LOGIN“Ya, halo?” sahut Rain tepat saat mereka berdua baru saja tiba di depan pintu utama gedung lapas. Ia melambatkan langkahnya, memberikan ruang bagi percakapan di telepon yang tampaknya cukup mendesak. Di saat yang bersamaan, ponsel di saku Rangga pun bergetar. Ia melihat nama istrinya di layar. “Ya, kenapa, Sayang?” sahut Rangga lembut begitu mendengar suara Della di ujung telepon. Ia berhenti melangkah, menjaga jarak agar tidak mengganggu Rain yang tampak mulai sibuk membahas proyek perusahaannya dengan nada serius. “Oke, saya kemungkinan belum bisa hadir. Saya wakilkan kepada Pak Rasyid dan Pak Angga,” ucap Rain menutup percakapan dengan tegas, menunjukkan sisi profesionalnya sebagai pemimpin meskipun pikirannya sedang terbagi oleh kondisi sang ibu. Rain segera menoleh ke belakang, mendapati Rangga yang masih asyik berbicara di telepon. Ia kemudian memutuskan untuk duduk di sebuah kursi kayu panjang yang terletak di lorong, menunggu Rangga menyudahi panggilannya dengan santai samb
Dua orang petugas kepolisian bersiap mengantar Martha kembali ke sel. Suasana di koridor lantai empat itu terasa dingin, seiring dengan langkah kaki yang bergema di atas ubin porselen. “Nanti, kamu ke sel Mama, kan?” tanya Martha dengan suara bergetar. Ia menatap Rain seolah putranya adalah satu-satunya pegangan realitas yang ia miliki di tengah kekacauan memorinya. “Iya, Mama. Nanti Rain ke sana. Rain ada urusan sama Rangga sebentar, setelah itu langsung menemui Mama,” ucap Rain seraya memeluk ibunya dengan erat sebelum mereka benar-benar berpisah. Ia menghirup aroma rambut ibunya, mencoba menyalurkan kekuatan yang sebenarnya ia sendiri pun hampir kehabisan. Martha mengangguk pelan, kepalanya tertunduk lesu saat ia mulai melangkah pergi, dikawal ketat oleh dua orang polisi menuju blok tahanan. Punggungnya yang semakin ringkih terlihat begitu kontras dengan dinding beton penjara yang kokoh. “Rain, ini sih gawat,” ucap Rangga dengan nada rendah yang sarat akan kecemasan. Ia mengera
Suasana di ruangan itu seketika menjadi dingin dan sunyi. Martha masih terpejam, namun napasnya mulai memberat, seolah jiwanya sedang ditarik paksa kembali ke lorong waktu yang paling ia hindari. Ingatan tentang kematian Brawijaya bukan sekadar memori, melainkan luka menganga yang kembali berdarah. “Apa yang Tante lihat?” tanya Rangga pelan. Suaranya nyaris berbisik, takut memecah konsentrasi Martha yang sedang berada dalam kondisi semi-trans. Jemari tangan Martha bergerak gelisah, mencengkeram kain roknya. Kepalanya menoleh ke kiri dan ke kanan dengan gerakan patah-patah, seolah sedang memindai sebuah ruangan yang hanya ada di dalam kepalanya. “Putih...” ucap Martha pelan. Suaranya terdengar hampa. “Tembok putih,” ucapnya lagi. Bayangan rumah sakit tempat Brawijaya mengembuskan napas terakhir mulai memanifestasikan diri dengan jelas. Bau karbol dan kesenyapan yang mencekam seolah merayap masuk ke indra penciumannya. “Bu- bunga...” Ucap Martha saat melihat bunga putih di dal
“Oya, Tante... Semalam gimana tidurnya?” tanya Rangga dengan nada santai, seolah-olah ini hanyalah kunjungan keponakan biasa kepada tantenya. Ia menyandarkan punggung, berusaha menciptakan suasana yang tidak intimidatif agar Martha merasa nyaman untuk bercerita. “Semalam Tante nyenyak banget tidurnya. Dan kamu tahu? Semalam suami Tante—Papanya Rain—datang ke rutan, lho...” ucap Martha sembari menatap ke arah jendela, matanya menerawang membayangkan kembali setiap detik kejadian indah yang ia yakini benar-benar terjadi semalam. Senyumnya melebar, jenis senyum yang hanya muncul dari kebahagiaan yang sangat dalam. “Oh, ya? Wah... Pasti Tante senang banget, dong!” sahut Rangga dengan nada antusias yang sengaja dibuat-buat. Di balik topeng antusiasme itu, jantungnya berdenyut lebih cepat; ia sedang melakukan teknik validation therapy untuk melihat sejauh mana delusi ini mengakar. “Iya, dong... Tante senang banget. Soalnya Papa Rain kelihatan sehat banget. Dia juga bilang mau bebasin
“Dasar iri. Maklum, Pa, mereka itu kan memang hidupnya di bawah garis kemiskinan. Maklumlah. Jadi, Papa rindu sama Mama?” tanya Martha sembari tersenyum genit, menatap nanar ke arah udara kosong yang ia yakini sebagai sosok Brawijaya. Ani, yang mendengar ucapan itu dari balik selimut, hanya bisa memejamkan mata rapat-rapat. Jantungnya berdegup kencang karena ngeri; mendengar Martha merayu seseorang yang tidak ada di sana adalah pemandangan paling mencekam yang pernah ia alami selama di penjara. “Tolong bilangin sama Rain, Pa. Dia jahat sama Mama. Mama dipenjara karena dia,” ucap Martha kepada sang suami malam itu, suaranya bergetar antara kebencian dan kebutuhan akan pembelaan. Sementara itu, Ani mencoba menutup telinganya rapat-rapat, merapatkan selimut hingga ke kepala karena tak ingin ikut menjadi ‘gila’ hanya dengan mendengar percakapan satu arah yang mengerikan itu. Tak lama, Diah, penghuni sel lainnya, terbangun. Ia mengusap wajahnya pelan, merasa kerongkongannya kering da
Pukul satu malam, keheningan mencekam menyelimuti lorong sel tempat Martha ditahan. Di luar sana, hanya terdengar suara sayup dari penghuni lain yang masih terjaga, mungkin tengah meratapi nasib atau sekadar menatap jeruji besi. Suara langkah sepatu para sipir dan derit pintu besi sesekali memecah sunyi, menandakan aktivitas administratif yang tak pernah berhenti 24 jam penuh. “Duh... dingin banget,” gumam Martha sembari menarik selimut tebalnya. Selimut dengan merek ternama itu—satu dari sedikit kemewahan yang diizinkan masuk—selalu ia gunakan untuk membungkus dirinya dari dinginnya lantai semen. “Ma,” Tiba-tiba, sebuah suara bariton menyusup ke dalam rungu Martha. Ia merasa sangat tidak asing dengan panggilan itu. Seketika, Martha membuka matanya, menatap ke arah langit-langit sel yang hanya diterangi lampu temaram kekuningan. “Siapa ya?” ucapnya pelan. Jantungnya mulai berdegup tidak beraturan. Ia menoleh ke sisi kanan, menatap sudut ruangan yang kosong. “Mama, ayo keluar







