Aku hanya fokus pada Brian yang tiba-tiba mengeluarkan benda tajam. Untungnya tidak mengenaimu,” jawab Zayn masih melirik ke arah istrinya yang tetap diam.“Bagaimana keadaannya sekarang? Apa tadi kamu memanggil ambulans untuk menolong Riko?” tanya Eleni membuat Emiko bernapas lega karena pembicaraan telah teralihkan.Mata elang Zayn melihat respons Emiko, tetapi pertanyaan Eleni membuatnya refleks menjawab, “Apa kamu masih mengkhawatirkan laki-laki itu?”“Tidak tidak! Hm, aku hanya … takut kita akan disalahkan,” jawab Eleni lirih.“Aku sudah mengurus semuanya.

  • One Two Three and Action   Sabuk Hitam

    “Perempuan gila! Apa kamu siluman? Tiba-tiba datang tak diundang. Jangan kamu kira aku akan takut! Pergi sana! Jangan ikut campur masalah kami!” Dengan susah payah dan dalam keadaan terbaring di atas aspal, Riko berteriak memaki Emiko.Tubuhnya terasa seperti sudah tidak pada tempatnya lagi. Sakit bukan gambaran yang tepat karena laki-laki itu merasa sedang berada di ambang kematian dan hidup.“Huft!” Emiko meniup poninya dan memutar bola matanya malas. “Dasar licik! Bisanya main sembunyi-sembunyi untuk menyerang dari belakang. Bangunlah kalau masih mampu!”“Argh! Siapa kamu! Aku akan menuntutmu atas serangan yang kamu lakukan.” Riko masih saja marah walaupun badannya sulit digerakkan.“Tuntut saja! Siapa takut?” jawab Emiko.Di sisi lain, Zayn sudah berhasil membuat Brian melepaskan benda tajam yang dibawanya. Laki-laki itu mendadak lemas saat melihat Riko tidak berdaya. Pun dia lupa tujuannya ingin menyakiti Eleni.“Riko! Bangun, woi! Bercandamu tidak lucu!” Brian berjalan perlahan

  • One Two Three and Action   Tujuan Brian

    Raut wajah terkejut yang sangat kentara itu membuat kemarahan Eleni kembali memuncak.“Eleni? Mengapa kamu ada di sini?” Brian buru-buru mendekati gadis yang dikiranya masih berstatus sebagai kekasih itu.Eleni buru-buru mundur dan mengangkat kedua tangannya. “Stop! Cukup jelaskan dari posisimu itu, mengapa kamu menjalin hubungan denganku? Berapa upah yang kamu dapatkan dari laki-laki itu untuk membalas dendam?”“Sayang! Ayolah! Jangan menuduhku begitu!” ujar Brian membuat gadis itu seketika bergidik.“Jangan berani memanggilku dengan sebutan sayang! Itu menjijikkan!” jawab Eleni dengan tatapan tajam.“Baiklah!” Brian masih saja berusaha melangkah perlahan untuk mendekati gadis itu.“Aku bilang berhenti! Jangan mendekatiku!” teriak Eleni histeris.“Eleni, tenangkan dirimu! Mari kita bicara di unit apartment milik Riko! Bisa kamu lihat, di sini ada banyak orang,” jawab Brian seraya mengedarkan pandangan ke sekitar. Akan tetapi, laki-laki itu segera menghentikan perkataannya, karena ter

  • One Two Three and Action   Ketika Zayn Turun Tangan

    “Zayn?!”Emiko dan Eleni kompak melebarkan netranya karena sangat terkejut dengan kehadiran laki-laki itu.“Jangan bergerak dan jangan turun dari mobil! Aku akan duduk di bangku penumpang bagian belakang,” ujar Zayn dengan tatapan tajam ke arah Eleni yang seakan telah lupa caranya berkedip.Pun Emiko sampai belum menutup mulutnya yang sedikit terbuka sambil mengikuti arah pergerakan Zayn.Hanya dalam hitungan detik, Zayn sudah duduk di bangku penumpang bagian belakang dan segera bergeser ke tengah.“Zayn ….”“Apa yang kalian lakukan di sini?” tanya Zayn dengan tatapan ke arah Eleni, karena gadis itu yang tadi sudah mengirimkan pesan untuk meminta izin.“Aku … itu ….” Tatapan Zayn yang mengintimidasi membuat Eleni tidak bisa berkata-kata.“Zayn, kami sedang mengintai ….”“Riko. Apa kamu mengabaikan peringatan Oma Rosa?” Zayn masih saja menatap Eleni dengan raut wajah marah.“Bukan begitu ….”“Zayn, tolong dengarkan penjelasan kami dulu!” ujar Emiko berusaha menengahi pembicaraan antara

  • One Two Three and Action   Kalian Ketahuan!

    Emiko sudah terbiasa melihat seseorang yang tadinya terlihat tenang, berubah menjadi penuh emosi. Jadi, dia sama sekali tidak terpengaruh oleh kilat kemarahan Eleni saat menceritakan secara detail tentang kekasihnya itu.“Makanan ini terlalu lezat untuk dinikmati dengan hati yang kesal. Makanlah terlebih dahulu! Setelah perut kenyang, pikiran akan bekerja dengan baik.” Emiko berkata.Perlu waktu sebentar bagi Eleni untuk menenangkan diri, sebelum gadis itu melanjutkan makan.“Apa kamu pernah menangani kasus rumit seperti yang aku alami?” tanya Eleni.“Banyak yang lebih rumit. Meskipun begitu, aku tidak bisa mengatakan bahwa masalah yang kamu alami ini sepele atau tidak, sebab setiap orang memiliki batas kerumitan masing-masing,” jawab Emiko.Eleni hanya mengangguk-angguk sambil berusaha mengeluarkan tulang ikan yang tidak sengaja ikut masuk ke dalam mulut.“Ngomong-ngomong, apa yang kamu katakan pada suamiku untuk meminta izin?” tanya Emiko.“Aku hanya mengatakan akan menculikmu untuk

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status