Share

NOTE 3 HOEK

Author: smooothis
last update Last Updated: 2025-11-25 17:50:16

Kenapa aku sampe gemeteran sama toko parfum? Sebenernya udah lama aku musuhan sama semua bau. Nggak cuman parfum. Tapi trauma ini mendadak naik level gara-gara rentetan kerusuhan pagi tadi.

Ingatan Dimas melayang mundur.

Saat itu, di ruang HRD studio digital printing, Dimas berusaha duduk tegap. Di depannya ada om-om yang gayanya udah kayak yang paling punya kantor. Kakinya nangkring santai di atas meja, nunjukin sol sandalnya yang semulus pipi artis Korea. Di situ tertempel noda cokelat misterius. 

Mudah-mudahan bukan eek kucing.

Si om HR membolak-balik CV Dimas dengan kecepatan siput, seolah sedang meneliti naskah kuno. Tatapan matanya kosong kayak isi dompet akhir bulan. 

Dimas melirik jam dinding di sebelah kirinya; sudah sepuluh menit lebih jarumnya bergeser dalam keheningan. 

Mumpung nganggur, ia pun mengamati sekitar. Ruangan ini ternyata multifungsi: ruang kerja, gudang, sekaligus sauna. Tumpukan kertas dan gulungan spanduk membentuk lanskap pegunungan di setiap sudutnya. Satu-satunya sirkulasi udara datang dari kipas angin di langit-langit yang putarannya agak sekarat. 

Tapi semua “kenyamanan” ini—ruang sempit, panas, dan om-om tatapan kosong—masih bisa ditolerir. Asal ada empat aturan emas yang tidak dilanggar: 1. Jangan; 2. Suruh; 3. Buka; 4. Masker.

"Bisa dibuka maskernya, Mas?"

Duh, mampus.

Otak Dimas langsung masuk mode taktik. Wah, gimana ini? Sik, sik, santai Dim, gini skenarionya. Choice A: aku tolak. Si Om bakal auto-nyinyir, CV-ku dilempar ke bak sampah, pulang jadi pengangguran terhormat. Keren sih. Choice B: aku buka. Dalam hitungan detik aku bakal sengsara, dijamin viral, malu seumur hidup. Tapi ada peluang 1% bakal diterima kerja. Hm … worth it gak ya?

Dimas memilih secret choice C: negosiasi. “Umm … anu, Pak …. Saya ada kondisi medis, itu sudah saya tulis di bagian atas sendiri,” katanya sambil menunjuk berkasnya dengan gugup.

“Kondisi medis apa? Covid udah lewat kok,” balasnya, seolah masalah hidup Dimas itu cuma selevel gangguan nyamuk. “Udahlah, buka aja.”

Nyerah. Dimas menarik napas panjang lalu dengan gerakan setegang tim gegana, ia melepas kaitan maskernya. Seketika, udara sumuk yang tadi tertahan langsung nyerbu lubang hidungnya. Ia buru-buru menahan napas, beralih ke mode pernapasan lewat mulut.

Si Om nurunin kakinya dari meja dengan bunyi gedebuk kasar. “Oke, Mas Dimas. Coba ceritakan, apa kelebihan terbesarmu?”

Crut. 

Sebuah pelor cilik meluncur dari mulut si Om. Mata Dimas menangkap setitik air liur melayang seanggun atlet ice skating sebelum mendarat di meja dengan bunyi ‘tik’ yang nyaris tak terdengar.

Dimas melotot. Jigongnya mencolot, gaes. Oke, oke, Dim, fokus, fokus. Keluarin jurus ‘Menjilat buat Meroket’. Bernapas lewat mulut, ingat, bernapas lewat mulut.

"Um ... anu, saya …, kata teman-teman, saya cepat belajar, Pak. Saya yakin bisa segera jalankan SOP perusahaan, apalagi kalau dibimbing sama orang yang berpengalaman kayak Bapak.”

Si Om langsung menegakkan punggung, perut buncitnya ikut terangkat bangga. “Terus, kenapa tertarik kerja di sini?”

Bresss. Rentetan muncratan baru datang lagi, kali ini kayak gerimis lokal.

Dimas menahan diri untuk tidak menyeka dahinya. “Anu … saya lihat reputasi perusahaan Bapak ini luar biasa dalam hal kualitas cetak, jadi, umm … saya ingin jadi bagian dari tim yang terhebat.”

Si Om tersenyum lebar, memamerkan pemandangan gigi yang … ya begitulah. “Ah, ini sebenernya bukan perusahaanku, sih. Aku kerja aja, tapi pantes ya aku jadi bos di sini?” Alisnya naik dua kali.

“Oh, Bapak karyawan?” Dimas pura-pura terkejut. “Masa, sih? Saya kira bapak bosnya.” 

Si om menatapnya tajam sejenak, lalu meledaklah dia. “BHUA HA HA HA!” 

Tekanan pada huruf ‘BH’ itu menciptakan cipratan tunggal berkecepatan tinggi. Laksana penembak jitu, setetes iler mendarat sempurna ke dalam mulut Dimas yang sedikit terbuka.

BWAH! APAAN NIH? Dalam sepersekian detik, Dimas lupa cara bernapas lewat mulut dan auto-narik napas … lewat hidung.

Realita di depan mata Dimas langsung meleleh. Wajah si om berubah. Meregang. Mulutnya memanjang menjadi corong hijau tua yang berkedut-kedut. Pupil hitamnya melebar, menelan seluruh bagian putih matanya. Kancing dadanya copot dan dari dalam menyeruak dedaunan rimbun.  

Dimas membeku.

Monster itu menatapnya sebentar ... lalu memuntahkan peluru pertamanya. 

CEP-PLOK!

Refleks, Dimas menjatuhkan diri ke belakang bersama kursinya. Saat tubuhnya hendak terhempas ke lantai, matanya terpaku pada proyektil hijau yang melesat tepat melintasi mukanya. Sebuah biji pete sebesar bola tenis, berputar di udara sambil memuncratkan butiran-butiran liur yang nempel di permukaan. 

Peluru pete itu menghantam dinding di belakangnya sampai bolong. 

Punggung Dimas mendarat keras di lantai. Belum puas mengaduh, Dimas menyadari si monster sayur mengincarnya lagi, lalu menembak tiga kali. 

PLOP! PLOP! PLOP!

Dimas berguling ke samping, menghindari rentetan tembakan yang menghantam lantai semen polos industrial, meninggalkan ceruk kawah-kawah kecil berbau busuk. 

Berlindung! Berlindung!

Dimas merangkak panik, lalu menggulingkan meja kecil di depannya untuk dijadikan tameng. Tak sampai sedetik, sebuah peluru pete menghantam meja itu hingga hancur berkeping-keping. 

"AKH!" Dimas terpental ke belakang, menabrak tumpukan kardus mug hingga menyebarkan pecahan keramik. Ruangan itu kini luluh lantak. Tubuhnya terhimpit reruntuhan, ia tidak bisa bergerak.

Monster itu mengarahkan moncongnya tapi tidak segera menembak. Mulut monyongnya ditarik ke belakang sambil bergetar-getar. Mulutnya mulai bersinar hijau pekat dikelilingi kilatan listrik liar, mengeluarkan suara desing bernada tinggi.

“Waduh, gawat! Jangan! Ampun, Paaaaak!” Tembakan pamungkas akan datang. Dimas tidak bisa menghindar. 

“AAAAAAAAAAAAAAAA …!”

… Jeritan keras itu cuma terdengar di dalam kepalanya. Kenyataannya, Dimas masih duduk kaku di kursinya, menjawab pertanyaan demi pertanyaan dengan senyuman yang ditarik selebar mungkin. Wajahnya sedikit berkilau oleh cipratan-cipratan liur dari om HR. Ruangan itu masih utuh, gerah seperti biasa.

Si om tersenyum puas. “Jawaban yang bagus! Saya suka semangat Mas. Kelihatan dari cara Anda natap saya.”

Dimas mesam-mesem.

Si om merenung sejenak, tampak damai seperti pertapa. “Mas ini satu-satunya orang yang attitude-nya bagus, lho.” Lalu wajahnya berubah menegang. “Tak kasih tau ya, Mas? Selama saya wawancara … tiba-tiba orang tu suka kabur! Pergi gitu aja! Nggak ngomong, nggak apa, ngilang! Kenapa coba?!”

Hm … kenapa, ya, kira-kira? 

“BENER kata orang-orang, Mas. Gen Z tu … WUAH! GAK SOPAN! GAK TAHAN BUANTING!” Siraman ludah sukses mendarat di wajah Dimas. Beberapa bahkan berhasil menyusup masuk ke matanya. Dengan kepasrahan tingkat tinggi, Dimas tidak berkedip.

Apa pun lah, Om. 

Pewawancara itu tersenyum lebar. Ia mengulurkan tangannya. “Feeling saya bagus sama Mas Dimas. Selamat. Mas saya terima kerja di sini.”

Tangan itu terulur. Tawaran pekerjaan. Akhirnya sebuah kemenangan. Mereka pun bersalaman. Jarak mereka sangat dekat.

“Jangan kuatir, saya pastikan Mas nanti seruangan sama saya.”

Crot. Crot. Crot. Mereka masih bersalaman. Jarak mereka sangat dekat. 

“Suka ngobrol, kan? Waa … kalau ngobrol sama saya bisa lupa waktu, Mas.”

Crot. Crot. Crot. Mereka masih bersalaman. Jarak mereka sangat dekat. 

“Bisa sampai jam dua, jam tiga pagi.”

Crot. Crot. Crot. Mereka masih bersalaman. Jarak mereka sangat dekat. 

“Apalagi sambil makan pete! Walah, muanthaaap! Oegh!” Si om bersendawa, mengantarkan segumpal asap hijau ke muka Dimas. 

Yak, cukup sekian. 

Seketika, perut Dimas serasa diremas dari dalam. Keringat dingin membanjiri pelipisnya. Mulutnya tiba-tiba penuh oleh air liur. Ia mencoba menelannya kembali, tapi gagal. Dan ia pun …,

“HOEEEEEEEEEEK!”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • PDKT di Sarang Monster   NOTE 88 MENUNGGU

    Materi terakhir telah tertutup bersamaan dengan aroma sisa praktikum yang menguap di udara kelas. Azura berdiri di depan meja laboratoriumnya, merapikan beberapa catatan dengan gerakan yang tenang dan khidmat. Ia kemudian menengadah, menatap kedua muridnya dengan binar mata yang jernih."Alhamdulillah," ucap Azura lirih namun terdengar jelas ke seluruh penjuru ruangan. "Puji syukur kepada Sang Pemilik Segala Aroma, seluruh materi telah tuntas kita pelajari bersama. Tidak ada lagi teori yang tersisa, yang ada kini hanyalah pembuktian."Ia menjeda sejenak, membiarkan suasana senyap itu menekankan bobot kata-katanya. "Satu minggu setelah hari raya Idul Fitri nanti, kompetisi 'Legenda Layla' akan resmi diadakan. Ini bukan sekadar ujian, melainkan perjalanan untuk memanggil kembali ingatan yang telah lama hilang."Azura

  • PDKT di Sarang Monster   NOTE 87 PERCAYA PADAMU

    Kabar itu datang seperti petir di siang bolong bagi Dimas. Azura tumbang karena kelelahan, dan di saat yang sama, Layla Badar menerima pesanan masif: sepuluh ribu botol parfum yang harus selesai dalam waktu singkat."Secara kontrak, kau itu pustakawan aroma, Dimas. Tugas kau melayani tamu dan menawarkan parfum, bukan meracik," ujar Pak Badar sambil menyiapkan meja lab."Saya mau bantu, Pak. Di luar jam kerja tidak ada masalah," balas Dimas tegas. Ia tidak bisa diam saja membayangkan Azura yang sedang terbaring sakit sementara beban toko menumpuk.Malam itu, laboratorium Layla Badar menjadi saksi sebuah kerja keras. Dimas terpaku melihat kecepatan tangan Pak Badar. Namun, yang lebih mengejutkan adalah Eyang. Wanita tua itu bergerak sedikit lebih cepat, tangannya menari di antara botol-botol esens dengan presisi yang

  • PDKT di Sarang Monster   NOTE 86 SIMPUL BESAR

    Aroma sabun yang segar masih menguar dari tubuh Dimas saat ia duduk di ruang tengah. Matanya berbinar menatap sebuah meja kayu yang sudah tertata rapi. Di sana, Pak Badar duduk bersila dengan tenang, tangannya bertumpu pada sebuah tudung saji anyaman tua yang menyembunyikan harta karun paling berharga di dunia."Kau siap?" tanya Pak Badar dengan nada penuh misteri.Dimas mengangguk mantap, napasnya tertahan."Saksikanlah!" Pak Badar mengangkat tudung saji itu dengan heroik.Seketika, cahaya putih menyilaukan keluar dari bawah tudung tersebut. Dimas refleks memicingkan mata. Saat sinar itu mereda, wajahnya tampak begitu takjub, di hadapannya tersaji hidangan yang baru saja turun dari langit."Sayur bening tanpa garam!" teriak

  • PDKT di Sarang Monster   NOTE 85 TENTANG LAYLA

    Di dalam dimensinya, Dimas sedang berpesta. Ia melenting ringan, berputar di udara, dan mendarat dengan ujung kaki yang lincah di atas matras. Di sekelilingnya, belasan prajurit chibi Bergamot—dengan perut buncit dan helm kulit jeruknya—berlarian kacau."Eits, ketinggalan!" goda Dimas sambil melompat melewati kepala salah satu monster mungil itu. Ia menyentil daun di helm mereka satu per satu, membuat mereka terjungkal seperti bola pingpong. Dimas tertawa, rasa percaya dirinya membubung tinggi. Hidungnya kini terasa seperti benteng yang tak tertembus. "Ayo, cuma segini kemamp—"Tiba-tiba, cahaya di sekitarnya meredup. Sebuah bayangan masif merayap cepat dari arah belakang,

  • PDKT di Sarang Monster   NOTE 84 AMBANG BATAS

    Pak Badar berdiri bersedekap, matanya yang tajam mengawasi Dimas yang baru saja menyelesaikan set burpees terakhir dengan napas menderu. Keringat membanjiri matras, namun satu hal yang biasanya menjadi penutup rutin sesi mereka tidak kunjung terjadi. Tidak ada suara mual, tidak ada tubuh yang tersungkur memegangi perut, dan tidak ada muntahan di lantai."Dimas," panggil Pak Badar, suara beratnya bergema di langit-langit gym yang sunyi. "Kau masih berdiri. Bagus."Dimas menyeka peluh di kening dengan lengan bawahnya yang kini tampak lebih kokoh. "Badan saya terasa ... ringan, Coach. Tidak ada rasa mual sam

  • PDKT di Sarang Monster   NOTE 83 CITA-CITA

    Layar gawai di tengah meja itu menampilkan pendar cahaya biru yang tajam. Di sana, Chad berdiri dengan kemeja slim-fit yang sempurna, memegang sebuah alat sensor berbentuk futuristik yang mendesis halus saat menyedot partikel udara di sekitarnya."Dengan teknologi Headspace terbaru ini," ucap Chad ke arah kamera dengan senyum kemenangannya, "rahasia alam bukan lagi misteri. Di masa depan yang dekat, saya bisa merekonstruksi aroma apa pun ke dalam kode digital. Keabadian kini ada dalam genggaman kita."Melia dan Yunita memekik gemas, mata mereka berbinar menatap siaran langsung tersebut."Gila, Rara! Dengan bantuan Chad, Layla Badar bakal meroket

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status