LOGINMerasa bersalah terhadap Zayn sekaligus merasa tidak ada harapan ketika melihat laki-laki itu tidak menanggapi teriakannya, Emiko berusaha melepaskan diri dari Roy. Namun, tenaganya tidak cukup kuat untuk melawan cengkeraman sutradara jahat itu.
Herannya, semua karyawan hotel bersikap seolah-olah tidak melihat ada sesuatu yang salah. Mereka semua bekerja seperti biasa, bahkan saat terdengar suara teriakan minta tolong yang menggema di lobby hotel. “Simpan tenagamu untuk melayaniku! Aku sudah membayar mereka semua untuk diam.” Roy berkata. “Hei! Kamu sudah salah sangka! Aku tidak menjual tubuhku! Aku bisa menuntutmu jika terus memaksaku seperti ini!” teriak Emiko sebelum mereka sampai di depan pintu lift. “Silakan saja menuntutku! Kita lihat nanti pemenangnya!” cemooh Roy membuat Emiko semakin panik. “Aku ini wanita baik-baik dan bukan artis! Aku tidak perlu belajar apa pun darimu!” sergah Emiko. Roy mendekatkan diri dan berbisik di telinga Emiko, “Justru wanita baik-baik itu yang paling indah untuk dinikmati. Oh! Aku bisa membayangkan warna merah muda di bawah sana yang sudah basah. Sungguh aku tidak sabar ingin mendengarmu mendesah! Ayo! Bergegaslah! Kita akan melakukannya dengan cepat.” “Jangan mimpi! Lepaskan aku!” pekik Emiko sampai menjatuhkan diri di lantai agar Roy kesulitan menariknya. “Hei! Kamu tidak perlu khawatir! Walaupun baru pertama kali, aku jamin kamu tidak akan merasa sakit. Aku sudah pengalaman,” ujar Roy. Tidak kehilangan akal, Roy segera menggendong Emiko ala bridal dan membawanya masuk ke dalam lift. Tidak sulit bagi Roy yang memiliki tubuh kekar untuk menahan tubuh mungil Emiko yang sedang meronta. Itu justru membuat bagian bawahnya bergejolak ingin segera mendapatkan kepuasan seperti yang ada di dalam imajinasinya. Roy tersenyum penuh kemenangan ketika pintu lift hendak menutup. Sedangkan Emiko yang putus asa semakin meronta dan berteriak sekuat tenaga. Di tengah situasi yang menakutkan bagi Emiko, tiba-tiba ada tangan yang menahan pintu lift hingga kembali terbuka. “Maaf, gadis itu milikku.” Itu suara Zayn. Seketika suasana menjadi hening. Roy tercengang mendapati seseorang berniat menolong perempuan yang akan dia bawa ke kamar. Pun Emiko tertegun ketika suara tegas milik Zayn memasuki indera pendengarannya. Tak ingin membuang waktu, Zayn segera mengambil alih tubuh Emiko dan menurunkannya agar mereka bisa berlari bersama-sama. “Siapa saja yang mendengarku! Kejar mereka!” perintah Roy saat menyadari arah pandang laki-laki tampan itu nyata dan tertuju padanya. Tatapannya tajam dan tidak menyenangkan. Zayn dan Emiko beruntung karena ada rombongan yang baru saja datang untuk check in sehingga semua petugas sedang sibuk menyambut. Kebetulan orang-orang Roy tidak ada yang berkeliaran di area lobby hotel. “Terima kasih sudah menolongku! Di sana ada taxi. Aku bisa langsung pulang,” ucap Emiko membuat Zayn memutar bola matanya malas. “Ikut aku!” ajak Zayn yang masih belum melepaskan tangannya dari tangan Emiko. “Tidak. Sudah cukup pertolonganmu,” tolak Emiko bersikeras. Alih-alih membiarkan gadis itu pergi, Zayn justru memaksa Emiko masuk ke dalam mobilnya. “Jangan berani-berani keluar dari mobil ini kalau kamu tidak ingin mendesah di bawah tubuh Roy!” Zayn mengancam. Laki-laki itu lantas setengah berlari menuju ke sisi pengemudi. Tepat ketika dia menyalakan mesin dan melajukan kendaraan, orang-orang Roy baru saja keluar dari pintu utama untuk mengejar Emiko. Zayn mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi dan berbelok ke segala arah menurut intuisinya. “Hei! Kamu akan membawaku ke mana?” tanya Emiko ketika mereka sudah jauh. “Apa kamu masih memikirkan tujuan kita? Orang-orang Roy bisa menemukanmu!” jawab Zayn. “Kita sudah jauh dari mereka. Kamu bisa memperlambat laju kendaraan!” ujar Emiko. Zayn melihat melalui kaca spion untuk memastikan. Dia lantas memperlambat laju kendaraan ketika merasa sudah aman. “Maaf. Aku sudah salah sangka dengan mengira kamu adalah seorang artis,” ucap Zayn. Emiko mengernyit sesaat, lalu mengangguk. “Aku tadi juga mengira kamu adalah artis papan atas,” jawab Emiko tertawa kecil. “Ke mana aku harus mengantarmu?” tanya Zayn membuat situasi tetap serius. “Aku sebenarnya bisa naik taxi ….” “Aku bukan orang yang suka melakukan pekerjaan setengah-setengah. Jadi, katakan saja di mana rumahmu!” potong Zayn tidak sabar. Emiko menatap kesal ke arah Zayn, lalu menunjukkan arah menuju ke rumahnya. Laki-laki itu benar-benar mengantarnya dengan selamat sampai tujuan. “Terima kasih!” ucap Emiko sebelum turun dari mobil. “Jaga dirimu baik-baik! Orang-orang Roy mungkin akan mencarimu,” ujar Zayn memperingatkan. “Ya, aku tahu,” sahut Emiko yang buru-buru keluar dan menutup pintu. “Ck! Dasar perempuan aneh,” gerutu Zayn. Laki-laki itu melihat ke sekitar rumah Emiko untuk memastikan keadaan aman. Dia lantas kembali melajukan kendaraan dan berhenti di sebuah cafe yang kebetulan tidak terlalu jauh. Di sana sudah ada Dhefin dan Tama, rekan kerja sekaligus sahabat Zayn. “Hai, sobat!! Bagaimana rasanya menjadi pemeran utama?” Dhefin memberi salam. Zayn hanya memutar bola matanya dan segera memesan caramel hazelnut. “Ada masalah apa?” tanya Tama yang melihat temannya buru-buru menyalakan laptop. “Aku tadi berhasil memasang alat penyadap di tas milik Roy dan Kaila. Aku ingin mendengar pembicaraan mereka,” jawab Zayn. “Siapa Roy?” tanya Tama. “Siapa Kaila? Apa mereka sepasang kekasih?” sambung Dhefin. “Sutradara dan kekasihnya. Hm, mungkin Kaila itu asisten sutradara. Entahlah!” jawab Zayn tidak yakin. “Apa kamu mencurigai mereka sebagai pelaku utama?” Dhefin kembali bertanya. “Aku mencurigai semua orang.” Zayn menjawab sambil memasang alat penyuara telinga dan mulai mendengarkan. Dia bahkan mengabaikan kedatangan seorang pelayan cafe yang menyajikan minuman kesukaannya. Dhefin dan Tama saling berpandangan. Mereka lalu kembali fokus pada ponsel masing-masing. “Ahhh … Roy!” Terdengar suara seorang wanita mendesah. Tunggu dulu! Zayn yang tadinya sudah mau melepaskan alat penyuara telinga karena merasa jijik kembali menajamkan pendengaran. Itu bukan suara desahan yang penuh gairah, melainkan suara seseorang yang sedang kesakitan. Laki-laki itu berpikir, apa Roy mungkin menyiksa Kaila? “Kamu tahu aku sangat menginginkan perempuan itu! Mengapa kamu melepaskan dia?!” teriak Roy. Benar! Roy sedang marah. Zayn berkata sendiri di dalam hati. “Aku tahu dan bukan sengaja melepaskannya. Pemeran utama pria yang membawanya pergi. Kamu bisa memeriksanya melalui CCTV!” jelas Kaila lirih. “Argh! Apa yang bisa aku harapkan darimu? Mengurus wanita yang sudah mati saja tidak bisa, apalagi dia yang masih hidup,” keluh Roy. “Bukankah kamu yang meniduri wanita itu sebelum kita syuting? Aku bahkan tidak berpikir wanita itu akan meninggal!” seru Kaila tidak terima. “Apa kamu ingin aku bunuh? Mengapa kamu bicara sangat keras?” Roy berteriak marah. “Mengapa kamu terus menyalahkan aku setiap kali wanita yang kamu tiduri meninggal dunia?!” Kaila terisak. Zayn mengernyit. Dia ingat seorang wanita yang mendesah di kamar paling ujung. Apa wanita itu sudah tidak bernyawa? Dengan lincah jari-jarinya meretas CCTV hotel tempat dia syuting. “Astaga! Apa dia wanita itu?” lirih Zayn. Laki-laki tampan itu melihat seseorang membawa sesuatu di punggungnya yang ditutup dengan selimut putih. Jelas dia ingat seseorang melewati dirinya ketika sedang menunggu Emiko di dekat pintu kamar.Zayn memutuskan untuk menuruti perkataan Emiko karena bagaimanapun gadis itu sudah dewasa dan tahu yang terbaik untuk dirinya sendiri. Akan tetapi, laki-laki tampan yang berpenampilan cukup berantakan akibat melawan Roy sebelumnya itu hanya diam.“Zayn,” panggil Emiko setelah beberapa saat suasana hening menyelimuti keduanya.“Hm,” gumam Zayn untuk menanggapi.“Terima kasih sudah menolongku,” ucap Emiko lirih.Lagi-lagi Zayn hanya berdeham seakan enggan bicara lebih banyak.“Tadinya aku berpikir waktuku di bumi ini sudah berakhir dan seseorang yang masuk dari pintu itu adalah malaikat pencabut nyawa. Tidak aku sangka, ternyata itu kamu,” sambung Emiko seraya tertawa sumbang.Zayn menatap Emiko dari arah kaca spion sambil berdecak, “Kamu bicara seolah-olah kecewa karena aku bukan malaikat pencabut nyawa.”“Bukan begitu. Ah! Sudahlah! Apa yang bisa kuharapkan darimu?” jawab Emiko masih dengan suara pelan.“Apa kamu berharap aku akan bercanda di situasi seperti ini?” tanya Zayn.“Jangan
“Ada apa?” tanya Dhefin setelah Zayn mengajukan beberapa pertanyaan yang lain dan memutuskan sambungan telepon.“Roy menyamar menjadi seorang klien dan Emiko sedang menemuinya sekarang,” jawab Zayn.“Kalau begitu, kita harus menyusulnya. Apa lagi yang kamu pikirkan?” tanya Tama seraya buru-buru mematikan mesin mobil.“Tidak bisa! Di dalam ada orang lain yang masih berkonsultasi. Pak Danu memberi kita kuasa untuk menangkap Roy, dengan syarat tidak boleh ada kekacauan,” jawab Zayn bingung.“Kita lakukan saja dengan tenang … seperti biasa,” sela Dhefin dengan gerakan tangan yang menunjuk ke arah leher.Benar! Seperti yang pernah disinggung sebelumnya, para anggota Tthree memang cukup kejam ketika membereskan masalah. Tentu saja, itu kalau diperlukan. Namun, mereka tidak ingin disebut sebagai kelompok mafia.Zayn, Dhefin, dan Tama pada dasarnya orang-orang yang baik. Hati mereka hanya mudah tergugah ketika melihat sesuatu yang tidak benar.Untuk kasus Roy, semua bisa saja terjadi tergantu
“Aku bisa menghadirkan seseorang yang akan mengatakan bahwa Roy sudah tidur dengan banyak gadis,” ujar Zayn dengan tenang. Dia masih berusaha untuk menyulut agar wanita itu bisa bicara lebih banyak.“Tidak! Aku sudah memastikan kalau Roy hanya pernah tidur denganku,” jawab Zanna masih dengan penuh emosi.“Apa kamu yakin?” tanya Zayn. Dia meletakkan sebuah alat berukuran kecil di atas meja dan melihat ke arah wanita itu sebelum berniat menyalakannya.Jelas Zanna tahu benda itu dan dia memandang ke arah Zayn dengan tatapan bertanya-tanya.“Pengalamanku mengatakan, seseorang yang sangat menyukai para gadis akan dengan mudah mencampakkan mereka yang sudah berhasil dimilikinya. Aku rasa Roy juga sama. Dia pasti mengabaikan para wanita yang sudah pernah tidur dengannya,” sambung Zayn sengaja menyakiti hati Zanna.“Tidak! Roy tidak mengabaikanku!” pekik Zanna.Tidak ingin berlama-lama, Zayn menekan tombol pada alat rekaman yang dia letakkan di atas meja.Bagai kilas balik yang membuka luka h
Suara klakson mobil yang saling bersahutan membuat Emiko kebingungan sendiri. Pasalnya, tiga orang laki-laki yang bersamanya tadi sedang mengejar Roy dan meninggalkan mobil di tengah jalan begitu saja.Tak ingin dimaki-maki para pengemudi lebih lama lagi, Emiko bergegas melompat ke kursi bagian supir dan menepikan kendaraan. Sesudah merasa aman, dia kembali duduk di bangku penumpang bagian belakang. Tidak lupa, gadis itu mengunci mobil tanpa mematikan mesinnya.Kaburnya Roy jelas membuat Emiko khawatir. Di tengah kesendiriannya, gadis itu memikirkan semua perkataan para anggota Tthree. Dia masih belum bisa merangkai situasi yang sedang terjadi sampai kasus pembunuhan yang sempat didengarnya tadi. Akan tetapi, menurut pemikirannya, sutradara jahat itu tidak mungkin hanya sekadar ingin menculik dan membunuh.“Apa Roy membunuh semua gadis yang sudah tidur dengannya? Jangan-jangan aku menjadi target pembunuhan selanjutnya,” ujar Emiko pada dirinya sendiri. Gadis itu lantas menggeleng kera
Pengakuan tidak terduga yang dilakukan oleh Zanna jelas mempermudah pekerjaan para anggota Tthree.Beruntung Tama berhasil meletakkan beberapa alat penyadap di kamar yang biasa ditempati oleh Roy sebelum orang-orang yang menculik Emiko tiba di hotel. Jadi, semua pembicaraan dapat direkam dengan baik oleh Zayn, sang ahli IT yang kadang-kadang kemampuannya melebihi nalar.Awalnya, Zayn tidak berencana untuk membawa tim dari kepolisian. Akan tetapi, demi melindungi Emiko, para anggota Tthree sepakat untuk bekerja sama dengan pihak berwajib. Tidak disangka, mereka justru mendapatkan tangkapan yang lebih besar.Setelah membuat kehebohan di lokasi syuting, kini kendaraan yang ditumpangi oleh Zayn dan kedua sahabatnya sedang dalam perjalanan mengikuti mobil polisi. Tidak lupa, Emiko yang masih dalam keadaan tertidur juga ada bersama mereka. Rencananya, tim Tthree akan mengantarkan gadis itu pulang ke rumah.“Perasaan, baru saja aku menikmati peranku menjadi orang tolol di area syuting. Sekar
Sore hari di area pusat kota.Emiko yang kebetulan dijemput oleh supir, mendadak merasa gelisah sampai dia berulang kali mengedarkan pandangan ke sekitar. Hingga beberapa saat kemudian gadis itu menyadari kalau seseorang sedang mengikutinya dengan menggunakan motor.“Pak Adi, kita sedang diikuti,” ujar Emiko seraya menoleh ke belakang mobil. Raut wajah gadis itu sangat panik, apalagi ketika pemilik motor sempat berhenti di sisi samping kiri dan memperhatikan dirinya.Ya! Walaupun pemilik motor menggunakan kacamata hitam, tetapi Emiko dapat merasakan sorot tajam matanya.“Jalanan sedang macet. Semua kendaraan berdesakan berharap bisa saling mendahului. Maafkan kelancangan saya, Non. Namun, rasanya tidak mungkin ada yang berniat mengikuti kita. Mungkin kebetulan saja perjalanan mereka searah,” jawab Pak Adi.“Apa Pak Adi melihat seseorang mengenakan kostum serba hitam di sebelah … kiri?” tanya Emiko seraya menoleh. Namun, yang dibicarakan sudah tidak ada.“Tidak, Non. Bapak fokus meliha







