LOGIN"Ini syarat dan perjanjian buat kerja sama. Mohon dibaca sebaik mungkin dan tanda tangan."
Ayya menaruh secarik kertas yang baru saja ia cetak—lengkap dengan pulpen dan juga materai.
"Pihak B tidak boleh menyentuh Pihak A tanpa seizin Pihak A."
Ayya mengangguk. "Iya, karena gue nggak mau dirugiin sedikit pun."
Terdengar dengusan geli dari laki-laki tampan itu dan ia kembali membaca perjanjian yang tercantum. Ayya sedikit terkejut karena orang-orang yang ia temui biasanya langsung tanda tangan atau hanya membaca inti dari perjanjian.
"Tidak ada ciuman, pelukan, adegan intim yang merugikan Pihak A, adegan romantis tanpa kondisi penting, dan tidak ada pegangan tangan selama tidak ada orang."
Nerian kembali membacakan syarat yang menurutnya sedikit menggelikan, karena tidak mungkin juga dia melakukan hal seperti itu.
"Kenapa? Kalo nggak setuju, ya udah, batal aja," ujar Ayya arogan.
"Sebentar, nama kamu siapa?" Ini sudah keempat kalinya Nerian bertanya, karena sejak tadi Ayya terus berkilah dan enggan menjawab.
"Namaku. Aina." Entah nama keberapa yang Ayya gunakan untuk membohongi orang-orang.
"Bukannya tadi namamu Anaya?"
Ayya menoleh ke sekretaris muda Nerian yang tampak kebingungan. Ia melemparkan pandangannya ke Nerian yang tampak curiga.
"Salah denger kali. Namaku Aina."
"Agak mirip sama Anaya. Aina, Anaya." Ayya kembali berkilah dengan sedikit kegugupan, karena tatapan tajam Nerian seolah sedang melubanginya.
"Baiklah."
Ayya menghela napas lega. Ia memperhatikan jemari lentik Nerian yang bergerak membentuk tanda tangan. Bahkan tanda tangannya pun terlihat indah, seindah pemiliknya.
"Riyan, antar dia pulang dan besok pastikan dia sudah pindah ke rumah," ujar Nerian dingin kemudian beranjak dari duduknya.
"Baik, Bos! Ayo, Aina, aku antar."
Entah kenapa Ayya merasa kesal mendengar suara Riyan, padahal laki-laki itu cukup sopan bahkan tersenyum manis.
Ayya berjalan gontai menaiki tangga ke kontrakan yang selama ini ia tempati. Jam menunjukkan pukul 11 malam, tapi kontrakan susun itu masih cukup ramai oleh para penghuni yang berbincang-bincang di setiap lantainya.
"Eh, Rina."
"Rina!"
"Rin."
Ayya tersentak saat bahunya ditarik. Sepersekian detik ia terlihat seperti orang linglung sebelum akhirnya tercengir lebar.
"Kamu kenapa? Kecapean, ya?" tanya tetangga kontrakannya.
Seorang janda beranak satu yang kerap disapa Fina. Dia seusia dengan Ayya, 25 tahun.
"Iya."
Ayya merutuki dirinya sendiri. Terlalu banyak identitas yang ia pakai hingga lupa nama familiernya di lingkungan ini.
"Ini, aku tadi ketemu cowok yang itu. Dia nitip ini buat kamu."
Kesadaran Ayya dan rasa kantuknya tersedot saat melihat kotak merah yang Fina berikan. Ia mengambilnya kemudian membuka isinya.
Sebuah kue yang terlihat cantik dan menggiurkan.
"Ini, ambil setengah buat Davin."
Setelah menerima kue itu, Fina berseru senang dan berucap makasih serta menyuruh Ayya untuk segera beristirahat.
"Fina."
"Iya, kenapa?" Fina yang beberapa langkah pergi pun kembali menoleh.
"Besok aku pindah. Jaga diri kamu sama Davin baik-baik, ya. Kalo ada apa-apa, hubungi aku."
Raut wajah Fina yang semula berseri-seri seketika redup. Di rusun ini, hanya Ayya teman dekatnya. Bahkan, Ayya juga yang membantu perekonomiannya selama ini.
"Ke mana?"
"Ke—" Ucapan Ayya menggantung. Dia yang biasanya mudah berbohong kini justru kikuk dan bingung harus menjawab apa.
"Orang tua kamu udah berhasil nemuin kamu?"
Ayya menggeleng. "Enggak."
"Ooh, kamu mau tinggal sama cowok itu, ya?"
"Nggak!" Ayya menggeleng kencang. "Bukan itu, tapi aku udah dapet kerjaan di luar kota jadi harus pindah."
"Syukurlah kalo kamu udah dapet kerjaan biar nggak jadi pacar bohongan lagi," sahut Fina dengan nada mengejeknya.
"Ish... Ya udah, sana kamu pulang. Kasian Davin sendirian."
Fina tak menyahut. Ia hanya mengangguk kemudian berbalik menuju kontrakannya yang hanya dipisahkan dua hunian.
Saat pintu Fina benar-benar tertutup, barulah Ayya masuk. Tangannya menjalar menyalakan saklar lampu. Terlihat isi dalam kontrakannya yang begitu rapi dan bersih.
Semua barang-barang ditempatkan sesuai keinginan Ayya hingga membuatnya terasa nyaman dan hangat.
Ayya melenguh panjang saat tubuhnya mendarat di atas sofa biru yang sedikit pudar termakan waktu. Ia menatap langit-langit kontrakan yang sedikit lembap.
"Akhirnya, selangkah lagi bisa keluar dari kehidupan ini," bisiknya pelan pada semilir angin.
Ayya melirik kue setengah yang ada di meja kemudian mengambilnya sambil beranjak ke dapur. Ia tidak memakan kue itu, melainkan membuangnya ke tempat sampah.
Jarum jam menunjukkan pukul 10 pagi saat Ayya telah selesai merapikan baju-baju yang akan ia bawa ke rumah Nerian. Tak lupa gadis itu membawa boneka beruang usang kesayangannya.
Setelah memastikan tidak ada barang yang tertinggal, barulah Ayya keluar dari kontrakannya. Tatapan penuh tanya dan penasaran para penghuni lantai 3 sedikit membuat Ayya tidak nyaman.
"Rina!!!"
Mendengar Fina berseru membuat langkahnya terhenti. Ia menoleh sambil tersenyum.
"Ini, bawa ini sebagai kenang-kenangan." Fina menyerahkan dua buah pajangan berbentuk kelinci.
"Ini kan mainan Davin."
"Gapapa, Kak. Ambil aja. Biar Kakak nggak kangen sama aku," Davin menyahut membuat Ayya tersenyum haru.
"Ya udah, makasih, ya. Jaga diri kamu dan mama kamu ya, Apin. Jangan nakal," sahut Ayya sambil menjawil pipi bocah laki-laki berusia 4 tahun itu.
"Kamu sering pulang kan, Rin, kalo libur?"
Ayya mengangguk. "Iya, tenang aja," sahutnya meyakinkan.
"Ya udah, gih pergi. Jaga diri di sana, ya. Jaga kesehatan." Ayya mengangguk, suaranya tercekat dan tidak berani ia keluarkan.
Terdengar suara Davin yang mengiringi langkah kakinya. Sekali lagi Ayya menoleh ke ibu dan anak itu. Keduanya kompak melambaikan tangan.
Perpisahan yang cukup dramatis.
Sesampainya di lantai dasar, Riyan sudah berdiri di depan mobil menunggunya. Tampilan laki-laki itu sangat mencolok—setelan jas hitam dengan kacamata hitam—hingga menyita perhatian orang-orang penghuni rusun yang lain.
"Udah semua?"
Ayya mengangguk dan buru-buru masuk ke mobil. Ia tidak ingin disambangi para ibu-ibu bermulut dua yang suka bergosip.
Setelah selesai memasukkan koper serta tas bawaan Ayya, barulah Riyan masuk ke dalam mobil. Ia melirik Ayya sekilas membuat gadis itu sedikit kebingungan.
"Kata Bos Muda, kita harus ke kantor dulu. Ada hal yang harus kamu lakuin."
"Apa?" tanya Ayya kebingungan.
Riyan tak menyahut. Ia hanya mengangkat acuh bahunya kemudian menjalankan mobil hitam itu.
"Nerian itu cukup pendiam, ya?" tanya Ayya penasaran.
"Nggak juga kok. Bos Muda cukup ramah dan rewel."
Ayya terkikik mendengar kata rewel, membayangkan wajah dingin dan tegas Nerian saat merengek dan manja. Tiba-tiba sesuatu terasa jatuh dari hatinya, menimbulkan semburat merah samar-samar di kedua pipinya.
Ayya mengerjap berulang kali menyingkirkan pikiran itu. Ia mendadak gugup dan salah tingkah.
Setengah jam berlalu dalam keheningan yang hampir membuat Ayya berteriak bosan karena macet yang tiada henti. Berulang kali ia memainkan ponselnya—membuka-tutup aplikasi—namun tetap saja rasa bosan itu terus menggerogotinya.
Hingga akhirnya mereka tiba di gedung tinggi yang berada di tengah kota. Begitu keluar dari mobil, matanya langsung menatap bangunan itu sampai batas kemampuan lehernya untuk mendongak.
"Ayo!" Riyan mendorong pelan kepala Ayya hingga kembali normal kemudian berlenggang masuk.
Ayya mengekor di belakangnya. Ia terlihat seperti kucing jalanan yang baru saja dipungut.
Ting!
Lift terbuka di lantai 44.
"Lewat sini."
Ayya hanya diam mengikuti. Sesekali ia melirik suasana kantor yang sunyi. Namun, tatapan penuh tanya tak lepas darinya.
Riyan mengetuk sekali pintu bos besar di perusahaan itu kemudian membukanya.
"Temani aku makan siang. Sekarang."
Ayya ternganga mendengarnya. Baru saja ia melangkah masuk, sudah kembali diseret keluar.
"Hey! Per—" Tangan harum nan lembut Nerian membekapnya.
"Diam. Di sini banyak mata-mata Siren. Bersikaplah sebagai pacarku," bisiknya.
Terlihat dari luar kaca, keduanya seperti sedang berciuman. Padahal nyatanya Ayya menahan diri untuk tidak mendorong jauh laki-laki itu.
"NERIAN!"
Reno yang melihat calon istrinya datang dengan gaun seksi berwarna merah menyala seketika membuat kedua matanya membulat sempurna liur nya hampir menetes saat pikiran cabul menari-nari di benak nya. " Tuan Reno, apa kabar " Ragas menyapa hangat " Baik, baik. Sangat baik " sahutnya penuh kegirangan yang tidak bisa di tutupi. Mata liarnya tak lepas dari tubuh memikat Ayya " Ini Alayya, dia baru pulang dari studi nya. Dia sengaja tampil kaya gini demi Pak Reno " Ayya yang mendengarnya ikut tersenyum manis, jauh dalam dirinya ia menahan mual yang bergejolak diperut. Rasanya ingin sekali ia membenturkan dua kepala pelontos itu sampai pecah. " Wahh, cantik sekali. Benar-benar sesuai selera saya " Ujar Reno, dari segi wajah kentara sekali dia itu pria cabul. " Ayya, cepet temenin Pak Reno sambut tamu " Dengan penuh keterpaksaan Ayya menurut, ia menemani laki-laki plontos berperut buncit dan bergigi emas----menyambut tamu yang berdatangan. Saat tangan kasar dan gemuk Re
Kamar yang semula bernuansa putih gading dengan ornamen warna-warna pastel kini terlihat begitu gelap dan banyak barang-barang yang rusak----dan barang bekas yang di taruh disana. Cahaya matahari mengintip masuk melalui sela papan kayu yang melapisi jendela di kamar itu. Di sisinya seorang perempuan lusuh tampak duduk dengan mata terpejam menunjukkan guratan merah dari urat mata yang menyembul. Tampak mengerikan sekaligus menyedihkan. Ayya memeluk tubuhnya yang meringkuk pedih di atas kasur usang. Perlahan matanya terbuka, sorot mata yang semula terlihat berbinar ceria kini jauh lebih redup dan dingin. Ia mengangkat pelan tubuhnya diiringi rasa sakit menjalar di seluruh syaraf nya. " Nih makanan nya, abisin " Seorang pelayan menaruh kasar piring berisi nasi dan lauk sisa kemudian berlenggang pergi dengan wajah sombong seolah dia baru saja memberi makan seekor peliharaan. Ayya melirik tanpa minat, ia tidak akan menyentuh makanan itu. Dirumah ini tidak ada yang aman ba
Jarum jam menunjukkan pukul 8 malam saat Nerian menyambangi kedai ayam goreng tempat Ayya bekerja. Sang pemilik toko langsung menyambutnya dengan senyuman ramah " Mau pesen apa Kak? " tanyanya ramah " Saya mau tanya, kurir makanan anda kemana ya? saya suaminya " Ujar Nerian langsung tanpa basa-basi Keterkejutan terlihat di sorot mata wanita itu, tatapannya menyapu penampilan Nerian dari atas hingga bawah. " Tadi siang saya suruh dia antar pesanan ke kantor Winata tapi sampe sekarang dia belum juga pulang, nomernya nggak aktif. Pak " Sahutnya cemas bercampur kesal " Ck! mana motor kurir dibawa dia " Gumam nya menyuarakan keresahan hatinya " Soal motor nanti saya ganti, saya permisi " Setelah itu Nerian bergegas pergi Perasaan nya semakin kacau, sejak tadi ia sudah menghubungi Ayya namun nomernya masih belum aktif. " Nggak mungkin dia kabur " Nerian kembali mengecek ponselnya dan pas sekali saat itu Riyan menghubungi nya. " Apa udah ada kabar dari Aina? " ta
" Ini, hati-hati di ya. Awas! jangan sampe hancur makanan nya " Ayya mengangguk cepat " Okey! tenang aja " serunya riang menerima bungkusan isi makanan yang akan ia antarkan. " Harus di anter ke tujuan ya!! fotoin penerima nya " pemilik kedai ayam goreng itu berteriak sambil memperhatikan Ayya yang keluar dengan dua kantong plastik penuh dengan makanan. Dengan penuh semangat Ayya mengendarai motor matic yang pakai untuk mengirim makanan. Ia mengantarkan beberapa makanan ke beberapa rumah dan beberapa toko yang memesan. " Terimakasih, order lagi ya " Ujar Ayya membuat si penerima tersenyum manis. Ayya menceklis lalu memgirim foto pesanan yang telah ia kirim. Kemudian Ayya memeriksa pesanan terkahir yang tersisa " Winata group!! " Pekik nya kemudian meriksa kembali alamat yang tertera. Dan benar, itu alamat kantor Nerian. Jantung nya berdebar tak karuan mendadak ia ingin menghilang atau pingsan saat ini juga. Ayya memikirkan banyak cara yang terlintas di kepalany
Semenjak kejadian siang tadi, disaat ia melihat Nerian bersama seorang perempuan----entah kenapa hatinya terus berdenyut sakit. Seperti ada luka kecil tak kasat mata yang perih dan menuntut sembuh. Berulang-kali Ayya menepis perasaan aneh itu, tapi rasa sakit bercampur sesak justru semakin menghimpit dadanya. Apa lagi senyuman manis Nerian saat melihat perempuan itu memakai gaun pernikahan, begitu terlihat bahagia dan tulus dan sulit hilang dari benaknya. " Curang! dia ngehindarin gue gara-gara Dion. Padahal dia sendiri yang main belakang! " gerutu nya cemburu seolah mereka memang pasangan resmi. Tubuhnya tersentak saat pintu panthouse terbuka menampilkan sosok yang sejak tadi menghantui pikiran nya. Nerian menatap nya sekilas kemudian berlalu menaiki tangga dengan wajah datar seperti biasa. " Nerian " Panggil Ayya menghentikan langkah laki-laki itu. " Kenapa? " Tidak ada senyuman tulus atau nada hangat dari laki-laki itu. " Gua mau pindah dari sini, tapi ten
Ayya mematung ketila mendengar suara dingin Nerian memanggil nya seperti itu. Suasana dapur seketika berubah dingin dan senyap. " Kenapa Dion manggil kamu kaya gitu? kalian pasti pernah ada hubungan kan " Ayya tergagap, lidahnya kelu dan seluruh kulit kepalanya terasa kebas. Ayya terlihat seperti kucing yang ketahuan mencuri ikan: gugup, bengong dan berusaha kabur dari pertanyaan itu " Dia dari dulu manggil nya gitu, bukan karena ada hubungan. Kam Aina, Ai Ai sama kaya Ayy. Gitu.... mungkin " Semakin menjelaskan semakin terlihat celah kecurigaan nya. Ayya mematikan kompor lalu berseru senang karena opor nya sudah matang. Aroma harum masakan itu mengalihkan sejenak pikiran Nerian, ditatap nya kuah kuning kental yang terlihat menggiurkan dengan kepulan asam pembangkit rasa lapar. " Ini spesial buat lo, bagian paling enak dari ayam" Ujar Ayya menaruh sepotong paha dalam mangkuk lalu meletakkannya ke depan Nerian. " Aku tau kamu lagi nyembunyiin sesuatu " Nerian mencecar nya







