LOGIN“Sayang, gimana situasinya?” tanya Wanda dengan nada cemas saat menghubungi suaminya lewat telepon pagi itu. “Masih aman. Aku lagi di jalan. Nanti aku cerita detailnya ke kamu, ya...” jawab Cipta singkat. Ia melirik sekilas ke sampingnya. Di sana, Ibu Martha duduk membeku dengan kedua tangan yang terikat borgol baja, sebuah pemandangan yang menyayat hati namun harus ia lakukan. “Um... Mama gimana?” tanya Wanda pelan, suaranya terdengar ragu dan penuh kekhawatiran. “Kabar baik. Nanti aku kabari lagi, Sayang. Meeting kamu gimana? Lancar?” Cipta segera mengalihkan pembicaraan. Ia tidak ingin konsentrasi istrinya pecah di tengah pekerjaan, apalagi memberi tahu bahwa saat ini ia sedang membawa ibu mertuanya sendiri menuju kantor polisi sebagai tahanan. “Lancar, Sayang. Tapi aku terus kepikiran kamu dan Mama... Perasaan aku nggak enak,” ucap Wanda lirih. Cipta menghela napas panjang, mencoba menjaga suaranya tetap stabil agar tidak terdengar bergetar. “Sayang, nanti kita bah
“Jadi... kedatangan saya ke sini pagi ini bukan mewakili keluarga, melainkan sebagai penegak hukum bersama rekan saya. Hal ini berdasarkan laporan resmi dari Rain dan istrinya mengenai tindak kekerasan terhadap anak di bawah umur yang dilakukan oleh Ibu Martha Sudibyo,” ucap Cipta. Suaranya terdengar tenang namun sangat tegas, memancarkan otoritas khas seorang perwira. “Apa-apaan ini? Tapi Cipta... kita ini keluarga,” sela paman Rain dengan nada panik, masih berusaha mencerna kenyataan bahwa menantu di keluarga mereka sendiri kini berdiri sebagai lawan hukum bagi kakaknya. Cipta menatap pamannya dengan sorot mata yang tak goyah. “Begini, Pak. Saya di sini berdasarkan laporan dari orang tua korban. Bahwa semalam, tepatnya pada pukul...” Cipta menjeda kalimatnya sejenak sembari mengambil tablet yang disodorkan oleh asistennya. Ia mulai membaca draf laporan tersebut dengan saksama. “Pada pukul dua belas lewat lima belas menit, telah terjadi dugaan tindakan fisik yang menyebabkan
“Jadi... apa maksud kalian? Martha, apa benar kamu sudah melakukan kekerasan pada Bima?” tanya paman Rain dengan suara yang bergetar karena terkejut. Matanya beralih menatap Ibu Rain dengan tatapan tak percaya. “Iya, Om. Apa perlu saya perlihatkan sekarang rekaman CCTV-nya?” tantang Rain dengan suara rendah namun penuh penekanan. Rain mengeluarkan ponselnya, siap memutar rekaman yang sudah ia siapkan. “Di rekaman ini terlihat jelas bagaimana awalnya Mama keluar dari kamarnya, sempat berdiri diam di depan kamar saya, dan berjalan menuju kamar Bima. Mama gagal membuka pintu yang terkunci, kemudian memaksa Yuni, ART saya, untuk membukakan pintunya.” Gendis menambahkan dengan nada bicara yang bergetar namun tegas, “Bahkan di dalam kamar bayi pun ada kamera tersembunyi, Om. Kami melihat dengan mata kepala kami sendiri bagaimana Mama memperlakukan bayi yang bahkan belum ngerti apa-apa itu dengan kasar.” Suasana di ruang tengah seketika menjadi mencekam. Para kerabat yang tadi m
“Sayang, ini pasti Mama yang sengaja menghubungi mereka semua buat datang ke rumah kita, kan?” tanya Gendis dengan nada cemas. Ia segera berganti pakaian menggunakan celana kulot berwarna cokelat tua dan kaus oblong putih polos. Rambut pendek sebahunya ia biarkan terurai rapi, memberikan kesan sederhana namun tetap bersahaja.“Iya, Sayang, itu udah pasti. Udah, nggak perlu khawatir, ayo kita temui mereka sekarang,” sahut Rain dengan nada rendah. Ia mengangkat tubuh Bima yang sedang terlelap dengan sangat hati-hati, memindahkannya ke dalam ranjang bayi berukuran besar yang terletak di sudut kamar mereka agar putranya bisa tidur dengan lebih nyaman.Setelah memastikan Bima aman, keduanya melangkah keluar kamar. Rain menggenggam erat jemari Gendis saat mereka berjalan menuju ruang tengah, tempat keluarga besar sudah menunggu dengan berbagai macam ekspresi.“Mas Cipta jam berapa sampai di sini, Mas?” tanya Gendis pelan sambil terus berjalan bergandengan tangan dengan suaminya.“Sebentar l
“Dia udah tidur, Sayang. Lihat, dotnya udah lepas sendiri,” bisik Gendis dengan suara nyaris tak terdengar. Ia tersenyum tipis sembari perlahan mengambil botol susu dari tangan mungil Bima agar tidak membangunkan jagoan kecil mereka yang baru saja terlelap.Rain melangkah mendekat, lalu melingkarkan lengannya di bahu Gendis. Ia menarik istrinya ke dalam pelukan hangat yang terasa penuh beban.“Saya minta maaf ya, Sayang. Perbuatan Mama saya udah terlalu menyakiti anak kita. Saya benar-benar gagal menjaga dan mencegah semuanya” ucap Rain dengan nada yang bergetar hebat. Ada ketulusan sekaligus kemarahan yang tertahan dalam setiap kata yang diucapkannya.Gendis mendongak, menatap mata suaminya yang tampak kuyu dan dipenuhi rasa bersalah. “Iya, Mas... Aku udah memaafkan, tapi memang butuh waktu untuk melupakan semuanya,” sahut Gendis lembut, mencoba menjadi pilar kekuatan bagi suaminya.Rain terdiam sejenak. Ia melepaskan pelukannya, lalu menyugar rambutnya dengan frustrasi. Langkah kaki
“Sayang, kira-kira... Mama bakal ngamuk nggak?" tanya Gendis cemas. Tangannya dengan telaten menyeka sisa makanan di mulut Bima menggunakan tisu basah, sementara Yuni sigap merapikan kursi bayi dan membersihkan remahan di sekitarnya.“Dia nggak akan banyak bicara lagi, Sayang. Saya udah mengaturnya sama Cipta ," sahut Rain tenang. Ia kemudian menoleh ke arah asisten rumah tangganya. "Yuni, gimana sama Omanya Bima? Dia udah makan?"Rain bersiap beranjak dari meja makan bersama Gendis dan Bima.“Tadi saya iseng mengecek di ruang monitor, Pak. Omanya makan banyak banget, makannya lahap," lapor Yuni sembari merapikan sisa alat makan di meja.“Baguslah kalau gitu," ucap Rain singkat.Gendis hanya bisa mengangguk pelan, merasa sedikit lega namun tetap waspada. Mereka berdua segera meninggalkan ruang makan pagi itu, memulai hari dengan beban yang sedikit terangkat namun penuh rencana baru.“Jadwal pasien hari ini jam sebelas siang, ya, Mas... Dan ada lagi jam dua siang dan jam empat sore,” u







