LOGINHampir satu tahun lamanya sejak Zayn dan kedua temannya mendapat informasi tentang keluarga-keluarga yang kehilangan anak gadisnya.
Laporan dari enam keluarga itu hanya diterima dan kesibukan membuat seolah-olah kasus ditutup tanpa penyelesaian. Situasi tersebut menggugah hati para anggota Tthree untuk mencoba menyelesaikannya. Tidak disangka, kasus yang kelihatannya mudah itu ternyata membutuhkan banyak energi dan pikiran. Zayn diam selama beberapa waktu. Pun kedua temannya menunggu tanpa menyentuh ponsel dan hanya bisa bernapas sepelan mungkin agar tidak mengganggu konsentrasi ketua tim mereka. “Tidak ada cara lain.” Tiba-tiba Zayn berbicara. Dhefin dan Tama mengangguk penuh antusias untuk mendengarkan rencana sahabatnya. Zayn perlahan menatap kedua temannya bergantian, lalu kembali berkata, “Salah satu di antara kalian harus kembali ke sana untuk mencari lebih banyak informasi.” Dhefin menghempaskan tubuhnya di atas kursi yang ada di samping kanan Zayn, sedangkan Tama mengusap wajahnya kasar. “Sudah kuduga. Firasatku buruk mengenai hal ini. Apa kamu benar-benar ingin kami kembali ke sana?” tanya Tama keberatan. “Salah satu dari kita saja,” sela Dhefin memperbaiki kalimat Tama. “Seandainya kalian berdua bisa berada di sana bersama-sama maka itu akan lebih baik. Kita mungkin akan mendapatkan dua kali lipat bukti atau informasi,” sambung Zayn. “Kamu memiliki wajah lebih tampan dan cocok menjadi pemeran pengganti,” sahut Dhefin. “Terima kasih. Akan tetapi, kali ini aku tidak menyukai pujianmu,” ucap Tama. “Randi seharusnya tiba hari ini. Dia yang akan menjadi pemeran utama. Jadi, kalian bisa melamar untuk menjadi salah satu tim mereka yang bisa mengerjakan semua hal. Aku rasa, posisi itu justru akan lebih memudahkan kalian untuk mencari segala informasi,” ujar Zayn bersemangat. “Oh! Kedengarannya tugas kami tidak mudah,” keluh Tama. “Apa hanya aku yang ingin kasus ini cepat selesai? Sejak kapan pekerjaan kita terasa mudah?” tanya Zayn sambil memandangi kedua sahabatnya bergantian. Sungguh sikap mereka sangat menjengkelkan! “Tidak! Bukan begitu maksudku. Maaf!” sahut Tama dengan cepat menyadari kesalahannya. “Maksudku ….” “Aku tidak akan pernah bersantai seorang diri. Kalian tahu itu!” Zayn memotong perkataan Dhefin dengan marah. Hening. Baik Dhefin maupun Tama tahu bahwa selama ini hanya Zayn yang tidak pernah tinggal diam. Walaupun mereka berdua ditugaskan untuk suatu pekerjaan, laki-laki tampan yang selalu memimpin tim itu akan melakukan sesuatu yang istilahnya berada di balik layar. Meskipun demikian, sikap menyebalkan yang ditunjukkan oleh Dhefin dan Tama bukan tanpa alasan. Mereka baru saja menyelesaikan misi dan berharap bisa istirahat sejenak. Namun, tiba-tiba Zayn memutuskan untuk menyelesaikan pekerjaan yang lain. Tidak hanya itu! Mereka memandang Zayn seolah-olah sedang mengalihkan tugas. “Baik, aku akan melamar pekerjaan sebagai salah satu tim mereka. Kamu atur saja!” Dhefin memilih untuk mengikuti keinginan Zayn. “Aku ikut!” sahut Tama tidak ingin tertinggal. “Apa kalian yakin? Tidak ada upah untuk pekerjaan ini.” Zayn berkata dengan nada kesal. “Apa pun itu asal misi ini cepat selesai,” jawab Dhefin. “Berjanjilah kamu akan membiarkan kami istirahat setelah semua pertanyaanmu tadi terjawab,” sambung Tama. Diam-diam Zayn tersenyum tipis. Dia senang teman-temannya kembali bersemangat. Sebenarnya, bukan hanya mereka yang ingin istirahat, dia pun ingin menjenguk mamanya di Pulau Bali. Tidak ingin membuang waktu lagi, Zayn segera menghubungi Randi untuk menanyakan cara menjadi tim pembuatan film yang sedang dibintanginya. *** Malam hari di kediaman orang tua Emiko. Dengan enggan Emiko mengayunkan langkah menuju ke halaman belakang rumahnya. Di sana Felix, papanya, sedang menghabiskan teh bersama Irfan, seorang tamu yang diceritakan oleh Kirani ketika mereka masak bersama sebelumnya. “Hei, Emiko! Kemarilah!” ujar Felix ketika melihat putrinya mendekat. Irfan menoleh ke arah Emiko seraya tersenyum. Kelopak matanya bergerak perlahan mengagumi kecantikan gadis yang baru dikenalnya beberapa jam yang lalu. “Apa Papa mau tambah tehnya?” tawar Emiko. Jelas-jelas Kirani menyuruhnya bergabung dengan Felix dan Irfan agar dia bisa mengenal lelaki itu lebih dekat. Namun, Emiko justru pura-pura menawarkan teh untuk kembali masuk ke dalam rumah. “Tidak perlu. Pembicaraan Papa dengan Irfan sudah selesai. Sekarang kamu bisa temani dia sebentar. Duduklah di sini!” Felix berkata sambil bangkit berdiri. Emiko dengan terpaksa duduk menemani lelaki itu menggantikan posisi papanya. Tidak lupa dia juga memasang raut wajah sangat kesal yang sangat kentara. Kalau sudah selesai bicara, seharusnya dia pulang saja. Mengapa masih di sini? Emiko menggerutu di dalam hati. “Aku sudah lama kenal papamu, tapi baru kali ini bertemu dengan putrinya,” ujar Irfan membuka pembicaraan. “Oh!” sahut Emiko malas. Irfan tersenyum geli melihat raut wajah Emiko. Dia bukannya tidak tahu kalau gadis itu terpaksa duduk di sana. “Kenapa tertawa?” tanya Emiko keheranan melihat lelaki itu menampilkan sederetan gigi putihnya yang rata. “Kamu itu lucu. Ngomong-ngomong, namaku Irfan Callum,” ucap lelaki itu. “Bukankah tadi kamu sudah memperkenalkan diri?” jawab Emiko ketus. Hatinya semakin kesal karena Irfan mengatakan hal yang tidak penting. “Kurang lengkap. Callum berarti merpati,” sambung Irfan. “Oh!” sahut Emiko tidak peduli. “Bagaimana denganmu? Apa namamu memiliki arti?” tanya Irfan. “Apa itu penting?” Emiko balik bertanya dengan nada sinis. “Tentu saja! Orang tuamu tidak mungkin sembarangan memberi nama,” jawab Irfan. “Emiko Royce yang artinya cantik dan makmur,” sahut gadis itu tidak ingin berdebat. “Itu benar! Kamu memang cantik.” Irfan menatap Emiko lekat hingga membuat gadis itu salah tingkah. “Aku rasa pembahasan tentang nama sudah cukup. Apa inti pembicaraan ini?” tanya Emiko tidak ingin berlama-lama. “Apa kamu sudah punya kekasih?” Tidak mau kalah, Irfan langsung mengutarakan rasa penasarannya. Emiko menatap Irfan dengan tidak percaya. Bagaimana laki-laki itu bisa terlalu berterus terang? Apa dia harus jujur atau berbohong agar pria yang sedang duduk di hadapannya bisa segera pergi? Gadis itu merasa privasinya sedang diusik. *** Satu minggu kemudian di sebuah hotel yang selalu menjadi lokasi untuk syuting film. “Siapa nama kamu?” tanya Vika, seorang MUA yang pertama kali bertemu dengan Zayn sewaktu menjadi pemeran pengganti. “Tama.” “Nama yang bagus. Hm, kamu tampan. Kenapa tidak melamar menjadi seorang aktor saja?” puji Vika. Nama Tama sebenarnya hanya nama samaran. Namun, sejak mereka sering melakukan misi rahasia, sahabat Zayn itu seolah-olah sudah melupakan nama asli dan lebih menyukai nama pemberian teman-temannya. “Tidak suka menjadi terkenal. Apa tugasku?” tanya Tama dingin. Vika menatap Tama dengan raut wajah bingung, lalu berkata, “Untuk sementara kamu bisa menjadi asistenku. Coba ke kamar itu dan pastikan semua pemeran memiliki hasil riasan yang bagus!” Tanpa memberikan jawaban, Tama melangkah menuju ke kamar yang ditunjuk oleh Vika untuk melakukan tugas pertamanya. “Bagaimana denganmu? Siapa namamu?” Samar-samar Tama mendengar Vika kembali bertanya. “Theo.” Tama hanya tersenyum miring mendengar Dhefin memperkenalkan diri dengan menggunakan nama samaran. “Tolong bantu untuk merapikan kedua kamar itu! Kita akan melakukan beberapa adegan hari ini. Ah! Jangan masuk kamar yang paling ujung!” perintah Vika. “Kamar paling ujung? Kenapa?” tanya Dhefin penasaran. “Oh! Aku lupa memberi tahu sebuah peraturan penting! Kita bekerja di sini hanya untuk melakukan tugas dan tidak banyak bertanya.” Vika berkata. “Ah! Kamar itu pasti horor,” sahut Dhefin pura-pura bergidik ngeri. “Jangan bicara sembarangan! Itu kamar milik Roy,” jawab Vika sangat pelan. Dhefin tersenyum penuh kemenangan. Satu informasi yang berhasil dia ketahui di hari pertama bekerja.Zayn memutuskan untuk menuruti perkataan Emiko karena bagaimanapun gadis itu sudah dewasa dan tahu yang terbaik untuk dirinya sendiri. Akan tetapi, laki-laki tampan yang berpenampilan cukup berantakan akibat melawan Roy sebelumnya itu hanya diam.“Zayn,” panggil Emiko setelah beberapa saat suasana hening menyelimuti keduanya.“Hm,” gumam Zayn untuk menanggapi.“Terima kasih sudah menolongku,” ucap Emiko lirih.Lagi-lagi Zayn hanya berdeham seakan enggan bicara lebih banyak.“Tadinya aku berpikir waktuku di bumi ini sudah berakhir dan seseorang yang masuk dari pintu itu adalah malaikat pencabut nyawa. Tidak aku sangka, ternyata itu kamu,” sambung Emiko seraya tertawa sumbang.Zayn menatap Emiko dari arah kaca spion sambil berdecak, “Kamu bicara seolah-olah kecewa karena aku bukan malaikat pencabut nyawa.”“Bukan begitu. Ah! Sudahlah! Apa yang bisa kuharapkan darimu?” jawab Emiko masih dengan suara pelan.“Apa kamu berharap aku akan bercanda di situasi seperti ini?” tanya Zayn.“Jangan
“Ada apa?” tanya Dhefin setelah Zayn mengajukan beberapa pertanyaan yang lain dan memutuskan sambungan telepon.“Roy menyamar menjadi seorang klien dan Emiko sedang menemuinya sekarang,” jawab Zayn.“Kalau begitu, kita harus menyusulnya. Apa lagi yang kamu pikirkan?” tanya Tama seraya buru-buru mematikan mesin mobil.“Tidak bisa! Di dalam ada orang lain yang masih berkonsultasi. Pak Danu memberi kita kuasa untuk menangkap Roy, dengan syarat tidak boleh ada kekacauan,” jawab Zayn bingung.“Kita lakukan saja dengan tenang … seperti biasa,” sela Dhefin dengan gerakan tangan yang menunjuk ke arah leher.Benar! Seperti yang pernah disinggung sebelumnya, para anggota Tthree memang cukup kejam ketika membereskan masalah. Tentu saja, itu kalau diperlukan. Namun, mereka tidak ingin disebut sebagai kelompok mafia.Zayn, Dhefin, dan Tama pada dasarnya orang-orang yang baik. Hati mereka hanya mudah tergugah ketika melihat sesuatu yang tidak benar.Untuk kasus Roy, semua bisa saja terjadi tergantu
“Aku bisa menghadirkan seseorang yang akan mengatakan bahwa Roy sudah tidur dengan banyak gadis,” ujar Zayn dengan tenang. Dia masih berusaha untuk menyulut agar wanita itu bisa bicara lebih banyak.“Tidak! Aku sudah memastikan kalau Roy hanya pernah tidur denganku,” jawab Zanna masih dengan penuh emosi.“Apa kamu yakin?” tanya Zayn. Dia meletakkan sebuah alat berukuran kecil di atas meja dan melihat ke arah wanita itu sebelum berniat menyalakannya.Jelas Zanna tahu benda itu dan dia memandang ke arah Zayn dengan tatapan bertanya-tanya.“Pengalamanku mengatakan, seseorang yang sangat menyukai para gadis akan dengan mudah mencampakkan mereka yang sudah berhasil dimilikinya. Aku rasa Roy juga sama. Dia pasti mengabaikan para wanita yang sudah pernah tidur dengannya,” sambung Zayn sengaja menyakiti hati Zanna.“Tidak! Roy tidak mengabaikanku!” pekik Zanna.Tidak ingin berlama-lama, Zayn menekan tombol pada alat rekaman yang dia letakkan di atas meja.Bagai kilas balik yang membuka luka h
Suara klakson mobil yang saling bersahutan membuat Emiko kebingungan sendiri. Pasalnya, tiga orang laki-laki yang bersamanya tadi sedang mengejar Roy dan meninggalkan mobil di tengah jalan begitu saja.Tak ingin dimaki-maki para pengemudi lebih lama lagi, Emiko bergegas melompat ke kursi bagian supir dan menepikan kendaraan. Sesudah merasa aman, dia kembali duduk di bangku penumpang bagian belakang. Tidak lupa, gadis itu mengunci mobil tanpa mematikan mesinnya.Kaburnya Roy jelas membuat Emiko khawatir. Di tengah kesendiriannya, gadis itu memikirkan semua perkataan para anggota Tthree. Dia masih belum bisa merangkai situasi yang sedang terjadi sampai kasus pembunuhan yang sempat didengarnya tadi. Akan tetapi, menurut pemikirannya, sutradara jahat itu tidak mungkin hanya sekadar ingin menculik dan membunuh.“Apa Roy membunuh semua gadis yang sudah tidur dengannya? Jangan-jangan aku menjadi target pembunuhan selanjutnya,” ujar Emiko pada dirinya sendiri. Gadis itu lantas menggeleng kera
Pengakuan tidak terduga yang dilakukan oleh Zanna jelas mempermudah pekerjaan para anggota Tthree.Beruntung Tama berhasil meletakkan beberapa alat penyadap di kamar yang biasa ditempati oleh Roy sebelum orang-orang yang menculik Emiko tiba di hotel. Jadi, semua pembicaraan dapat direkam dengan baik oleh Zayn, sang ahli IT yang kadang-kadang kemampuannya melebihi nalar.Awalnya, Zayn tidak berencana untuk membawa tim dari kepolisian. Akan tetapi, demi melindungi Emiko, para anggota Tthree sepakat untuk bekerja sama dengan pihak berwajib. Tidak disangka, mereka justru mendapatkan tangkapan yang lebih besar.Setelah membuat kehebohan di lokasi syuting, kini kendaraan yang ditumpangi oleh Zayn dan kedua sahabatnya sedang dalam perjalanan mengikuti mobil polisi. Tidak lupa, Emiko yang masih dalam keadaan tertidur juga ada bersama mereka. Rencananya, tim Tthree akan mengantarkan gadis itu pulang ke rumah.“Perasaan, baru saja aku menikmati peranku menjadi orang tolol di area syuting. Sekar
Sore hari di area pusat kota.Emiko yang kebetulan dijemput oleh supir, mendadak merasa gelisah sampai dia berulang kali mengedarkan pandangan ke sekitar. Hingga beberapa saat kemudian gadis itu menyadari kalau seseorang sedang mengikutinya dengan menggunakan motor.“Pak Adi, kita sedang diikuti,” ujar Emiko seraya menoleh ke belakang mobil. Raut wajah gadis itu sangat panik, apalagi ketika pemilik motor sempat berhenti di sisi samping kiri dan memperhatikan dirinya.Ya! Walaupun pemilik motor menggunakan kacamata hitam, tetapi Emiko dapat merasakan sorot tajam matanya.“Jalanan sedang macet. Semua kendaraan berdesakan berharap bisa saling mendahului. Maafkan kelancangan saya, Non. Namun, rasanya tidak mungkin ada yang berniat mengikuti kita. Mungkin kebetulan saja perjalanan mereka searah,” jawab Pak Adi.“Apa Pak Adi melihat seseorang mengenakan kostum serba hitam di sebelah … kiri?” tanya Emiko seraya menoleh. Namun, yang dibicarakan sudah tidak ada.“Tidak, Non. Bapak fokus meliha







