Share

Bab 104

Penulis: Nandar Hidayat
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-29 07:02:49

Udara yang tadinya dingin dan menusuk karena energi ketiadaan, kini perlahan dihangatkan oleh aura yang menenangkan.

Bau belerang dan kematian digantikan oleh aroma samar ozon setelah badai petir yang bersih dan aroma embun di atas kelopak bunga teratai.

Tekanan spiritual yang selama ini meremukkan jiwa mereka terangkat, digantikan oleh perasaan damai dan jernih yang aneh.

Cahaya itu mendarat di tanah dengan kelembutan kelopak bunga yang jatuh, tepat di tengah-tengah antara sisa-sisa pasukan Anggrawati dan avatar Rakṣasa.

Cahaya itu perlahan memudar, menyingkap sesosok pria berjubah hitam yang berdiri tegak.

Anggrawati menyipitkan matanya, jantungnya seolah berhenti berdetak. Ia mengenali siluet itu. Ia mengenali wajah itu.

Namun, semua yang lain terasa begitu asing hingga membuatnya merinding.

“Dipasena,” bisiknya, namanya terasa seperti abu di lidahnya.

Itu mema
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • PEMBALASAN DEWA MAUT   Bab 128

    Satria Kala mendekat, perhatiannya kini beralih sepenuhnya ke artefak purba tersebut.Kertas itu bukan terbuat dari bambu atau kulit binatang; itu adalah helaian sutra hitam tebal, bertuliskan aksara Sunda kuno dengan tinta yang bersinar merah samar.Bagian tengah gulungan itu bukanlah teks. Itu adalah **peta**.Peta tersebut berputar dan berubah orientasinya perlahan di hadapan mata Satria Kala, seolah menanggapi keberadaan fragmen abadi tersebut."Inilah tujuan Kalabendu yang sebenarnya," kata Santi, jarinya menunjuk ke titik merah yang berdenyut di ujung peta, disimbolkan oleh gunung yang tampak terbalik.Satria Kala mengenali lokasi geografis tersebut dengan akurat dari ingatannya yang baru ditemukan di Cikuray: Gunung Tangkuban Perahu. Tetapi kenapa disebut 'Langit Terbalik'?"Mereka akan melakukan ritus Membalas Penghinaan Abadi di sebuah lokasi purba di Tangkuban Perahu," jelas Santi, membaca tulisan aksara itu. "Ritual it

  • PEMBALASAN DEWA MAUT   Bab 127

    Satria Kala menahan denyutan dingin dari Batu Monolit yang ia pegang.Serpihan Ketiadaan ini bergetar dalam genggaman, identik dengan aura destruktif dari **Gema Ketiadaan** yang dulu pernah dilawan oleh Dipasena. Realitas ini adalah mimpi buruk terulang: musuh bukan lagi para pengikut, melainkan materi primer dari kekacauan itu sendiri.Ia menyisihkan monolit itu, membungkusnya dalam secarik kain dari jubah Lengser, dan berbalik dari Pasar Ciawi yang diselimuti bau kematian. Kujang Sinar Kematian ia sarungkan kembali, bilah itu terasa semakin berat, bukan karena massanya, tetapi karena pengetahuan yang diungkapkannya.Satria Kala tidak memerlukan pembersihan; ia membutuhkan klarifikasi eksistensial, sesuatu yang hanya dapat disediakan oleh para cendekiawan spiritual yang mempelajari siklus kosmik kuno.Perjalanan malam itu dipenuhi refleksi. Semakin dalam ia mengetahui musuh, semakin jauh ia merasa dirinya bergerak menuju jura

  • PEMBALASAN DEWA MAUT   Bab 126

    Lengser menerjang. Pergerakannya begitu cepat; ia bergerak empat kali lipat kecepatan atlet fana tercepat.Tujuannya adalah mengakhirinya dalam satu cakaran yang diarahkan ke Inti Prana di dada Satria Kala, memadukan serangan fisik dan spiritual.Namun, Satria Kala tidak menyerang balik. Ia bergeser —sebuah pergeseran dalam dimensi, bukan ruang fisik.Serangan Lengser hanya merobek udara tempat Satria Kala seharusnya berada.“Sangat lambat, Raden,” ucap Satria Kala, muncul di belakang bahu kanan Lengser. “Energi Anda tersebar. Kulit harimau itu hanyalah topeng spiritual.”Satria Kala mengarahkan bilah kujangnya ke atas, bukan dengan tujuan memotong daging atau tulang, tetapi untuk memutuskan urat nadi yang menyambungkan kesadaran Lengser pada roh harimau yang dikuasainya.Lengser, yang telah terbiasa bertarung dengan pendekar fana yang selalu mengincar tubuh, terkejut dengan tujuan Satria Kala yang tidak konvensional. Ia memutar

  • PEMBALASAN DEWA MAUT   Bab 125

    Satria Kala melaju cepat. Pintu kampung kini di belakangnya, tetapi kata-kata itu mengejarnya seperti seribu pedang spiritual: Langit telah mati.Tugasnya kini lebih berat. Prana Murni yang ia gunakan tadi memang berhasil. Warganya diselamatkan.Tapi harga untuk mengaktifkan kekuatan dewa tersebut dibayar tunai. Dia bisa merasakannya: keberadaannya sebagai Satria Kala, wadah fisik, semakin transparan.Kekosongan akan segera menuntut bagiannya kembali.Saat malam menutup tebal, Satria Kala mencapai perbatasan yang dikenal sebagai tanah pertapaan Situ Cileunca.Ia perlu menenangkan pikirannya. Pergerakannya harus lebih hati-hati, tersembunyi dari para pengganggu.Namun, dalam kehampaan malam yang dingin di pinggiran danau tenang itu, dia tidak sendirian. Satria Kala mendadak berhenti.Jauh di depannya, di antara akar beringin besar, cahaya lentera bergetar lemah, menerangi sesosok wanita yang duduk tenang dengan kain bersa

  • PEMBALASAN DEWA MAUT   Bab 124

    Anak itu terbatuk, upaya kerasnya untuk berbicara hanya menghasilkan udara yang bergetar.Satria Kala meraih tangannya, yang kecil dan hangat, menahan keinginan untuk menarik Kujang Sinar Kematian yang terasa memberati pinggulnya. Instrumen pemutus jiwa itu tidak berguna untuk memperbaiki keretakan spiritual seperti ini."Jangan takut, Nona," ujar Satria Kala, suaranya diucapkan dalam desisan yang memantul kembali dari permukaan kesunyian yang tebal.Ia menggunakan formalitas absolut, karena hanya itu yang tersisa dari kodratnya yang abadi.Anak itu gemetar hebat, isyarat tangannya bergerak cepat seolah memohon pertolongan."Saya harus membantu Nona. Dan semua warga kampung ini," lanjut Satria Kala. "Kekuatan yang mengikat tenggorokan kalian hanyalah sisa. Namun ia perlu dihancurkan menggunakan sesuatu yang melampaui keberadaan fana. Bersabarlah, Nona."Ia memejamkan mata. Otaknya adalah arsitektur perhitungan energi.

  • PEMBALASAN DEWA MAUT   Bab 123

    Lalu, Eyang Giri Kencana menghilang. Tinggallah Satria Kala sendirian, angin yang semula memarahi kini menjadi pelukan dingin.Ia melihat jalurnya terbentang ke puncak, tempat pedang legendaris itu disemayamkan.Puncak Gunung Cikuray sangat dingin, ditutupi es yang bertahan abadi di atas batas awan.Kujang itu, dinamai Kujang Sinar Kematian, tertanam dalam sebuah monolit pualam hitam yang berumur tak terhitung.Sarungnya terbuat dari sisik naga purba yang membatu, namun bilahnya yang sedikit melengkung memancarkan cahaya biru metalik tipis.Satria Kala melangkah menuju pedang. Ia memikirkan Anggrawati. Ia memikirkan janji Bajingan Merah itu. Jika ia bergerak atas dasar kemanusiaan —kemungkinan adanya rasa kehilangan Anggrawati— ia akan dileburkan menjadi kristal oleh Kujang itu sendiri.Tidak ada kebimbangan. Ia mereduksi semua emosi menjadi satu fokus murni: keseimbangan kosmik.Dia berdiri di hadapan monolit

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status