Inicio / Romansa / One Two Three and Action / Semua Terasa Menjengkelkan

Compartir

Semua Terasa Menjengkelkan

Autor: Adelia17
last update Fecha de publicación: 2026-07-03 15:56:21

Hampir satu tahun lamanya sejak Zayn dan kedua temannya mendapat informasi tentang keluarga-keluarga yang kehilangan anak gadisnya.

Laporan dari enam keluarga itu hanya diterima dan kesibukan membuat seolah-olah kasus ditutup tanpa penyelesaian.

Situasi tersebut menggugah hati para anggota Tthree untuk mencoba menyelesaikannya. Tidak disangka, kasus yang kelihatannya mudah itu ternyata membutuhkan banyak energi dan pikiran.

Zayn diam selama beberapa waktu. Pun kedua temannya menunggu tanpa menyentuh ponsel dan hanya bisa bernapas sepelan mungkin agar tidak mengganggu konsentrasi ketua tim mereka.

“Tidak ada cara lain.” Tiba-tiba Zayn berbicara.

Dhefin dan Tama mengangguk penuh antusias untuk mendengarkan rencana sahabatnya.

Zayn perlahan menatap kedua temannya bergantian, lalu kembali berkata, “Salah satu di antara kalian harus kembali ke sana untuk mencari lebih banyak informasi.”

Dhefin menghempaskan tubuhnya di atas kursi yang ada di samping kanan Zayn, sedangkan Tama mengusap wajahnya kasar.

“Sudah kuduga. Firasatku buruk mengenai hal ini. Apa kamu benar-benar ingin kami kembali ke sana?” tanya Tama keberatan.

“Salah satu dari kita saja,” sela Dhefin memperbaiki kalimat Tama.

“Seandainya kalian berdua bisa berada di sana bersama-sama maka itu akan lebih baik. Kita mungkin akan mendapatkan dua kali lipat bukti atau informasi,” sambung Zayn.

“Kamu memiliki wajah lebih tampan dan cocok menjadi pemeran pengganti,” sahut Dhefin.

“Terima kasih. Akan tetapi, kali ini aku tidak menyukai pujianmu,” ucap Tama.

“Randi seharusnya tiba hari ini. Dia yang akan menjadi pemeran utama. Jadi, kalian bisa melamar untuk menjadi salah satu tim mereka yang bisa mengerjakan semua hal. Aku rasa, posisi itu justru akan lebih memudahkan kalian untuk mencari segala informasi,” ujar Zayn bersemangat.

“Oh! Kedengarannya tugas kami tidak mudah,” keluh Tama.

“Apa hanya aku yang ingin kasus ini cepat selesai? Sejak kapan pekerjaan kita terasa mudah?” tanya Zayn sambil memandangi kedua sahabatnya bergantian. Sungguh sikap mereka sangat menjengkelkan!

“Tidak! Bukan begitu maksudku. Maaf!” sahut Tama dengan cepat menyadari kesalahannya.

“Maksudku ….”

“Aku tidak akan pernah bersantai seorang diri. Kalian tahu itu!” Zayn memotong perkataan Dhefin dengan marah.

Hening. Baik Dhefin maupun Tama tahu bahwa selama ini hanya Zayn yang tidak pernah tinggal diam. Walaupun mereka berdua ditugaskan untuk suatu pekerjaan, laki-laki tampan yang selalu memimpin tim itu akan melakukan sesuatu yang istilahnya berada di balik layar.

Meskipun demikian, sikap menyebalkan yang ditunjukkan oleh Dhefin dan Tama bukan tanpa alasan. Mereka baru saja menyelesaikan misi dan berharap bisa istirahat sejenak. Namun, tiba-tiba Zayn memutuskan untuk menyelesaikan pekerjaan yang lain. Tidak hanya itu! Mereka memandang Zayn seolah-olah sedang mengalihkan tugas.

“Baik, aku akan melamar pekerjaan sebagai salah satu tim mereka. Kamu atur saja!” Dhefin memilih untuk mengikuti keinginan Zayn.

“Aku ikut!” sahut Tama tidak ingin tertinggal.

“Apa kalian yakin? Tidak ada upah untuk pekerjaan ini.” Zayn berkata dengan nada kesal.

“Apa pun itu asal misi ini cepat selesai,” jawab Dhefin.

“Berjanjilah kamu akan membiarkan kami istirahat setelah semua pertanyaanmu tadi terjawab,” sambung Tama.

Diam-diam Zayn tersenyum tipis. Dia senang teman-temannya kembali bersemangat. Sebenarnya, bukan hanya mereka yang ingin istirahat, dia pun ingin menjenguk mamanya di Pulau Bali.

Tidak ingin membuang waktu lagi, Zayn segera menghubungi Randi untuk menanyakan cara menjadi tim pembuatan film yang sedang dibintanginya.

***

Malam hari di kediaman orang tua Emiko.

Dengan enggan Emiko mengayunkan langkah menuju ke halaman belakang rumahnya. Di sana Felix, papanya, sedang menghabiskan teh bersama Irfan, seorang tamu yang diceritakan oleh Kirani ketika mereka masak bersama sebelumnya.

“Hei, Emiko! Kemarilah!” ujar Felix ketika melihat putrinya mendekat.

Irfan menoleh ke arah Emiko seraya tersenyum. Kelopak matanya bergerak perlahan mengagumi kecantikan gadis yang baru dikenalnya beberapa jam yang lalu.

“Apa Papa mau tambah tehnya?” tawar Emiko.

Jelas-jelas Kirani menyuruhnya bergabung dengan Felix dan Irfan agar dia bisa mengenal lelaki itu lebih dekat. Namun, Emiko justru pura-pura menawarkan teh untuk kembali masuk ke dalam rumah.

“Tidak perlu. Pembicaraan Papa dengan Irfan sudah selesai. Sekarang kamu bisa temani dia sebentar. Duduklah di sini!” Felix berkata sambil bangkit berdiri.

Emiko dengan terpaksa duduk menemani lelaki itu menggantikan posisi papanya. Tidak lupa dia juga memasang raut wajah sangat kesal yang sangat kentara.

Kalau sudah selesai bicara, seharusnya dia pulang saja. Mengapa masih di sini? Emiko menggerutu di dalam hati.

“Aku sudah lama kenal papamu, tapi baru kali ini bertemu dengan putrinya,” ujar Irfan membuka pembicaraan.

“Oh!” sahut Emiko malas.

Irfan tersenyum geli melihat raut wajah Emiko. Dia bukannya tidak tahu kalau gadis itu terpaksa duduk di sana.

“Kenapa tertawa?” tanya Emiko keheranan melihat lelaki itu menampilkan sederetan gigi putihnya yang rata.

“Kamu itu lucu. Ngomong-ngomong, namaku Irfan Callum,” ucap lelaki itu.

“Bukankah tadi kamu sudah memperkenalkan diri?” jawab Emiko ketus. Hatinya semakin kesal karena Irfan mengatakan hal yang tidak penting.

“Kurang lengkap. Callum berarti merpati,” sambung Irfan.

“Oh!” sahut Emiko tidak peduli.

“Bagaimana denganmu? Apa namamu memiliki arti?” tanya Irfan.

“Apa itu penting?” Emiko balik bertanya dengan nada sinis.

“Tentu saja! Orang tuamu tidak mungkin sembarangan memberi nama,” jawab Irfan.

“Emiko Royce yang artinya cantik dan makmur,” sahut gadis itu tidak ingin berdebat.

“Itu benar! Kamu memang cantik.” Irfan menatap Emiko lekat hingga membuat gadis itu salah tingkah.

“Aku rasa pembahasan tentang nama sudah cukup. Apa inti pembicaraan ini?” tanya Emiko tidak ingin berlama-lama.

“Apa kamu sudah punya kekasih?” Tidak mau kalah, Irfan langsung mengutarakan rasa penasarannya.

Emiko menatap Irfan dengan tidak percaya. Bagaimana laki-laki itu bisa terlalu berterus terang? Apa dia harus jujur atau berbohong agar pria yang sedang duduk di hadapannya bisa segera pergi? Gadis itu merasa privasinya sedang diusik.

***

Satu minggu kemudian di sebuah hotel yang selalu menjadi lokasi untuk syuting film.

“Siapa nama kamu?” tanya Vika, seorang MUA yang pertama kali bertemu dengan Zayn sewaktu menjadi pemeran pengganti.

“Tama.”

“Nama yang bagus. Hm, kamu tampan. Kenapa tidak melamar menjadi seorang aktor saja?” puji Vika.

Nama Tama sebenarnya hanya nama samaran. Namun, sejak mereka sering melakukan misi rahasia, sahabat Zayn itu seolah-olah sudah melupakan nama asli dan lebih menyukai nama pemberian teman-temannya.

“Tidak suka menjadi terkenal. Apa tugasku?” tanya Tama dingin.

Vika menatap Tama dengan raut wajah bingung, lalu berkata, “Untuk sementara kamu bisa menjadi asistenku. Coba ke kamar itu dan pastikan semua pemeran memiliki hasil riasan yang bagus!”

Tanpa memberikan jawaban, Tama melangkah menuju ke kamar yang ditunjuk oleh Vika untuk melakukan tugas pertamanya.

“Bagaimana denganmu? Siapa namamu?” Samar-samar Tama mendengar Vika kembali bertanya.

“Theo.”

Tama hanya tersenyum miring mendengar Dhefin memperkenalkan diri dengan menggunakan nama samaran.

“Tolong bantu untuk merapikan kedua kamar itu! Kita akan melakukan beberapa adegan hari ini. Ah! Jangan masuk kamar yang paling ujung!” perintah Vika.

“Kamar paling ujung? Kenapa?” tanya Dhefin penasaran.

“Oh! Aku lupa memberi tahu sebuah peraturan penting! Kita bekerja di sini hanya untuk melakukan tugas dan tidak banyak bertanya.” Vika berkata.

“Ah! Kamar itu pasti horor,” sahut Dhefin pura-pura bergidik ngeri.

“Jangan bicara sembarangan! Itu kamar milik Roy,” jawab Vika sangat pelan.

Dhefin tersenyum penuh kemenangan. Satu informasi yang berhasil dia ketahui di hari pertama bekerja.

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • One Two Three and Action   Menghibur Eleni

    “Bali? Kamu serius akan mengajakku ke Bali? Whoa! Mimpi apa aku semalam?” tanya Eleni gembira.“Benarkah? Mengapa kamu tidak mengatakannya padaku?” Emiko ikut bertanya.Tanpa banyak bicara, Zayn hanya menunjukkan layar ponsel yang menampilkan e-tiket perjalanan ke Bali dengan business class.“Ck! Boros sekali! Bali itu dekat. Mengapa harus kelas bisnis?” ujar Eleni menyembunyikan rasa senangnya.“Agar aku bisa duduk berduaan dengan Emiko,” jawab Zayn menarik dagu istrinya paksa dan mencium bibirnya.“Astaga! Apa aku akan menjadi obat nyamuk! Pastikan aku mendapat kamar hotel dengan dinding yang tebal agar tidak mendengar suara-suara kalian saat bermesraan!” ujar Eleni sambil mengipasi wajahnya yang merona.Zayn dan Emiko hanya tertawa geli untuk menanggapi.“Kapan kita berangkat? Aku harus menyelesaikan pekerjaan dulu,” tanya Emiko.“Besok pagi. Hm, kita mungkin harus membawa pekerjaan ke sana. Liburan kali ini khusus untuk menghibur Eleni,” jawab Zayn.“Wah! Mengharukan! Terima kasih

  • One Two Three and Action   Dasar Suami dan Istri!

    “Zayn, kamu tadi juga melihatnya, bukan? Apa Riko tadi kesandung sesuatu? Apa yang membuatnya terpental? Aku hanya mendengar suara teriakan peringatan yang membuatku menoleh, lalu melihat seseorang berputar sampai tergeletak di lantai dan tidak bisa bangun lagi. Kejadiannya secepat cahaya. Sungguh membingungkan,” ujar Eleni menyambung perkataannya.Gadis itu masih mengunyah seraya menampilkan raut wajah kebingungan.“Entahlah. Aku hanya fokus pada Brian yang tiba-tiba mengeluarkan benda tajam. Untungnya tidak mengenaimu,” jawab Zayn masih melirik ke arah istrinya yang tetap diam.“Bagaimana keadaannya sekarang? Apa tadi kamu memanggil ambulans untuk menolong Riko?” tanya Eleni membuat Emiko bernapas lega karena pembicaraan telah teralihkan.Mata elang Zayn melihat respons Emiko, tetapi pertanyaan Eleni membuatnya refleks menjawab, “Apa kamu masih mengkhawatirkan laki-laki itu?”“Tidak tidak! Hm, aku hanya … takut kita akan disalahkan,” jawab Eleni lirih.“Aku sudah mengurus semuanya.

  • One Two Three and Action   Sabuk Hitam

    “Perempuan gila! Apa kamu siluman? Tiba-tiba datang tak diundang. Jangan kamu kira aku akan takut! Pergi sana! Jangan ikut campur masalah kami!” Dengan susah payah dan dalam keadaan terbaring di atas aspal, Riko berteriak memaki Emiko.Tubuhnya terasa seperti sudah tidak pada tempatnya lagi. Sakit bukan gambaran yang tepat karena laki-laki itu merasa sedang berada di ambang kematian dan hidup.“Huft!” Emiko meniup poninya dan memutar bola matanya malas. “Dasar licik! Bisanya main sembunyi-sembunyi untuk menyerang dari belakang. Bangunlah kalau masih mampu!”“Argh! Siapa kamu! Aku akan menuntutmu atas serangan yang kamu lakukan.” Riko masih saja marah walaupun badannya sulit digerakkan.“Tuntut saja! Siapa takut?” jawab Emiko.Di sisi lain, Zayn sudah berhasil membuat Brian melepaskan benda tajam yang dibawanya. Laki-laki itu mendadak lemas saat melihat Riko tidak berdaya. Pun dia lupa tujuannya ingin menyakiti Eleni.“Riko! Bangun, woi! Bercandamu tidak lucu!” Brian berjalan perlahan

  • One Two Three and Action   Tujuan Brian

    Raut wajah terkejut yang sangat kentara itu membuat kemarahan Eleni kembali memuncak.“Eleni? Mengapa kamu ada di sini?” Brian buru-buru mendekati gadis yang dikiranya masih berstatus sebagai kekasih itu.Eleni buru-buru mundur dan mengangkat kedua tangannya. “Stop! Cukup jelaskan dari posisimu itu, mengapa kamu menjalin hubungan denganku? Berapa upah yang kamu dapatkan dari laki-laki itu untuk membalas dendam?”“Sayang! Ayolah! Jangan menuduhku begitu!” ujar Brian membuat gadis itu seketika bergidik.“Jangan berani memanggilku dengan sebutan sayang! Itu menjijikkan!” jawab Eleni dengan tatapan tajam.“Baiklah!” Brian masih saja berusaha melangkah perlahan untuk mendekati gadis itu.“Aku bilang berhenti! Jangan mendekatiku!” teriak Eleni histeris.“Eleni, tenangkan dirimu! Mari kita bicara di unit apartment milik Riko! Bisa kamu lihat, di sini ada banyak orang,” jawab Brian seraya mengedarkan pandangan ke sekitar. Akan tetapi, laki-laki itu segera menghentikan perkataannya, karena ter

  • One Two Three and Action   Ketika Zayn Turun Tangan

    “Zayn?!”Emiko dan Eleni kompak melebarkan netranya karena sangat terkejut dengan kehadiran laki-laki itu.“Jangan bergerak dan jangan turun dari mobil! Aku akan duduk di bangku penumpang bagian belakang,” ujar Zayn dengan tatapan tajam ke arah Eleni yang seakan telah lupa caranya berkedip.Pun Emiko sampai belum menutup mulutnya yang sedikit terbuka sambil mengikuti arah pergerakan Zayn.Hanya dalam hitungan detik, Zayn sudah duduk di bangku penumpang bagian belakang dan segera bergeser ke tengah.“Zayn ….”“Apa yang kalian lakukan di sini?” tanya Zayn dengan tatapan ke arah Eleni, karena gadis itu yang tadi sudah mengirimkan pesan untuk meminta izin.“Aku … itu ….” Tatapan Zayn yang mengintimidasi membuat Eleni tidak bisa berkata-kata.“Zayn, kami sedang mengintai ….”“Riko. Apa kamu mengabaikan peringatan Oma Rosa?” Zayn masih saja menatap Eleni dengan raut wajah marah.“Bukan begitu ….”“Zayn, tolong dengarkan penjelasan kami dulu!” ujar Emiko berusaha menengahi pembicaraan antara

  • One Two Three and Action   Kalian Ketahuan!

    Emiko sudah terbiasa melihat seseorang yang tadinya terlihat tenang, berubah menjadi penuh emosi. Jadi, dia sama sekali tidak terpengaruh oleh kilat kemarahan Eleni saat menceritakan secara detail tentang kekasihnya itu.“Makanan ini terlalu lezat untuk dinikmati dengan hati yang kesal. Makanlah terlebih dahulu! Setelah perut kenyang, pikiran akan bekerja dengan baik.” Emiko berkata.Perlu waktu sebentar bagi Eleni untuk menenangkan diri, sebelum gadis itu melanjutkan makan.“Apa kamu pernah menangani kasus rumit seperti yang aku alami?” tanya Eleni.“Banyak yang lebih rumit. Meskipun begitu, aku tidak bisa mengatakan bahwa masalah yang kamu alami ini sepele atau tidak, sebab setiap orang memiliki batas kerumitan masing-masing,” jawab Emiko.Eleni hanya mengangguk-angguk sambil berusaha mengeluarkan tulang ikan yang tidak sengaja ikut masuk ke dalam mulut.“Ngomong-ngomong, apa yang kamu katakan pada suamiku untuk meminta izin?” tanya Emiko.“Aku hanya mengatakan akan menculikmu untuk

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status