Inicio / Romansa / One Two Three and Action / Pembicaraan Menarik

Compartir

Pembicaraan Menarik

Autor: Adelia17
last update Fecha de publicación: 2026-09-03 21:57:00

“Apa kamu mendengarnya?” tanya Dhefin dengan nada suara berbisik.

Di hari pertama melakukan misi, baik Dhefin maupun Tama menggunakan penyuara telinga yang terhubung langsung dengan Zayn. Tentu saja, mereka menggunakan alat berwarna transparan dan berukuran kecil yang tidak mudah lepas agar tidak terlihat orang lain.

“Ya, aku mendengarnya. Salah satu di antara kalian harus ada yang masuk ke kamar paling ujung! Barangkali kita bisa menemukan sesuatu di sana,” jawab Zayn.

“Kami pasti akan mengusahakannya. Aku akan melaksanakan tugas terlebih dahulu,” ujar Dhefin sangat pelan.

“Jangan lupa letakkan alat penyadap di posisi yang paling penting menurut kalian!” Untuk kesekian kalinya, Zayn masih mengingatkan.

Dhefin hanya berdeham karena beberapa orang sedang sibuk berjalan di sekitarnya. Dia khawatir suaranya akan terdengar.

Sementara Tama sudah masuk ke dalam salah satu kamar yang sedang digunakan untuk syuting.

“Aaahhhh … hmmm … ohhh ….” Suara desahan itu membuat Tama seketika bergidik. Dia melirik ke arah tempat tidur dan melihat seorang wanita sedang berbaring dalam keadaan tanpa busana bersama seorang pria yang memosisikan diri di atasnya.

Tangan seorang pria itu bergerilya di bawah selimut, membuat wanita di bawahnya bereaksi secara alami tanpa malu dilihat secara langsung oleh semua kru yang bertugas.

Tama menggeleng pelan sambil memejam. Itu bukan pertama kalinya dia melihat adegan dewasa, tetapi tetap saja mata dan telinganya seakan baru saja ternoda.

Menyadari tugasnya, Tama mengedarkan pandangan ke sekitar. Keadaan terasa hening, dalam arti tidak ada suara selain desahan seorang wanita di atas tempat tidur. Semua orang fokus melihat ke arah tempat tidur, bahkan ada beberapa orang laki-laki yang mulai terlihat gelisah. Dia bisa menebak mereka pasti kesulitan menahan diri agar sesuatu di bawah sana tidak menjadi besar dan berakhir merepotkan.

Tama mulai tidak tahan ketika mendengar suara berciuman yang terkesan menjijikkan di telinganya. Dia memutar otak dan segera mengubah raut wajahnya menjadi sepolos mungkin.

Dengan langkah perlahan sahabat Zayn itu mulai mengamati wajah semua orang di ruangan hingga posisinya berada di samping tempat tidur di mana dua orang berbeda jenis kelamin sedang melakukan adegan percintaan.

“Cut!” teriak Roy marah dan segera berdiri menghampiri Tama.

Randi, pemeran utama pria segera berbaring dengan kesal menghadap ke arah langit-langit di samping Zanna. Dia paling tidak suka membuang waktu untuk mengulang-ulang adegan.

“Hei! Apa yang kamu lakukan?” pekik Zanna merasa terganggu dengan sikap Tama yang melihat wajahnya dari jarak sangat dekat.

“Aku mendapat tugas untuk … ouch!” ringis Tama ketika merasakan kepalanya tiba-tiba dipukul dengan gulungan kertas dari belakang. Sebenarnya dia ingin menjelaskan tugas yang diberikan Vika padanya, tetapi kalimatnya terpotong oleh sikap kasar seseorang.

Perlahan Tama menoleh dan menegakkan tubuhnya.

“Siapa kamu?” bentak Roy.

“Oh! Perkenalkan, namaku Tama,” jawabnya dengan senyum lebar tanpa rasa bersalah. Tidak lupa dia juga memaksimalkan sikap pura-pura bodoh.

Roy menghembuskan napas kasar, lalu bertanya dengan penuh penekanan, “Apa yang kamu lakukan di sini?”

“Aku mendapat perintah untuk memastikan riasan kalian semua sudah bagus,” jawab Tama tetap mempertahankan raut wajah polos.

Beberapa orang yang mengenal Roy dengan baik hanya bisa menahan napas untuk menantikan amarah yang akan segera meledak. Sebagian orang yang lain secara perlahan keluar dari ruangan demi menghindari lahar panas yang mungkin akan mengenai mereka. Benar! Sutradara yang satu itu akan memarahi semua orang ketika suasana hatinya buruk.

“Aku heran dengan orang tampan yang hidup di sekitarku beberapa hari belakangan ini. Mengapa mereka semua tolol?” gerutu Roy. Dia tiba-tiba saja ingat wajah Zayn yang tampan, tetapi sudah merusak rencananya untuk tidur dengan Emiko.

Mendengar perkataan Roy, Tama praktis menoleh cepat ke arah Randi sambil berkata, “Katanya, kamu tolol.”

“Kamu yang tolol!” balas Randi tidak terima.

“Dia bilang orang tampan. Bukankah kamu tampan? Itu sebabnya, kamu menjadi aktor. Sedangkan aku hanya orang suruhan biasa,” sahut Tama.

“Tidak heran karena kamu memang tolol!” geram Randi yang tidak tahu kalau Tama itu sahabat Zayn.

Tama beralih menatap ke arah Roy untuk bertanya, “Siapa yang lebih tampan? Aku atau dia?

“Tentu saja dia!” Tanpa sadar Roy menanggapi dengan kesal.

“Aku setuju! Itu artinya, kamu orang tampan yang tolol.” Tama kembali menunjuk Randi.

“Apa yang sebenarnya kamu lakukan di sini?! Mengapa kamu membuat rusuh? Apa kamu sengaja merusak suasana hatiku?” bentak Roy membuat Tama berjengit. Namun, tentu saja itu hanya pura-pura. Sahabat Zayn itu masih ingat untuk mempertahankan raut wajah polosnya.

“Tolong pelan-pelan! Apa boleh diulangi sekali lagi untuk pertanyaan pertama?” tanya Tama kembali bersikap bodoh. Tanpa dia ketahui, Zayn dan Dhefin yang mendengar percakapan itu sudah menahan tawa.

Roy menggeram kesal seraya mengambil rokok di dalam saku kemejanya. Di tangan kanannya sudah siap pematik api yang tak luput dari pengamatan Tama.

Berulang kali Roy berusaha menyalakan api, tetapi gagal. Sahabat Zayn yang penasaran melihat pematik api unik milik sutradara itu mengandalkan kepolosannya untuk merebut benda tersebut.

“Aku bisa membantumu. Sini!” ujar Tama. Namun, bukannya segera menyalakan api, laki-laki itu justru mengambil kesempatan dengan membuka dan menutup benda itu untuk melihat secara detail.

Sama seperti Zayn, Tama juga melihat sesuatu yang tajam di dalam pematik api milik Roy. Bedanya, sekarang ada setitik darah segar di ujung benda tajam itu. Darah milik siapa kiranya?

“Hei! Apa yang kamu lakukan?!” Roy kembali merebut pematik api yang sudah terbuka dari tangan laki-laki bertampang pura-pura polos itu.

“Ada apa ini?” Suara Vika menginterupsi keributan di kamar itu.

“Aku hanya melakukan tugas, tetapi laki-laki ini … hm, maaf, maksudku ….”

“Segera rapikan kamar ini! Kami akan melanjutkan syuting dalam beberapa menit ke depan.” Vika memberi perintah.

Melihat raut wajah Roy yang tidak bersahabat membuat penata rias itu mengerti bahwa ada masalah yang sudah dilakukan Tama.

Dalam sekejab, semua kru segera merapikan peralatan mereka masing-masing. Pun Vika menyibukkan diri dengan memperbaiki riasan pemeran utama. Sedangkan Roy kembali duduk untuk menenangkan diri.

Sama seperti Dhefin, selagi membersihkan ruangan, Tama tidak lupa meletakkan alat penyadap di kamar itu.

“Bagaimana aktingku hari ini?” Zanna bertanya. Wanita itu menutupi tubuh polosnya dengan kimono berwarna merah maroon dan duduk di samping Roy.

Tama yang sedang membersihkan tempat tidur, dengan sengaja memperlambat kerjanya untuk mendengar pembicaraan yang sepertinya menarik.

“Lebih baik daripada gadis penggantimu sebelumnya,” jawab Roy.

“Benarkah? Apa menurutmu dia tidak menarik?” tanya Zanna lagi.

“Pertanyaanmu berkaitan dengan akting. Namun, berbeda dengan tubuhnya,” jawab Roy.

Tama melirik ke arah Zanna dan dia melihat perubahan pada raut wajah wanita itu.

“Ha! Seingatku dadanya sangat datar. Dia tidak akan mampu memuaskanmu,” sahut Zanna.

“Setidaknya dia masih gadis. Kamu tahu kalau aku sangat menyukai wanita yang belum pernah disentuh oleh banyak pria,” ujar Roy penuh penekanan.

“Sentuhan yang aku dapatkan hanya untuk keperluan akting, Roy! Hanya kamu yang sudah mengambil milikku yang paling berharga,” protes Zanna.

“Kita akan segera mulai lagi!” Tiba-tiba Roy berteriak untuk mengalihkan pembicaraan.

Zanna menghembuskan napas kesal sebelum kembali ke atas tempat tidur dan Tama segera beranjak keluar dari kamar.

“Bagaimana? Apa kalian mendengar semuanya?” tanya Tama dengan suara berbisik.

“Apa kamu tahu nama pemeran utama wanita?” Terdengar suara Zayn bertanya.

Tama menghentikan langkah dan bertanya pada seseorang yang kebetulan berada di dekatnya, “Siapa nama pemeran utama wanita?”

“Zanna,” jawab seseorang itu singkat.

Tama hanya mengangguk dan kembali menyibukkan diri. Dia yakin Zayn sudah mendengarnya sendiri.

Tidak ingin membuang waktu, Zayn segera membawa semua barangnya ke dalam mobil. Dia melaju dengan kecepatan tinggi untuk menemui Emiko.

“Gadis itu pasti memiliki hubungan dengan Zanna,” ujar Zayn pelan.

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Comentarios (1)
goodnovel comment avatar
daffa
sepertinya emiko di jadiin tumbal Ama zanna ya
VER TODOS LOS COMENTARIOS

Último capítulo

  • One Two Three and Action   Menghibur Eleni

    “Bali? Kamu serius akan mengajakku ke Bali? Whoa! Mimpi apa aku semalam?” tanya Eleni gembira.“Benarkah? Mengapa kamu tidak mengatakannya padaku?” Emiko ikut bertanya.Tanpa banyak bicara, Zayn hanya menunjukkan layar ponsel yang menampilkan e-tiket perjalanan ke Bali dengan business class.“Ck! Boros sekali! Bali itu dekat. Mengapa harus kelas bisnis?” ujar Eleni menyembunyikan rasa senangnya.“Agar aku bisa duduk berduaan dengan Emiko,” jawab Zayn menarik dagu istrinya paksa dan mencium bibirnya.“Astaga! Apa aku akan menjadi obat nyamuk! Pastikan aku mendapat kamar hotel dengan dinding yang tebal agar tidak mendengar suara-suara kalian saat bermesraan!” ujar Eleni sambil mengipasi wajahnya yang merona.Zayn dan Emiko hanya tertawa geli untuk menanggapi.“Kapan kita berangkat? Aku harus menyelesaikan pekerjaan dulu,” tanya Emiko.“Besok pagi. Hm, kita mungkin harus membawa pekerjaan ke sana. Liburan kali ini khusus untuk menghibur Eleni,” jawab Zayn.“Wah! Mengharukan! Terima kasih

  • One Two Three and Action   Dasar Suami dan Istri!

    “Zayn, kamu tadi juga melihatnya, bukan? Apa Riko tadi kesandung sesuatu? Apa yang membuatnya terpental? Aku hanya mendengar suara teriakan peringatan yang membuatku menoleh, lalu melihat seseorang berputar sampai tergeletak di lantai dan tidak bisa bangun lagi. Kejadiannya secepat cahaya. Sungguh membingungkan,” ujar Eleni menyambung perkataannya.Gadis itu masih mengunyah seraya menampilkan raut wajah kebingungan.“Entahlah. Aku hanya fokus pada Brian yang tiba-tiba mengeluarkan benda tajam. Untungnya tidak mengenaimu,” jawab Zayn masih melirik ke arah istrinya yang tetap diam.“Bagaimana keadaannya sekarang? Apa tadi kamu memanggil ambulans untuk menolong Riko?” tanya Eleni membuat Emiko bernapas lega karena pembicaraan telah teralihkan.Mata elang Zayn melihat respons Emiko, tetapi pertanyaan Eleni membuatnya refleks menjawab, “Apa kamu masih mengkhawatirkan laki-laki itu?”“Tidak tidak! Hm, aku hanya … takut kita akan disalahkan,” jawab Eleni lirih.“Aku sudah mengurus semuanya.

  • One Two Three and Action   Sabuk Hitam

    “Perempuan gila! Apa kamu siluman? Tiba-tiba datang tak diundang. Jangan kamu kira aku akan takut! Pergi sana! Jangan ikut campur masalah kami!” Dengan susah payah dan dalam keadaan terbaring di atas aspal, Riko berteriak memaki Emiko.Tubuhnya terasa seperti sudah tidak pada tempatnya lagi. Sakit bukan gambaran yang tepat karena laki-laki itu merasa sedang berada di ambang kematian dan hidup.“Huft!” Emiko meniup poninya dan memutar bola matanya malas. “Dasar licik! Bisanya main sembunyi-sembunyi untuk menyerang dari belakang. Bangunlah kalau masih mampu!”“Argh! Siapa kamu! Aku akan menuntutmu atas serangan yang kamu lakukan.” Riko masih saja marah walaupun badannya sulit digerakkan.“Tuntut saja! Siapa takut?” jawab Emiko.Di sisi lain, Zayn sudah berhasil membuat Brian melepaskan benda tajam yang dibawanya. Laki-laki itu mendadak lemas saat melihat Riko tidak berdaya. Pun dia lupa tujuannya ingin menyakiti Eleni.“Riko! Bangun, woi! Bercandamu tidak lucu!” Brian berjalan perlahan

  • One Two Three and Action   Tujuan Brian

    Raut wajah terkejut yang sangat kentara itu membuat kemarahan Eleni kembali memuncak.“Eleni? Mengapa kamu ada di sini?” Brian buru-buru mendekati gadis yang dikiranya masih berstatus sebagai kekasih itu.Eleni buru-buru mundur dan mengangkat kedua tangannya. “Stop! Cukup jelaskan dari posisimu itu, mengapa kamu menjalin hubungan denganku? Berapa upah yang kamu dapatkan dari laki-laki itu untuk membalas dendam?”“Sayang! Ayolah! Jangan menuduhku begitu!” ujar Brian membuat gadis itu seketika bergidik.“Jangan berani memanggilku dengan sebutan sayang! Itu menjijikkan!” jawab Eleni dengan tatapan tajam.“Baiklah!” Brian masih saja berusaha melangkah perlahan untuk mendekati gadis itu.“Aku bilang berhenti! Jangan mendekatiku!” teriak Eleni histeris.“Eleni, tenangkan dirimu! Mari kita bicara di unit apartment milik Riko! Bisa kamu lihat, di sini ada banyak orang,” jawab Brian seraya mengedarkan pandangan ke sekitar. Akan tetapi, laki-laki itu segera menghentikan perkataannya, karena ter

  • One Two Three and Action   Ketika Zayn Turun Tangan

    “Zayn?!”Emiko dan Eleni kompak melebarkan netranya karena sangat terkejut dengan kehadiran laki-laki itu.“Jangan bergerak dan jangan turun dari mobil! Aku akan duduk di bangku penumpang bagian belakang,” ujar Zayn dengan tatapan tajam ke arah Eleni yang seakan telah lupa caranya berkedip.Pun Emiko sampai belum menutup mulutnya yang sedikit terbuka sambil mengikuti arah pergerakan Zayn.Hanya dalam hitungan detik, Zayn sudah duduk di bangku penumpang bagian belakang dan segera bergeser ke tengah.“Zayn ….”“Apa yang kalian lakukan di sini?” tanya Zayn dengan tatapan ke arah Eleni, karena gadis itu yang tadi sudah mengirimkan pesan untuk meminta izin.“Aku … itu ….” Tatapan Zayn yang mengintimidasi membuat Eleni tidak bisa berkata-kata.“Zayn, kami sedang mengintai ….”“Riko. Apa kamu mengabaikan peringatan Oma Rosa?” Zayn masih saja menatap Eleni dengan raut wajah marah.“Bukan begitu ….”“Zayn, tolong dengarkan penjelasan kami dulu!” ujar Emiko berusaha menengahi pembicaraan antara

  • One Two Three and Action   Kalian Ketahuan!

    Emiko sudah terbiasa melihat seseorang yang tadinya terlihat tenang, berubah menjadi penuh emosi. Jadi, dia sama sekali tidak terpengaruh oleh kilat kemarahan Eleni saat menceritakan secara detail tentang kekasihnya itu.“Makanan ini terlalu lezat untuk dinikmati dengan hati yang kesal. Makanlah terlebih dahulu! Setelah perut kenyang, pikiran akan bekerja dengan baik.” Emiko berkata.Perlu waktu sebentar bagi Eleni untuk menenangkan diri, sebelum gadis itu melanjutkan makan.“Apa kamu pernah menangani kasus rumit seperti yang aku alami?” tanya Eleni.“Banyak yang lebih rumit. Meskipun begitu, aku tidak bisa mengatakan bahwa masalah yang kamu alami ini sepele atau tidak, sebab setiap orang memiliki batas kerumitan masing-masing,” jawab Emiko.Eleni hanya mengangguk-angguk sambil berusaha mengeluarkan tulang ikan yang tidak sengaja ikut masuk ke dalam mulut.“Ngomong-ngomong, apa yang kamu katakan pada suamiku untuk meminta izin?” tanya Emiko.“Aku hanya mengatakan akan menculikmu untuk

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status