Home / Romansa / PELAN SEDIKIT, TUAN / Bab 3. Tawaran jadi istri simpanan

Share

Bab 3. Tawaran jadi istri simpanan

Author: Nanitamam
last update Last Updated: 2026-02-16 10:45:51

Zavira membeku.

Kata-kata itu menghantamnya lebih keras daripada tamparan mana pun.

“Istri simpanan?” ulangnya lirih, suaranya bergetar antara tidak percaya dan marah.

Ia mendongak, menatap Xafier dengan mata yang memerah. Ada kilat amarah, ada luka yang bercampur dengan rasa jijik karena merasa direndahkan sedemikian rupa. Dadanya sesak.

“Bapak pikir aku apa?” Suara Zavira meninggi. “Perempuan murahan yang bisa Anda beli begitu saja?”

Tangannya mencengkeram selimut lebih erat, seolah itu satu-satunya pelindung yang ia miliki sekarang. “Aku bukan pelacur,” ucapnya tegas, meski suaranya sempat bergetar di akhir kalimat.

Xafier hanya mengangkat sudut bibirnya, senyum tipis yang lebih mirip ejekan.

“Tenang saja,” katanya dingin dan datar “Aku tidak pernah menyebutmu pelacur.”

Zavira tertawa pendek, pahit. “Tapi anda menawariku posisi yang lebih hina dari itu.”

Sunyi sejenak menggantung di antara mereka. Hanya suara pendingin ruangan yang berdengung pelan, terasa begitu asing di telinga Zavira yang masih dipenuhi gemuruh perasaannya sendiri.

Pandangan matanya tanpa sadar jatuh pada kartu ATM hitam yang tergeletak di atas seprai. Benda kecil itu terlihat begitu kontras. Perlahan, dengan tangan yang masih gemetar, Zavira meraihnya.

Saat ujung jarinya menyentuh kartu itu, dadanya terasa perih.

Ia membencinya. Membenci keadaan ini. Membenci dirinya sendiri yang terpaksa mengambilnya.

Namun bayangan adik yang menangis, suara ibunya yang tercekik, dan utang yang mengancam rumah mereka, semua kembali menyerbu pikirannya tanpa ampun.

"Sial, kenapa ekonomi membuatku begitu rendah," gumam Zavira.

Xafier mendengus melihatnya.

“Nah,” katanya sinis. “Masih sok jual mahal, tapi tetap diambil juga.”

Zavira mengepalkan kartu itu di tangannya. Rahangnya mengeras. “Aku mengambil ini bukan karena mau. Tapi karena terpaksa.”

“Alasan tidak pernah penting,” balas Xafier dingin. “Yang penting hasilnya dan kamu mengambilnya.”

Ia melangkah mendekat, menjaga jarak aman, seolah sekarang semuanya sudah kembali dalam kendalinya.

“Kalau kamu setuju menjadi istri simpananku, hidupmu akan berubah. Uang bulanan. Tempat tinggal yang layak. Fasilitas mewah. Tidak perlu lagi berdiri gemetar di depan klub malam seperti semalam.”

Zavira menatapnya tajam. “Dan sebagai gantinya?”

Xafier menatapnya tanpa berkedip. “Kamu harus siap kapan pun aku butuh. Menemani. Mengikuti. Dan ya,6 memenuhi kebutuhan biologisku.”

Kata-kata itu membuat perut Zavira mual.

Ia menelan ludah dengan susah payah. “Kenapa aku?” tanyanya akhirnya. “Dari sekian banyak perempuan, kenapa harus aku?”

Xafier terdiam sesaat, lalu menjawab singkat, seolah itu alasan paling sederhana di dunia.

“Karena aku yang pertama menyentuhmu.”

Jantung Zavira berdegup keras.

“Aku tidak suka urusan setengah-setengah,” lanjut Xafier. “Kita akan menikah meski dibawah tangan. Tapi hanya satu tahun.”

“Apa?” Zavira nyaris berdiri dari ranjang.

“Satu tahun,” ulangnya datar. “Setelah itu, kamu bebas. Kamu pergi dengan kompensasi yang cukup untuk hidup tenang. Tapi selama masa itu, jangan pernah berharap lebih.”

Ia menatap Zavira lurus-lurus. “Jangan jatuh cinta padaku. Aku masih punya istri sah.”

Pertanyaan yang sejak tadi mengganjal akhirnya meluncur dari bibir Zavira.

“Kalau anda punya istri kenapa mencari perempuan lain? Kenapa tidak dengan istrimu saja?”

Raut wajah Xafier mengeras sesaat.

“Pernikahanku dengan Shiena hanya urusan bisnis dan keluarga,” katanya dingin. “Tidak ada cinta di sana. Dan kalau kamu penasaran, dia sendiri yang memberiku obat itu.”

Zavira terhenyak.

“Karena aku tidak pernah menyentuhnya,” lanjut Xafier. “Dan dia membencinya. Aku juga tidak tertarik menyentuhnya.y”

Hening kembali menyelimuti ruangan.

Zavira menunduk, air matanya jatuh tanpa suara. “Aku, aku butuh waktu untuk berpikir.”

Xafier langsung menggeleng. “Aku tidak suka menunggu dan tidak suka drama.”

Ia meraih jasnya. “Nanti malam, supirku akan menjemputmu. Bersiaplah.”

Tanpa menunggu jawaban, Xafier melangkah pergi. Pintu tertutup dengan bunyi pelan namun tegas, seolah mengunci takdir Zavira di dalam ruangan itu.

Zavira terjatuh ke atas kasur, kartu ATM hitam masih tergenggam erat di tangannya.

Tangisnya pecah.

Di antara rasa sakit, marah, dan kehancuran harga diri, ia hanya bisa meratapi satu hal, bahwa hidupnya kini berada di persimpangan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Zavira menutup pintu kamar mandi dengan tangan gemetar.

Air mengalir deras dari pancuran, menghantam kulitnya tanpa ampun. Ia berdiri diam di bawahnya, membiarkan air hangat bercampur dengan air mata yang tak henti mengalir. Tangannya berulang kali mengusap leher, bahu, dan tubuhnya, seolah ingin menghapus jejak malam yang terasa begitu kotor dan menyakitkan.

“Pergi, pergi!” gumamnya lirih, suaranya pecah.

Namun rasa itu tidak hilang. Justru semakin menekan dadanya hingga napasnya terasa berat. Ia merosot perlahan, duduk di lantai kamar mandi, memeluk lututnya sendiri. Bayangan Xafier, kata-kata tentang istri simpanan, dan kartu ATM hitam itu berputar-putar di kepalanya tanpa ampun.

Setelah waktu yang terasa sangat lama, Zavira akhirnya berdiri. Ia mengenakan pakaian seadanya, menatap pantulan dirinya di cermin. Matanya sembab, wajahnya pucat.

“Aku harus pulang,” bisiknya.

Begitu melangkah keluar dari tempat laknat itu, udara pagi menyambutnya dingin. Ponselnya bergetar lagi, sekali, dua kali, berkali-kali. Nama Ibu dan Zikri bergantian muncul di layar. Dadanya berdenyut perih.

“Aku tahu, aku tahu,” lirihnya, menahan tangis. Ia tidak sanggup mengangkat panggilan itu sekarang.

Langkahnya membawanya ke sebuah ATM di sudut jalan. Tangan Zavira bergetar saat memasukkan kartu hitam itu. Ia menahan napas ketika layar menampilkan saldo.

Matanya membelalak.

“Ya Allah,” lirihnya, nafasnya tercekat.

Angka itu jauh di luar bayangannya. Jantungnya berdegup kencang, antara lega dan takut. Ia menarik uang secukupnya, tidak lebih, lalu segera keluar, seolah takut jika mesin itu tiba-tiba berubah pikiran.

Tak ada motor yang bisa ia kendarai. Kendaraan satu-satunya itu sudah lama ia gadaikan demi makan dan ongkos hidup. Maka Zavira memilih bis antar kota, duduk di kursi dekat jendela, memandangi jalanan yang perlahan berubah menjadi sawah dan rumah-rumah sederhana.

Sepanjang perjalanan, ponselnya kembali berdering. Kali ini ia menjawab.

“Teteh!” Suara Zikri terdengar parau dan panik. “Mereka ngeluarin barang-barang dari rumah!”

Jantung Zavira seakan jatuh ke perutnya. “Teteh di jalan, Ki. Bertahan ya. Teteh sudah bawa uang.”

Begitu turun dari bis dan berlari menuju rumahnya, Zavira langsung melihat pemandangan yang membuat lututnya nyaris lemas. Perabotan rumah mereka berserakan di halaman. Lemari, kursi, kasur, semuanya dikeluarkan paksa.

“Berhenti!” teriak Zavira, suaranya menggema di antara kerumunan.

Pak Herman terduduk di tanah, wajahnya basah oleh air mata. Bu Farida menangis histeris sambil memeluk Zikri yang gemetar ketakutan. Beberapa tetangga berdiri di sekeliling, ikut menangis, namun tak satupun berani mendekat.

Bu Winda berbalik, senyum mengejek terukir jelas di wajahnya.

“Oh, akhirnya pulang juga si kabur,” katanya sinis. “Kupikir sudah lari entah ke mana.”

Zavira maju dengan mata menyala. Tangannya mencengkeram kartu ATM itu erat-erat.

Ia melemparkannya tepat ke arah wajah Bu Winda.

“Aku bukan kabur!” teriak Zavira penuh amarah. “Aku pergi cari uang! Untuk bayar utang dan membebaskan keluargaku dari lintah darat busuk seperti kamu!”

Semua orang terdiam.

“Ambil uangmu,” lanjut Zavira, suaranya bergetar tapi tegas. “Dan pergi dari rumah kami. Sekarang!”

Bu Winda menyeringai. “Kalau kurang,” katanya dingin. "Aku akan datang lagi.”

“Pergi!” bentak Zavira.

Setelah mereka benar-benar pergi, Zavira berlari memeluk keluarganya. Bu Farida menjerit sambil memeluk putrinya erat-erat. Pak Herman terisak, menepuk bahu Zavira dengan tangan gemetar.

Zikri menangis tersedu-sedu di pelukan kakaknya.

“Maaf, maafkan Teteh,” bisik Zavira berulang kali.

Tubuhnya tiba-tiba terasa ringan, pandangannya mengabur. Dunia berputar sebelum akhirnya gelap.

Di sisi lain kota, seorang sopir berdiri di depan kontrakan Zavira dengan raut cemas. Ia menghubungi nomor yang sudah diinstruksikan.

“Pak, gadis itu tidak ada di sini,” lapornya.

Di ujung sana, Xafier terdiam sejenak.

“Kampung asalnya,” katanya dingin. “Kita jemput sendiri.”

Ia menoleh ke arah Samuel. “Siapkan mobil.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • PELAN SEDIKIT, TUAN   Bab 5. Pernikahan tanpa tawa

    Zavira mendesis di antara deretan giginya, suaranya rendah namun sarat amarah yang ditahan paksa. “Bapak benar-benar gila!”Xafier sama sekali tidak terkejut. Tatapannya tetap tenang, dingin, nyaris tanpa emosi, seolah kata-kata Zavira barusan tak lebih dari hembusan angin.“Saya bukan gila,” balasnya datar. “Saya hanya tidak suka tawar-menawar. Dan keputusan saya bukan sesuatu yang bisa dibantah.”Ucapan itu membuat Zavira refleks mengepalkan tangan di sisi tubuhnya. Kukunya menekan telapak hingga nyaris terasa perih. Ia menatap Xafier tajam, penuh perlawanan, sementara pria itu membalasnya dengan sorot mata yang sama tajamnya namun tanpa emosi sedikit pun.Detik-detik berlalu dalam keheningan yang mencekik.Zavira menghela napas panjang. Dalam-dalam. Ia memaksa dadanya yang naik turun untuk kembali stabil. Ia sadar, sedikit saja ia kehilangan kendali, keluarganya pasti akan curiga. Terlebih ayah dan ibunya sudah terlihat gelisah sejak tadi.Sorot mata Zavira berubah. Tak lagi setaja

  • PELAN SEDIKIT, TUAN   Bab 4. Calon suami

    “Zavira, bangun, Nak,” isak Bu Farida. Tangannya yang sedikit kurus mengusap kening putrinya yang dingin. “Kenapa Zavira belum bangun, Pak?”“Bapak juga nggak tahu, Bu,” lirih Pak Herman penuh sesal dan rasa bersalah. “Maafkan, Bapak, Zavira. Bapak memang tidak berguna.” Dia merasa gagal menjadi kepala keluarga. Bukannya menjadi tempat sandaran tapi penyakit yang diderita dan kecelakaan kerja, membuatnya malah menjadi beban bagi putrinya.“Teteh, bangun, Teh,” isak Zikri histeris.Suara itu membuat bola mata Zavira terbuka pelan-pelan. Saat sadarnya kembali, sekelilingnya keluarga tengah panik. Rasa bersalah, lelah dan trauma bercampur di dadanya, hanya sedikit lega karena setidaknya hutang keluarganya sudah dilunasi.“Pak, Bu, Ki!” panggil Zavira lemahBu Farida langsung mendekat, memeluk tubuh Zavira dengan erat. Isak tangisnya kembali pecah di balik tubuh Zaviram “Alhamdulillah, Ya Allah. Zavira. Kamu sadar, Nak!”“Alhamdulilah, Bapak sangat khawatir kamu nggak sadar-sadar, Nak.

  • PELAN SEDIKIT, TUAN   Bab 3. Tawaran jadi istri simpanan

    Zavira membeku.Kata-kata itu menghantamnya lebih keras daripada tamparan mana pun.“Istri simpanan?” ulangnya lirih, suaranya bergetar antara tidak percaya dan marah.Ia mendongak, menatap Xafier dengan mata yang memerah. Ada kilat amarah, ada luka yang bercampur dengan rasa jijik karena merasa direndahkan sedemikian rupa. Dadanya sesak.“Bapak pikir aku apa?” Suara Zavira meninggi. “Perempuan murahan yang bisa Anda beli begitu saja?”Tangannya mencengkeram selimut lebih erat, seolah itu satu-satunya pelindung yang ia miliki sekarang. “Aku bukan pelacur,” ucapnya tegas, meski suaranya sempat bergetar di akhir kalimat.Xafier hanya mengangkat sudut bibirnya, senyum tipis yang lebih mirip ejekan.“Tenang saja,” katanya dingin dan datar “Aku tidak pernah menyebutmu pelacur.”Zavira tertawa pendek, pahit. “Tapi anda menawariku posisi yang lebih hina dari itu.”Sunyi sejenak menggantung di antara mereka. Hanya suara pendingin ruangan yang berdengung pelan, terasa begitu asing di telinga Z

  • PELAN SEDIKIT, TUAN   Bab 2. Kesucian yang direnggut

    “Apa kamu tuli? Saya bilang layani saya sekarang!”“Sa—saya.”Tubuh Zavira menegang. Kalimat itu benar-benar tak bisa ia tangkap dengan jernih hingga membuatnya bertanya-tanya dengan semua yang terjadi ini. Tanpa berpikir panjang, kedua tangannya gegas memukul ke dada Xafier dengan kekuatan sebesar mungkin. “Lepaskan saya! Jangan sentuh saya!” teriaknya, tubuhnya berusaha menggeliat keluar dari genggamannya. Xafier hanya mengeluarkan tawa rendah. Efek obat perangsang yang sengaja diberikan Shiena, istrinya. Membuat Xafier tak bisa lagi membedakan antara batasan dan keinginan. Ia memilih pergi ke klub malam daripada meniduri wanita itu. Hanya hawa panas yang membakar setiap bagian dirinya, membuat pandangannya hanya terpaku pada sosok wanita di bawahnya.“Tolong lepaskan saya, Pak!” mohon Zavira.Tanpa memperdulikan perlawanannya, dia mendekatkan wajahnya perlahan namun pasti ke leher Zavira. Ujung bibirnya menyentuh kulitnya memberikan kecupan demi kecupan yang hangat dan sedikit

  • PELAN SEDIKIT, TUAN   Bab 1. Layani saya!

    “Apa ini pilihan tepat? Tapi aku baru pertama masuk tempat seperti ini.”Di depan gerbang klub malam, sosok gadis cantik berdiri tegak di tengah hiruk-pikuk ibu kota. Matanya mengikuti deretan mobil mewah yang berjejer rapi untuk menjadi para tamu-tamunya. Pandangannya tajam, sementara pikirannya tak teratur, semuanya saling bersilangan hingga suara notifikasi ponselnya memotong hembusan udara hangat malam.Zavira terkejut, pundaknya sedikit melompat ke atas. Tangan kirinya langsung menyelinap ke dalam saku celana jeansnya, mencari ponselnya. Ketika layar menyala menerangi wajahnya, nama “Ibu” terpampang jelas. Ia segera menggeser ikon hijau ke kanan.“Iya, Bu …,” panggilnya dengan suara lembut.Dari ujung lain sambungan, terdengar suara tangisan yang lembut namun menusuk hati. Kening Zavira mengkerut.“Ibu, ada apa?” tanya Zavira.Hanya hening yang menjawab.Tak ada kata pun yang keluar dari sisi lain, hanya irama tangisan yang terputus-putus dan bergema di dalam telinganya. Zavir

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status