Teilen

PENDEKAR PENGUASA AGUNG
PENDEKAR PENGUASA AGUNG
Less22

1 Ranah Kultivasi

last update Veröffentlichungsdatum: 14.09.2026 17:22:05

Malam di Kediaman Jing selalu terasa bagai neraka yang membeku bagi Jing Huan.

 Jing Huan meringkuk di sudut bangsal kayu yang terbengkalai, sebuah gudang tua berbau hapak yang tak layak dihuni manusia.

"Lapar..." bisik Jing Huan seraya memegangi perutnya yang berbunyi.

Sudah dua hari ia hanya diberi sisa nasi basi yang bercampur tanah oleh para pelayan.

Bahkan pelayan terendah di Kediaman Jing pun berani meludahinya.

Bagi mereka, menindas anak yatim piatu tanpa Dan Tian Kultivasi adalah hiburan gratis di waktu senggang.

Tiba-tiba, pintu gudang di tendangan keras hingga roboh menimpa lantai!

BRAK!

"Heh, si sampah masih bernapas?" sebuah suara yang sangat familier di depan pintu.

Kuang Jio adalah pelayan Jing Huo, Tuan muda kedua. Ia melangkah masuk disusul oleh Wang Coi yang memegang obor.

Jing Huan gemetar, berusaha merayap mundur hingga punggungnya menempel pada dinding kayu yang dingin. "Kuang Jio... Wang Coi... ada apa malam-malam begini?"

"Ada apa? Kau sendiri ada apa di gudang dapur ini? Mau mencuri makanan lagi?" tanya Kuang Jio bercekak pinggang seolah-olah dia adalah Tuan Muda kediaman Jing.

"Aku lapar... aku mau makan," kata Jing Huan berusaha untuk berdiri.

"Kamu mau mencuri lagi? Apa kau tahu makanan di sini sangat mahal, dan tidak pantas di makan oleh pria sampah seperti mu! Apa lagi aku baru saja naik tingkat penempaan tubuh bintang 2. Aku butuh samsak, kebetulan sekali ada Tuan Muda sampah di sini. Siapa lagi yang lebih cocok selain dirimu?" Kuang Jio tertawa terbahak-bahak, matanya penuh niat jahat.

Sebelum Jing Huan sempat memohon, Kuang Jio sudah melangkah maju dan mencekik leher Jing Huan dengan satu tangan, mengangkat tubuh kerempeng berumur 15 tahun itu ke atas.

"Uhukk! K-Kuang jio... tolong..." leher Jing Huan terasa hendak patah.

Pasokan udara terputus seketika.

"Dengar, Jing Huan! Ayahmu dulu mati konyol karena racun dingin, dan ibumu mati melahirkan sampah sepertimu! Keberadaanmu di kediaman ini hanya mempermalukan nama besar Keluarga Jing! Kakek mu bahkan enggan melihat wajahmu!" bentak Kuang Jio tepat di depan wajah Jing Huan.

"J-jangan... sebut orang tuaku..." bisik Jing Huan susah payah, matanya mulai memerah karena menahan sakit dan amarah.

"Kenapa? Kamu marah?" Wang Coi tertawa makin keras.

Tanpa peringatan, ia menghantamkan tongkat kayu tebal ke tempurung lutut Jing Huan!

KRAK!

"AGHHH!" jeritan Jing Huan kesakitan luar biasa.

Kuang Jio melempar tubuh Jing Huan ke lantai tanah yang kotor.

Tanpa belas kasihan, mereka mulai menginjak-injak, tubuh Jing Huan tanpa henti. Mereka memperlakukannya tak ubahnya seperti seekor anjing kurap.

"Pukul terus! Hajar saja dia! Pukul sampai dia tahu jika dirinya adalah sampah!" teriak Wang Coi seraya menendang Jing Huan dan menikmatinya.

"Hahaha, benar. Jika Tuan Muda Jing Huo tau kita memperlakukan Jing Huan seperti binatang, dia pasti akan berterima kasih kepada ku," kata Kuang Jio tertawa puas.

Sementara Jing Huan terkapar di tanah dengan napas tersengal-sengal.

 Darahnya menggenang di lantai gudang, membasahi pakaian lusuhnya yang penuh tambalan.

 Tubuhnya terasa remuk dan sakit semua.

Dari kecil, ayahnya meninggal dunia karena racun dingin, sementara ibunya meninggal saat melahirkan dirinya.

 Sementara Kakeknya sebagai kepala keluarga, hanya mementingkan para sepupunya yang memiliki kultivasi sebagai kebanggaan keluarga Jing.

Jing Huan hanya luntang-lantung seorang diri. Bahkan untuk makan saja, ia harus mencuri di dapur. Jika ketahuan, ia akan dipukul hanya demi mengisi perutnya yang lapar.

Dan sekarang, ia sudah berusia 15 tahun. Selain tidak bisa berkultivasi, tubuhnya juga kurus karena tekanan batin di hina dan mendapatkan perlakuan buruk dari orang-orang sekitarnya.

"Kuang Jio. Ayo cepat ambil gandumnya. Jika terlambat, kita akan di marahi Tuan Muda Jing Huo. Besok kita beresian si sampah ini lagi!" kata Wang Coi mengingatkan jika mereka sudah beberapa lama di gudang tersebut.

"Tunggu pembalasan kami lagi Tuan muda sampah!" kata Kuang Jio bergegas mengambil gandum untuk di masak malam ini, karena Tuan Muda Jing Huo lapar.

Mereka melempar Jing Huan keluar dari gudang penyimpanan tersebut, lalu menguncinya dengan kuat, lalu meninggalkan Jing Huan babak belur, tubuhnya gemetar hebat, untuk berdiri saja ia tak sanggup.

Setelah mereka pergi, Jing Huan berusah untuk duduk sambil mengatur nafasnya sambil menatap langit-langit.

"Kenapa... hidup ku seperti ini? Jika aku tidak bisa berkultivasi, setidaknya biarkan aku hidup tenang... aku sudah cukup menderita tanpa ayah dan ibu, semua keluarga membenciku. Bahkan pelayanan saja tidak menganggap ku manusia... hidup ku benar mengenaskan!" keluh Jing Huan meratapi nasibnya yang malang.

Makanan tidak dapat, tapi ia harus pulang ke kediamannya lusuh itu dengan luka yang cukup parah.

Berikut ranah kultivasi:

Tingkat rendah

Penempaan tubuh ⭐ 1

Penempaan tubuh ⭐ 2

Penempaan tubuh ⭐ 3

Penempaan tubuh ⭐ 4

Penempaan tubuh ⭐ 5

Penempaan tubuh ⭐ 6

Penempaan tubuh ⭐ 7

Penempaan tubuh ⭐ 8

Penempaan tubuh ⭐ 9

Tingkat menengah

Pembentukan jiwa ⭐ 1

Pembentukan jiwa ⭐ 2

Pembentukan jiwa ⭐ 3

Pembentukan jiwa ⭐ 4

Pembentukan jiwa ⭐ 5

Pembentukan jiwa ⭐ 6

Pembentukan jiwa ⭐ 7

Pembentukan jiwa ⭐ 8

Pembentukan jiwa ⭐ 9

Tingkat lanjutan

Mulia abadi tahap l

Mulia abadi tahap ll

Mulia abadi tahap lll

Raja abadi tahap l

Raja abadi tahap ll

Raja abadi tahap lll

Kaisar abadi tahap l

Kaisar abadi tahap ll

Kaisar abadi tahap lll

Tingkat puncak

Legenda

Manusia Surgawi

Dewa surgawi

Tubuh suci

Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen

Aktuellstes Kapitel

  • PENDEKAR PENGUASA AGUNG   28 Racun Biadab

    Mu Zhen menghela napas panjang, tatapannya menerawang jauh seolah teringat kenangan belasan tahun silam. "Mengenalinya?" Mu Zhen tersenyum getir. "Ayahmu, Jing Tian, adalah pahlawan tiada tanding di Kota Kerajaan ini! Dulu, di Ranah Raja Abadi, nama Jing Tian dihormati oleh seluruh sekte dan keluarga bangsawan. Kami berdua adalah saudara angkat yang pernah mengarungi ribuan medan pertempuran bersama." Mu Qing terperanjat, matanya membelalak kaget. "Ayah... Ayah Jing Huan dulu adalah seorang Pahlawan di Ranah Raja Abadi?!" "Benar," jawab Mu Zhen lirih. Pandangannya kemudian tertuju lurus pada mata Jing Huan. "Jing Huan, aku mendengar rumor tentang racun yang mengendap di meridian dalammu. Apakah itu benar Racun Dingin Tujuh Bintang?" Jing Huan menyipitkan mata, pendaran cahaya keemasan dari Meridian Dewa bergetar halus di pupil matanya. "Benar, Tuan Mu. Bagaimana Anda bisa mengetahuinya?"Mu Zhen mengepalkan tangannya di atas meja hingga pembuluh darahnya menonjol, raut wajahnya be

  • PENDEKAR PENGUASA AGUNG   27 Undangan Maut Dari Kedimaan Mu

    Jing Huan kemudian merogoh kantong spasial yang menggantung di pinggang Guan Feng dan tiga rekannya, memetiknya secara santai. SREK! SREK! "I-Itu kantong batu spiritual kami! Kembalikan!" jerit salah satu antek Zhao Yan dengan mata membelalak. Jing Huan membuka kantong-kantong tersebut, mengamati ratusan batu spiritual tingkat menengah bercahaya murni di dalamnya dengan senyum tipis. "Sebagai ganti rugi atas gangguan bising yang kalian buat dan kompensasi karena telah menahan bahan obatku... aku mengambil tiga ratus batu spiritual tingkat menengah ini," ujar Jing Huan datar. "Kau memeras kami?!" teriak Guan Feng dengan air mata ketakutan dan kemarahan yang bercampur aduk. "Memeras?" Jing Huan memiringkan kepalanya. "Bukan. Ini adalah hadiah sukarela dari kalian karena telah dengan ramah menyerahkan obat ini padaku. Bukankah begitu?" Jing Huan memperketat sedikit tekanan Qi di pundak Guan Feng, membuat pemuda itu langsung meringis kesakitan luar biasa. "I-Iya! Iya! Hadia

  • PENDEKAR PENGUASA AGUNG   26 Jebakan Di Paviliun Obat

    Pagi hari di area barat Akademi Kerajaan tampak ramai oleh lalu lalang murid senior dan pendaftar baru. Bangunan tiga lantai bergaya megah dengan aroma rempah-rempah yang kuat berdiri tegap di tengah kompleks—Paviliun Obat Akademi.Jing Huan melangkah masuk dengan tenang, jubah biru tua Murid Inti melambai pelan seiring langkah kakinya. Di dalam jiwanya, ia teringat akan luka racun lama yang mengendap di meridian dalamnya.“Bocah,” suara Dewa Pedang Abadi berbisik lembut. “Sisa-sisa Racun Dingin Tujuh Bintang di tubuhmu memang sudah diredam oleh Meridian Dewa, tetapi kau butuh bahan pelacak seperti Rumput Penuntun Jiwa dan Bunga Ungu Malam untuk memurnikannya total sekaligus menelusuri siapa yang menanamkan racun ini di masa lalu.”Jing Huan mengangguk tipis. "Aku mengerti, Guru."Ia berjalan menuju meja pelayanan utama. Seorang penjaga toko paruh baya menyambutnya dengan senyum tipis. "Selamat datang di Paviliun Obat, Murid Inti. Ada bahan spiritual yang Anda cari?""Aku butuh Rumput

  • PENDEKAR PENGUASA AGUNG   25 Penempaan Tubuh Bintang 5

    Angin dingin berhembus kencang dari balik tebing Lembah Pedang, menghempaskan dedaunan bambu hitam di sekeliling Kambang Pedang Tua. Di atas sebuah batu datar yang berada tepat di mulut celah tebing, Jing Huan duduk bersila dengan kedua mata terpejam rapat.Di dalam dadanya, Meridian Dewa memancarkan pendaran cahaya keemasan yang kian terang. Arus Qi liar dari gumpalan sisa naskah pedang purba di tebing ditarik masuk secara paksa melalui pori-pori kulitnya.BZZZZZT...Namun, energi dari Lembah Pedang terlalu tajam dan terasa membakar. Jalur-jalur meridian Jing Huan bergetar hebat, menimbulkan sensasi panas yang menusuk hingga ke dalam tulang.“Bocah, tahan!” suara Dewa Pedang Abadi bergema peringatan di dalam jiwanya. “Hawa pedang purba ini terlampau ganas untuk Ranah Penempaan Tubuh Bintang 4. Jika kau memaksa menyerapnya tanpa peredam, meridianmu bisa robek sebelum menerobos!”Jing Huan menggetarkan giginya, meremas lututnya hingga jari-jarinya memutih. "Guru... hawa panas ini memba

  • PENDEKAR PENGUASA AGUNG   24 Jurus Pedang Dewa Tahap II

    "Pantas saja aura pedang di sini terasa sedikit menekan dadaku," sahut Jing Huan seraya menarik pedang besi murni milik-Nya dari sarungnya. "Guru, kekuatan Penempaan Tubuh Bintang 4 milikku sudah stabil. Rekor ujian kemarin telah membuktikan bahwa Pedang Dewa Tebasan Pertama: Pemotong Angin sangat berguna untuk kecepatan dan ketepatan. Tapi bagaimana dengan daya hancur area terbatas?"Dewa Pedang Abadi melayang mendekat, matanya berkilat penuh wibawa.“Pertanyaan yang bagus, Bocah! Dalam pertarungan menghadapi lawan yang mengandalkan armor berat, pertahanan tebal, atau dikelilingi oleh banyak musuh berpelindung keras, Pemotong Angin tidak akan cukup tebal untuk membelah mereka dalam sekali ayun!”Dewa Pedang Abadi melambaikan lengan bajunya yang ilusi ke arah tebing batu raksasa di belakang kediaman.“Hari ini, aku akan mengajarkanmu jurus kedua dari Sembilan Pedang Dewa Abadi: Pedang Dewa Tebasan Kedua: Pembelah Gunung!”"Pembelah Gunung?" ulang Jing Huan, matanya berbinar.“Benar!”

  • PENDEKAR PENGUASA AGUNG   23 Masuk Akademi dan Tempat Tinggal Baru

    Sinar matahari pagi menyiram megahnya kompleks Akademi Kerajaan Kota Pusat, memantulkan warna keemasan pada atap-atap gerbang batu dan paviliun tinggi yang berdiri megah. Setelah pengesahan mengejutkan dari Tetua Utama Feng Tian kemarin, suasana di area pendaftaran murid baru masih menyisakan bisik-bisik kagum dari para pendaftar.Di Balai Pengaturan Murid, seorang instruktur paruh baya berjas kulit tebal menyerahkan dua buah kunci batu bernomor emas dan dua gulungan jubah biru tua berpola naga kecil, pakaian resmi Murid Inti Akademi."Nona Mu Qing, kediaman Anda berada di Paviliun Teratai Biru, area murid inti bagian timur yang kaya akan energi Qi air dan es," ujar instruktur tersebut dengan sikap sangat sopan.Mu Qing menerima kunci batu dan jubahnya, lalu tersenyum manis. "Terima kasih, Instruktrur."Instruktur itu kemudian beralih menatap Jing Huan. Raut wajahnya berubah penuh hormat saat menyerahkan denah lokasi akademi. "Tuan Muda Jing Huan, sebagai Peringkat Pertama Ujian Gerba

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status