Home / Rumah Tangga / PELAN PELAN SAYANG / 146 - RAIN MARAH PADA IBUNYA. IBUNYA PUN NEKAT BERTEMU PARANORMAL.

Share

146 - RAIN MARAH PADA IBUNYA. IBUNYA PUN NEKAT BERTEMU PARANORMAL.

last update Last Updated: 2025-09-23 18:07:18
Tak lama, Gendis memesan banyak makanan dan bunga. Ia sengaja menuliskan pesanan itu seolah pemberian dari Rain untuk ibu mertuanya.

“Semoga aja Mama nggak marah lagi,” ucap Gendis sambil tersenyum lega melihat beberapa pesanannya sudah diproses dan siap diantarkan. Tak lupa, ia juga memesan makanan yang sama untuk ayah dan ibunya.

•••

Sementara itu, ibu Rain tampak masih kesal. Pagi itu, di ruang makan, ia mengeluh dengan wajah muram.

“Mama masih nggak percaya Rain jahat ke Mama,” ucapnya dengan suara bergetar menahan sakit hati.

“Tapi masa sih, Ma, nggak ada masalah pemicu?” tanya ayah Rain dengan nada hati-hati.

“Jadi maksud Papa, Rain bisa marah karena Mama? Iya?” ucap ibunya dengan nada meninggi, matanya berkaca-kaca.

“Loh, Papa kan tanya? Apa pemicu kemarahan Rain?” ucap ayah Rain dengan dahi berkerut.

“Mama nggak tahu, Pa. Apalagi Gendis cuma diam aja, nggak satu pun dia tegur Mama. Terus Mama Papanya malah ikutan marahin Mama, terutama Mamanya Gendis,” ucap ibu
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • PELAN PELAN SAYANG   570. INTEGRITAS RETNO DI UJI. RAIN DAN CIPTA BERHASIL MENDAPATKAN BUKTI SUAP!

    “Jadi... gimana, Pak? Ada urusan penting apa yang membuat Pak Dermawan—yang dikenal luas masyarakat—mau bertemu dengan psikolog seperti saya ini?” tanya Retno. Ia menyunggingkan senyum profesional seraya menyesap teh hangatnya perlahan, berusaha menutupi kegugupan yang sejak tadi membayangi. “Hahaha... Jangan merendah begitu, Bu Dokter,” tawa Dermawan pecah, namun matanya tetap terasa dingin dan menekan. “Jadi begini... mengenai kesehatan saudara saya, Martha. Bagaimana perkembangannya sejauh ini?” Suasana restoran saat itu terasa begitu sejuk dan nyaman, berbanding terbalik dengan ketegangan yang menyelimuti meja tersebut. Dermawan menyandarkan punggungnya, menanti jawaban Retno dengan tatapan yang seolah bisa menembus pikiran lawan bicaranya. Tak jauh dari sana, Rain dan Cipta tampak asyik menikmati hidangan makan siang mereka. Untuk menjaga penyamaran, keduanya sibuk dengan ponsel masing-masing, sedang menghubungi istri mereka di rumah. Namun, indra pendengaran mereka menajam

  • PELAN PELAN SAYANG   569. RAIN DAN CIPTA TAHU RENCANA BUSUK ITU

    “Rain, gimana?” tanya Cipta saat keduanya tengah berdiri melihat ke arah jendela. Tatapan tajam mereka tertuju pada Retno yang tengah melangkah terburu-buru menuju parkiran mobil di bawah sana. ​“Saya dengar tadi... dia mau ketemu seseorang di Rumah Makan Gadang, Hotel Mandala,” ucap Rain sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Matanya terus mengunci pergerakan Retno yang terlihat menerima panggilan telepon dengan ekspresi serius sebelum akhirnya masuk ke dalam mobil. ​“Perlu kita ikuti?” tanya Cipta yang segera melirik jam di pergelangan tangannya. Ia tahu waktu makan siang adalah saat di mana kesepakatan-kesepakatan gelap sering kali terjadi. ​“Ayo,” ucap Rain singkat. Ia melirik ke arah Cipta dan menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan rencana. Tanpa membuang waktu, keduanya melangkah pergi meninggalkan lantai empat dengan langkah lebar yang berwibawa. ​Sebelum benar-benar pergi, Cipta segera berganti pakaian santai yang ia bawa dari rumah. kaos oblong dan jeans serta

  • PELAN PELAN SAYANG   568. ADA PEJABAT YANG INGIN MAIN-MAIN DENGAN KASUS HUKUM

    “Semua sudah rampung?” tanya Retno kepada tim interior yang baru saja menyelesaikan pekerjaan mereka. Matanya menyisir setiap sudut ruangan kantor Cipta yang kini telah berubah drastis menjadi ruang konsultasi kesehatan yang nyaman khusus untuk Martha. ​“Semua sudah bisa ditempati hari ini juga, Bu,” ucap salah satu perwakilan tim interior sambil merapikan peralatan terakhirnya dengan cekatan. ​“Oke. Dan pastikan di ruangan Pak Cipta tidak ada yang kurang sedikit pun,” ucap Retno dengan nada tegas, memastikan segala detail sempurna demi kenyamanan adiknya di tengah situasi sulit ini. ​Namun, saat Retno membalikkan badan hendak menemui Rain dan Cipta di ruangan Martha, ponsel di saku blazernya bergetar hebat. Ia merogoh benda pipih itu dan mengerutkan kening saat melihat deretan angka yang tidak terdaftar di kontak ponselnya. ​“Um... siapa ini?” tanya Retno pelan pada dirinya sendiri. Perasaannya mendadak tidak enak. Dengan ragu, ia menggeser tombol hijau dan menempelkan ponsel

  • PELAN PELAN SAYANG   567. RAIN DAN CIPTA SEDANG BERHADAPAN DENGAN MARTHA.

    “Rain? Cipta?” tanya Martha dengan suara parau saat melihat keduanya melangkah masuk ke dalam ruangan yang kini beraroma lavender itu. “Ma...” Cipta menyapa ibu mertuanya dengan nada ramah yang dipaksakan. Ia berusaha menekan rasa sesak di dadanya melihat wanita yang biasanya angkuh itu kini tampak begitu rapuh. Keduanya duduk dengan jarak yang cukup lebar dari sang ibu di atas sofa yang sama, menciptakan ruang kosong yang seolah menggambarkan jurang pemisah di antara mereka. Rain hanya terdiam, matanya menatap lekat jemari ibunya yang gemetar. “Kalian udah makan?” tanya Martha sambil melirik deretan makanan enak di atas meja. Hidangan itu sengaja disiapkan oleh Cipta sebelum ia harus mengikuti rapat penting di lantai lima bersama para petinggi kepolisian lainnya. “Udah, Ma...” sahut keduanya nyaris bersamaan. Jawaban singkat itu menggantung di udara, menciptakan keheningan yang menyesakkan. Martha mengangguk-angguk pelan, lalu pandangannya mulai berkeliling ruangan seolah m

  • PELAN PELAN SAYANG   566. RAIN DAN CIPTA MELIHAT SENDIRI

    “Dia bisa ketawa seolah-olah dia nggak pernah menyakiti Gendis atau hampir mencelakai Bima. Apa dia benar-benar sakit, atau ini hanya perlindungan dirinya agar tidak masuk penjara?” ucap Cipta sambil melirik Rain sekilas.Rain tidak langsung menjawab. Ia memperhatikan bagaimana Dokter Retno merespons tawa Martha dengan anggukan kecil yang empati, namun matanya tetap jeli mengobservasi.“Dalam psikologi, ada yang disebut represi, Cipta. Dia mengubur ingatan yang membuatnya merasa bersalah dan hanya memunculkan yang indah-indah aja. Tapi kita harus pastikan apakah ini permanen atau cuma akting sesaat,” balas Rain tenang, meski hatinya pun ikut geram melihat manipulasi emosi di depan matanya.“Kamu sedikit banyak paham kondisi kayak gini, Rain,” ucap Cipta sambil melirik iparnya itu sekilas.Rain mengangguk pelan, matanya tidak lepas dari sosok ibunya di balik kaca. “Saya memang psikolog reproduksi, walau kedengarannya jauh, tapi kami para psikolog mempelajari bagaimana pasien berbicara,

  • PELAN PELAN SAYANG   565. MARTHA BOLEH LUPA. TAPI KITA SEMUA INGAT!

    Kembali ke suasana di kantor polisi yang mulai memanas. Cipta melangkah dengan tegas menyusuri lorong setelah keluar dari ruang rapat di lantai lima. Seragam kepolisiannya tampak rapi, namun wajahnya menunjukkan guratan kelelahan setelah berhadapan dengan para petinggi. Sambil berjalan menuju tangga, ia menempelkan ponsel ke telinga.“Halo, Gendis? Rain udah jalan ke sini?” tanya Cipta pagi itu. Suara sepatunya yang beradu dengan lantai keramik menggema di sepanjang lorong sunyi.“Oh, Mas Cipta. Udah dari tadi, kok. Mungkin sebentar lagi sampai atau malah udah di parkiran,” ucap Gendis dari seberang telepon. Di latar belakang, terdengar suara tawa kecil Bima yang sedang asyik bermain.“Oke, thanks. Sorry ganggu pagi-pagi. Salam kangen buat Bima ganteng dari uncle pakde, ya,” ucap Cipta sambil tersenyum tipis, sejenak melupakan ketegangan kasus Martha saat mendengar nama keponakannya.“Ahahaha... siap deh, Pakde Uncle!” sahut Gendis ceria sebelum mengakhiri percakapan tersebut.Cipta m

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status