LOGINOtak Dimas langsung sibuk memproses semua file gosip yang pernah ia dengar. Katanya mereka itu punya “geng” sendiri. Kalau diajak salaman pasti nolak, ngobrol cuma sama yang sejenis, terus kalau ngeliatin orang tatapannya galak. Hidupnya kaku, isinya cuma pengajian sama aturan-aturan ketat. Mereka nggak nongkrong di kafe, nonton bioskop, maraton anime, dan tentu saja, nge-game semaleman.
Dimas baru ingat, barusan ada bubaran acara di masjid yang ia lewati; gadis ini pasti salah satu dari mereka. Dimas nggak pernah sekalipun punya minat, apalagi rencana, untuk berinteraksi dengan kaum ini.
Tapi sekarang, di sini, salah satunya sedang berdiri di depannya. Habis menyelamatkan nyawanya. Gara-gara bekicot. Dan di luar semua itu, memiliki mata terindah yang pernah dilihat Dimas. Logika di kepalanya langsung dhol.
“Mas tidak apa-apa?” tanya gadis itu, suaranya yang dingin membuyarkan lamunan Dimas.
Dimas tersentak. Mas? Kok dia tahu namaku? Ia buru-buru sadar. Oh, ‘Mas’ bahasa Jawa, ya.
Pemuda itu buru-buru bangkit sambil menepuk-nepuk celananya yang kotor, berusaha mengusir debu sekaligus rasa malunya.
“Umm … anu … nggak apa-apa, kok,” jawabnya sok nyantai, meski suaranya sedikit pecah. “Makasih banyak, ya, udah nolongin.”
Gadis itu tidak langsung menjawab. Ia membiarkan jeda hening menggantung selama beberapa detak jantung, seolah membiarkan angin sore mengambil alih percakapan mereka.
Pandangannya yang dingin menyapu ujung sepatu Dimas hingga ke wajah pemuda itu, seolah sedang melakukan penelitian adab. Entah apa yang dipikirkannya.
Ia memberikan satu anggukan singkat.
Pandangannya kemudian bergeser perlahan, lepas dari wajah Dimas. Bola matanya bergerak lincah menyisir sekitar sebelum akhirnya ia memutus kontak sepenuhnya. Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, gadis itu memutar tumit, lalu melangkah pergi dengan ritme yang teratur, meninggalkan Dimas yang masih terpaku di tempatnya.
Kekecewaan merayapi dada Dimas. Otaknya menjerit panik, membunyikan alarm darurat. Ayo, Dimas! Ngomong sesuatu yang keren! Tahan dia! Jangan cemen!
Namun, sistem motorik mulutnya seolah mengalami kegagalan fungsi total. Yang keluar hanyalah helaan napas putus asa. Tenggorokannya terasa kering kerontang. Ia hanya bisa menelan ludah, bersiap menerima takdirnya sebagai NPC yang cuma numpang lewat dalam hidup gadis itu.
Langkah si gadis tiba-tiba berhenti.
Ia memutar tubuh setengah poros, pandangannya menunduk ke samping. “Kalau mau nyeberang, lain kali hati-hati, Mas.”
Mata Dimas membelalak. Plot twist, Gaes! Jangan sia-siakan!
“Oh, aku … bukan mau nyebrang, kok,” sanggah Dimas cepat. Ia buru-buru mengatur nada suaranya agar terdengar berat, berusaha setengah mati untuk terlihat cool. “Tadi itu ... aku cuma mau nolongin bekicot.”
“Bekicot?” Satu alis gadis itu terangkat skeptis.
Dengan penuh percaya diri, Dimas menyunggingkan senyum simpul andalannya sambil menyodorkan telapak tangannya yang menguncup ke hadapan si gadis. Niatnya nunjukin si bekicot dalam posisi terbalik. Gestur seorang pahlawan hewan.
Pandangannya meluncur ke tangan Dimas, menatapnya lamat-lamat, lalu beralih ke wajah Dimas, dan kembali lagi ke tangan itu.
Hening.
Telapak menguncup itu kosong melompong. Bekicot imajiner itu jelas tidak ada di sana.
Dahi gadis itu berkerut dalam, bingung bercampur curiga. “Yang mana?”
Hah?
Jantung Dimas rasanya copot seketika. Matanya mengerjap bodoh menatap telapak tangannya yang kosong melompong. Mampus. Bekicotnya hilang? Jatuh ke mana?
Keringat dingin mulai merembes. Dengan gugup ia memutar pergelangan tangannya perlahan-lahan. Memperlihatkan sisi sebaliknya.
Benar saja.
Di punggung tangannya, menempel dengan begitu khidmat. Si moluska kecil sedang merayap santai, seolah sedang menikmati tur wisata di atas kulit Dimas, meninggalkan jejak lendir basah yang berkilauan ditimpa cahaya matahari.
“AAAAAAAAAAAAAAAAA!!!”
Dimas panik akut. Sambil berputar-putar di tempat, ia menyodorkan tangannya sejauh mungkin dari tubuhnya, seolah memegang granat lendir yang siap meledak.
“Eh, k-kenapa?!” Gadis itu ikutan panik melihatnya, refleks mundur selangkah.
“TOLONG! TOLONG! BEKICOT!”
“Dikibaskan saja, Mas!” sarannya, sambil ikut mengibas-ngibaskan tangannya sendiri dari jauh.
“JANGAN! NANTI PECAH DIA! MATI!” balas Dimas histeris. “Tolong ambilin, Mbak! Aku jijik!”
Gadis itu mengedarkan pandangan ke sekeliling. Kiri. Kanan. Belakang. Ia berharap ada satpam, tukang parkir, atau siapa pun yang bisa menggantikan posisinya saat ini.
Nihil. Jalanan itu sunyi senyap. Ia terjebak dengan pemuda aneh ini.
Gadis itu menatap Dimas yang masih berputar-putar seperti gasing rusak, beserta bekicotnya yang "bertakhta" di tangan pemuda itu. Terdengar helaan napas panjang—tanda penyerahan diri pada nasib.
Dengan mengumpulkan sisa-sisa keberanian, gadis itu akhirnya melangkah maju.
"Mas! Berhenti dulu! Gimana saya mau ambil kalau Masnya muter terus?" Nadanya terdengar kesal.
Dimas ngerem mendadak. Mematung kaku dengan tangan masih terulur lurus ke depan.
"Tahan. Jangan gerak," perintah gadis itu lagi.
Ia menyipitkan mata fokus pada target.
“Bismillah … iiih ….”
Dengan wajah menahan jijik, ia menjepit cangkang bekicot itu menggunakan ujung ibu jari dan telunjuknya yang lentik.
Begitu cangkang itu ditarik perlahan, lapisan lendir yang menempel di kulit Dimas ikut terangkat. Sensasi dingin dan lengket itu seketika mengirim sinyal kejut ke seluruh sistem sarafnya. Tubuh Dimas refleks menggeliat, seperti cacing kepanasan.
“Aaah … pelan-pelan, Mbak … geli ….”
“Uuh … basah banget ini, Mas. Jadi licin pegangnya.”
“Cabut aja, Mbak! Buruan!”
“Sebentar … ini … keras … susah lepasnya!”
“Aduh … udah nggak kuat aku!”
“Tahan, Mas! Dikit lagi!”
Oke. Kalau ada orang denger tapi nggak liat adegannya, obrolan ini bisa jadi kesalahpahaman level dewa.
Gagal.
Setelah melalui beberapa percobaan, gadis itu tidak tega menariknya kuat-kuat, takut cangkangnya lepas.
Ia berpikir sejenak. “Coba tempelkan tangan Mas di pohon itu, biar dia jalan sendiri.”
“Oh, ide bagus.” Mereka pun mendekati sebuah batang pohon. Dimas menempelkan punggung tangannya yang gemetaran ke dahan.
Bekicot itu sepertinya trauma, langsung masuk mode pertapa, menarik seluruh badannya ke dalam cangkang.
“Kalau dipancing pakai makanan gimana?” usul Dimas.
Gadis itu mengangguk, lalu mencabut setangkai daun bayam liar di dekatnya. Dengan gerakan lincah, ia kembali ke sisi Dimas.
“Ayo, sini-sini!” Gadis itu mengibaskan bayamnya di depan rumah si bekicot. Tak ada reaksi.
“Coba sentuhin ke badannya,” kata Dimas sambil menunjuk.
Saat ujung daun itu menyentuh daging bekicot yang lembek, dua antena panjang keluar dari kepalanya, bergerak-gerak aktif.
“EWWWWW ….” Dimas dan gadis itu sama-sama geli, merinding kompak.
“Makhluk apa ini? Alien,” komentar Dimas dengan muka masam.
Bekicot itu perlahan mulai bergerak, mengikuti arah daun bayam di tangan si gadis yang dengan sabar menuntunnya.
Dimas tiba-tiba tersadar bahwa jaraknya dengan gadis itu sangat dekat.
Secara biologis, otak laki-laki didesain sebagai makhluk visual yang agresif. Ketika retina menangkap keberadaan lawan jenis dalam radius intim, nucleus accumbens—pusat sirkuit penghargaan di otak—berteriak menuntut asupan data visual yang lebih detail. Ini bukan sekadar rasa ingin tahu, melainkan respons testosteron untuk melakukan pengamatan terhadap "sesuatu" yang dianggap menarik.
Akibat kalah telak oleh dorongan biologis tersebut, Dimas tidak bisa menahan diri untuk melirik.
Halo, Sahabat Pembaca yang luar biasa,Assalammualaikum warahmatullahi wabarakatuh.Sampailah kita pada titik ini. Sebuah titik yang mungkin bagi sebagian orang terasa mendadak, namun bagi saya, ini adalah pelabuhan paling tepat untuk mengistirahatkan pena sejenak. Melalui surat ini, saya ingin menuangkan rasa terima kasih yang paling dalam, paling tulus, dan paling hangat dari lubuk hati saya yang terdalam. Terima kasih karena kalian sudah bersedia berjalan beriringan, menghirup aroma yang sama, dan ikut merasakan mual serta debar jantung yang dialami oleh Dimas dan Azura sejak bab pertama hingga kalimat terakhir di NOTE 138.Mungkin ada yang bertanya-tanya, "Kenapa berakhir di sini? Kenapa tidak ada pesta p
Satu bulan telah berlalu sejak bara di Pasar Agung padam, aroma kehidupan baru justru mulai merebak di toko “Layla Badar”.Dimas berdiri di sana, merapikan kemeja batiknya yang licin. Ketukannya di pintu kayu itu terdengar mantap. Ia mengucap salam. Tak lama, terdengar balasan salam dari dalam. Pintu terbuka, menampilkan sosok Pak Badar yang nyaris tak dikenali. Kepalanya yang plontos tampak bersinar, jenggot lebatnya tersisir rapi, dan ia mengenakan setelan jas yang pas di tubuh kekarnya.Pak Badar memandang Dimas dari ujung sepatu hingga tatanan rambut, lalu sebuah senyum tipis terukir di wajahnya. Ia mengangguk kecil, mempersilakan tamu-tamunya masuk.Eyang menyambut dari balik pintu, langsung menyambar pipi Dimas. “Cah lucu, cah lucu …
Kyai Khalid memutar tasbihnya perlahan, lalu berhenti tepat saat matanya menyipit ke arah Pak Badar. "Kau berulang kali menyebut pemuda itu mengecewakan, Badar. Bahkan Al-Fatihah saja dia tidak hafal. Lantas, apa yang membuatmu memutuskan untuk menerima lamaran kerjanya?"Pak Badar terdiam, lidahnya mendadak kelu menghadapi tatapan menyelidik Kyai Khalid. Ia melirik Azura, yang seketika menunduk dalam, jemarinya meremas kain gamis seolah sedang mencoba menahan debaran jantungnya sendiri.Ingatan Pak Badar melesat kembali ke sore itu, tepat setelah Dimas melangkah keluar dari toko dengan bahu lunglai usai wawancara yang kacau balau. Pak Badar hanya mendengus, memisahkan map biru milik Dimas dari tumpukan stopmap pelamar lainnya. Baginya, pemuda itu hanyalah angin lalu yang tak layak untuk diingat lagi.Namun, di lant
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh."Pintu kamar 302 berderit pelan. Kepala Hasan muncul dari balik celah pintu, gerakannya sangat hati-hati seolah takut memecah kesunyian ruangan. Saat tatapannya bertemu dengan Dimas yang sedang bersandar, sebuah senyum lebar nan tulus langsung terbit di wajahnya yang bersih."Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Silakan masuk," jawab Dimas, berusaha menegakkan punggungnya.Hasan melangkah mendekat dengan langkah yang tenang, tubuhnya sedikit membungkuk sebagai tanda hormat. Ia mengulurkan tangan, telapaknya menghadap ke atas dalam gestur menjabat yang sangat rendah hati. "Salam kenal, Kak Dimas. Saya Hasan."Dimas sempat tertegun sejenak. Kejadian luar biasa yang m
Besoknya, lorong rumah sakit yang biasanya sunyi dan berbau karbol itu mendadak punya atmosfer yang ganjil—campuran antara ketegangan asmara, drama keluarga, dan reuni lintas generasi yang bising.Di barisan kursi tunggu paling pojok, Setya sedang mengalami "hari kiamat" versinya sendiri. Di sisi kiri dan kanannya, dua gadis berdiri dengan tangan bersedekap dan tatapan yang sanggup melubangi tembok. Setya berkali-kali menyeka keringat dingin di pelipisnya, terjepit di antara dua aroma parfum berbeda yang sedang beradu tajam. Tampaknya, manajemen jadwal kencan sang playboy baru saja mengalami system crash karena kedua "klien"-nya datang di jam besuk yang sama."Jadi, kamu bilang tadi l
Sang Monster menjulurkan tangannya, tidak lagi sebagai ancaman, melainkan kebersatuan. Dimas menyambutnya dengan mantap. Begitu kedua telapak tangan itu bersentuhan, partikel-partikel atomik sang Monster berpindah dalam pusaran spiral yang liar, meresap masuk melalui pori-pori tubuh arang Dimas.Seketika, tubuh hitam legam itu menyala hebat. Cahaya kemerahan seperti bara api yang ditiup angin kencang merambat dari jemari hingga ke ubun-ubunnya. Retakan di sekujur tubuh Dimas bukan lagi tanda kehancuran, melainkan jendela bagi kekuatan yang tak terbendung.Hingga akhirnya, sang Monster meluruh sepenuhnya, menyatu dalam satu denyut nadi yang sama. Tubuh Dimas meledak dalam cahaya putih keperakan yang menyilaukan—sebuah pendaran murni yang aromanya mengingatkan Dimas pada satu hal: Aroma tubuh Azura. Keharuman yang suci, dingin, dan menenangkan. Tubuhnya ter







