Beranda / Romansa / PELAN SEDIKIT, TUAN / Bab 4. Calon suami

Share

Bab 4. Calon suami

Penulis: Nanitamam
last update Tanggal publikasi: 2026-02-16 10:48:41

“Zavira, bangun, Nak,” isak Bu Farida. Tangannya yang sedikit kurus mengusap kening putrinya yang dingin. “Kenapa Zavira belum bangun, Pak?”

“Bapak juga nggak tahu, Bu,” lirih Pak Herman penuh sesal dan rasa bersalah. “Maafkan, Bapak, Zavira. Bapak memang tidak berguna.”

Dia merasa gagal menjadi kepala keluarga. Bukannya menjadi tempat sandaran tapi penyakit yang diderita dan kecelakaan kerja, membuatnya malah menjadi beban bagi putrinya.

“Teteh, bangun, Teh,” isak Zikri histeris.

Suara itu membuat bola mata Zavira terbuka pelan-pelan. Saat sadarnya kembali, sekelilingnya keluarga tengah panik. Rasa bersalah, lelah dan trauma bercampur di dadanya, hanya sedikit lega karena setidaknya hutang keluarganya sudah dilunasi.

“Pak, Bu, Ki!” panggil Zavira lemah

Bu Farida langsung mendekat, memeluk tubuh Zavira dengan erat. Isak tangisnya kembali pecah di balik tubuh Zaviram

“Alhamdulillah, Ya Allah. Zavira. Kamu sadar, Nak!”

“Alhamdulilah, Bapak sangat khawatir kamu nggak sadar-sadar, Nak. Takut ada hal yang tidak diinginkan terjadi,” sambung Pak Herman dengan nada bergetar.

Zavira coba tersenyum, senyum yang jelas terlihat dipaksakan dari bibir pucatnya.

“Aku nggak apa-apa kok, Bu, Pak,” jawabnya. “Bantu aku duduk, Bu.”

Bu Farida membantu Zavira duduk secara perlahan. Gadis itu duduk bersandar pada sofa lapuk yang bahkan sudah tidak layak. Ia menatap ayah, ibu dan adiknya satu persatu.

“Teteh, Iki, takut!” Zikri merangkul Zavira dengan isak tangis yang belum berhenti.

Zavira mengusap rambut adiknya yang basah oleh keringat.

“Maaf, ya, Ki. Teteh datang terlambat.

“Minuk dulu.” Pak Herman menyodorkan gelas ke arah bibir Zavira.

Gadis cantik dengan lesung pipi itu meneguknya hingga habis. Setelah beberapa saat, suasana mendadak hening.

Pak Herman dan Bu Farida saling pandang sejenak. Lalu, mereka bertanya serempak, “dari mana kamu dapat uang sebanyak itu, Nak?”

Mendengar kalimat itu terucap membuat tubuh Zavira langsung menegang. Bingung dan kalut menjadi satu di dalam benaknya.

“A-anu itu, Bu, Pak .…” Ia diam sejenak, mulai merangkai kata-katanya untuk membuat skenario yang masuk di akal mereka. Tanpa ada curiga sedikipun. “Zavira mendapat pinjaman dari kantor. Zavira menceritakan semuanya dari awal makanya kantor ngasih pinjeman. Yang penting rentenir busuk itu nggak ganggu, Bapak, Ibu sama Zikri lagi.”

“Alhamdulillah, Ya Allah,” gumam Bu Farida.

Hati Zavira seperti diremas.

“Maaf, Bu, Pak. Zavira sudah berdosa pada kalian,” jerit nya dalam hati.

“Syukurlah!” gumam Pak Herman. “Bapak sempat berpikir, kalau kamu melakukan sesuatu yang—”

Kalimatnya terhenti mendadak saat jari-jari Bu Farida menyenggol lengannya dengan cepat.

“Hus! Jangan berpikir seperti itu, Pak. Kita harus percaya pada anak kita.”

Tak ada perkataan lain. Pak Herman memilih diam. Dan kini, tatapan mereka teralihkan pada seisi rumah yang nampak begitu kacau. Semuanya berserakan di lantai. Padahal suasana haru masih jelas terasa di dalam rumah.

“Kita mulai bersihkan dari mana ya, Pak?” Bu Farida bersuara pelan, bahkan nyaris tidak terdengar karena kesedihan. “Semuanya terlihat begitu berantakan. Bahkan, semuanya nyaris hancur tak bersisa, Pak.”

“Iki mau beresin kamar dulu,” sahut bocah berusia delapan tahun itu berlari ke kamarnya.

“Ya Allah, apa masih ada yang masih bisa diselamatkan?” lirih Zavira melihat rumahnya seperti rumah kosong dan tidak terawat

Pak Herman sebagai kepala keluarga hanya terdiam dalam waktu yang cukup lama. Ia menundukkan kepalanya.

“Ya Allah, saya merasa tidak berguna,” batin Pak Herman menjerit pilu.

Perasaan kalah dan tidak berdaya tergambar jelas di setiap gerak tubuhnya karena ia tahu bahwa dirinya tidak mampu memberikan kehidupan yang layak bagi keluarga kecilnya, bahkan tidak bisa melindungi mereka.

Melihat kondisi ayahnya yang seperti itu, Zavira langsung segera banggun dari sofa.Ia menghela nafas sejenak, sebelum akhirnya tersenyum lebar. Ia tahu bahwa saat ini dia harus menjadi yang kuat, karena jika tidak, siapa lagi yang akan menopang mereka?

“Kita mulai dari sini dulu aja, Bu,” sahutnya dengan lantang, meski suaranya terdengar begitu bergetar.

Senyum perlahan muncul di wajah kedua orang tuanya juga adiknya. Langsung saja mereka mulai membersihkan satu-persatu barang yang hancur, tak bersisa. Bahkan, jika dibetulkan pun tak akan bisa seperti semula lagi.

“Orang-orang itu benar-benar manusia yang nggak punya hati, tak berperasaan hingga melakukan hal ini kepada kita.” Zavira mengumpat dan mengambilnya.

Mengumpulkannya menjadi satu, sebelum akhirnya dibuang ke tong sampah. Namun, pandangannya malah terkunci pada adiknya, Zikri, yang kini terduduk lesu sambil memeluk buku pelajarannya yang robek menjadi dua.

Hati Zavira tersentuh. Ia mendekatinya, mengusap lembut bahu adiknya yang nampak bergetar kecil.

“Bagaimana ini? Semua rusak,” lirih Zikri.

“Sabar ya, Ki. Nanti kalau teteh punya rezeki lebih, teteh ganti jauh lebih baik dari ini. Untuk sementara waktu, pakai yang masih bisa dipake aja dulu.”

Zikri menoleh. Tatapannya berembun, seolah siap luruh kapan saja.

“Di buku ini ada catatan penting dari guru, Teh. Banyak hal yang belum aku pahami. Padahal nanti aku mau belajar. Tapi, sekarang malah jadi seperti ini.” Ia menunjukkan kertas yang berhamburan tepat di wajah Zavira. “Tapi, nggak apa-apa kok, Teh. Zikri bisa minjem aja sama temen sekelas.”

Tangis Zavira hampir pecah. Ia gegas memeluk tubuh adiknya, membawa tubuh kecil itu ke dalam dekapannya yang hangat.

Di luar, terdengar suara deru mesin mendekat dari sebuah kendaraan. Sebuah mobil mewah berhenti tepat di hadapan rumah Zavira yang sederhana.

Bunyi decitan ban tersebut membuat tetangga yang sedang membantu merapikan barang milik keluarga Pak Herman, berkumpul langsung menoleh serentak.

Mereka mulai mendekat secara perlahan, bibir mereka menggerutu dan suara bisikan semakin terdengar jelas.

Sampai akhirnya pintu mobil terbuka, dan Xafier turun dengan langkah yang mantap. Aura dingin dan sikapnya yang penuh angkuh, sungguh mencolok di tengah lingkungan kumuh seperti ini.

Di belakangnya, Samuel ikut turun dengan beberapa kantong belanjaan di tangannya.

“Aduh, saha eta meni ganteng pisan?”

“Kenapa dia datang kesini, ya?”

“Kayaknya mah orang kaya dan penting”

“Siapa atuh? Padahal rumah Pak Herman kan tidak pernah ada tamu penting seperti ini.”

Suara bisikan itu semakin terdengar riuh hingga membuat Zavira dan keluarganya yang berada di dalam rumah langsung menyadari keberadaan tamu tak diundang itu.

Mereka semua berhenti sejenak dari pekerjaan membersihkan, kemudian menoleh ke arah pintu rumah. Tatapan Zavira langsung menajam.

“Ada apa itu ramai-ramai, Pak?” tanya Bu Farida kebingungan.

Pak Herman mengangkat bahu. “Nggak tahu, Bu. Ayo kita keluar.”

Kedua orang itu melangkah keluar pintu, membuat Zavira juga Zikri ikut menyusul keluar karena penasaran. Namun baru sampai teras Xafier dan Samuel sudah mendekat ke arah mereka.

Setelah mendekat, Xafier langsung menatap kedua orang tua Zavira yang masih memandangnya bingung. Tanpa basa-basi, dia mengangkat tangan menunjuk beberapa barang bekas yang berserakan di halaman.

“Barang-barang itu sudah rusak. Kalian buang saja, saya akan menggantinya semua dengan yang baru dan jauh lebih baik daripada itu!” ucapnya dengan nada yang tidak bisa ditentang.

Pak Herman dan Bu Farida saling memandang, kemudian menoleh ke arahnya dengan tatapan bingung.

“Maaf, tapi… Tuan siapa? Kenapa Tuan datang ke rumah kami?” tanya Pak Herman dengan nada bingung hingga terbata.

“Sepertinya Tuan salah alamat, mau cari siapa?” sahut Bu Farida sopan dan segan.

Sebelum Zavira bisa membuka mulut, Xafier melangkah maju dan menghadapkan wajahnya pada kedua orang tua Zavira.

“Perkenalkan, saya Xafier. Saya adalah calon suami Zavira,” ucapnya dengan tegas, membuat semua orang yang ada di sana langsung membuka mulut lebar-lebar. “Dan saya ingin menikahi dia malam ini juga.”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • PELAN SEDIKIT, TUAN   Bab 90. Resepsi Pernikahan

    "Pengantinnya sangat cantik," puji para tamu yang hadir. "Tuan Xafier juga terlihat bahagia."Gedung megah di pusat kota kini dipenuhi tamu undangan dan tokoh penting. Hari ini, Xafier dan Zavira menggelar resepsi pernikahan secara besar-besaran. Keluarga Zavira pun turut hadir, ikut merasakan kebahagiaan di momen istimewa ini.Zavira menoleh, menatap suaminya dengan pandangan hangat. “Aku kira aku takkan pernah sampai di titik ini, Mas,” ujarnya pelan.“Tapi nyatanya kamu ada di sini, tepat di sisiku, Sayang,” jawab Xafier lembut. Tangannya melingkar erat di pinggang istrinya, mendekapkannya ke pelukan seolah tak mau melepaskan barang sedetik pun. “Maaf ya … karena bersamaku, kamu harus melewati badai yang begitu berat duluan. Tapi mulai saat ini, aku berjanji takkan membiarkan hal buruk menimpamu lagi. Sekalipun nanti ada cobaan lain datang menghadang rumah tangga kita, aku pastikan aku akan selalu ada untuk melindungimu. Aku harap, kamu tetap mau menemaniku melewati segalanya, ya?

  • PELAN SEDIKIT, TUAN   Bab 89. Melepaskan obsesi

    Hening. Hanya suara detak jarum jam yang terdengar jelas, memenuhi seluruh ruangan. Semua mata tertuju pada dokter, menanti penjelasan dengan perasaan harap-harap cemas, apalagi Zavira yang berdiri tepat di sisi ranjang suaminya, hatinya berdebar kencang menahan segala kekhawatiran. “Bagaimana keadaannya, Dok?” tanya Zavira dengan suara lirih yang bergetar. Setelah selesai memeriksa dan memastikan seluruh kondisi tubuh Xafier, dokter itu tersenyum tipis lega. “Syukurlah, Tuan Xafier sudah sadar sepenuhnya, dan tidak ditemukan masalah serius apa pun yang perlu dikhawatirkan,” jawabnya tenang. “Meski begitu, kami tetap harus memantau perkembangan kondisinya secara rutin untuk beberapa waktu ke depan.” Senyum Zavira mekar lebar seketika. Raut bahagia juga terlihat jelas di wajah Nyonya Dayana, Tuan Eshal, Samuel, dan Donita yang ada di sana. Sementara itu, Xafier hanya menatap mereka dengan pandangan yang masih lemah namun mulai terlihat nyata. Tanpa pikir panjang, Zavira langsung m

  • PELAN SEDIKIT, TUAN   Bab 88. Xafier koma

    “Kritis?!” seru mereka serentak, suaranya melengking kaget dan penuh kepanikan."Oh My God." Johan melongo, bibirnya terbuka lebar. Suster itu hanya mengangguk perlahan dengan wajah yang tampak sedih dan penuh rasa iba. “Kini tinggal doa dan harapan kita. Kita hanya bisa berserah diri dan berharap ada keajaiban dari Tuhan yang menyelamatkan nyawanya.”Tanpa buang waktu, Zavira segera bangkit dari ranjangnya. Nyonya Dayana dan Donita sigap menahan dan menopang tubuhnya agar tidak jatuh.“Kamu mau ke mana, Nak? Jangan bertindak sembarangan,” tanya Nyonya Dayana cemas.Air mata Zavira jatuh membasahi pipinya seketika. Ia tetap melangkah maju, sementara kedua wanita itu terus menuntun dan mendampinginya berjalan.“Aku harus menemuinya. Aku mau ke tempat Mas Xafier berada,” jawabnya.Tak ada satu pun dari mereka yang berani bersuara. Mereka hanya mengikuti langkah Zavira menuju ruangan tempat suaminya dirawat.Sesampainya di sana, pandangan Zavira terkunci lekat pada pintu berwarna merah

  • PELAN SEDIKIT, TUAN   Bab 87. Zavira hamil

    "Jangan sampai terjadi sesuatu pada Zavira, Tuhan. Aku mohon." Doa Nyonya Dayana dalam hati. Kelopak mata Zavira perlahan terbuka sepenuhnya. Ia menoleh ke kiri dan ke kanan, menatap sekelilingnya yang tampak begitu asing baginya. Di samping ranjangnya, tampak Nyonya Dayana yang duduk sambil menyandarkan kepalanya, sepertinya tertidur karena kelelahan.“Ma …,” panggil Zavira lirih.Nyonya Dayana seketika tersentak kaget. Matanya yang tadinya setengah terpejam langsung terbuka lebar seketika.“Kamu sudah sadar, Sayang? Syukurlah. Ada yang sakit? Katakan saja sama Mama, biar Mama segera panggil dokter,” ujarnya cemas, lalu hendak bangkit dari duduknya.Namun, tangan Zavira dengan cepat menahan pergerakan wanita itu.“Tidak usah, Ma. Aku tidak merasa sakit apa-apa, aku baik-baik saja,” ucapnya lembut namun jelas. Wajahnya tampak cemas saat kembali bertanya, “Bagaimana keadaan Mas Xafier, Ma? Operasinya berjalan lancar, kan? Dia baik-baik saja, kan, Ma?”“Tenanglah, Nak. Tanyakan satu pe

  • PELAN SEDIKIT, TUAN   Bab 86. Sherina ditangkap polisi

    "Aku melukai Xafier.... "Sherina terduduk lesu di sudut ruangan, tubuhnya meringkuk. Tangisnya tak henti sejak kejadian itu berlangsung. Sebenarnya, hatinya ingin berlari menyusul Xafier, namun ayahnya tegas menahan. Ia tak mau putrinya hadir di sana dan justru memicu keributan yang lebih parah lagi.Di saat itu, Liam—sosok yang pernah menjadi bagian dari masa lalunya—mendekat perlahan. Ia berjongkok tepat di hadapan Sherina, lalu mengusap lembut helai rambutnya yang berantakan.“Sudah, jangan menangis lagi,” bujuknya pelan.“Pergi! Aku tak butuh belas kasihan atau bantuanmu!” bentak Sherina keras sambil menepis tangan itu dengan kasar.Liam menghela napas panjang. Namun tak sedikitpun berniat mundur. “Jangan bersikap begitu, Sherina. Aku mengerti betapa terguncangnya dirimu saat ini, dan aku sama sekali tak menyalahkanmu.”Sementara itu, Bram hanya duduk diam. Pikirannya berputar kacau mengingat kelakuan putrinya. Ia sadar betul, setelah kejadian ini, Tuan Eshal pasti takkan tinggal

  • PELAN SEDIKIT, TUAN   Bab 85. Jangan tinggalkan aku, Mas

    "Ya Allah, lindungi suamiku!"Ketegangan membentang begitu lama di ruang tunggu UGD yang sunyi itu. Saat Tuan Eshal tiba dengan napas yang masih memburu, pemandangan yang tertangkap oleh matanya membuat jantungnya serasa diremas kuat. Di sana, Zavira berdiri kaku tepat di depan pintu tertutup ruang perawatan, matanya tak lepas menatap celah pintu itu seolah berharap bisa melihat ke dalam. Sementara di kursi tidak jauh dari sana, Nyonya Dayana terisak hebat, menutup wajahnya dengan kedua tangan.Hati Tuan Eshal terasa perih, nyaris hancur melihat keadaan kedua wanita yang dicintai putranya itu. Ia melangkah mendekat perlahan, namun tak disadari air matanya justru menetes diam-diam membasahi pipinya“Sayang …,” panggilnya lirih, tepat di samping istrinya.Nyonya Dayana mendongak perlahan. Matanya bengkak dan sembab, tatapannya tampak kosong namun penuh kepedihan. Ia seketika bangkit dan langsung memeluk tubuh suaminya erat-erat.“Kamu dari mana saja, Mas? Aku dan Zavira sudah menunggu

  • PELAN SEDIKIT, TUAN   Bab 83. Xafier tertusuk

    "Apa yang dikatakan Tuan Xafier barusan?""Sherina pembunuh? Apa maksudnya?"Semua orang saling berbisik dengan mata tertuju pada Sherina. "Brengsek, jadi dia benar-benar tidak peduli padaku?"Tangan Sherina mengepal erat hingga buku-buku jarinya memutih, menahan amarah yang meledak-ledak di dadan

  • PELAN SEDIKIT, TUAN   Bab 82. Pria masa lalu

    "Dia pasti datang."Malam yang selama ini dinanti-nantikan oleh Sherina akhirnya tiba juga. Wanita itu mengenakan gaun berwarna merah maroon yang terlihat begitu menyala dan memikat.“Kamu tampak begitu cantik malam ini, Sherina,” puji seorang pria di sela keramaian.Sherina menoleh perlahan. Ia me

  • PELAN SEDIKIT, TUAN   Bab 81. Rencana Sherina

    “Ma, kita sudah berkeliling hampir seluruh area mal. Mama tidak merasa lelah?” tanya Zavira.Sejak tadi, Nyonya Dayana tak henti-hentinya menarik tangan Zavira berpindah dari satu toko ke toko lainnya. Mulai dari memilih gaun, sepatu, hingga beragam aksesori pendukung.Tumpukan paperbag di tangan s

  • PELAN SEDIKIT, TUAN   Bab 80. Penguntit

    Wajah Xafier tertunduk lesu. Ia lalu menoleh, menatap Zavira yang tampak diam saja di sampingnya. Hatinya terasa sesak, ia merasa sangat bersalah karena telah menyeret istrinya ke dalam situasi yang tak nyaman seperti ini.“Aku minta maaf—” “Lebih baik kamu turuti saja permintaan Papa, Mas,” poton

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status