Inicio / Romansa / One Two Three and Action / Pengakuan Tidak Terduga

Compartir

Pengakuan Tidak Terduga

Autor: Adelia17
last update Fecha de publicación: 2026-09-03 21:59:56

Sore hari di area pusat kota.

Emiko yang kebetulan dijemput oleh supir, mendadak merasa gelisah sampai dia berulang kali mengedarkan pandangan ke sekitar. Hingga beberapa saat kemudian gadis itu menyadari kalau seseorang sedang mengikutinya dengan menggunakan motor.

“Pak Adi, kita sedang diikuti,” ujar Emiko seraya menoleh ke belakang mobil. Raut wajah gadis itu sangat panik, apalagi ketika pemilik motor sempat berhenti di sisi samping kiri dan memperhatikan dirinya.

Ya! Walaupun pemilik motor menggunakan kacamata hitam, tetapi Emiko dapat merasakan sorot tajam matanya.

“Jalanan sedang macet. Semua kendaraan berdesakan berharap bisa saling mendahului. Maafkan kelancangan saya, Non. Namun, rasanya tidak mungkin ada yang berniat mengikuti kita. Mungkin kebetulan saja perjalanan mereka searah,” jawab Pak Adi.

“Apa Pak Adi melihat seseorang mengenakan kostum serba hitam di sebelah … kiri?” tanya Emiko seraya menoleh. Namun, yang dibicarakan sudah tidak ada.

“Tidak, Non. Bapak fokus melihat ke depan,” jawab Pak Adi. Diam-diam supir keluarga Emiko yang sudah bekerja puluhan tahun itu ikut memperhatikan sekitar dari kaca spion.

Emiko mengedarkan pandangan ke arah kiri dan ke kanan, tetapi tidak menemukan seseorang yang dilihatnya tadi. Gadis itu menghela napas pelan, antara merasa lega dan masih khawatir.

“Pak Adi tetap waspada dan minta tolong hati-hati!” ujar Emiko.

“Baik, Non. Di depan jalan sudah lancar, Bapak akan belok ke kanan untuk melewati jalan alternatif,” jawab Pak Adi.

Emiko diam sambil sesekali masih menoleh ke belakang, memastikan tidak ada lagi yang mengikutinya.

Kalau dipikir-pikir, sejak kemarin sore, gadis itu sudah merasa seperti ada yang mengawasi dan mengikuti. Akan tetapi, dia mengabaikannya karena tidak melihat sesuatu yang mencurigakan. Pun seharusnya tidak ada musuh yang mengincar dirinya.

Setelah menghela napas berulang kali, Emiko memutuskan untuk menenangkan diri dengan menatap lurus ke arah jalanan.

Kini kendaraan sudah berhasil keluar dari area macet dan bisa melaju dengan nyaman.

Tidak berselang lama, tiba-tiba motor yang tadi sempat dilihat oleh Emiko berhenti di depan mobil hingga membuat Pak Adi mengerem mendadak.

“Maaf, Non!” ucap Pak Adi berulang kali.

“Itu motor yang tadi aku lihat, Pak!” seru Emiko, “kita lewati saja!”

“Baik, Non!” sahut Pak Adi.

Belum sempat mobil melaju, Emiko dikejutkan dengan suara ketukan dari arah pintu di sebelahnya. Tentu saja gadis itu tidak akan membukakan.

“Cepat! Jalan, Pak!” teriak Emiko panik.

“Tidak bisa, Non,” jawab Pak Adi dengan nada suara bergetar.

Mendengar jawaban Pak Adi, Emiko praktis melihat ke arah depan. Betapa terkejutnya dia ketika menyadari mobil sudah dikepung.

“Buka pintunya sebelum kaca mobil saya pecahkan!” teriak seseorang berpakaian serba hitam.

Emiko menggeleng sambil menekan sembarang nomor telepon di ponselnya. Tidak disangka, gadis itu ternyata menghubungi nomor Zayn.

“Halo!” Emiko buru-buru menyapa ketika mendengar suara seorang laki-laki menyahut.

“Siapa ini?” Zayn menyahut. Jelas dia tidak pernah menyimpan nomor gadis itu.

“Emiko. Aku sedang dalam bahaya. Beberapa orang sepertinya hendak menculikku,” ujar Emiko semakin panik ketika melihat seseorang sudah mengayunkan tongkat dan memukul bagian kaca depan mobil.

“Ikut saja! Aku yakin mereka tidak akan betah menculik seorang gadis sepertimu,” jawab Zayn membuat Emiko praktis terbelalak.

“Hei! Aku serius ….”

“Aku juga.”

Emiko melihat ke arah layar ponsel dan dadanya semakin bergemuruh.

“Dengar, Zayn! Aku pasti telah melakukan kesalahan ketika menyimpan nomormu di dalam ponselku. Akan tetapi, saat ini aku benar-benar sedang berada di dalam bahaya. Kamu tahu alamat rumahku, bukan? Bertemulah dengan papaku! Ponselku ini memiliki alat penyadap. Ah!” teriak Emiko ketika seseorang tiba-tiba menariknya keluar dari mobil.

Gadis itu sempat meronta sejenak. Namun, pandangannya mendadak kabur dan tubuhnya lemas ketika indera penciumannya mengenai sebuah saputangan yang sudah diberi obat bius.

***

Sementara itu, Zayn yang tadinya tidak ingin peduli dan hendak memutuskan sambungan telepon seketika menajamkan telinga saat mendengar seseorang menyebutkan nama sutradara yang tidak asing.

“Apa kamu yakin? Gadis itu sangat cantik! Tubuhnya terawat. Kita bisa bersenang-senang ….”

“Tuan Roy menyukai seorang gadis. Kita hanya perlu mengambil hatinya agar tidak perlu repot mencari wanita yang hilang itu.” Seseorang berkata.

“Baiklah! Kami akan mematuhi perkataanmu.” Seseorang yang lain menjawab.

“Kita langsung bertemu di hotel!” ujar seseorang sebelum Zayn mendengar suara kendaraan melaju pergi.

Tanpa memutuskan sambungan telepon, Zayn segera menghubungi kedua temannya melalui penyuara telinga dan memberi tahu keadaan Emiko. Mereka menyusun sebuah rencana.

***

Sekitar satu setengah jam kemudian, di sebuah kamar hotel yang biasa ditempati oleh Roy.

“Bagaimana kalian bisa menemukan gadis itu?” tanya Roy dengan raut wajah berbinar.

“Kami tidak perlu menceritakan kesulitan di luar sana. Sebagai gantinya, kami mohon agar Tuan berhenti mencari wanita sebelumnya,” jawab Jeff, orang kepercayaan Roy.

“Terserah kamu saja!” sahut Roy.

Jeff melirik ke arah teman-temannya seraya mengulum senyum. Dia lalu pamit, “Kami akan menjaga di luar.”

“Setelah urusanku selesai dengan gadis itu, kalian bisa membawanya kembali,” ujar Roy.

Jeff dan teman-temannya membungkuk. Mereka kemudian melangkah keluar dan berdiri di depan pintu.

Roy tidak bisa menyembunyikan rasa senang di hatinya. Sembari memandangi Emiko yang masih tertidur akibat obat bius yang dihirupnya, dia mulai membuka kancing kemeja.

Ketika Roy hendak menyentuh Emiko, tiba-tiba pintu kamarnya dibuka. Seorang wanita dengan raut wajah beringas melangkah cepat dan menampar sang sutradara.

“Dasar laki-laki buaya! Tidak pernah puas meniduri banyak gadis, huh!” Zanna berteriak, memukuli, dan menarik rambut Roy. Sungguh malang, laki-laki itu tidak sempat menghindar.

“Berhentilah, Zanna!” seru Roy.

“Laki-laki tidak punya hati sepertimu memang pantas menerima pukulan ini! Butuh berapa nyawa lagi yang harus melayang agar kamu mau melihat ke arahku, Roy?” Zanna masih tidak berhenti berteriak.

“Zanna, apa maksudmu?” tanya Roy.

Zanna mematung dan melirik ke arah Emiko. Dia lalu tertawa sinis sambil berkata, “Apa hatimu dibutakan oleh nafsu? Sudah kukatakan kalau gadis itu tidak memiliki tubuh yang indah. Lihat saja dadanya yang rata! Apa kamu masih menginginkannya?”

Roy menoleh ke arah Emiko yang masih terlelap. Sejujurnya, dia sudah tidak menginginkan gadis itu lagi. Seluruh tubuhnya kesakitan dan perih akibat ulah Zanna.

“Kenapa kamu selalu mencampuri urusanku? Kita hanya rekan kerja,” ujar Roy.

“Apa aku perlu membunuh dia di depan matamu agar kamu sadar, Roy?!” Zanna kembali berteriak.

Roy terpaku memandang ke arah Zanna dengan tatapan tidak percaya. Hingga sepersekian detik kemudian laki-laki itu berkata, “Jadi, kamu yang membunuh semua gadis itu?”

“Iya! Aku membunuh mereka semua agar bisa menganggap tubuhmu hanya milikku seorang,” jawab Zanna masih penuh emosi.

“Astaga, Zanna! Apa kamu tidak takut dosa?” tanya Roy terkejut.

“Bagaimana denganmu?” Zanna membalas cepat.

“Gila kamu, Zanna!” pekik Roy frustasi.

“Kamu yang membuatku menjadi gila, Roy!” jawab Zanna ikut berteriak histeris.

“Whoa! Kalian memang artis yang hebat.” Tiba-tiba Zayn masuk ke dalam kamar sambil bertepuk tangan.

“Hei! Bagaimana kamu bisa berada di dalam kamarku?” tanya Roy terperanjat. Laki-laki itu segera menoleh ke arah pintu dan semakin terkejut ketika melihat semua anak buahnya sudah pergi.

“Kenapa tidak bisa?” balas Zayn dengan senyum merekah.

Roy dan Zanna memberontak ketika para polisi datang untuk menangkap mereka.

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • One Two Three and Action   Menghibur Eleni

    “Bali? Kamu serius akan mengajakku ke Bali? Whoa! Mimpi apa aku semalam?” tanya Eleni gembira.“Benarkah? Mengapa kamu tidak mengatakannya padaku?” Emiko ikut bertanya.Tanpa banyak bicara, Zayn hanya menunjukkan layar ponsel yang menampilkan e-tiket perjalanan ke Bali dengan business class.“Ck! Boros sekali! Bali itu dekat. Mengapa harus kelas bisnis?” ujar Eleni menyembunyikan rasa senangnya.“Agar aku bisa duduk berduaan dengan Emiko,” jawab Zayn menarik dagu istrinya paksa dan mencium bibirnya.“Astaga! Apa aku akan menjadi obat nyamuk! Pastikan aku mendapat kamar hotel dengan dinding yang tebal agar tidak mendengar suara-suara kalian saat bermesraan!” ujar Eleni sambil mengipasi wajahnya yang merona.Zayn dan Emiko hanya tertawa geli untuk menanggapi.“Kapan kita berangkat? Aku harus menyelesaikan pekerjaan dulu,” tanya Emiko.“Besok pagi. Hm, kita mungkin harus membawa pekerjaan ke sana. Liburan kali ini khusus untuk menghibur Eleni,” jawab Zayn.“Wah! Mengharukan! Terima kasih

  • One Two Three and Action   Dasar Suami dan Istri!

    “Zayn, kamu tadi juga melihatnya, bukan? Apa Riko tadi kesandung sesuatu? Apa yang membuatnya terpental? Aku hanya mendengar suara teriakan peringatan yang membuatku menoleh, lalu melihat seseorang berputar sampai tergeletak di lantai dan tidak bisa bangun lagi. Kejadiannya secepat cahaya. Sungguh membingungkan,” ujar Eleni menyambung perkataannya.Gadis itu masih mengunyah seraya menampilkan raut wajah kebingungan.“Entahlah. Aku hanya fokus pada Brian yang tiba-tiba mengeluarkan benda tajam. Untungnya tidak mengenaimu,” jawab Zayn masih melirik ke arah istrinya yang tetap diam.“Bagaimana keadaannya sekarang? Apa tadi kamu memanggil ambulans untuk menolong Riko?” tanya Eleni membuat Emiko bernapas lega karena pembicaraan telah teralihkan.Mata elang Zayn melihat respons Emiko, tetapi pertanyaan Eleni membuatnya refleks menjawab, “Apa kamu masih mengkhawatirkan laki-laki itu?”“Tidak tidak! Hm, aku hanya … takut kita akan disalahkan,” jawab Eleni lirih.“Aku sudah mengurus semuanya.

  • One Two Three and Action   Sabuk Hitam

    “Perempuan gila! Apa kamu siluman? Tiba-tiba datang tak diundang. Jangan kamu kira aku akan takut! Pergi sana! Jangan ikut campur masalah kami!” Dengan susah payah dan dalam keadaan terbaring di atas aspal, Riko berteriak memaki Emiko.Tubuhnya terasa seperti sudah tidak pada tempatnya lagi. Sakit bukan gambaran yang tepat karena laki-laki itu merasa sedang berada di ambang kematian dan hidup.“Huft!” Emiko meniup poninya dan memutar bola matanya malas. “Dasar licik! Bisanya main sembunyi-sembunyi untuk menyerang dari belakang. Bangunlah kalau masih mampu!”“Argh! Siapa kamu! Aku akan menuntutmu atas serangan yang kamu lakukan.” Riko masih saja marah walaupun badannya sulit digerakkan.“Tuntut saja! Siapa takut?” jawab Emiko.Di sisi lain, Zayn sudah berhasil membuat Brian melepaskan benda tajam yang dibawanya. Laki-laki itu mendadak lemas saat melihat Riko tidak berdaya. Pun dia lupa tujuannya ingin menyakiti Eleni.“Riko! Bangun, woi! Bercandamu tidak lucu!” Brian berjalan perlahan

  • One Two Three and Action   Tujuan Brian

    Raut wajah terkejut yang sangat kentara itu membuat kemarahan Eleni kembali memuncak.“Eleni? Mengapa kamu ada di sini?” Brian buru-buru mendekati gadis yang dikiranya masih berstatus sebagai kekasih itu.Eleni buru-buru mundur dan mengangkat kedua tangannya. “Stop! Cukup jelaskan dari posisimu itu, mengapa kamu menjalin hubungan denganku? Berapa upah yang kamu dapatkan dari laki-laki itu untuk membalas dendam?”“Sayang! Ayolah! Jangan menuduhku begitu!” ujar Brian membuat gadis itu seketika bergidik.“Jangan berani memanggilku dengan sebutan sayang! Itu menjijikkan!” jawab Eleni dengan tatapan tajam.“Baiklah!” Brian masih saja berusaha melangkah perlahan untuk mendekati gadis itu.“Aku bilang berhenti! Jangan mendekatiku!” teriak Eleni histeris.“Eleni, tenangkan dirimu! Mari kita bicara di unit apartment milik Riko! Bisa kamu lihat, di sini ada banyak orang,” jawab Brian seraya mengedarkan pandangan ke sekitar. Akan tetapi, laki-laki itu segera menghentikan perkataannya, karena ter

  • One Two Three and Action   Ketika Zayn Turun Tangan

    “Zayn?!”Emiko dan Eleni kompak melebarkan netranya karena sangat terkejut dengan kehadiran laki-laki itu.“Jangan bergerak dan jangan turun dari mobil! Aku akan duduk di bangku penumpang bagian belakang,” ujar Zayn dengan tatapan tajam ke arah Eleni yang seakan telah lupa caranya berkedip.Pun Emiko sampai belum menutup mulutnya yang sedikit terbuka sambil mengikuti arah pergerakan Zayn.Hanya dalam hitungan detik, Zayn sudah duduk di bangku penumpang bagian belakang dan segera bergeser ke tengah.“Zayn ….”“Apa yang kalian lakukan di sini?” tanya Zayn dengan tatapan ke arah Eleni, karena gadis itu yang tadi sudah mengirimkan pesan untuk meminta izin.“Aku … itu ….” Tatapan Zayn yang mengintimidasi membuat Eleni tidak bisa berkata-kata.“Zayn, kami sedang mengintai ….”“Riko. Apa kamu mengabaikan peringatan Oma Rosa?” Zayn masih saja menatap Eleni dengan raut wajah marah.“Bukan begitu ….”“Zayn, tolong dengarkan penjelasan kami dulu!” ujar Emiko berusaha menengahi pembicaraan antara

  • One Two Three and Action   Kalian Ketahuan!

    Emiko sudah terbiasa melihat seseorang yang tadinya terlihat tenang, berubah menjadi penuh emosi. Jadi, dia sama sekali tidak terpengaruh oleh kilat kemarahan Eleni saat menceritakan secara detail tentang kekasihnya itu.“Makanan ini terlalu lezat untuk dinikmati dengan hati yang kesal. Makanlah terlebih dahulu! Setelah perut kenyang, pikiran akan bekerja dengan baik.” Emiko berkata.Perlu waktu sebentar bagi Eleni untuk menenangkan diri, sebelum gadis itu melanjutkan makan.“Apa kamu pernah menangani kasus rumit seperti yang aku alami?” tanya Eleni.“Banyak yang lebih rumit. Meskipun begitu, aku tidak bisa mengatakan bahwa masalah yang kamu alami ini sepele atau tidak, sebab setiap orang memiliki batas kerumitan masing-masing,” jawab Emiko.Eleni hanya mengangguk-angguk sambil berusaha mengeluarkan tulang ikan yang tidak sengaja ikut masuk ke dalam mulut.“Ngomong-ngomong, apa yang kamu katakan pada suamiku untuk meminta izin?” tanya Emiko.“Aku hanya mengatakan akan menculikmu untuk

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status