LOGINPernah tidak kalian mendengar ada yang bilang, lebih baik capek badan daripada capek otak? Capek badan bisa hilang saat dibawa istirahat, tetapi capek otak mau tidur 24 jam sekalipun tak mampu membuat hilang sakit di kepala.
Itulah yang tengah Kiara alami pagi ini. Suasana pagi yang cerah tetapi tubuhnya terasa loyo tak bertenaga. Tentang lelaki bernama Diego Navarro, ditambah masalah usia yang mendekati expired serta tuntutan uang 500 juta kini berputar-putar di dalam otaknya. Pagi yang cerah seharusnya membawa ketenangan, tetapi di dalam kepala Kiara, badai pikiran berputar-putar tanpa henti. Diego Navarro—sosok yang ingin ia lupakan dan angka 500 juta yang menggantung seperti pedang di atas kepala. Wanita yang kini mengenakan blazer itu menarik napas, mencoba mengabaikan rasa berat di dada. Jalanan mulai ramai, suara kendaraan dan langkah kaki bercampur menjadi latar belakang yang samar. Tapi tidak ada yang bisa mengalahkan kebisingan dalam pikirannya sendiri. Ia kembali terduduk di ruangan kecil di mana layar datar yang menjadi titik fokusnya saat ini. Bermain-main dengan benda yang disebut tikus kecil di tangan serta setumpuk kertas yang harus diperiksa dengan teliti. Hanya saat bekerja ia bisa melupakan sejenak masalah dan membiarkan waktu agar terasa berputar cepat. Sepulang jam kerja ia tak langsung pulang ke rumah melainkan memutuskan untuk duduk santai di sebuah cafe yang menyediakan aneka cake. Kiara membutuhkan sesuatu yang manis sebagai booster semangatnya. Dia duduk dengan sepotong cake cream stoberi. Suasana cafe yang tak terlalu ramai dipadu musik live yang mengalun lembut menambah suasana nyaman. "Kiara?" Ia menoleh, menatap wajah seorang wanita yang memanggil namanya. Mata lentiknya menatap dalam wanita bergaun motif vintage yang kini telah berdiri anggun di hadapan. Senyum manis merekah yang disuguhkan wanita di hadapan langsung mengingatkannya pada seseorang yang dulu begitu dekat dengannya. "Anggi?" tanya Kiara memastikan sosok yang ia lihat ini benar adalah Anggi sahabatnya dulu saat zaman SMA. Pasalnya ia ragu, penampilan Anggi yang ia kenal begitu banyak berubah dari dulu. Anggi yang dulu ia kenal sedikit tomboy dengan potongan rambut sebahu dan wajah natural tanpa polesan make up, tetapi Anggi yang ada di hadapannya ini adalah Anggi yang full make up dengan memakai dress yang panjangnya di atas lutut. "Iya, ini aku," jelasnya. Kiara yang senang sontak beranjak memeluk tubuh kecil itu erat, ia luapkan rindu yang selama ini tersimpan tanpa bisa terbalaskan. "Sudah! Kamu mau membunuhku," ringis Anggi yang langsung membuat pelukan erat Kiara mengurai seraya tersimpul malu. "Maaf, aku suka kelepasan kalau sedang senang. Aku tu senang banget kita bisa bertemu setelah terakhir kamu pergi kuliah luar negeri. Aku pikir gak akan bertemu denganmu lagi?" "Mana mungkin! Justru aku yang berpikir kamu gak akan mengenaliku lagi. Atau pura-pura tak mengenaliku," balas Anggi sembari menarik kursi dan duduk di depan tanpa aku persilakan terlebih dahulu. "Dari penampilan ... jujur aku sedikit bingung apa benar itu kamu, karena kamu banyak berubah, tetapi senyum dengan lesung pipi yang menjadi ciri khasmu yang membuatku mengingatmu," jawab Kiara. Pertemuan yang tak terduga ini menghangatkan hatinya, sejenak mengusir badai yang berputar di pikiran. Ia tersenyum, masih menatap Anggi dengan sedikit tak percaya. Waktu memang mengubah banyak hal, tetapi ada sesuatu yang tetap tak berubah dari sosok Anggi—caranya tersenyum, sorot matanya yang cerah dan caranya berbicara yang selalu penuh semangat. “Apa kabar kamu sekarang?” tanyanya lembut. Ia mencoba menenangkan diri dari kejutan yang baru saja menghampiri. Anggi menyesap kopinya yang baru datang dengan elegan sebelum menjawab, “Aku baik. Hidup seperti roller coaster, tapi aku menikmati setiap momennya. Dan kabar baiknya, aku sudah menikah.” Anggi tersenyum bangga dengan statusnya sebagai seorang istri. "Benarkah? Selamat, dan maaf aku gak bisa ikut hadir di hari pentingmu," ucap Kiara senang bercampur sedih. Tiba-tiba ia teringat saat mereka pernah saling berjanji untuk terus bersama hingga saat menikah. Dirinya hadir sebagai pendamping di hari pernikahan Anggi dan begitu pula sebaliknya. Namun nyatanya, kabar pernikahan sahabatnya itu baru ia dengar saat ini saat sahabatnya itu telah menikah. "Justru aku yang minta maaf karena tidak mengabarimu. Aku sempat hilang kontak denganmu dan saat itu aku gak tahu harus menghubungimu ke mana," balas Anggi seraya tersenyum tipis, ia juga sedikit sedih tetapi nasi telah menjadi bubur. “Aku juga merasa bersalah karena kita sempat terpisah begitu lama. Tapi sekarang kita bertemu lagi, dan aku gak akan melewatkan kesempatan ini," lanjut Anggi mencoba mencairkan suasana agar lebih bersemangat lagi. Kiara mengangguk, mencoba menikmati kembali kebersamaan yang dulu sempat hilang. “Jadi, bagaimana kehidupan pernikahanmu? Aku ingin mendengar semuanya.” Anggi tertawa kecil, membetulkan letak cangkir kopinya. “Jujur, tidak selalu mudah. Aku dan suamiku baru menikah selama 8 bulan. Kami punya banyak perbedaan, tapi kami belajar menyesuaikan diri satu sama lain.” Anggi menatap dengan ekspresi penuh nostalgia. “Seperti kita dulu, kan? Sering berdebat tentang hal-hal kecil tapi tetap gak bisa jauh.” Kiara tersenyum simpul, memori di kepalanya kembali berputar mengingat kenangan manis mereka dulu. “Benar sekali. Dulu kamu selalu bersikeras kalau warna biru lebih bagus daripada hijau dan aku gak pernah setuju.” "Padahal itu hanya karena selera kita yang tak sama saja. Anehnya kita berdua justru repot-repot mempermasalahkannya." Anggi membalas ucapan Kiara kemudian tertawa bersama, suasana semakin hangat. Percakapan mengalir begitu saja, seperti tidak pernah ada jarak di antara kami. "Kamu sendiri bagaimana? Apa sudah menikah dan punya anak berapa?" Kini Anggi yang berbalik bertanya tentang kehidupan pribadi Kiara. Wajah Kiara berubah datar, ia menarik napas dalam-dalam, menikmati kopinya yang hampir dingin. Pertanyaan ini sudah sering sekali ia dengar tetapi entah kenapa tetap saja membuatnya tak nyaman. "Sepertinya jodoh masih jauh dariku." "Benarkah? Mana mungkin tak ada yang mau denganmu yang cantik begini. Saat sekolah dulu juga kamu sering jadi rebutan di kelas. Ini pasti karena kamu yang banyak memilih, iya, kan?" tukas Anggi yang tak peka. Ia tak menyadari perubahan wajah sahabatnya yang cukup kentara. Anggi mengira Kiara hanya sedang bercanda atau tengah merendah darinya. "Bukan soal memilih atau tidak memilih," jawab Kiara pelan, jemarinya tanpa sadar mengusap permukaan cangkir kopi. "Hanya saja ... ada banyak hal lain yang lebih mendesak daripada memikirkan soal jodoh." Anggi mengernyit, jelas tak puas dengan jawabannya. "Dalam banget maknanya, sok puitis," selorohnya. Kiara terkekeh pelan. Ia ingin membalas ucapan sahabatnya namun terhenti di tenggorokan saat melihat Anggi melambaikan tangan memanggil seseorang membuatku menoleh. Sosok tinggi berjas abu-abu berjalan mendekat ke arah meja mereka, ekspresinya datar memancarkan aura ketegasan yang dingin. "Kiara, kenalkan, ini suamiku." Tubuh Kiara membeku menatap sosok yang kini berdiri di hadapannya, seakan jantungnya berhenti berdetak saat pandangan mata mereka bertemu. Dunia ini terasa begitu sempit, ia tak menyangka jika lelaki yang pernah menghabiskan satu malam panas bersamanya adalah suami sahabatnya sendiri. Semua ini terasa seperti mimpi buruk untuknya. Lalu apa yang harus Kiara lakukan sekarang?Kiara duduk bersandar di atas ranjang rumah sakit. Tubuhnya masih terasa lemah, tetapi pikirannya jauh lebih berisik daripada suasana ruang rawat yang begitu sunyi.Tatapannya tertuju pada jendela yang terbuka. Dari lantai lima, tidak ada banyak hal yang bisa dilihat selain hamparan langit biru dan awan-awan putih yang bergerak perlahan, seolah dunia di luar sana berjalan tanpa peduli pada apa yang sedang terjadi di dalam ruangan ini.Kiara mengembuskan napas panjang. Entah mengapa, melihat langit justru membuat dadanya terasa semakin sesak.Tangannya perlahan turun menyentuh perutnya yang masih belum menunjukkan perubahan berarti. Ada kehidupan kecil di sana. Kehidupan yang membuatnya harus lebih kuat, meskipun dirinya sendiri belum tahu bagaimana caranya menghadapi semua yang menunggu di depan."Aku harus bagaimana?" bisiknya lirih.Tidak ada jawaban. Hanya suara angin yang masuk melalui celah jendela dan menggerakkan tirai tipis di sampingnya.Kiara kembal
Aroma antiseptik perlahan menusuk hidung Kiara, samar tetapi cukup kuat untuk membawanya kembali pada kesadaran.Kelopak matanya bergerak sebelum akhirnya terbuka sedikit. Rasa pusing seketika menghantam kepalanya. Spontan, tangannya terangkat dan menekan pelipis, seolah berusaha meredakan nyeri yang berdenyut di sana.Sebuah rintihan kecil lolos dari bibirnya menarik perhatian seseorang yang sejak tadi duduk diam di samping ranjang. Sosok tersebut segera bangkit dan mendekat. Tangannya meraih lengan Kiara dengan lembut, memberikan sentuhan hangat yang entah mengapa terasa begitu menenangkan.“Bagian mana yang sakit?”Suara berat dan dalam itu terdengar begitu familiar di telinga.Kiara mengernyitkan kening. Perlahan, ia menoleh ke samping. Matanya masih terasa berat dan pandangannya kabur. Ia berkedip beberapa kali, berusaha menyesuaikan diri dengan cahaya putih yang masuk ke retina.Sosok di samping ranjang itu akhirnya terlihat semakin jelas. Dan dalam sek
Jam dinding telah menunjukkan lewat tengah malam ketika suara pintu utama terdengar terbuka.Anggi yang sejak tadi duduk sendirian di depan meja makan langsung mengangkat kepala. Punggungnya yang semula bersandar pada kursi perlahan menegak, seolah suara itu masih mampu menyalakan harapan yang hampir padam.Langkah kaki terdengar memasuki rumah. Pria itu baru saja pulang. Wajahnya terlihat lelah. Kemeja yang sejak pagi dikenakannya masih melekat di tubuh, sementara dasinya sudah terlepas entah kemana. Beberapa kancing bagian atas kemejanya bahkan telah terbuka.Diego berjalan masuk tanpa sedikit pun memperhatikan meja makan yang masih dipenuhi hidangan. Makanan yang tersaji di atas meja telah dingin, tak tersentuh melihat kondisinya yang masih utuh.Cangkir teh di hadapan Anggi pun sudah lama kehilangan uapnya. Semua itu menjadi bukti betapa lama wanita itu duduk di sana menunggu suaminya pulang. "Apa kamu tak ingin menjelaskan sesuatu padaku?" ucap Anggi membuy
Kiara mulai panik. Ucapan dari Anggi terus berputar di kepalanya seperti sebuah alarm peringatan. Semalaman Kiara tak bisa tidur. Ia menatap langit-langit kamar dengan pikiran yang dipenuhi berbagai kemungkinan buruk.Bagaimana jika Anggi benar-benar mengetahui semuanya?Bagaimana jika wanita yang selama ini dicurigai Anggi adalah dirinya?Kiara memejamkan mata rapat-rapat, berusaha menenangkan debar jantungnya. Namun, semakin ia mencoba melupakan percakapan mereka, semakin jelas pula suara Anggi terngiang di kepalanya."Aku punya firasat suamiku punya wanita lain." Kalimat yang keluar dari bibir Anggi terasa seperti ancaman yang perlahan mendekat.Kiara menarik selimut hingga ke dada. Tangannya tanpa sadar bergerak mengusap perutnya yang masih belum terlalu terlihat.Ada bayi Diego di sana. Bayi yang sejak awal ingin ia lindungi dari segala kerumitan hubungan orang tuanya.Kiara mengembuskan napas panjang. Ia tidak pernah berniat merebut Diego dari
"Apa kamu tidak nyaman?"“Sedikit.”Jawaban Kiara terdengar jujur, tetapi justru membuat senyum Anggi semakin melebar.“Maaf.”Anggi meletakkan sendok yang sejak tadi diputar-putarnya di atas tatakan kecil.“Aku enggak bermaksud membuatmu enggak nyaman.”Kiara mengangguk pelan.“Enggak apa-apa.”“Lagipula …” Anggi kembali mengambil gelasnya, lalu menyesap minumannya. “Aku memang sedang banyak pikiran.”Kiara hanya diam. Ia ingin percakapan itu segera berakhir. Ingin berdiri lalu langsung bergegas pulang. Namun ada sesuatu dalam sikap Anggi yang membuatnya tidak berani pergi begitu saja. Perempuan itu terlalu tenang. Terlalu terkendali.Seolah-olah sejak awal ia sudah tahu apa yang sedang ia lakukan.“Aku boleh tanya sesuatu?” Anggi tiba-tiba berkata.Kiara menegang.“Apa?”“Kalau kamu berada di posisiku …”Anggi menatap lurus ke matanya.“Dan ternyata suamimu benar-benar punya wanita lain, apa yang akan kamu lakukan?”
Anggi kemudian sedikit mendekat. “Ki ...” “Hmm?” Suara Kiara terdengar lebih kecil dari yang ia inginkan. Bahkan ia sendiri hampir tidak mengenali suaranya. Terlalu hati-hati. Terlalu waspada. Anggi memperhatikannya beberapa detik sebelum akhirnya berkata, “Aku punya firasat suamiku punya wanita lain.” Kalimat itu membuat Kiara terdiam. Ia sudah menduga pembicaraan mereka akan mengarah kepada Diego. Namun mendengarnya langsung dari mulut Anggi membuat semua persiapan yang tadi ia susun di dalam kepala seolah berantakan. Kiara memaksakan senyum tipis, walau dalam hatinya kini tengah berdebar dan gelisah. “Mungkin kamu cuma terlalu banyak berpikir.” “Menurutmu begitu?” Anggi bertanya santai. “Iya. Kadang kalau kita sedang punya masalah dengan pasangan, kita memang jadi mudah curiga.” “Benar.” Anggi mengangguk. Kemudian ia tersenyum kecil. “Tapi aku enggak a
Kiara menarik napas cepat, rasa lelahnya berganti waspada. "Mama jarang berbicara dengan nada seperti itu dan jika beliau sampai menunggu di apartemen tanpa memberi tahuku sebelumnya, berarti ada sesuatu yang diinginkannya dariku." Lagi-lagi Kiara hanya mampu bergumam di dalam hati, walau seribu t
Selama dua puluh sembilan tahun hidup di dunia ini, Kiara tak pernah melakukan kesalahan. Semua yang berjalan tersusun rapi sesuai dengan keinginannya. Seorang wanita single dengan karier yang cemerlang, wajah cantik dan tubuh yang proporsional menjadi nilai lebih dalam dirinya. Bangga? Tentu saja
Anggi tersenyum. Wanita manis itu tak menyadari perubahan yang tiba-tiba menguasai atmosfer. "Sayang, ini Kiara, sahabatku sejak SMA." Tangannya merangkul manja lengan lelaki yang ia perkenalkan sebagai suami. Berbeda dengan wajah Anggi yang sumringah. Lelaki itu justru diam sejenak, kemudian meng
Kiara merasa akhir-akhir ini Dewi kesialan tengah mengutuknya. Setelah beberapa hari yang lalu bersusah payah kabur seperti seorang buronan dari dekapan lelaki asing yang memiliki pikiran gila, kini ia dihadapkan dengan dua orang wanita yang menyebalkan. "Gila, tampan banget. Aku tidak menyangka l







