Share

03: Dion?

Author: Penulis RD
last update publish date: 2026-07-30 01:02:02

Seruan itu memecah keheningan kantor bagai petir di siang bolong.

Dari arah belakang, Siren melangkah dengan wajah menghitam saking emosinya.

"Kamu ngapain sama dia?!"

Suasana seketika berubah canggung, persis seperti istri yang memergoki suaminya berselingkuh.

"Cium pacarku," jawab Nerian santai, lengan kekarnya semakin erat melingkar di pinggang Ayya.

Tatapan Siren yang setajam belati terhunus ke arah Ayya.

"Ngapain sih dia ke sini?" Ayya membalas dengan lirikan sinis.

"Heh! Mau ngapain pun gue ke sini bukan urusan lo, dasar pelakor!" sentak Siren kesetanan.

"Loh, jelas urusan gue. Kan gua pacarnya Nerian." Wajah tengil dan gestur sombong Ayya sukses membuat Siren kelabakan.

Mata Siren menatap tajam tangan Nerian yang bertengger nyaman di pinggul Ayya. Ia menarik paksa lengan pria itu. "Lepasin! Lepasin!"

Nerian menepisnya kasar, sementara Ayya ikut mendorong bahu Siren menjauh.

"Jangan pegang cowok gue! Dasar perempuan murahan!" Ayya mencibir pedas, pura-pura mengusap lengan Nerian seolah ada noda kotor di sana.

"Kurang ajar! Lo yang murahan! Dasar pelakor, cewek simpanan!" cerca Siren histeris, napasnya memburu.

"Riyan, usir dia," titah Nerian dingin, muak jadi tontonan para staf.

"Enggak! Kamu nggak boleh ngusir aku!" Siren berteriak, memegangi lengan Nerian erat-erat. "Siang ini keluarga Rayandra ngadain makan siang. Kamu harus bawa aku!"

Mendengar nama Rayandra, bel peringatan berbunyi nyaring di kepala Ayya. Ia refleks menjauh.

"Aku baru inget siang ini ada janji—"

Belum selesai Ayya bicara, Nerian kembali menarik pinggangnya, tak membiarkannya lolos.

"Kamu harus ikut," bisik Nerian penuh penekanan.

"Tapi aku ada janji." Ayya berusaha menyingkirkan tangan pria itu.

Nerian tersenyum licik, mendekatkan bibirnya ke telinga Ayya. "Kalo kamu nggak mau... denda 5 juta."

Ayya melotot. "Nggak! Mana ada aturan begitu!"

"Kamu yang nggak baca pasal keduabelas dengan teliti." Nerian memeluknya sekilas, mengunci pergerakan Ayya.

Ayya tak bisa berkutik.

"Nerian! Mereka itu taunya kamu tunanganku! Kalo kamu bawa dia, mereka bakal mikir yang nggak-nggak!" Siren masih mencoba merasionalisasi.

"Sejak kapan aku peduli pemikiran orang?" balas Nerian dingin, sukses membungkam Siren.

Pria itu menatap Ayya lagi. "Kalo kamu nggak ikut, aku nggak bakal datang."

Ayya tahu itu ancaman terselubung. "Ya udah, iya, aku ikut. Daripada capek ngelayanin egomu," goda Ayya, jarinya mengusap dada Nerian dengan genit.

Siren menggeram, rasanya ingin mencakar habis wajah centil Ayya.

"Riyan, handle jadwalku," titah Nerian pada asistennya, lalu menggenggam erat tangan Ayya dan menyeretnya pergi.

"Nerian, tunggu! Kamu nggak bisa begini! Aku tunanganmu dari kecil!" oceh Siren mengejar mereka.

Nerian tak peduli. Tepat sebelum pintu lift tertutup, Ayya dengan sengaja menjulurkan lidah dan melambaikan tangan, mengejek Siren yang berdiri merah padam di luar.

"Jadi, dia tunangan masa kecil lo. Pantes nggak terima," komentar Ayya di dalam mobil.

Nerian melirik sekilas. "Cemburu?"

"Ih, siapa juga yang cemburu," dengus Ayya.

Nerian terkekeh. "Siap-siap akting yang bagus. Kalo berhasil, aku kasih bonus."

"Halo," sapa Nerian ramah, menyita perhatian empat orang di meja makan restoran mewah itu.

"Siapa ini? Pacar kamu?" tanya seorang perempuan paruh baya.

"Iya. Aina, ini Tante Tari dan Om Hendrik," ujar Nerian.

Seorang pria yang duduk membelakangi mereka menoleh. Matanya membulat sempurna saat melihat wajah Ayya. Ayya membeku, namun dengan cepat ia memasang senyum asing dan mengalihkan pandangan.

"Ini Dion dan adiknya, Rion," lanjut Nerian.

"Halo, aku Aina," sapa Ayya manis. Bertahun-tahun berbohong membuatnya nyaris tak menunjukkan celah.

"Silakan duduk. Kami sudah memesan menu andalan," ujar Om Hendrik.

"Pantesan keluarga Winata kalang-kabut pas tau kamu punya pacar. Ternyata secantik ini. Jadi, kapan nikah?" celetuk Tante Tari.

Uhuk!!

Dion tersedak hebat, terbatuk hingga nyaris memuntahkan minumannya.

"Pelan-pelan, Nak. Udah gede masih aja keselek," omel Tante Tari sambil menyodorkan tisu.

"Makanya, Bang, kalo makan jangan banyak pikiran," ejek Rion.

"Maaf ya, Aina. Anak-anak Tante kurang sopan," ujar Tante Tari.

"Nggak apa-apa, Tante."

"Aina, dari kecil Nerian sudah kami rawat selayaknya anak sendiri. Om titip Nerian ya, tolong temani dia terus," pinta Om Hendrik tulus.

"Om Hendrik, aku udah dewasa," protes Nerian, terdengar sedikit tak nyaman.

Ayya tersenyum kikuk. Rasa bersalah diam-diam menjalar. Matanya tanpa sadar bertemu dengan tatapan Dion yang tak lepas memperhatikannya.

"Ah... iya, Om. Tenang aja."

Ayya memperhatikan bagaimana Nerian bersama keluarga Rayandra. Nada suaranya lebih hangat, senyumnya lebih lepas. Sangat berbeda dari sosok dingin dihadapannya selama ini. Rasa menyesal kembali mencuat karena telah menipunya.

"Kenapa, Ai? Nggak enak badan?" tanya Tante Tari, menyadari piring Ayya masih utuh.

Ayya membeku. Lidahnya kelu.

"Dia nggak biasa makan masakan luar," jawab Dion pelan.

Suasana mendadak hening.

Rion menatap kakaknya aneh. "Kok Abang tau?"

Dion tersentak sadar. "Tebak aja. Cewek-cewek kan biasanya lebih suka masakan rumahan."

Ayya menelan ludah. Tatapan curiga Nerian mulai menghunus dingin ke arahnya.

"Bukan itu, aku—" Ayya kehabisan alasan.

"Tadi Aina baru habis makan siang, jadi masih kenyang," Nerian berujar santai, memotong kecanggungan sekaligus menyelamatkan Ayya.

"Iya," sahut Ayya pelan.

Tante Tari mengangguk paham, meski senyumnya kini terlihat lebih menyelidik.

Suara gemericik air terdengar di toilet wanita. Ayya membasuh wajah dan menatap pantulan dirinya di cermin.

Hal paling berat sekaligus candu ialah berbohong. Gumam ibunya terngiang jelas.

"Tapi aku nggak punya pilihan lain. Aku nggak mau balik ke neraka itu," bisiknya pada diri sendiri. Guratan merah mulai mewarnai bola matanya.

Ayya mengusap cepat air matanya, mematikan keran, dan berbalik untuk keluar. Ia tidak boleh memicu kecurigaan Nerian.

Namun, baru dua langkah, ia terpaku.

"Sampai kapan kamu terus sembunyi, Al?"

Dion berdiri di dekat pintu, menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Bukan urusan lo," desis Ayya.

"Alayya..."

"Jangan panggil nama itu! Gue udah bilang, lo jangan pernah sebut nama itu lagi!" tegas Ayya, suaranya bergetar menahan emosi.

Dion terdiam, menatap dalam ke manik mata almond yang dulu begitu ia kenali. "Kali ini... apa dia sebatas penyewa, atau lebih?"

"Gua udah bilang itu bukan urusan lo. Dan tolong—" Ayya menelan ludah yang terasa mencekat. "Jangan tunjukin kalo kita saling kenal."

Dion melangkah maju. "Tapi mereka harus tau siapa kamu sebenernya."

"Kalian saling kenal?"

Degh!

Suara bariton yang familiar itu membuat darah Ayya berdesir hebat.

Di ambang pintu, Nerian berdiri dengan tatapan gelap yang tak terbaca.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • PACAR SEWAAN 24 JAM   07: Desakan intens

    " Coba aja kalo berani " Rahang perempuan kesetanan itu bergetar hebat saat mendengar ucapan dingin dan kejam dari Nerian. Matanya yang memerah terus melayangkan tatapan penuh kebencian ke arah Ayya Jika bisa mungkin dia sudah membunuh perempuan cantik itu saat ini juga. " Aku nggak bakal diem aja ngeliat kalian bahagia! aku nggak ikhlas Nerian!!! " Berang nya dengan suara yang pecah bercampur sesak dan sakit. Nerian menatap nya dingin " Aku nggak peduli " Sahutnya acuh " Wlek! " Ayya menjulurkan lidahnya meledek " Sana pergi nanti meledak loh matanya ngeliat kita, yakan sayang " Nerian hanya tersenyum saat dagunya di usap manja oleh Ayya, terlihat seperti seekor serigala yang dijinakkan. Dengan penuh amarah dan luka Siren pun pergi dari hunian mewah itu. Ia tak kuasa menahan sakit luka di hatinya, hingga sepanjang perjalanan pulang airmata nya terus menderai dengan begitu pilu. Sementara itu Nerian dan Ayya terpaku kaku dalam keheningan yang menyelimuti keduany

  • PACAR SEWAAN 24 JAM   06: Kesalah pahaman yang menerus

    Ayya terduduk dengan wajah kesalnya. Ia tak habis pikirdengan apa yang Nerian pikirkan tentang dirinya. Bisa-bisanya laki-laki itumenganggapnya hamil."Aku minta maaf. Aku bener-bener nggak tau. Please,"ujar Nerian untuk kesekian kalinya.Sejak kejadian di taman tadi sore dan sampai saat ini pukul8 malam Ayya terus mendiaminya."Maafin aku."Nerian pindah duduk di sisi Ayya dan perempuan itu langsungmemutar tubuhnya. Ia enggan menatap Nerian."Aku transfer 10 juta! Tapi maafin aku, ya." Ayyasemakin merajuk.Nerian kembali bernegosiasi untuk mendapatkan maafnya."Aku checkout semua keranjang belanja kamu! Maafin aku, tapi. Please."Ayya berdecak sinis. Ia menatap Nerian tajam dan penuhkemarahan. "Nggak semua hal bisa diselesaikan dengan uang!!"Tatapan berbinar Nerian seketika meredup. Ia tidak tahuharus bagaimana menghadapi wanita yang merajuk."Aku nggak tau harus gimana lagi. Aku tau aku salah,aku tau pikiran aku bodoh. Aku minta maaf."Satu hal yang tidak mereka sadari, hu

  • PACAR SEWAAN 24 JAM   05: Siapa yang hamil?

    "Loh, nggak ke kantor?"Nerian menoleh dari layar laptopnya sekilas, memandangi Ayyayang baru keluar dari dapur."Enggak, aku ngontrol perusahaan dari rumah. Kerjaankantor juga nggak terlalu banyak," sahut Nerian santai sambil tersenyumtipis.Suara bising terdengar di telinga Nerian dari earphoneyang ia pakai. Di seberang sana, Riyan tengah mengomel sambil mengerjakan semuapekerjaan kantor yang menumpuk."Kamu mau makan buah nggak? Atau yang asem-asem?"Kedua alis Ayya menukik. Ia melirik Nerian bingung sambilterus menenggak minumannya."Nggak mau.""Apa mau makan yang lain?"Ayya semakin meliriknya ngeri. Tumben sekali laki-laki acuhitu mendadak perhatian."Bilang aja, mau ngasih kerjaan apa? Ngusir keluargaitu lagi atau mantan tunangan lo itu?" ujar Ayya menghampiri Nerian yangduduk di sofa."Masih mual?" Nerian mengalihkan pertanyaan Ayya."Nggak," sahutnya lemas sambil mengusap-usapperut."Makan dulu gih. Aku udah tambahin bahan-bahan masakandi dapur. Masak apa pun yang

  • PACAR SEWAAN 24 JAM   04: Dia hamil

    Ayya gelagapan dan kepanikan terpancar jelas di sorotmatanya. Ia berusaha untuk tenang saat Nerian melangkah menghampiri mereka."Kita pernah ketemu dulu, dan mungkin dia masihinget," Ayya berkilah di sela kerisauannya.Nerian terdiam memandangi keduanya bergantian kemudianmengangguk. Ayya tidak bisa menebak apa yang ada di pikiran laki-laki itu,karena sorot matanya yang begitu tenang."Ayo kita pulang. Aku mau ke toko sayuran dulu, ya. Maubelanja buat masak sehari-hari," ujar Ayya memeluk lengan Nerian.Gerakannya terkesan terburu-buru.Nerian tak menyahut. Ia hanya mengangguk sekali. Matatajamnya menatap Dion. "Kita duluan.""Hati-hati," sahut Dion. Ia terus menatapkepergian Ayya dan Nerian hingga keduanya benar-benar hilang dari pandangannya."Seandainya kamu bisa sedikit buka hati buat aku,Ayy," bisiknya di sela kesunyian.Nerian menyalakan mesin mobilnya saat Ayya sudah duduk disisi kemudi. Ia memandangi perempuan cantik itu sekilas."Dion pernah jadi pacar sewaan?"Ayya

  • PACAR SEWAAN 24 JAM   03: Dion?

    Seruan itu memecah keheningan kantor bagai petir di siangbolong.Dari arah belakang, Siren melangkah dengan wajah menghitamsaking emosinya."Kamu ngapain sama dia?!"Suasana seketika berubah canggung, persis seperti istri yangmemergoki suaminya berselingkuh."Cium pacarku," jawab Nerian santai, lengankekarnya semakin erat melingkar di pinggang Ayya.Tatapan Siren yang setajam belati terhunus ke arah Ayya."Ngapain sih dia ke sini?" Ayya membalas denganlirikan sinis."Heh! Mau ngapain pun gue ke sini bukan urusan lo,dasar pelakor!" sentak Siren kesetanan."Loh, jelas urusan gue. Kan gua pacarnya Nerian."Wajah tengil dan gestur sombong Ayya sukses membuat Siren kelabakan.Mata Siren menatap tajam tangan Nerian yang bertenggernyaman di pinggul Ayya. Ia menarik paksa lengan pria itu. "Lepasin!Lepasin!"Nerian menepisnya kasar, sementara Ayya ikut mendorong bahuSiren menjauh."Jangan pegang cowok gue! Dasar perempuanmurahan!" Ayya mencibir pedas, pura-pura mengusap lengan Nerian

  • PACAR SEWAAN 24 JAM   02: Lupa nama.

    "Ini syarat dan perjanjian buat kerja sama. Mohon dibaca sebaik mungkin dan tanda tangan."Ayya menaruh secarik kertas yang baru saja ia cetak—lengkap dengan pulpen dan juga materai."Pihak B tidak boleh menyentuh Pihak A tanpa seizin Pihak A."Ayya mengangguk. "Iya, karena gue nggak mau dirugiin sedikit pun."Terdengar dengusan geli dari laki-laki tampan itu dan ia kembali membaca perjanjian yang tercantum. Ayya sedikit terkejut karena orang-orang yang ia temui biasanya langsung tanda tangan atau hanya membaca inti dari perjanjian."Tidak ada ciuman, pelukan, adegan intim yang merugikan Pihak A, adegan romantis tanpa kondisi penting, dan tidak ada pegangan tangan selama tidak ada orang."Nerian kembali membacakan syarat yang menurutnya sedikit menggelikan, karena tidak mungkin juga dia melakukan hal seperti itu."Kenapa? Kalo nggak setuju, ya udah, batal aja," ujar Ayya arogan."Sebentar, nama kamu siapa?" Ini sudah keempat kalinya Nerian bertanya, karena sejak tadi Ayya terus berkil

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status