تسجيل الدخولHallo pembaca yang baik🫶, bantu aku untuk menjadikan cerita ini popular yuk, dengan tab love dan komentar kalian, jangan lupa masukkan ke daftar pustaka ya 🫶🫶
Tangan Zen baru saja hendak menyentuh gagang pintu balkon. Namun sebelum sempat membukanya, sebuah tangan yang lembut lebih dulu menggenggam lengannya. "Zen..." Suara Jasmine terdengar lirih. Zen menghentikan langkahnya. Ia menoleh perlahan ke arah istrinya. Tatapannya masih dipenuhi tanda tanya. Sejak mereka menikah, sangat jarang Jasmine bersikap seperti ini. Biasanya perempuan itu akan langsung berdebat atau membalas ucapannya dengan logika. Tetapi kali ini berbeda. Jasmine justru mendekat, berdiri begitu dekat hingga kedua tangan mungilnya mengusap pelan lengan suaminya. "Ada apa?" tanya Zen pelan. Jasmine mengangkat wajah, berusaha menyembunyikan kegelisahan yang hampir meluap dari sorot matanya. Jantungnya berdegup begitu keras hingga ia takut Zen dapat mendengarnya. "Kau terlalu banyak berpikir." Nada suaranya dibuat selembut mungkin.
Sementara itu, di balkon kamar hotel, Raiden mengembuskan napas panjang. Untuk pertama kalinya sejak bersembunyi, ia benar-benar bisa menarik udara dengan lega. Dari balik pintu kaca, suara Jasmine dan Zen masih terdengar samar. Itu pertanda kebohongan Jasmine kembali berhasil menutupi keberadaannya.Namun, rasa lega itu tidak bertahan lama.Raiden mengusap wajahnya dengan kasar. Rahangnya mengeras mengingat beberapa menit yang lalu. Dadanya masih dipenuhi amarah yang belum benar-benar reda."Apa dia tidak pernah berpikir kalau aku juga bisa celaka?" gumamnya pelan.Ia memang menerima uang Jasmine. Kesepakatan itu dibuat atas kehendak mereka berdua. Tetapi setiap kali harus bertemu diam-diam seperti ini, yang mempertaruhkan nyawa dan harga diri justru dirinya.Kalau sampai Zen memergokinya berada di kamar istrinya, siapa yang akan dipercaya?Tidak ada.Yang akan dianggap bersalah tetap dirinya.Raiden memandang balkon kamarnya yang hanya dipisahkan ol
"Apa, ada seseorang di dalam?" Pertanyaan itu menggantung di udara. Jasmine seolah kehilangan kemampuan untuk bernapas. Jantungnya menghantam dadanya tanpa ampun, sementara telapak tangannya mulai dipenuhi keringat dingin. Untuk sesaat ia hanya mampu menatap wajah Zen yang berdiri tepat di hadapannya, berusaha membaca apakah suaminya sekadar bertanya atau benar-benar menyimpan kecurigaan. Di balik pintu kaca balkon, Raiden ikut membeku. Tubuhnya menempel rapat pada dinding pembatas. Ia bahkan menahan napas, takut suara sekecil apa pun akan terdengar dari dalam kamar. Belum pernah seumur hidup ia merasa sedekat ini dengan kehancuran. Jasmine memaksakan senyum. "Aku kan hanya sendiri." Tatapannya berusaha setenang mungkin, tetapi jemarinya tanpa sadar saling meremas di balik tubuhnya. Ia tahu, sedikit saja raut wajahnya berubah, Zen bisa saja menangkap kegugupan yang sed
Tok... Tok... Tok... Ketukan itu terdengar pelan. Namun bagi Jasmine dan Raiden, bunyinya seperti dentuman yang memukul dada mereka bersamaan. Percakapan yang sejak tadi berlangsung tenang langsung terputus. Jasmine refleks menoleh ke arah pintu. Sedangkan Raiden spontan berdiri dari sofa. Wajahnya yang semula tenang berubah tegang dalam hitungan detik. Tok... Tok... Tok... Ketukan kedua kembali terdengar. Kali ini lebih jelas. Lebih tegas. Jantung Jasmine berdegup semakin cepat. "Si-siapa?" bisiknya nyaris tanpa suara. Raiden menggeleng pelan. "Aku mana tahu." Mereka saling berpandangan beberapa detik. Ruangan yang beberapa saat lalu terasa nyaman, mendadak berubah menjadi tempat yang begitu sempit. "Raiden, cepat sembunyi!" Jasmine mendorong pelan lengan pria itu. Raiden justru menat
"Aku ingin mengubah kesepakatan kita." Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir Jasmine sesaat setelah Raiden menutup pintu kamar hotel. Raiden yang baru saja melangkah beberapa langkah langsung menghentikan langkahnya. Tatapannya perlahan beralih kepada wanita yang berdiri di dekat jendela dengan kedua tangan terlipat di depan dada. Tidak ada senyum yang biasanya menyambut kedatangannya. Wajah Jasmine justru terlihat jauh lebih tenang, tetapi ketenangan itu menyimpan sesuatu yang sulit ditebak. "Apa maksudmu?" tanya Raiden pelan. Alisnya mengernyit. Sejujurnya, selama perjalanan menuju kamar ini, ia sudah menyiapkan berbagai kemungkinan. Ia mengira Jasmine akan mengakhiri semuanya karena Zen mulai memperhatikannya. Dugaan itu membuat dadanya sempat dihantui kegelisahan. Bukan semata-mata karena kehilangan pekerjaan, tetapi karena ia belum memiliki cukup uang untuk mengejar tujuan yang selama ini ia pendam. Jasmine tidak langsung menjawab. Ia justru mengembuskan napas panj
"Mama, wanita itu tidak mungkin tiba-tiba muncul begitu saja." Ratna memecah keheningan di dalam mobil. Tatapannya masih lurus ke depan, tetapi pikirannya terus mengulang pertemuan beberapa menit lalu di minimarket. Shen. Wanita yang seharusnya sudah hilang dari kehidupan mereka. Kini kembali muncul seolah membawa ancaman yang selama bertahun-tahun mereka kubur rapat. Intan menggenggam tasnya semakin erat. Wajahnya yang biasanya tenang kini mulai kehilangan warna. "Aku juga memikirkan hal yang sama." Nada suaranya terdengar berat. Selama perjalanan meninggalkan minimarket, bayangan tatapan Shen terus menghantuinya. Bukan tatapan seorang wanita yang meminta belas kasihan, melainkan tatapan seseorang yang telah kehilangan rasa takut. Dan orang seperti itulah yang paling berbahaya. Ratna menoleh. "Mama sadar tidak?" "Apa?" "Dia berubah." Intan mengernyit.
Dalam diam, Jasmine hanya bisa memandangi bayangannya sendiri di pantulan cermin besar yang berdiri di sudut ruangan. Apartemen itu luas, mewah, dan nyaman. Namun malam ini semuanya terasa kosong.Kosong seperti hidupnya.Kosong seperti harapan yang perlahan mulai runtuh satu demi satu.Ia baru men
Raiden tidak langsung menjawab.Tatapannya terpaku pada layar ponsel yang baru saja menyala setelah berhari-hari ia matikan. Jemarinya berhenti bergerak tepat di atas layar, sementara napasnya terasa tertahan di tenggorokan.Di antara puluhan pesan dari Jasmine, hanya satu kalimat yang benar-benar
Hari-hari berlalu semenjak kejadian di kafe dan restoran itu. Rumah kecil milik Raiden kembali dipenuhi suasana sunyi. Tidak ada lagi suara tawanya yang santai, tidak ada lagi kebiasaan isengnya mengganggu Tian sejak pagi. Yang tersisa hanya seorang pria dengan tatapan kosong yang lebih sering meng
Mobil itu berhenti tepat di halaman depan rumah Hagia. Lampu kendaraan masih menyala, menerangi pagar kecil dan halaman rumah yang mulai gelap dimakan malam.Suasana begitu sunyi.Hanya terdengar suara mesin mobil yang masih hidup dan napas Hagia yang belum sepenuhnya tenang.Tangannya gemetar saat







