LOGINSeruan itu memecah keheningan kantor bagai petir di siang bolong.
Dari arah belakang, Siren melangkah dengan wajah menghitam saking emosinya. "Kamu ngapain sama dia?!" Suasana seketika berubah canggung, persis seperti istri yang memergoki suaminya berselingkuh. "Cium pacarku," jawab Nerian santai, lengan kekarnya semakin erat melingkar di pinggang Ayya. Tatapan Siren yang setajam belati terhunus ke arah Ayya. "Ngapain sih dia ke sini?" Ayya membalas dengan lirikan sinis. "Heh! Mau ngapain pun gue ke sini bukan urusan lo, dasar pelakor!" sentak Siren kesetanan. "Loh, jelas urusan gue. Kan gua pacarnya Nerian." Wajah tengil dan gestur sombong Ayya sukses membuat Siren kelabakan. Mata Siren menatap tajam tangan Nerian yang bertengger nyaman di pinggul Ayya. Ia menarik paksa lengan pria itu. "Lepasin! Lepasin!" Nerian menepisnya kasar, sementara Ayya ikut mendorong bahu Siren menjauh. "Jangan pegang cowok gue! Dasar perempuan murahan!" Ayya mencibir pedas, pura-pura mengusap lengan Nerian seolah ada noda kotor di sana. "Kurang ajar! Lo yang murahan! Dasar pelakor, cewek simpanan!" cerca Siren histeris, napasnya memburu. "Riyan, usir dia," titah Nerian dingin, muak jadi tontonan para staf. "Enggak! Kamu nggak boleh ngusir aku!" Siren berteriak, memegangi lengan Nerian erat-erat. "Siang ini keluarga Rayandra ngadain makan siang. Kamu harus bawa aku!" Mendengar nama Rayandra, bel peringatan berbunyi nyaring di kepala Ayya. Ia refleks menjauh. "Aku baru inget siang ini ada janji—" Belum selesai Ayya bicara, Nerian kembali menarik pinggangnya, tak membiarkannya lolos. "Kamu harus ikut," bisik Nerian penuh penekanan. "Tapi aku ada janji." Ayya berusaha menyingkirkan tangan pria itu. Nerian tersenyum licik, mendekatkan bibirnya ke telinga Ayya. "Kalo kamu nggak mau... denda 5 juta." Ayya melotot. "Nggak! Mana ada aturan begitu!" "Kamu yang nggak baca pasal keduabelas dengan teliti." Nerian memeluknya sekilas, mengunci pergerakan Ayya. Ayya tak bisa berkutik. Ia merasa telah terjebak "Nerian! Mereka itu taunya kamu tunanganku! Kalo kamu bawa dia, mereka bakal mikir yang nggak-nggak!" Siren masih mencoba untuk membujuk Nerian. "Sejak kapan aku peduli pemikiran orang?" balas Nerian dingin, sukses membungkam Siren. Pria itu menatap Ayya lagi. "Kalo kamu nggak ikut, aku nggak bakal datang." Ayya tahu itu ancaman terselubung. "Ya udah, iya, aku ikut. Daripada capek ngelayanin egomu," goda Ayya, jarinya mengusap dada Nerian dengan genit. Siren menggeram, rasanya ingin mencakar habis wajah centil Ayya saat ini juga. "Riyan, handle jadwalku," titah Nerian pada asistennya, lalu menggenggam erat tangan Ayya dan menyeretnya pergi. "Nerian, tunggu! Kamu nggak bisa begini! Aku tunanganmu dari kecil!" oceh Siren mengejar mereka. Nerian tak peduli. Tepat sebelum pintu lift tertutup, Ayya dengan sengaja menjulurkan lidah dan melambaikan tangan, mengejek Siren yang berdiri merah padam di luar. "Jadi, dia tunangan masa kecil lo. Pantes nggak terima," komentar Ayya di dalam mobil. Nerian melirik sekilas. "Cemburu?" "Ih, siapa juga yang cemburu," dengus Ayya. Nerian terkekeh. "Siap-siap akting yang bagus. Kalo berhasil, aku kasih bonus." "Halo," sapa Nerian ramah, menyita perhatian empat orang di meja makan restoran mewah itu. "Siapa ini? Pacar kamu?" tanya seorang perempuan paruh baya. "Iya. Aina, ini Tante Tari dan Om Hendrik," ujar Nerian. Seorang pria yang duduk membelakangi mereka menoleh. Matanya membulat sempurna saat melihat wajah Ayya. Ayya membeku, namun dengan cepat ia memasang senyum asing dan mengalihkan pandangan. "Ini Dion dan adiknya, Rion," lanjut Nerian. "Halo, aku Aina," sapa Ayya manis. Bertahun-tahun berbohong membuatnya nyaris tak menunjukkan celah. "Silakan duduk. Kami sudah memesan menu andalan," ujar Om Hendrik. "Pantesan keluarga Winata kalang-kabut pas tau kamu punya pacar. Ternyata secantik ini. Jadi, kapan nikah?" celetuk Tante Tari. Uhuk!! Dion tersedak hebat, terbatuk hingga nyaris memuntahkan minumannya. "Pelan-pelan, Nak. Udah gede masih aja keselek," omel Tante Tari sambil menyodorkan tisu. "Makanya, Bang, kalo makan jangan banyak pikiran," ejek Rion. "Maaf ya, Aina. Anak-anak Tante kurang sopan," ujar Tante Tari. "Nggak apa-apa, Tante." "Aina, dari kecil Nerian sudah kami rawat selayaknya anak sendiri. Om titip Nerian ya, tolong temani dia terus," pinta Om Hendrik tulus. "Om Hendrik, aku udah dewasa," protes Nerian, terdengar sedikit tak nyaman. Ayya tersenyum kikuk. Rasa bersalah diam-diam menjalar. Matanya tanpa sadar bertemu dengan tatapan Dion yang tak lepas memperhatikannya. "Ah... iya, Om. Tenang aja." Ayya memperhatikan bagaimana Nerian bersama keluarga Rayandra. Nada suaranya lebih hangat, senyumnya lebih lepas. Sangat berbeda dari sosok dingin dihadapannya selama ini. Rasa menyesal kembali mencuat karena telah menipunya. "Kenapa, Ai? Nggak enak badan?" tanya Tante Tari, menyadari piring Ayya masih utuh. Ayya membeku. Lidahnya kelu. "Dia nggak biasa makan masakan luar " jawab Dion pelan. Suasana mendadak hening. Rion menatap kakaknya aneh. "Kok Abang tau?" Dion tersentak sadar. "Nebak aja. Cewek-cewek kan biasanya lebih suka masakan rumahan." Ayya menelan ludah. Tatapan curiga Nerian mulai menghunus dingin ke arahnya. "Bukan itu, aku—" Ayya kehabisan alasan. "Tadi Aina baru habis makan siang, jadi masih kenyang," Nerian berujar santai, memotong kecanggungan sekaligus menyelamatkan Ayya. "Iya," sahut Ayya pelan. Tante Tari mengangguk paham, meski senyumnya kini terlihat lebih menyelidik. Suara gemericik air terdengar di toilet wanita. Ayya membasuh wajah dan menatap pantulan dirinya di cermin. Hal paling berat sekaligus candu ialah berbohong. Gumam ibunya terngiang jelas. "Tapi aku nggak punya pilihan lain. Aku nggak mau balik ke neraka itu," bisiknya pada diri sendiri. Guratan merah mulai mewarnai bola matanya. Ayya mengusap cepat air matanya, mematikan keran, dan berbalik untuk keluar. Ia tidak boleh memicu kecurigaan Nerian. Namun, baru dua langkah, ia terpaku. "Sampai kapan kamu terus sembunyi, Al?" Dion berdiri di dekat pintu, menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan. "Bukan urusan lo," desis Ayya. "Alayya..." "Jangan panggil nama itu! Gue udah bilang, lo jangan pernah sebut nama itu lagi!" tegas Ayya, suaranya bergetar menahan emosi. Dion terdiam, menatap dalam ke manik mata almond yang dulu begitu ia kenali. "Kali ini... apa dia sebatas penyewa, atau lebih?" "Bukan urusan lo. Dan tolong—" Ayya menelan ludah yang terasa mencekat. "Jangan tunjukin kalo kita saling kenal." Dion melangkah maju. "Tapi mereka harus tau siapa kamu sebenernya." "Kalian saling kenal?" Degh! Suara bariton yang familiar itu membuat darah Ayya berdesir hebat. Di ambang pintu, Nerian berdiri dengan tatapan gelap yang tak terbaca. Seketika waktu terasa terhenti begitu sajaReno yang melihat calon istrinya datang dengan gaun seksi berwarna merah menyala seketika membuat kedua matanya membulat sempurna liur nya hampir menetes saat pikiran cabul menari-nari di benak nya. " Tuan Reno, apa kabar " Ragas menyapa hangat " Baik, baik. Sangat baik " sahutnya penuh kegirangan yang tidak bisa di tutupi. Mata liarnya tak lepas dari tubuh memikat Ayya " Ini Alayya, dia baru pulang dari studi nya. Dia sengaja tampil kaya gini demi Pak Reno " Ayya yang mendengarnya ikut tersenyum manis, jauh dalam dirinya ia menahan mual yang bergejolak diperut. Rasanya ingin sekali ia membenturkan dua kepala pelontos itu sampai pecah. " Wahh, cantik sekali. Benar-benar sesuai selera saya " Ujar Reno, dari segi wajah kentara sekali dia itu pria cabul. " Ayya, cepet temenin Pak Reno sambut tamu " Dengan penuh keterpaksaan Ayya menurut, ia menemani laki-laki plontos berperut buncit dan bergigi emas----menyambut tamu yang berdatangan. Saat tangan kasar dan gemuk Re
Kamar yang semula bernuansa putih gading dengan ornamen warna-warna pastel kini terlihat begitu gelap dan banyak barang-barang yang rusak----dan barang bekas yang di taruh disana. Cahaya matahari mengintip masuk melalui sela papan kayu yang melapisi jendela di kamar itu. Di sisinya seorang perempuan lusuh tampak duduk dengan mata terpejam menunjukkan guratan merah dari urat mata yang menyembul. Tampak mengerikan sekaligus menyedihkan. Ayya memeluk tubuhnya yang meringkuk pedih di atas kasur usang. Perlahan matanya terbuka, sorot mata yang semula terlihat berbinar ceria kini jauh lebih redup dan dingin. Ia mengangkat pelan tubuhnya diiringi rasa sakit menjalar di seluruh syaraf nya. " Nih makanan nya, abisin " Seorang pelayan menaruh kasar piring berisi nasi dan lauk sisa kemudian berlenggang pergi dengan wajah sombong seolah dia baru saja memberi makan seekor peliharaan. Ayya melirik tanpa minat, ia tidak akan menyentuh makanan itu. Dirumah ini tidak ada yang aman ba
Jarum jam menunjukkan pukul 8 malam saat Nerian menyambangi kedai ayam goreng tempat Ayya bekerja. Sang pemilik toko langsung menyambutnya dengan senyuman ramah " Mau pesen apa Kak? " tanyanya ramah " Saya mau tanya, kurir makanan anda kemana ya? saya suaminya " Ujar Nerian langsung tanpa basa-basi Keterkejutan terlihat di sorot mata wanita itu, tatapannya menyapu penampilan Nerian dari atas hingga bawah. " Tadi siang saya suruh dia antar pesanan ke kantor Winata tapi sampe sekarang dia belum juga pulang, nomernya nggak aktif. Pak " Sahutnya cemas bercampur kesal " Ck! mana motor kurir dibawa dia " Gumam nya menyuarakan keresahan hatinya " Soal motor nanti saya ganti, saya permisi " Setelah itu Nerian bergegas pergi Perasaan nya semakin kacau, sejak tadi ia sudah menghubungi Ayya namun nomernya masih belum aktif. " Nggak mungkin dia kabur " Nerian kembali mengecek ponselnya dan pas sekali saat itu Riyan menghubungi nya. " Apa udah ada kabar dari Aina? " ta
" Ini, hati-hati di ya. Awas! jangan sampe hancur makanan nya " Ayya mengangguk cepat " Okey! tenang aja " serunya riang menerima bungkusan isi makanan yang akan ia antarkan. " Harus di anter ke tujuan ya!! fotoin penerima nya " pemilik kedai ayam goreng itu berteriak sambil memperhatikan Ayya yang keluar dengan dua kantong plastik penuh dengan makanan. Dengan penuh semangat Ayya mengendarai motor matic yang pakai untuk mengirim makanan. Ia mengantarkan beberapa makanan ke beberapa rumah dan beberapa toko yang memesan. " Terimakasih, order lagi ya " Ujar Ayya membuat si penerima tersenyum manis. Ayya menceklis lalu memgirim foto pesanan yang telah ia kirim. Kemudian Ayya memeriksa pesanan terkahir yang tersisa " Winata group!! " Pekik nya kemudian meriksa kembali alamat yang tertera. Dan benar, itu alamat kantor Nerian. Jantung nya berdebar tak karuan mendadak ia ingin menghilang atau pingsan saat ini juga. Ayya memikirkan banyak cara yang terlintas di kepalany
Semenjak kejadian siang tadi, disaat ia melihat Nerian bersama seorang perempuan----entah kenapa hatinya terus berdenyut sakit. Seperti ada luka kecil tak kasat mata yang perih dan menuntut sembuh. Berulang-kali Ayya menepis perasaan aneh itu, tapi rasa sakit bercampur sesak justru semakin menghimpit dadanya. Apa lagi senyuman manis Nerian saat melihat perempuan itu memakai gaun pernikahan, begitu terlihat bahagia dan tulus dan sulit hilang dari benaknya. " Curang! dia ngehindarin gue gara-gara Dion. Padahal dia sendiri yang main belakang! " gerutu nya cemburu seolah mereka memang pasangan resmi. Tubuhnya tersentak saat pintu panthouse terbuka menampilkan sosok yang sejak tadi menghantui pikiran nya. Nerian menatap nya sekilas kemudian berlalu menaiki tangga dengan wajah datar seperti biasa. " Nerian " Panggil Ayya menghentikan langkah laki-laki itu. " Kenapa? " Tidak ada senyuman tulus atau nada hangat dari laki-laki itu. " Gua mau pindah dari sini, tapi ten
Ayya mematung ketila mendengar suara dingin Nerian memanggil nya seperti itu. Suasana dapur seketika berubah dingin dan senyap. " Kenapa Dion manggil kamu kaya gitu? kalian pasti pernah ada hubungan kan " Ayya tergagap, lidahnya kelu dan seluruh kulit kepalanya terasa kebas. Ayya terlihat seperti kucing yang ketahuan mencuri ikan: gugup, bengong dan berusaha kabur dari pertanyaan itu " Dia dari dulu manggil nya gitu, bukan karena ada hubungan. Kam Aina, Ai Ai sama kaya Ayy. Gitu.... mungkin " Semakin menjelaskan semakin terlihat celah kecurigaan nya. Ayya mematikan kompor lalu berseru senang karena opor nya sudah matang. Aroma harum masakan itu mengalihkan sejenak pikiran Nerian, ditatap nya kuah kuning kental yang terlihat menggiurkan dengan kepulan asam pembangkit rasa lapar. " Ini spesial buat lo, bagian paling enak dari ayam" Ujar Ayya menaruh sepotong paha dalam mangkuk lalu meletakkannya ke depan Nerian. " Aku tau kamu lagi nyembunyiin sesuatu " Nerian mencecar nya







