로그인Ini adalah badai gema kosmik, resonansi dari miliaran garis waktu yang kini berkumpul, siap untuk menyaksikan pemutusan sebuah simpul primordial.
Suaranya kini bukan guntur yang menggelegar, bukan dentuman yang memecah gendang telinga.Itu adalah melodi patah hati yang teramat dalam, namun damai.Simfoni kesedihan yang hening, alunan harpa kosmik yang dimainkan oleh tangan takdir.Kekuatan langit, entitas-entitas primordial, dan seluruh alam semesta mengakuKeterkejutan karena bisikan itu tidak melumpuhkan Satria Kala, melainkan membuatnya semakin yakin. Pikirannya berpacu, mengabaikan denyutan yang masih datang dari perut gunung. Benih kehampaan ini jauh lebih terstruktur daripada yang ia perkirakan. Benih itu cerdas. "Dia sudah bangun." Itu artinya residu kehampaan itu kini telah berevolusi menjadi sesuatu yang lebih berbahaya—sesuatu yang memiliki keinginan. Satria Kala melompat menjauhi kawah itu, meluncur turun dengan kecepatan menembus suara yang tidak lagi menyisakan jejak kaki di lumpur. Prana Penjaga Keseimbangan-nya kini menderu, berfungsi seperti mekanisme pertahanan yang siap dihancurkan kapan saja. Tujuannya sekarang adalah Leuweung Sancang, hutan purba yang dahulu adalah pusat dari Pembusukan kosmik. Ketika ia mencapai wilayah itu beberapa jam kemudian, hujan telah reda, digantikan oleh sunyi yang menyesakkan. Hutan ini telah hijau kembali. Pohon-pohon Rasamala dan Beringin tumbuh tinggi, tegak, memamerka
Pergumulan batin ini begitu sunyi, sebuah rahasia yang tersembunyi jauh di dalam inti keberadaan Dipasena, tetapi intensitasnya melebihi ledakan kosmik yang baru saja dialaminya di puncak Gunung Tampomas.Ledakan itu, bukan kehancuran, melainkan restrukturisasi fundamental dari realitasnya sendiri —pelepasan belenggu takdir yang telah mengikatnya selama miliaran tahun.Getarannya masih terasa, bukan sebagai trauma, melainkan sebagai gema kebebasan yang membuncah, memenuhi setiap sel tubuhnya yang kini kembali muda.Dipasena muda sadar, sangat sadar, bahwa takdir Dewa Maut yang pernah ia sandang hanyalah benang takdir tunggal, sebuah garis lurus yang tak terbantahkan, ditarik oleh kekuatan universal yang lebih tua dari waktu itu sendiri.Namun, keajaiban terbesar yang ia temukan adalah bahwa takdir manusia dapat ia pilih, dapat ia rajut ulang dengan benang-benang yang berbeda. Pengetahuannya yang universal, yang melingkupi setiap kemungki
Ini adalah caranya untuk menyeimbangkan realitasnya yang luas dengan kesederhanaan dunia ini.Anggrawati justru tertawa kecil. Tawanya polos, memecah ketegangan di antara mereka, membuat Dipasena merasakan getaran kehangatan yang asing namun menyenangkan."Kalimat Anda terdengar seperti yang Bapak Guru katakan di padepokan. Sulit untuk dimengerti. Saya kira Anda baru pindah kemari. Apakah rumah Anda telah dibangun dengan kokoh?"Matanya memancarkan rasa ingin tahu yang murni, tanpa sedikit pun keraguan atau kecurigaan.Dipasena tersenyum tulus, merasakan kehangatan yang tak pernah ia rasakan saat menjadi Satria Kala, atau bahkan sebagai Dipasena dewasa yang dikurung oleh takdir.Perbedaan takdirnya adalah sederhana: di masa ini, di saat ini, ia tidak harus menyelamatkan Anggrawati dari kehancuran, dari beban dunia.Dia hanya harus menjadi sahabatnya, menjaga kepolosannya, dan membiarkannya tumbuh menjadi dirinya sendiri tanpa bay
Bebatuan lava hitam di sana masih basah oleh energi residual dari petir kosmik, namun berbeda dari batu-batu di sekelilingnya yang tampak dingin dan kering.Ada anomali kecil, sebuah tanda yang menarik perhatian Benang Emas Takdir di genggamannya. Sambil berdiri, ia berjalan perlahan ke titik itu.Benang Emas berdenyut kecil di genggamannya, seolah bereaksi pada anomali baru, pada kemungkinan yang tak terduga.Di tanah yang basah oleh energi residual —sebelum ketiadaan sepenuhnya menggantikan Satria Kala— Anggrawati melihat bekas kaki.Jejak-jejak itu tercetak jelas dan lembut di atas permukaan berlumpur yang kini disinari matahari pagi yang malu-malu muncul dari balik ufuk timur.Namun, jejak itu bukanlah bekas sepatu bot Satria Kala yang lapuk dan besar, yang selama ini menemani perjalanannya yang penuh pengorbanan.Jejak itu menunjukkan bekas kaki anak kecil. Telapak kaki kecil, mungil, dan tanpa cacat, seolah baru saja mengin
Anggrawati memegang Benang Emas Takdir itu erat-erat di antara jemari halusnya, merasakan denyut lembut energi purba yang mengalirinya.Warnanya seperti kunang-kunang cair yang ditangkap dalam jaring laba-laba kosmis.“Aku akan menjaganya,” ucapnya, suaranya mantap namun dipenuhi keharuan yang jarang ia izinkan muncul, “dengan sepenuh Prana Pembangun yang kumiliki. Katakanlah apa tujuanmu yang sebenarnya. Jelaskan maksud 'diri hamba yang dulu'.”Hening menyelimuti puncak Gunung Tampomas, hanya embusan angin pegunungan yang membawa aroma petrichor dan sulfur dari sisa-sisa badai petir semalam.Aliran cahaya perak pada tubuh Satria Kala kini tidak lagi desisan energi yang membara, melainkan hembusan pelan, hampir seperti napas terakhir sebuah bintang yang meredup.Energi hidupnya bergerak ke atas, meninggalkan raganya yang tersisa, seolah jiwanya adalah asap perak yang tipis, naik menuju lapisan langit yang kini mulai tersembunyi di balik f
Ada kekecewaan yang samar, namun juga pengertian yang mendalam dalam pertanyaannya.Ia mencoba mengangkat tangannya yang dingin untuk mencegah intervensi Anggrawati, sebuah gerakan yang membutuhkan seluruh sisa kekuatannya."Anda menyuruh saya menunggu di bawah," Anggrawati terisak, air mata mengalir membasahi pipinya yang diwarnai Prana emas.Dia melepaskan aliran Prana Keemasan hangat dari telapak tangannya, Prana Restorasi murni, berniat untuk menyalurkannya, memulihkan kerusakan struktural, setidaknya agar fragmentasi ini bertahan cukup lama.Agar Satria Kala tidak sepenuhnya lenyap. "Namun, saya tidak sanggup membiarkan Anda menanggung penderitaan ini seorang diri. Ini tidak adil.""Mohon jangan sentuh saya, Nona Anggrawati," Satria Kala bergetar kecil, bukan karena rasa sakit, melainkan karena tabrakan energi.Energi Kehampaan yang kini merasuki setiap selnya bertabrakan dengan energi Kehidupan murni dari Prana Restorasi An







