LOGINZavira mendesis di antara deretan giginya, suaranya rendah namun sarat amarah yang ditahan paksa. “Bapak benar-benar gila!”
Xafier sama sekali tidak terkejut. Tatapannya tetap tenang, dingin, nyaris tanpa emosi, seolah kata-kata Zavira barusan tak lebih dari hembusan angin. “Saya bukan gila,” balasnya datar. “Saya hanya tidak suka tawar-menawar. Dan keputusan saya bukan sesuatu yang bisa dibantah.” Ucapan itu membuat Zavira refleks mengepalkan tangan di sisi tubuhnya. Kukunya menekan telapak hingga nyaris terasa perih. Ia menatap Xafier tajam, penuh perlawanan, sementara pria itu membalasnya dengan sorot mata yang sama tajamnya namun tanpa emosi sedikit pun. Detik-detik berlalu dalam keheningan yang mencekik. Zavira menghela napas panjang. Dalam-dalam. Ia memaksa dadanya yang naik turun untuk kembali stabil. Ia sadar, sedikit saja ia kehilangan kendali, keluarganya pasti akan curiga. Terlebih ayah dan ibunya sudah terlihat gelisah sejak tadi. Sorot mata Zavira berubah. Tak lagi setajam barusan. Ada getar halus di sana. Sedikit memohon. “Apa tidak bisa beri aku waktu?” suaranya melemah, nyaris berbisik. “Aku sedang tertekan. Keadaan keluargaku, aku bahkan belum tahu harus menjelaskan apa pada orang tuaku.” Xafier menatapnya lama. Terlalu lama. Namun pada akhirnya, pria itu menggeleng pelan. “Tidak,” jawabnya singkat. “Kita menikah malam ini juga. Dan setelah itu, kamu ikut pulang dengan saya.” Jantung Zavira terasa seperti diremas keras. “Tidak!” sanggahnya tegas. “Aku tidak bisa menikah lalu pergi begitu saja. Keluargaku masih membutuhkanku. Mereka—” “Soal rentenir, hutang, dan orang-orang yang mengganggu keluargamu,” potong Xafier tanpa nada empati, “itu urusanku. Kamu tidak perlu cemas.” Ucapan itu justru membuat Zavira semakin terpukul. Ia menggeleng kuat, matanya berkaca-kaca. “Kamu tidak mengerti,” lirihnya. “Ini bukan hanya soal hutang.” Belum sempat perdebatan itu berlanjut, suara langkah kaki terdengar mendekat dari dalam rumah. “Zavira,” panggil Pak Herman pelan, wajahnya tampak cemas. “Bapak boleh bicara sebentar sama kamu?” Xafier menoleh, lalu mengangguk singkat. “Silakan.” Zavira menelan ludah. Dadanya terasa semakin sesak. Ia mengikuti langkah ayahnya masuk ke dalam rumah, melewati ruang sempit yang masih berantakan. Bu Farida menyusul dari belakang, raut wajahnya khawatir. Di dalam kamar kecil, Zavira duduk di atas kasur lusuh. Ia duduk di antara kedua orang tuanya. Bu Farida langsung menggenggam tangannya erat, seolah takut Zavira akan menghilang jika dilepas. Tangannya dingin. Bergetar. Pak Herman menatap putrinya lama. Terlalu lama. Tatapan yang sarat rasa bersalah, bingung, dan takut kehilangan. “Zavira.” Suaranya bergetar. “Siapa sebenarnya pria di luar itu, Nak?” Zavira menunduk. Lidahnya terasa kelu. “Kenapa dia bilang calon suamimu?” lanjut Pak Herman, suaranya semakin lirih. “Dan kenapa dia minta dinikahkan malam ini juga?” Bu Farida mengusap punggung tangan Zavira, matanya berkaca-kaca. “Jujurlah sama Ibu dan Bapak, Nak,” pintanya lembut. “Kalau kamu sedang punya masalah, bilang. Jangan dipendam sendiri.” Zavira menggigit bibir bawahnya. Napasnya tercekat. “Ibu cuma takut,” ucap Bu Farida bergetar. “Pria itu dari penampilannya saja sudah jauh berbeda dengan kita. Ibu dan Bapak tidak pernah dengar namanya. Tidak pernah lihat dia sebelumnya.” Pak Herman mengangguk pelan, matanya sendu menatap Zavira. “Bapak cuma ingin tahu apa kamu benar-benar mengenalnya, Nak?” Kamar itu mendadak terasa sempit. Sunyi. Tekanan dari tatapan kedua orang tuanya membuat Zavira nyaris tak sanggup mengangkat kepala. Ia tahu di titik ini, kebohongan apa pun akan terasa rapuh. Air mata itu akhirnya jatuh juga. Zavira tak kuasa lagi menahannya. Bahunya bergetar hebat saat isak kecil lolos dari bibirnya. Ia menunduk dalam-dalam, tangannya mencengkeram ujung kasur lusuh itu seolah sedang menahan runtuhnya dunia. “Maaf.” Suaranya pecah. “Maafkan Zavira, Pak, Bu.” Bu Farida terisak mendengar itu. Tangannya semakin erat menggenggam jemari Zavira, seakan takut putrinya akan benar-benar hilang. “Pria itu .…” Zavira menghela napas panjang, dadanya sesak. “Dia yang membantu Zavira membayar hutang ke Bu Winda.” Kalimat itu seperti palu yang menghantam kepala Pak Herman. Tubuh pria paruh baya itu menegang. Matanya memerah, rahangnya mengeras menahan emosi yang mendidih. “Jadi benar,” gumamnya lirih. “Bapak memang ayah yang tidak berguna.” “Pak—” “Bapak gagal jadi kepala keluarga!” Suara Pak Herman meninggi, penuh penyesalan. “Sakit, kecelakaan kerja, hutang semuanya kamu yang tanggung!” Ia menggeleng kuat, matanya berkaca-kaca. “Tapi satu hal yang harus kamu tahu, Zavira,” ucapnya bergetar. “Kami tidak akan menjual anak kami. Tidak akan.” Zavira tersentak. “Kalau perlu,” lanjut Pak Herman dengan suara parau, “Bapak yang akan bicara pada pria itu. Kalau memang harus ada yang dikorbankan. Bapak rela jual ginjal daripada menjual kehormatan putri sendiri!” “Tidak, Pak!” Zavira langsung memeluk ayahnya erat, air matanya semakin deras. “Jangan bicara begitu! Jangan!” Ia menggeleng keras, wajahnya pucat. “Zavira tidak dijual. Zavira tidak merasa menjual diri.” Pak Herman terdiam, menatap putrinya dengan mata penuh luka. “Zavira hanya tidak punya pilihan lain,” lanjutnya lirih. “Ini satu-satunya cara.” Bu Farida menutup mulutnya, tangisnya pecah. “Zavira hanya bisa membalas budi dengan menerima permintaan Pak Xafier,” ucapnya pelan. “Kalau tidak, rentenir itu akan kembali. Keluarga kita tidak akan pernah tenang.” Dalam hati, Zavira berteriak meminta maaf. Maaf, Pak, Bu. Zavira tidak bisa jujur sepenuhnya. Ia tidak sanggup mengatakan kebenaran yang paling pahit. Bahwa pria di luar itu bukan sekadar penolong. Bahwa kehormatannya telah direnggut. Bahwa malam ini bukan sekadar pernikahan, melainkan penutup dari semua jalan kembali. Kamar itu mendadak sunyi. Tak ada suara selain isak tertahan. Bu Farida tiba-tiba menarik Zavira ke dalam pelukannya. Tangisnya pecah, tubuhnya bergetar hebat. “Ibu yang minta maaf,” lirihnya di sela tangis. “Ibu dan Bapak yang terlalu lemah sampai harus menaruh beban seberat ini di pundakmu.” Pak Herman ikut memeluk mereka berdua. “Maafkan Bapak, Nak.” Zavira menggeleng pelan. Ia menghapus air matanya cepat-cepat, memaksa senyum kecil di bibir pucatnya. “Jangan bilang begitu,” katanya mencoba tegar. “Zavira tidak merasa dibebani.” Ia menatap kedua orang tuanya satu per satu. “Kalau dengan menikah dengan Pak Xafier keluarga kita bisa bebas dari penderitaan… Zavira ikhlas.” Kata ikhlas itu terdengar rapuh. Nyaris hancur. Tak lama kemudian, mereka bertiga keluar dari kamar. Wajah mereka sembab, mata merah, namun langkah Zavira tetap dipaksa tegak. Xafier langsung menoleh saat mereka muncul. “Apa kamu sudah siap?” tanyanya dingin. “Saya tidak punya banyak waktu. Setelah menikah, kita harus kembali ke kota.” Zavira diam. Pak Herman maju selangkah. Suaranya berat namun tegas. “Kami akan menikahkan Zavira dengan Tuan,” katanya. “Tapi satu permintaan saya jaga anak saya. Dia sudah terlalu banyak berkorban.” Xafier menatap Pak Herman tanpa ekspresi. “Itu bukan hal yang perlu Anda cemaskan,” jawabnya singkat. Malam itu berjalan seperti mimpi buruk yang nyata. Dengan musyawarah singkat bersama pihak RT, RW, ustaz, dan beberapa tetangga, akad nikah dilangsungkan. Tanpa hiasan. Tanpa pelaminan. Tanpa senyum bahagia. Tak ada resepsi. Tak ada tawa. Hanya wajah-wajah murung yang menyaksikan dua manusia disatukan bukan oleh cinta, melainkan oleh keadaan yang kejam. "Malam ini kamu ikut aku pulang!" "Tapi—"Zavira mendesis di antara deretan giginya, suaranya rendah namun sarat amarah yang ditahan paksa. “Bapak benar-benar gila!”Xafier sama sekali tidak terkejut. Tatapannya tetap tenang, dingin, nyaris tanpa emosi, seolah kata-kata Zavira barusan tak lebih dari hembusan angin.“Saya bukan gila,” balasnya datar. “Saya hanya tidak suka tawar-menawar. Dan keputusan saya bukan sesuatu yang bisa dibantah.”Ucapan itu membuat Zavira refleks mengepalkan tangan di sisi tubuhnya. Kukunya menekan telapak hingga nyaris terasa perih. Ia menatap Xafier tajam, penuh perlawanan, sementara pria itu membalasnya dengan sorot mata yang sama tajamnya namun tanpa emosi sedikit pun.Detik-detik berlalu dalam keheningan yang mencekik.Zavira menghela napas panjang. Dalam-dalam. Ia memaksa dadanya yang naik turun untuk kembali stabil. Ia sadar, sedikit saja ia kehilangan kendali, keluarganya pasti akan curiga. Terlebih ayah dan ibunya sudah terlihat gelisah sejak tadi.Sorot mata Zavira berubah. Tak lagi setaja
“Zavira, bangun, Nak,” isak Bu Farida. Tangannya yang sedikit kurus mengusap kening putrinya yang dingin. “Kenapa Zavira belum bangun, Pak?”“Bapak juga nggak tahu, Bu,” lirih Pak Herman penuh sesal dan rasa bersalah. “Maafkan, Bapak, Zavira. Bapak memang tidak berguna.” Dia merasa gagal menjadi kepala keluarga. Bukannya menjadi tempat sandaran tapi penyakit yang diderita dan kecelakaan kerja, membuatnya malah menjadi beban bagi putrinya.“Teteh, bangun, Teh,” isak Zikri histeris.Suara itu membuat bola mata Zavira terbuka pelan-pelan. Saat sadarnya kembali, sekelilingnya keluarga tengah panik. Rasa bersalah, lelah dan trauma bercampur di dadanya, hanya sedikit lega karena setidaknya hutang keluarganya sudah dilunasi.“Pak, Bu, Ki!” panggil Zavira lemahBu Farida langsung mendekat, memeluk tubuh Zavira dengan erat. Isak tangisnya kembali pecah di balik tubuh Zaviram “Alhamdulillah, Ya Allah. Zavira. Kamu sadar, Nak!”“Alhamdulilah, Bapak sangat khawatir kamu nggak sadar-sadar, Nak.
Zavira membeku.Kata-kata itu menghantamnya lebih keras daripada tamparan mana pun.“Istri simpanan?” ulangnya lirih, suaranya bergetar antara tidak percaya dan marah.Ia mendongak, menatap Xafier dengan mata yang memerah. Ada kilat amarah, ada luka yang bercampur dengan rasa jijik karena merasa direndahkan sedemikian rupa. Dadanya sesak.“Bapak pikir aku apa?” Suara Zavira meninggi. “Perempuan murahan yang bisa Anda beli begitu saja?”Tangannya mencengkeram selimut lebih erat, seolah itu satu-satunya pelindung yang ia miliki sekarang. “Aku bukan pelacur,” ucapnya tegas, meski suaranya sempat bergetar di akhir kalimat.Xafier hanya mengangkat sudut bibirnya, senyum tipis yang lebih mirip ejekan.“Tenang saja,” katanya dingin dan datar “Aku tidak pernah menyebutmu pelacur.”Zavira tertawa pendek, pahit. “Tapi anda menawariku posisi yang lebih hina dari itu.”Sunyi sejenak menggantung di antara mereka. Hanya suara pendingin ruangan yang berdengung pelan, terasa begitu asing di telinga Z
“Apa kamu tuli? Saya bilang layani saya sekarang!”“Sa—saya.”Tubuh Zavira menegang. Kalimat itu benar-benar tak bisa ia tangkap dengan jernih hingga membuatnya bertanya-tanya dengan semua yang terjadi ini. Tanpa berpikir panjang, kedua tangannya gegas memukul ke dada Xafier dengan kekuatan sebesar mungkin. “Lepaskan saya! Jangan sentuh saya!” teriaknya, tubuhnya berusaha menggeliat keluar dari genggamannya. Xafier hanya mengeluarkan tawa rendah. Efek obat perangsang yang sengaja diberikan Shiena, istrinya. Membuat Xafier tak bisa lagi membedakan antara batasan dan keinginan. Ia memilih pergi ke klub malam daripada meniduri wanita itu. Hanya hawa panas yang membakar setiap bagian dirinya, membuat pandangannya hanya terpaku pada sosok wanita di bawahnya.“Tolong lepaskan saya, Pak!” mohon Zavira.Tanpa memperdulikan perlawanannya, dia mendekatkan wajahnya perlahan namun pasti ke leher Zavira. Ujung bibirnya menyentuh kulitnya memberikan kecupan demi kecupan yang hangat dan sedikit
“Apa ini pilihan tepat? Tapi aku baru pertama masuk tempat seperti ini.”Di depan gerbang klub malam, sosok gadis cantik berdiri tegak di tengah hiruk-pikuk ibu kota. Matanya mengikuti deretan mobil mewah yang berjejer rapi untuk menjadi para tamu-tamunya. Pandangannya tajam, sementara pikirannya tak teratur, semuanya saling bersilangan hingga suara notifikasi ponselnya memotong hembusan udara hangat malam.Zavira terkejut, pundaknya sedikit melompat ke atas. Tangan kirinya langsung menyelinap ke dalam saku celana jeansnya, mencari ponselnya. Ketika layar menyala menerangi wajahnya, nama “Ibu” terpampang jelas. Ia segera menggeser ikon hijau ke kanan.“Iya, Bu …,” panggilnya dengan suara lembut.Dari ujung lain sambungan, terdengar suara tangisan yang lembut namun menusuk hati. Kening Zavira mengkerut.“Ibu, ada apa?” tanya Zavira.Hanya hening yang menjawab.Tak ada kata pun yang keluar dari sisi lain, hanya irama tangisan yang terputus-putus dan bergema di dalam telinganya. Zavir







