Home / Romansa / PACAR SEWAAN 24 JAM / 01: 5 Juta! DEAL!!

Share

PACAR SEWAAN 24 JAM
PACAR SEWAAN 24 JAM
Author: Penulis RD

01: 5 Juta! DEAL!!

Author: Penulis RD
last update publish date: 2026-07-28 17:16:12

"Aku Nana"

"Nantara"

"Aumi"

"Anaya"

Dan ini identitas baru yang Ayya gunakan setelah beberapa kali menjalani pekerjaan sebagai pacar sewaan.

Ya. Dia membuka penawaran untuk para laki-laki yang ingin memiliki pacar sementara, paling lama seminggu, setelah itu mereka akan berpisah dan kembali asing.

Banyak hal yang telah Ayya lalui selama menjadi pacar sewaan. Mulai dari diperkenalkan pada orang tua hanya untuk semalam.

Atau ia dijadikan alat untuk membuat perempuan-perempuan obsesi menjauh. Bahkan orang terakhirnya memintanya menjadi pacar sewaan untuk memutuskan tunangannya.

Yang terakhir itu cukup parah dan membuat Ayya sedikit trauma.

"Silakan duduk."

Laki-laki bertubuh tinggi dengan kacamata dan pakaian ala kantoran menarik kursi untuknya.

Kali ini Ayya diminta untuk menemaninya makan malam bersama teman-teman rekan kerjanya, agar tidak terlihat jomblo jadi Andi menyewanya.

"Wow, pacar lu cantik banget, An. Ketemu di mana?"

Ayya melirik Andi saat mendapat pertanyaan.

"Di restoran ini. Nggak sengaja ketemu," Andi menyahut, sedikit canggung.

"Iya, di sini," timpal Ayya menebarkan senyuman manisnya.

Mungkin karena wajahnya yang cantik dan bentuk tubuh yang ideal membuatnya hampir laku keras. Tidak rugi menjadikannya pacar sewaan.

Setelah makan malam berakhir, Andi menghampirinya dengan senyuman manis yang mentereng.

"Gimana kalo kita lebih mengenal s—" Kalimatnya terhenti saat Ayya mengangkat tangannya.

"Nggak bisa. Lo nyewa gue cuman buat hari ini aja dan sesuai perjanjian, kita nggak akan ketemu lagi atau jadi lebih dari penyewa," terang Ayya tanpa perasaan.

Andi mengangguk samar kemudian mengeluarkan ponselnya.

"Udah gue transfer. Sampai ketemu lagi dan semoga kita berjodoh."

Ayya tersenyum paksa kemudian berlenggang pergi dengan wajah masam. Ia paling benci orang seperti Andi, yang tidak konsisten.

"Tunggu."

Langkahnya terhenti. Ini bukan suara Andi.

"Aku?"

Laki-laki berjas hitam itu mengangguk.

"Kamu buka sewa pacar?" Nada suaranya mengandung kegelian.

"Iya."

"Pas banget, aku punya kerjaan. Buat kamu, sekarang ikut aku!"

Ayya menahan dirinya saat tangannya ditarik secara tiba-tiba. Ia takut sesuatu buruk menunggu di dalam sana.

"Mau ngapain!" Ia nyaris terpekik.

"Jadi pacar bohongan lah. Ayo!"

"Eh! Nggak bisa gitu, harus tanda tangan perjanjian dulu!!" Ayya memegangi tangan laki-laki itu, kakinya dibuat sekeras mungkin agar tidak terseret.

Laki-laki asing itu berdecak. "Nggak sempet! Kalo kamu mau, bakal dibayar 5 juta!"

Mata Ayya membulat sempurna mendengar nominal yang hampir 20 kali lipat dari harga yang ia tetapkan.

"Deal!" Uang memang segalanya.

Dengan langkah ringan penuh bayang-bayang kekayaan, gadis itu masuk ke ruang VIP yang ada di restoran.

Rasa gugup seketika menyergapnya saat orang-orang di dalam sana menatapnya dengan berbagai ekspresi.

Sepertinya ini acara keluarga.

"Ooh, ini pacar kamu."

Seorang perempuan bersanggul khas orang kaya melontarkan cibiran dengan lirikan sinis.

"Iya."

Ayya melirik penuh kagum pada laki-laki dengan kemeja putih di sisinya. Dua kancing atasnya sengaja dibuka, menampakkan kulit putih bersih dan otot yang samar-samar mengintip.

"Ak—"

"Nggak perlu perkenalan, nggak penting." Perempuan tadi kembali bersuara membuat hati Ayya menderu kesal.

"Dia pacarku, jadi tolong hargai perasaan dia dan berhenti membuat perjodohan konyol!"

Ayya menoleh saat tangannya digenggam lembut. Getaran hangat dari ujung jemarinya yang indah semakin memacu detak jantung gadis itu.

"Bohong! Nggak mungkin kamu milih cewek kaya gini!"

Ayya menoleh sinis mendengar hardikan kejam itu. Mendadak ia jadi terbawa suasana yang panas.

Di hadapannya, seorang perempuan yang tampak seusia dengannya tengah menatapnya tajam seperti seekor serigala yang terusik. Garpu di tangannya seakan hendak melayang saat Ayya melihatnya.

"Ngapain bohong. Aku sama dia udah lama pacaran. Dia juga orang yang tinggal di penthouse-ku."

Perempuan itu semakin kelabakan. Setiap gerak-geriknya seperti hendak menguliti Ayya hidup-hidup.

Untuk beberapa saat, gadis itu merasa takut dan menyesali keputusannya.

"Yasudah, karena Nerian udah punya pacar, kita nggak akan ganggu lagi. Dan soal Siren, Om minta maaf."

Perempuan tadi—Siren—langsung berdiri saking emosinya.

"Nggak, Om David! Aku udah buntutin Nerian ke mana pun dan nggak pernah ada cewek ini di hidupnya! Aku nggak percaya sama mereka!" teriak Siren kesetanan.

Ayya yang terpancing pun langsung merangkulkan tangannya di leher Nerian dengan sikap manja. Ia melancarkan tugasnya sebaik mungkin.

"Berarti dia juga ngintip kegiatan kita di rumah, ya." Nada suaranya terdengar menggelikan, bahkan di telinganya sendiri.

Nerian menelan paksa salivanya kemudian melepas lembut tangan itu dari lehernya.

Ia menatap Ayya yang bahkan tidak ia kenal sambil berkata, "Maaf ya, nanti aku perketat penjagaan."

Siren yang menyaksikan semuanya lantas mengamuk. Ia mengambil langkah panjang menghampiri Ayya.

Tangannya terangkat tinggi dan belum sampai menyentuh sehelai pun rambutnya, Nerian sudah lebih dulu menahannya.

"Aku sudah peringatkan, jangan sentuh perempuanku!"

Setelah mengatakan itu, ia menghempas kasar tangan Siren hingga menabrak meja di belakangnya.

Siren mengaduh kesakitan sambil mengusap-usap pinggangnya yang terbentur cukup keras.

"Nerian! Kamu nggak boleh sekasar itu sama Siren!" Wanita bersanggul itu berteriak marah.

"Aku nggak peduli. Siapa pun yang nyentuh pacarku bakal berhadapan sama aku!"

"Apa maksud kamu!? Aku ini tantemu dan Siren sahabatmu dari kecil. Jangan gara-gara perempuan nggak jelas kaya dia kamu nyakitin kami!" tegas Vada di sela amarah yang tertahan.

"Aku malah nggak akan segan-segan menggunakan kekerasan." Kalimat terakhir itu cukup membuat mereka merinding. Ayya akui aura laki-laki ini sangat mendominasi.

"Sudah, sudah. Vada, kamu jangan terus tekan Nerian. Dia sudah punya pacar jadi kita nggak bisa ikut campur lagi. Ayo pulang."

"Tapi, Pah! Di—" Ucapan Vada tertahan saat Siren menyentuh lengannya.

"Tante Vada, ini semua gara-gara perempuan itu. Dia pasti yang bikin Nerian sekasar ini. Kita jangan terpancing," bisik Siren menatap ganas ke arah Ayya.

"Kamu benar, kita harus balas dia nanti," bisik Vada yang samar-samar terdengar di telinga Ayya.

"Baiklah kalo kamu ngeyel mau sama cewek kampungan ini! Tante nggak ikut campur."

Ayya ingin sekali memukul mulut lantang wanita itu. Bisa-bisa ia dihina seperti itu.

"Ayo kita pulang," ajak suaminya lagi sambil tersenyum penuh arti dan bermain mata dengan Vada.

Selepas kepergian mereka, Ayya langsung menarik jauh dirinya dari Nerian. Ia mendadak gugup tak jelas dan beberapa kali berdehem.

"Mana bayarannya."

Nerian menatapnya sekilas kemudian melempar pandangannya ke sang asisten.

"Ah... Dia pacar sewaan yang saya temukan di depan restoran tadi. Saya bilang bakal bayar dia 5 juta."

"Pacar sewaan?" Nada suara Nerian terdengar menggelikan.

"Iya! Kenapa? Ada yang salah?" ketus Ayya galak.

"Cepet bayar! Soal pegang-pegang tadi nggak gue masukin ke itungan pelanggaran. Anggap aja lo nggak tau syarat kerja samanya."

Nerian mengangkat sebelah alisnya sambil terus menatap Ayya. Tubuhnya yang tinggi gagah dan ideal membuat Ayya sedikit tersudutkan.

"Bukannya kamu yang pegang aku, ya?"

Ayya berdecak gemas. "Pokoknya bayar!" tegasnya.

"Gimana kalo aku mau kerja sama selama 4 bulan?"

Ayya menoleh dramatis. "Nggak bisa! Seminggu paling lama."

"Selama 4 bulan kamu juga tinggal di rumahku dengan segala fasilitas yang lengkap dan bebas ngelakuin apa aja," Nerian kembali mengajukan penawaran.

Ayya sedikit tergiur mendengarnya, apalagi tampang Nerian yang terlihat seperti pengusaha kelas atas. Jas yang dipakainya saja dari merek terkenal yang pernah Ayya lihat di majalah.

"Nggak bisa, gue memegang prins—"

"Setiap bulan dibayar 10 juta, dan setiap kamu berhasil membuat orang-orang itu menjauh, aku kasih bonus 5 juta," ujar Nerian memotong kalimat Ayya.

"SETUJU!"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • PACAR SEWAAN 24 JAM   07: Desakan intens

    " Coba aja kalo berani " Rahang perempuan kesetanan itu bergetar hebat saat mendengar ucapan dingin dan kejam dari Nerian. Matanya yang memerah terus melayangkan tatapan penuh kebencian ke arah Ayya Jika bisa mungkin dia sudah membunuh perempuan cantik itu saat ini juga. " Aku nggak bakal diem aja ngeliat kalian bahagia! aku nggak ikhlas Nerian!!! " Berang nya dengan suara yang pecah bercampur sesak dan sakit. Nerian menatap nya dingin " Aku nggak peduli " Sahutnya acuh " Wlek! " Ayya menjulurkan lidahnya meledek " Sana pergi nanti meledak loh matanya ngeliat kita, yakan sayang " Nerian hanya tersenyum saat dagunya di usap manja oleh Ayya, terlihat seperti seekor serigala yang dijinakkan. Dengan penuh amarah dan luka Siren pun pergi dari hunian mewah itu. Ia tak kuasa menahan sakit luka di hatinya, hingga sepanjang perjalanan pulang airmata nya terus menderai dengan begitu pilu. Sementara itu Nerian dan Ayya terpaku kaku dalam keheningan yang menyelimuti keduany

  • PACAR SEWAAN 24 JAM   06: Kesalah pahaman yang menerus

    Ayya terduduk dengan wajah kesalnya. Ia tak habis pikirdengan apa yang Nerian pikirkan tentang dirinya. Bisa-bisanya laki-laki itumenganggapnya hamil."Aku minta maaf. Aku bener-bener nggak tau. Please,"ujar Nerian untuk kesekian kalinya.Sejak kejadian di taman tadi sore dan sampai saat ini pukul8 malam Ayya terus mendiaminya."Maafin aku."Nerian pindah duduk di sisi Ayya dan perempuan itu langsungmemutar tubuhnya. Ia enggan menatap Nerian."Aku transfer 10 juta! Tapi maafin aku, ya." Ayyasemakin merajuk.Nerian kembali bernegosiasi untuk mendapatkan maafnya."Aku checkout semua keranjang belanja kamu! Maafin aku, tapi. Please."Ayya berdecak sinis. Ia menatap Nerian tajam dan penuhkemarahan. "Nggak semua hal bisa diselesaikan dengan uang!!"Tatapan berbinar Nerian seketika meredup. Ia tidak tahuharus bagaimana menghadapi wanita yang merajuk."Aku nggak tau harus gimana lagi. Aku tau aku salah,aku tau pikiran aku bodoh. Aku minta maaf."Satu hal yang tidak mereka sadari, hu

  • PACAR SEWAAN 24 JAM   05: Siapa yang hamil?

    "Loh, nggak ke kantor?"Nerian menoleh dari layar laptopnya sekilas, memandangi Ayyayang baru keluar dari dapur."Enggak, aku ngontrol perusahaan dari rumah. Kerjaankantor juga nggak terlalu banyak," sahut Nerian santai sambil tersenyumtipis.Suara bising terdengar di telinga Nerian dari earphoneyang ia pakai. Di seberang sana, Riyan tengah mengomel sambil mengerjakan semuapekerjaan kantor yang menumpuk."Kamu mau makan buah nggak? Atau yang asem-asem?"Kedua alis Ayya menukik. Ia melirik Nerian bingung sambilterus menenggak minumannya."Nggak mau.""Apa mau makan yang lain?"Ayya semakin meliriknya ngeri. Tumben sekali laki-laki acuhitu mendadak perhatian."Bilang aja, mau ngasih kerjaan apa? Ngusir keluargaitu lagi atau mantan tunangan lo itu?" ujar Ayya menghampiri Nerian yangduduk di sofa."Masih mual?" Nerian mengalihkan pertanyaan Ayya."Nggak," sahutnya lemas sambil mengusap-usapperut."Makan dulu gih. Aku udah tambahin bahan-bahan masakandi dapur. Masak apa pun yang

  • PACAR SEWAAN 24 JAM   04: Dia hamil

    Ayya gelagapan dan kepanikan terpancar jelas di sorotmatanya. Ia berusaha untuk tenang saat Nerian melangkah menghampiri mereka."Kita pernah ketemu dulu, dan mungkin dia masihinget," Ayya berkilah di sela kerisauannya.Nerian terdiam memandangi keduanya bergantian kemudianmengangguk. Ayya tidak bisa menebak apa yang ada di pikiran laki-laki itu,karena sorot matanya yang begitu tenang."Ayo kita pulang. Aku mau ke toko sayuran dulu, ya. Maubelanja buat masak sehari-hari," ujar Ayya memeluk lengan Nerian.Gerakannya terkesan terburu-buru.Nerian tak menyahut. Ia hanya mengangguk sekali. Matatajamnya menatap Dion. "Kita duluan.""Hati-hati," sahut Dion. Ia terus menatapkepergian Ayya dan Nerian hingga keduanya benar-benar hilang dari pandangannya."Seandainya kamu bisa sedikit buka hati buat aku,Ayy," bisiknya di sela kesunyian.Nerian menyalakan mesin mobilnya saat Ayya sudah duduk disisi kemudi. Ia memandangi perempuan cantik itu sekilas."Dion pernah jadi pacar sewaan?"Ayya

  • PACAR SEWAAN 24 JAM   03: Dion?

    Seruan itu memecah keheningan kantor bagai petir di siangbolong.Dari arah belakang, Siren melangkah dengan wajah menghitamsaking emosinya."Kamu ngapain sama dia?!"Suasana seketika berubah canggung, persis seperti istri yangmemergoki suaminya berselingkuh."Cium pacarku," jawab Nerian santai, lengankekarnya semakin erat melingkar di pinggang Ayya.Tatapan Siren yang setajam belati terhunus ke arah Ayya."Ngapain sih dia ke sini?" Ayya membalas denganlirikan sinis."Heh! Mau ngapain pun gue ke sini bukan urusan lo,dasar pelakor!" sentak Siren kesetanan."Loh, jelas urusan gue. Kan gua pacarnya Nerian."Wajah tengil dan gestur sombong Ayya sukses membuat Siren kelabakan.Mata Siren menatap tajam tangan Nerian yang bertenggernyaman di pinggul Ayya. Ia menarik paksa lengan pria itu. "Lepasin!Lepasin!"Nerian menepisnya kasar, sementara Ayya ikut mendorong bahuSiren menjauh."Jangan pegang cowok gue! Dasar perempuanmurahan!" Ayya mencibir pedas, pura-pura mengusap lengan Nerian

  • PACAR SEWAAN 24 JAM   02: Lupa nama.

    "Ini syarat dan perjanjian buat kerja sama. Mohon dibaca sebaik mungkin dan tanda tangan."Ayya menaruh secarik kertas yang baru saja ia cetak—lengkap dengan pulpen dan juga materai."Pihak B tidak boleh menyentuh Pihak A tanpa seizin Pihak A."Ayya mengangguk. "Iya, karena gue nggak mau dirugiin sedikit pun."Terdengar dengusan geli dari laki-laki tampan itu dan ia kembali membaca perjanjian yang tercantum. Ayya sedikit terkejut karena orang-orang yang ia temui biasanya langsung tanda tangan atau hanya membaca inti dari perjanjian."Tidak ada ciuman, pelukan, adegan intim yang merugikan Pihak A, adegan romantis tanpa kondisi penting, dan tidak ada pegangan tangan selama tidak ada orang."Nerian kembali membacakan syarat yang menurutnya sedikit menggelikan, karena tidak mungkin juga dia melakukan hal seperti itu."Kenapa? Kalo nggak setuju, ya udah, batal aja," ujar Ayya arogan."Sebentar, nama kamu siapa?" Ini sudah keempat kalinya Nerian bertanya, karena sejak tadi Ayya terus berkil

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status