LOGINSenja mulai turun ketika Kiara memasuki sebuah swalayan besar yang berada di dalam pusat perbelanjaan. Setelah seharian berkutat dengan pekerjaan, ia sengaja menyempatkan diri membeli beberapa kebutuhan untuk persediaan di rumah.
Wanita cantik dengan tubuh yang mulai berisi itu mendorong troli perlahan menyusuri lorong-lorong swalayan. Penampilannya masih sama seperti ketika meninggalkan kantor.Blus sederhana yang dipadukan dengan celana panjang membuatnya terlihat rapi, meski wajah"Ki, kami masih ada urusan di kantor. Kami semua pamit dulu, ya," ucap salah satu rekan Kiara yang tampaknya mulai merasa tidak nyaman dengan situasi di antara dua sahabat itu.Tanpa menunggu jawaban lebih lanjut, beberapa rekan lainnya ikut berpamitan. Mereka sempat memberikan senyuman tipis kepada Kiara sebelum beranjak meninggalkan ruang rawat tersebut. Pintu pun kembali tertutup, menyisakan keheningan yang terasa begitu canggung.Kini, hanya ada Anggi dan Kiara. Keduanya saling pandang tanpa ada satu pun yang berinisiatif membuka percakapan. Anggi masih duduk di kursi samping ranjang, sementara Kiara berusaha mempertahankan ketenangannya meski jantungnya berdegup semakin kencang.Anggi akhirnya mengembuskan napas panjang. Matanya masih tertuju pada Kiara, seolah sedang berusaha mencari sesuatu dari wajah sahabatnya itu."Ki, apa tidak ada yang mau kamu katakan padaku?"Kiara menelan ludah. Ia sudah bisa menebak bahwa kedatangan Anggi bukan sekadar untuk
Kiara duduk bersandar di atas ranjang rumah sakit. Tubuhnya masih terasa lemah, tetapi pikirannya jauh lebih berisik daripada suasana ruang rawat yang begitu sunyi.Tatapannya tertuju pada jendela yang terbuka. Dari lantai lima, tidak ada banyak hal yang bisa dilihat selain hamparan langit biru dan awan-awan putih yang bergerak perlahan, seolah dunia di luar sana berjalan tanpa peduli pada apa yang sedang terjadi di dalam ruangan ini.Kiara mengembuskan napas panjang. Entah mengapa, melihat langit justru membuat dadanya terasa semakin sesak.Tangannya perlahan turun menyentuh perutnya yang masih belum menunjukkan perubahan berarti. Ada kehidupan kecil di sana. Kehidupan yang membuatnya harus lebih kuat, meskipun dirinya sendiri belum tahu bagaimana caranya menghadapi semua yang menunggu di depan."Aku harus bagaimana?" bisiknya lirih.Tidak ada jawaban. Hanya suara angin yang masuk melalui celah jendela dan menggerakkan tirai tipis di sampingnya.Kiara kembal
Aroma antiseptik perlahan menusuk hidung Kiara, samar tetapi cukup kuat untuk membawanya kembali pada kesadaran.Kelopak matanya bergerak sebelum akhirnya terbuka sedikit. Rasa pusing seketika menghantam kepalanya. Spontan, tangannya terangkat dan menekan pelipis, seolah berusaha meredakan nyeri yang berdenyut di sana.Sebuah rintihan kecil lolos dari bibirnya menarik perhatian seseorang yang sejak tadi duduk diam di samping ranjang. Sosok tersebut segera bangkit dan mendekat. Tangannya meraih lengan Kiara dengan lembut, memberikan sentuhan hangat yang entah mengapa terasa begitu menenangkan.“Bagian mana yang sakit?”Suara berat dan dalam itu terdengar begitu familiar di telinga.Kiara mengernyitkan kening. Perlahan, ia menoleh ke samping. Matanya masih terasa berat dan pandangannya kabur. Ia berkedip beberapa kali, berusaha menyesuaikan diri dengan cahaya putih yang masuk ke retina.Sosok di samping ranjang itu akhirnya terlihat semakin jelas. Dan dalam sek
Jam dinding telah menunjukkan lewat tengah malam ketika suara pintu utama terdengar terbuka.Anggi yang sejak tadi duduk sendirian di depan meja makan langsung mengangkat kepala. Punggungnya yang semula bersandar pada kursi perlahan menegak, seolah suara itu masih mampu menyalakan harapan yang hampir padam.Langkah kaki terdengar memasuki rumah. Pria itu baru saja pulang. Wajahnya terlihat lelah. Kemeja yang sejak pagi dikenakannya masih melekat di tubuh, sementara dasinya sudah terlepas entah kemana. Beberapa kancing bagian atas kemejanya bahkan telah terbuka.Diego berjalan masuk tanpa sedikit pun memperhatikan meja makan yang masih dipenuhi hidangan. Makanan yang tersaji di atas meja telah dingin, tak tersentuh melihat kondisinya yang masih utuh.Cangkir teh di hadapan Anggi pun sudah lama kehilangan uapnya. Semua itu menjadi bukti betapa lama wanita itu duduk di sana menunggu suaminya pulang. "Apa kamu tak ingin menjelaskan sesuatu padaku?" ucap Anggi membuy
Kiara mulai panik. Ucapan dari Anggi terus berputar di kepalanya seperti sebuah alarm peringatan. Semalaman Kiara tak bisa tidur. Ia menatap langit-langit kamar dengan pikiran yang dipenuhi berbagai kemungkinan buruk.Bagaimana jika Anggi benar-benar mengetahui semuanya?Bagaimana jika wanita yang selama ini dicurigai Anggi adalah dirinya?Kiara memejamkan mata rapat-rapat, berusaha menenangkan debar jantungnya. Namun, semakin ia mencoba melupakan percakapan mereka, semakin jelas pula suara Anggi terngiang di kepalanya."Aku punya firasat suamiku punya wanita lain." Kalimat yang keluar dari bibir Anggi terasa seperti ancaman yang perlahan mendekat.Kiara menarik selimut hingga ke dada. Tangannya tanpa sadar bergerak mengusap perutnya yang masih belum terlalu terlihat.Ada bayi Diego di sana. Bayi yang sejak awal ingin ia lindungi dari segala kerumitan hubungan orang tuanya.Kiara mengembuskan napas panjang. Ia tidak pernah berniat merebut Diego dari
"Apa kamu tidak nyaman?"“Sedikit.”Jawaban Kiara terdengar jujur, tetapi justru membuat senyum Anggi semakin melebar.“Maaf.”Anggi meletakkan sendok yang sejak tadi diputar-putarnya di atas tatakan kecil.“Aku enggak bermaksud membuatmu enggak nyaman.”Kiara mengangguk pelan.“Enggak apa-apa.”“Lagipula …” Anggi kembali mengambil gelasnya, lalu menyesap minumannya. “Aku memang sedang banyak pikiran.”Kiara hanya diam. Ia ingin percakapan itu segera berakhir. Ingin berdiri lalu langsung bergegas pulang. Namun ada sesuatu dalam sikap Anggi yang membuatnya tidak berani pergi begitu saja. Perempuan itu terlalu tenang. Terlalu terkendali.Seolah-olah sejak awal ia sudah tahu apa yang sedang ia lakukan.“Aku boleh tanya sesuatu?” Anggi tiba-tiba berkata.Kiara menegang.“Apa?”“Kalau kamu berada di posisiku …”Anggi menatap lurus ke matanya.“Dan ternyata suamimu benar-benar punya wanita lain, apa yang akan kamu lakukan?”
Selama dua puluh sembilan tahun hidup di dunia ini, Kiara tak pernah melakukan kesalahan. Semua yang berjalan tersusun rapi sesuai dengan keinginannya. Seorang wanita single dengan karier yang cemerlang, wajah cantik dan tubuh yang proporsional menjadi nilai lebih dalam dirinya. Bangga? Tentu saja
Anggi tersenyum. Wanita manis itu tak menyadari perubahan yang tiba-tiba menguasai atmosfer. "Sayang, ini Kiara, sahabatku sejak SMA." Tangannya merangkul manja lengan lelaki yang ia perkenalkan sebagai suami. Berbeda dengan wajah Anggi yang sumringah. Lelaki itu justru diam sejenak, kemudian meng
Pernah tidak kalian mendengar ada yang bilang, lebih baik capek badan daripada capek otak? Capek badan bisa hilang saat dibawa istirahat, tetapi capek otak mau tidur 24 jam sekalipun tak mampu membuat hilang sakit di kepala. Itulah yang tengah Kiara alami pagi ini. Suasana pagi yang cerah tetapi t
Kiara menarik napas cepat, rasa lelahnya berganti waspada. "Mama jarang berbicara dengan nada seperti itu dan jika beliau sampai menunggu di apartemen tanpa memberi tahuku sebelumnya, berarti ada sesuatu yang diinginkannya dariku." Lagi-lagi Kiara hanya mampu bergumam di dalam hati, walau seribu t







