ANMELDENLangkah kaki Jing Huan terayun pelan menyusuri jalanan sepi menuju bagian paling terbelakang dari Kediaman Jing. Gubuk tuanya yang lapuk dan berdebu masih berdiri ringkih di sana, seolah ikut meratapi nasib sang pemilik.
Ia mendorong pintu kayu yang berderit nyaring, lalu masuk ke dalam ruangan sempit yang hanya berisi sebuah tempat tidur jerami dan meja kayu patah. Jing Huan menghela napas panjang, meraba perutnya yang tadi menjadi sasaran pukulan maut Jing Huo. "Ajaib sekali..." bisik Jing Huan seraya mengelus dadanya. Karena batu hitam misterius di dalam tubuhnya, fisik yang dihajar habis-habisan oleh sepupunya tadi sama sekali tidak mengalami luka dalam yang berarti. Ia hanya merasa sedikit nyeri dan pegal—sebuah kewajaran mengingat belum ada aliran Qi yang menyelimuti dan melindungi organ fisiknya secara penuh. Jing Huan mendudukkan dirinya di tepi tempat tidur jerami. Ia menatap kedua telapak tangannya sendiri, lalu mengacak rambutnya frustrasi. "Tapi... apa yang harus kulakukan sekarang?" gumam Jing Huan bingung. "Besok Turnamen Tahunan sudah dimulai. Meskipun tubuhku tiba-tiba menjadi kuat dan kebal, aku sama sekali tidak tahu cara berkultivasi. Aku bahkan tidak pernah menyentuh satu pun kitab panduan dasar Qi..." Di Kediaman Jing, kitab latihan kultivasi disimpan ketat di Paviliun Kitab. Sebagai anak yang dianggap sampah tanpa Danian sejak kecil, Jing Huan tidak pernah diizinkan melangkah masuk ke sana. Jangankan mempelajari teknik penyerapan energi, cara mengalirkan napas spiritual saja ia membayangkan pun tidak bisa. Saat kepalanya terasa mau pecah memikirkan nasibnya besok, sebuah gelombang energi hangat tiba-tiba merambat dari dadanya menuju ke kepala. BZTZ! Suara gaib yang berat, dalam, dan bergema bagai bisikan dari zaman purba mendadak terdengar langsung di dalam pikiran Jing Huan. “Anak bodoh... Mengapa kau meratapi hal sepele seperti kitab kultivasi sampah milik keluargamu itu?” Jing Huan tersentak kaget hingga hampir melompat dari tempat tidurnya. Matanya liar memandangi setiap sudut gubuk yang gelap. "S-siapa itu?! Siapa yang berbicara?!" “Tenangkan pikiranmu. Aku adalah kesadaran dari Batu Hitam Dewa Pedang yang menyatu dengan jiwamu,” panggil suara kuno itu kembali, terdengar sangat dekat di dalam benaknya. “Kau telah menumpahkan darahmu pada batuku saat berada di ambang kematian. Kau adalah pewarisku.” Jing Huan memegangi dadanya, mencoba mencerna keadaan. "Pewaris? Batu Hitam Dewa Pedang?" “Benar. Tubuhmu memang tidak memiliki Danian bawaan sejak lahir, namun batu ini telah menggantikan peran Danian itu. Sekarang, apakah kau ingin membalas penderitaanmu dan membuat orang-orang yang meremehkanmu berlutut?” Teringat wajah kejam Jing Huo, tawa mengejek Jing Ming, serta tatapan dingin Kakeknya, mata Jing Huan berkilat tajam. Rasa ragunya sirnah seketika. "Aku mau! Senior, tolong bimbing aku! Aku ingin menjadi kuat!" “Bagus. Duduk bersila sekarang juga,” perintah suara kuno itu dengan nada tegas. “Kosongkan pikiranmu dari segala gangguan. Pejamkan matamu dan fokuskan seluruh kesadaranmu ke bagian bawah perutmu. Rasakan setiap hembusan napas spiritual yang melayang di udara sekitar ruangan ini.” Jing Huan tidak membuang waktu. Ia langsung mengatur posisinya, duduk bersila di atas lantai tanah gubuknya. Ia memejamkan mata, membuang napas perlahan, dan mencoba menuruti setiap instruksi dari suara gaib tersebut. "Fokuskan pikiran... rasakan udara di sekitarku..." bisik Jing Huan pada dirinya sendiri penuh tekad. Awalnya, hanya ada kegelapan dalam pikirannya. Namun perlahan-lahan, ia mulai melihat titik-titik cahaya kecil berwarna keemasan dan merah yang menari-nari di udara. Itulah Qi alam. “Sekarang, tarik energi itu masuk melalui pori-pori kulitmu!” gema suara kuno itu memberi aba-aba. “Arahkan mereka menyusuri jalur yang akan kuciptakan!” BUM! Tiba-tiba, rasa panas membara meledak di dalam tubuh Jing Huan! "AGHHH!" Jing Huan merintih tertahan, giginya berkerut rapat. Cahaya merah pekat merekah dari dalam dadanya. Energi purba dari batu hitam itu mulai menjalar ke seluruh penjuru tubuhnya, merobek jalur-jalur daging dan pembuluh darahnya secara paksa. Rasa sakitnya bagai ditusuk oleh ribuan jarum membara secara bersamaan.Mu Zhen menghela napas panjang, tatapannya menerawang jauh seolah teringat kenangan belasan tahun silam. "Mengenalinya?" Mu Zhen tersenyum getir. "Ayahmu, Jing Tian, adalah pahlawan tiada tanding di Kota Kerajaan ini! Dulu, di Ranah Raja Abadi, nama Jing Tian dihormati oleh seluruh sekte dan keluarga bangsawan. Kami berdua adalah saudara angkat yang pernah mengarungi ribuan medan pertempuran bersama." Mu Qing terperanjat, matanya membelalak kaget. "Ayah... Ayah Jing Huan dulu adalah seorang Pahlawan di Ranah Raja Abadi?!" "Benar," jawab Mu Zhen lirih. Pandangannya kemudian tertuju lurus pada mata Jing Huan. "Jing Huan, aku mendengar rumor tentang racun yang mengendap di meridian dalammu. Apakah itu benar Racun Dingin Tujuh Bintang?" Jing Huan menyipitkan mata, pendaran cahaya keemasan dari Meridian Dewa bergetar halus di pupil matanya. "Benar, Tuan Mu. Bagaimana Anda bisa mengetahuinya?"Mu Zhen mengepalkan tangannya di atas meja hingga pembuluh darahnya menonjol, raut wajahnya be
Jing Huan kemudian merogoh kantong spasial yang menggantung di pinggang Guan Feng dan tiga rekannya, memetiknya secara santai. SREK! SREK! "I-Itu kantong batu spiritual kami! Kembalikan!" jerit salah satu antek Zhao Yan dengan mata membelalak. Jing Huan membuka kantong-kantong tersebut, mengamati ratusan batu spiritual tingkat menengah bercahaya murni di dalamnya dengan senyum tipis. "Sebagai ganti rugi atas gangguan bising yang kalian buat dan kompensasi karena telah menahan bahan obatku... aku mengambil tiga ratus batu spiritual tingkat menengah ini," ujar Jing Huan datar. "Kau memeras kami?!" teriak Guan Feng dengan air mata ketakutan dan kemarahan yang bercampur aduk. "Memeras?" Jing Huan memiringkan kepalanya. "Bukan. Ini adalah hadiah sukarela dari kalian karena telah dengan ramah menyerahkan obat ini padaku. Bukankah begitu?" Jing Huan memperketat sedikit tekanan Qi di pundak Guan Feng, membuat pemuda itu langsung meringis kesakitan luar biasa. "I-Iya! Iya! Hadia
Pagi hari di area barat Akademi Kerajaan tampak ramai oleh lalu lalang murid senior dan pendaftar baru. Bangunan tiga lantai bergaya megah dengan aroma rempah-rempah yang kuat berdiri tegap di tengah kompleks—Paviliun Obat Akademi.Jing Huan melangkah masuk dengan tenang, jubah biru tua Murid Inti melambai pelan seiring langkah kakinya. Di dalam jiwanya, ia teringat akan luka racun lama yang mengendap di meridian dalamnya.“Bocah,” suara Dewa Pedang Abadi berbisik lembut. “Sisa-sisa Racun Dingin Tujuh Bintang di tubuhmu memang sudah diredam oleh Meridian Dewa, tetapi kau butuh bahan pelacak seperti Rumput Penuntun Jiwa dan Bunga Ungu Malam untuk memurnikannya total sekaligus menelusuri siapa yang menanamkan racun ini di masa lalu.”Jing Huan mengangguk tipis. "Aku mengerti, Guru."Ia berjalan menuju meja pelayanan utama. Seorang penjaga toko paruh baya menyambutnya dengan senyum tipis. "Selamat datang di Paviliun Obat, Murid Inti. Ada bahan spiritual yang Anda cari?""Aku butuh Rumput
Angin dingin berhembus kencang dari balik tebing Lembah Pedang, menghempaskan dedaunan bambu hitam di sekeliling Kambang Pedang Tua. Di atas sebuah batu datar yang berada tepat di mulut celah tebing, Jing Huan duduk bersila dengan kedua mata terpejam rapat.Di dalam dadanya, Meridian Dewa memancarkan pendaran cahaya keemasan yang kian terang. Arus Qi liar dari gumpalan sisa naskah pedang purba di tebing ditarik masuk secara paksa melalui pori-pori kulitnya.BZZZZZT...Namun, energi dari Lembah Pedang terlalu tajam dan terasa membakar. Jalur-jalur meridian Jing Huan bergetar hebat, menimbulkan sensasi panas yang menusuk hingga ke dalam tulang.“Bocah, tahan!” suara Dewa Pedang Abadi bergema peringatan di dalam jiwanya. “Hawa pedang purba ini terlampau ganas untuk Ranah Penempaan Tubuh Bintang 4. Jika kau memaksa menyerapnya tanpa peredam, meridianmu bisa robek sebelum menerobos!”Jing Huan menggetarkan giginya, meremas lututnya hingga jari-jarinya memutih. "Guru... hawa panas ini memba
"Pantas saja aura pedang di sini terasa sedikit menekan dadaku," sahut Jing Huan seraya menarik pedang besi murni milik-Nya dari sarungnya. "Guru, kekuatan Penempaan Tubuh Bintang 4 milikku sudah stabil. Rekor ujian kemarin telah membuktikan bahwa Pedang Dewa Tebasan Pertama: Pemotong Angin sangat berguna untuk kecepatan dan ketepatan. Tapi bagaimana dengan daya hancur area terbatas?"Dewa Pedang Abadi melayang mendekat, matanya berkilat penuh wibawa.“Pertanyaan yang bagus, Bocah! Dalam pertarungan menghadapi lawan yang mengandalkan armor berat, pertahanan tebal, atau dikelilingi oleh banyak musuh berpelindung keras, Pemotong Angin tidak akan cukup tebal untuk membelah mereka dalam sekali ayun!”Dewa Pedang Abadi melambaikan lengan bajunya yang ilusi ke arah tebing batu raksasa di belakang kediaman.“Hari ini, aku akan mengajarkanmu jurus kedua dari Sembilan Pedang Dewa Abadi: Pedang Dewa Tebasan Kedua: Pembelah Gunung!”"Pembelah Gunung?" ulang Jing Huan, matanya berbinar.“Benar!”
Sinar matahari pagi menyiram megahnya kompleks Akademi Kerajaan Kota Pusat, memantulkan warna keemasan pada atap-atap gerbang batu dan paviliun tinggi yang berdiri megah. Setelah pengesahan mengejutkan dari Tetua Utama Feng Tian kemarin, suasana di area pendaftaran murid baru masih menyisakan bisik-bisik kagum dari para pendaftar.Di Balai Pengaturan Murid, seorang instruktur paruh baya berjas kulit tebal menyerahkan dua buah kunci batu bernomor emas dan dua gulungan jubah biru tua berpola naga kecil, pakaian resmi Murid Inti Akademi."Nona Mu Qing, kediaman Anda berada di Paviliun Teratai Biru, area murid inti bagian timur yang kaya akan energi Qi air dan es," ujar instruktur tersebut dengan sikap sangat sopan.Mu Qing menerima kunci batu dan jubahnya, lalu tersenyum manis. "Terima kasih, Instruktrur."Instruktur itu kemudian beralih menatap Jing Huan. Raut wajahnya berubah penuh hormat saat menyerahkan denah lokasi akademi. "Tuan Muda Jing Huan, sebagai Peringkat Pertama Ujian Gerba







