LOGINMenjelang pagi, keheningan kamar utama pecah oleh suara tawa mungil Bima. Bocah itu sudah terbangun lebih dulu dan kini sibuk memanggil-manggil ayahnya.“Papa… bangun… Papa…” ucap Bima sembari menggoyang-goyangkan bahu Rain. Suaranya terdengar jernih, menunjukkan kemampuan berbicaranya yang fasih, jauh melampaui balita seusianya.Rain yang masih terlelap perlahan membuka mata, disambut oleh wajah ceria putranya yang menggemaskan. Belum sempat Rain menjawab, perhatian Bima tiba-tiba teralih.“Mama…!” seru Bima sambil tertawa girang. Ia melihat ke arah Gendis yang masih terlelap di sisi lain ranjang. Tanpa sengaja, pakaian tidur Gendis tersingkap sedikit karena posisi tidurnya yang miring, menampakkan sebagian dadanya. Dengan kepolosan khas balita, Bima tahu bahwa di sana tersedia stok ASI yang selalu siap untuknya.Melihat tingkah spontan putranya, Rain segera menarik selimut untuk merapikan pakaian istrinya, sembari tersenyum kecil menahan tawa melihat binar mata Bima yang mendadak pe
“Kamu istirahatlah dulu, Sayang. Bawa Bima ke kamar kita,” ucap Rain dengan nada rendah, jemarinya masih mengusap punggung Gendis dengan lembut, mencoba menyalurkan sisa-sisa ketenangan yang ia miliki.“Kamu mau ke mana?” tanya Gendis cemas. Ia menatap suaminya dengan mata sembap, seolah tak ingin ditinggal sendiri setelah badai yang baru saja mereka lalui.“Saya mau ke ruang monitor sebentar. Saya harus periksa rekaman CCTV mau lihat ke mana aja Mama pergi sebelum dia berhasil masuk ke kamar Bima,” sahut Rain. Sorot matanya kini berubah menjadi dingin dan tajam, sebuah tanda bahwa ia sedang dalam mode melindungi keluarganya dengan cara yang sangat serius.Rain kemudian bergerak hati-hati menggendong Bima yang masih terlelap, memastikan putranya tidak terusik. Dengan sebelah tangan lainnya, ia merangkul Gendis, membimbing istrinya menuju kamar utama. Setelah memastikan mereka aman di dalam, barulah ia akan mencari kebenaran di balik layar monitor—kebenaran yang mungkin akan membuatnya
“Aduh… gimana ini? Bisa-bisa aku kena marah Bapak sama ibu kalau beliau tahu aku yang kasih kode kunci kamar Bima,” bisik Yuni dengan suara gemetar. Ia berdiri mematung di lorong, wajahnya pucat pasi mendengar suara keributan yang meledak dari dalam kamar Bima. Jantungnya berdegup kencang, dihantam rasa bersalah karena telah membiarkan ibu Rain masuk dengan mudah. Yuni mulai melangkah mengendap-endap, tubuhnya menempel pada dinding saat ia berusaha mendekat ke arah sumber suara. Ia ingin memberikan penjelasan—atau mungkin pembelaan diri—tentang bagaimana ibu mertua majikannya itu bisa menyelinap masuk. Namun, setiap teriakan Rain yang terdengar dari dalam membuatnya nyaris kehilangan tenaga untuk sekadar berdiri tegak. Ia terjepit di antara rasa takut pada atasannya dan tekanan dari ibu Rain yang tak mungkin ia tolak sebelumnya. “Mama kayaknya nggak butuh psikolog, psikiater, atau apa pun itu. Langsung ke penjara aja, ya!” geram Rain dengan napas yang memburu penuh amarah. Tanga
“Kira-kira, Mama tidurnya nyenyak nggak k, ya?” gumam Gendis dengan nada cemas yang halus saat mereka berdua baru saja melangkah keluar dari kamar mandi, masih berbalut sisa kehangatan sisa penyatuan tadi. “Kayaknya sih nyenyak…,” sahut Rain menenangkan. Ia tersenyum lembut sembari mengecup puncak kepala Gendis, lalu melangkah menuju pakaian mereka yang masih tergeletak berserakan di atas lantai, tidak jauh dari ranjang mewah mereka. Gendis menerima pakaian tidurnya yang diulurkan oleh Rain, namun sorot matanya tidak bisa berbohong—ada kegelisahan yang tiba-tiba merayap di hatinya. Keheningan rumah malam itu terasa sedikit berbeda bagi instingnya sebagai seorang ibu dan menantu. “Aku cek Mama dulu aja ya, Mas?” tanya Gendis pelan seraya mengenakan pakaiannya. Ia menatap Rain, seolah meminta izin untuk memastikan bahwa segalanya baik-baik saja di luar kamar mereka yang kedap suara itu. Rain hanya mengangguk pelan, membiarkan istrinya mengikuti firasat tersebut, tanpa menyadari bahw
Ibu Rain mengambil langkah seribu menuju kamar cucunya. Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia mulai menekan beberapa angka pada panel kode kunci pintu, berharap pintu itu segera terbuka. “Duh… berapa kodenya?” gumamnya pelan. Wajahnya menegang saat panel tersebut mengeluarkan bunyi peringatan tanda akses ditolak. Ia mencoba lagi dengan kombinasi berbeda, namun hasilnya tetap sama. “Apa kodenya sudah diganti? Kenapa salah terus?” bisiknya dengan nada putus asa. Napasnya mulai memburu, ada rasa sesak yang menghimpit dadanya saat menyadari bahwa ia seolah menjadi orang asing di rumah putranya sendiri. Gagal membuka kunci itu membuatnya merasa semakin terbuang dan tak berdaya. Ia terdiam sejenak, menoleh ke kiri dan ke kanan untuk memastikan tidak ada orang yang melihat aksinya. Pandangannya kemudian tertuju pada sebuah pintu di ujung koridor—kamar Yuni, pengasuh Bima. “Apa aku harus tanya sama Yuni?” ucap ibu Rain bimbang. Tanpa membuang waktu lebih lama, ia melangkah cepat me
“Mama udah masuk kamar?” tanya Rain lembut pada Gendis yang baru saja melangkah masuk ke dalam kamar tidur mereka malam itu. “Udah, Mas. Bima juga udah tidur duluan pas susunya dia minum sampai habis,” sahut Gendis sembari berlalu menuju kamar mandi. Rain melirik monitor bayi di atas meja sudut, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis melihat putranya yang tertidur begitu pulas. Tak lama kemudian, Gendis kembali dari kamar mandi dengan pakaian tidur tipis yang memeluk tubuhnya dengan manis. Ia tampak lebih segar, namun ada gurat kecemasan yang tersisa di matanya. “Mas… menurut kamu, Mama nanti bakal berubah pikiran lagi nggak?” tanya Gendis pelan seraya mendekati tempat tidur. “Yang pasti Mama bakalan kayak gitu, tapi itu bukan masalah besar, Sayang,” ucap Rain menenangkan. Ia menepuk sisi ranjang di sebelahnya, memberi isyarat agar Gendis segera naik dan mendekat ke arahnya. Gendis tertawa kecil, rasa cemasnya sedikit mencair. Ia segera merangkak naik ke atas ranjan







