MasukUsai Gendis menjalani pemeriksaan yang cukup melelahkan, kini giliran Rain yang melangkah masuk ke ruang interogasi. Ia tidak sendirian; Bima ada dalam dekapannya. Balita itu baru saja terbangun, mengusap matanya yang masih mengantuk sambil memeluk leher sang ayah dengan erat. “Halo, jagoan...” sapa beberapa anggota polisi di dalam ruangan itu dengan nada suara yang sengaja dilembutkan saat melihat Bima. “Wah, kita jadi mengganggu tidurnya, nih,” ucap salah satu penyidik sambil tertawa kecil. Keramahan mereka seketika mencairkan suasana siang menjelang sore yang tadinya kaku menjadi terasa jauh lebih hangat. Bima, yang biasanya malu-malu, justru memberikan senyuman tipis kepada orang-orang berseragam di sana. Ia perlahan memutar badannya dalam gendongan Rain, memperhatikan satu per satu petugas yang duduk di depan maupun yang berdiri di belakang ayahnya dengan rasa ingin tahu yang polos. Setelah suasana dirasa cukup tenang, penyidik utama mulai membuka laporannya. “Bai
Wanda melangkah gontai menuju koridor yang sepi. Di sana, ia membiarkan air matanya tumpah, menangis seorang diri meratapi kehancuran hubungan dengan ibu kandungnya. Sementara itu, di depan ruang penyidik, Cipta baru saja melangkah keluar. Wajahnya tampak lelah namun tetap profesional. “Gendis, sekarang giliran kamu ke ruangan. Nanti baru gantian dengan Rain," ucap Cipta lembut. “Oke, Mas," sahut Gendis. Sebelum melangkah masuk, ia menyempatkan diri memeluk Rain erat, mencari kekuatan sejenak dari suaminya sebelum menghadapi proses hukum yang melelahkan itu. “Bagaimana tadi?" tanya Rain pelan setelah Gendis masuk. Ia masih duduk di samping sofa, menjaga Bima dengan penuh kewaspadaan. “Aman. Yuni memberikan keterangan yang jujur dan sangat kooperatif. Tinggal pemeriksaan terakhir nanti... Mama," jawab Cipta sambil mengalihkan pandangannya pada Bima yang masih tertidur pulas, seolah tak terganggu oleh badai yang sedang terjadi di sekitarnya. Tak lama kemudian, Yuni keluar dari
“Ini... Istri Pak Cipta?” tanya dokter ahli forensik itu dengan nada ragu, saat ia baru menyadari bahwa wanita yang dengan telaten menggendong Bima adalah Wanda. “Iya, benar. Saya sendiri,” jawab Wanda sambil memberikan senyum tipis yang anggun namun tetap terlihat bersahaja. Dokter itu tampak sedikit terkejut dan segera memperbaiki sikapnya. “Oh... mohon izin, Bu Wanda. Mohon izin sebelumnya. Jadi... mereka ini keluarga Anda?” “Iya, Bima ini keponakan saya. Rain adalah adik saya, dan Gendis tentu saja adik ipar saya,” ucap Wanda menjelaskan hubungan mereka dengan jelas, menegaskan posisi Rain dan Gendis di bawah perlindungannya. Suasana di ruangan itu seketika berubah penuh hormat. Salah seorang petugas senior yang sedari tadi memperhatikan Rain tiba-tiba menyela dengan mata membelalak. “Mohon maaf, kami benar-benar tidak tahu kalau kalian satu keluarga. Pak Rain ini... Anda keponakan almarhum Komjen Kevin Wijaya, bukan?" tanya petugas itu, merujuk pada sosok Kevin yang merupa
Cipta masuk ke ruangan bersama beberapa anggotanya untuk memulai proses pemeriksaan lanjutan. Langkahnya sempat terhenti sejenak saat melihat keluarga besar ibu mertuanya sudah duduk memenuhi ruangan, menciptakan atmosfer yang menyesakkan. “Selamat siang...” sapa Cipta dengan suara berat dan tenang, berusaha menjaga profesionalitasnya meski di hadapan kerabat sendiri. “Nah, ini dia Cipta! Bagaimana ini? Apa proses hukum untuk mertua kamu sendiri masih mau dilanjutkan?” tanya sang paman dengan nada yang menuntut, seolah mengharapkan perlakuan khusus. Cipta berdiri tegap, merapikan pakaiannya sebelum memberikan jawaban yang lugas. Ia melirik sekilas ke arah Rain dan Gendis yang berada di ruangan sebelah melalui kaca penyekat. “Semua berjalan sesuai prosedur, Om. Saya harus menyelesaikan proses awal terlebih dahulu. Berkas laporan sudah lengkap, dan setelah ini tinggal melanjutkan ke tingkat berikutnya,” jawab Cipta tegas. “Kami mau penyelidikan ini dihentikan sekarang jug
Wanda segera mengirimkan foto pelat nomor taksi kepada suaminya melalui pesan singkat. Setelah itu, ia melangkah masuk ke dalam mobil dengan senyum ramah yang merekah untuk sang sopir. Begitu pintu tertutup dan taksi mulai melaju, ia menyandarkan tubuhnya, mencoba meredam debaran jantung yang tak menentu. “Harusnya hari ini jadi hari yang sangat bahagia, Sayang...” bisik Wanda lirih pada dirinya sendiri. Tangannya merogoh ke dalam tas, lalu jemarinya menarik sebuah benda kecil dari sana. Ia menatap benda itu dengan tatapan haru; sebuah alat tes kehamilan yang menunjukkan dua garis merah yang sangat jelas. Senyumnya semakin lebar, matanya berkaca-kaca menahan air mata bahagia. “Mungkin jalannya memang harus kayak gini. Sampai di rumah nanti, aku bakal kasih tahu Mas Cipta,” gumam Wanda penuh janji. Ia menyimpan kembali benda berharga itu ke dalam tasnya dengan hati-hati. Meskipun saat ini keluarganya sedang dilanda prahara karena kasus sang mama, kabar tentang kehadiran nyawa baru
Siang itu, SUV mewah milik Rain meluncur mulus membelah jalanan aspal kota menuju kantor pusat kepolisian. Di dalam kabin yang sejuk, suasana tampak jauh lebih cair berkat tingkah polos si kecil Bima. Yuni duduk di baris paling belakang bersama Bima, sementara Rain dan Gendis berada di depan. Sesekali Rain melirik ke arah kaca spion tengah, mengawasi interaksi di belakangnya. “Yuni...!” seru Bima, kembali menggoda asisten rumah tangganya itu dengan nada jenaka. “Bima... panggil Tante Yuni dong...” ucap Yuni sembari berakting merajuk dan mengerucutkan bibirnya. Bukannya patuh, Bima justru tertawa geli. Ia malah melemparkan sebuah boneka kecil ke arah Yuni dengan wajah nakal. “Papa, lihat deh. Bima jahil banget,” ucap Gendis lembut. Ia menoleh ke belakang, menyandarkan dagunya di sandaran jok mobil untuk memperhatikan putra semata wayangnya itu. “Bima...” tegur Rain pelan namun tegas dari balik kemudi. Seketika, Bima langsung duduk manis dan menurut. Ia berhenti melempar m







