LOGINDari balik gorden jendela kamarnya, Ella memandangi pria berbaju hitam itu berjalan mundur kemudian berputar meninggalkan gerbang rumah mereka.
Sejak hampir satu jam lalu pria itu berdiri disana dan memohon untuk di perbolehkan masuk tapi satpam tidak memperdulikannya karena sesuai aturan baru, Jere dan keluarganya di larang masuk.
Jere mendongak dan bertemu tatap dengan Ella, pria itu mengatupkan tangan untuk meminta maaf lalu membuat kode memanggil dengan tangannya.
Ella diam tanpa respon hingga pria itu benar-benar pergi dengan mobilnya.
"Aku menaruh harapanku padamu tapi kamu menghancurkannya dengan cara yang sangat mengerikan. Dimulai dari kemarin sampai selama-lamanya, kamu tidak akan pernah bisa mendekatiku lagi. Aku pastikan itu," gumam Ella seraya meraba dadanya yang masih bergetar.
Sebegitu menyakitkannya perbuatan Jere, cinta yang sudah bertumbuh selama tiga tahun lebih tidak serta merta gugur begitu saja. Masih ada sisa-sisa rasa yang membuat dadanya masih berdegup kencang ketika melihat Jere.
Setelah berdiam cukup lama, Ella menarik nafas dalam-dalam kemudian dia terpikirkan sesuatu. Dengan segera dia meraih sweaternya dan setengah berlari saat menuruni tangga.
"Kak, mau kemana?" tanya papanya yang baru saja keluar dari ruang kerja.
Kaca mata masih menempel di hidungnya dan juga ada buku yang sedang terbuka di tangannya.
"Ella mau ke taman sebentar ya, Pa."
"Papa temani?" tawar papanya karena ada kekhawatiran.
"Nggak usah. Taman kota depan aja, Pa. Dekat, cuma mau hirup udara segar aja. Bosan di kamar terus."
Karena pernikahannya, dia sudah mengambil cuti tiga hari sebelum hari H, namun tragedi itu justru terjadi.
Sebenarnya, semalaman Ella memikirkan apa yang akan dia katakan pada rekan sesama dosen ketika mereka mengetahui pernikahannya batal. Masalah resepsi, kata papanya tetap di pakai saja gedungnya dan di ubah menjadi ramah tamah dan makan bersama saja. Ella tidak khawatir karena orang tuanya pasti bisa menjelaskan dengan baik apa yang terjadi.
Ella yakin, rekan kerjanya akan datang tapi setelah itu akan bertanya-tanya kenapa tidak ada mempelai.
Sampai hari ini, Ella belum punya jawaban yang bisa membuatnya tidak malu karena pembatalan ini. Mengaku di selingkuhi sehari sebelum pernikahan justru akan membuatnya terlihat bodoh karena tidak mengenali pacar selama bertahun-tahun.
Setibanya di taman, Ella berkeliling sekali sembari menggerak-gerakkan tangannya selayaknya orang yang sedang berolah raga. Dia juga menggunakan alat-alat olah raga yang di sedikan disana.
Kegiatannya yang ringan dan sepele itu benar-benar bisa menyegarkan tubuh terutama pikirannya. Hembusan angin yang menerpa dedaunan pohon-pohon di sekitar taman terasa sejuk dan segar. Sesekali daun kering terbang melewati kepalanya hingga dia melompat untuk mendapatkannya.
Ada beberapa anak-anak disana yang tidak dia kenal tapi mereka tetiba jadi teman karena beberapa anak-anak itu mengajarkannya menggunakan alat-alat olah raga itu. Mereka juga saling mengejar dan berebutan gelembung sabun yang abru saja di tiupkan oleh salah satu dari mereka.
Melihat itu, Ella menyesal tidak membawa dompet untuk menjajani anak-anak itu. Dia menoleh ke belakang ke arah rumahnya tapi kakinya sudah lelah dan pasti tidak akan sanggup berjalan sejauh itu pulang balik hanya untuk mengambil dompet.
Tiba-tiba matanya menangkap satu mini market tidak jauh dari taman. Dengan langkah pelan dia pergi kesana dan membeli beberapa botol minuman dan cemilan lalu membayar dengan dompet digital.
"Apa bisa tarik tunai?" tanyanya pada kasir dan langsung di jawab dengan bisa.
Ella mengambil beberapa uang lalu kembali ke taman dan membagi-bagikan belanjaannya, dengan uang yang dia pegang, dia juga membeli mainan gelembung dan juga balon-balon untuk anak-anak itu.
Tidak terasa hampir dua jam dia berada di taman dan kini sekujur tubuhnya hampir basah oleh keringat.
"Menyenangkan sekali bisa bermain bebas seperti ini," gumamnya setelah dia mendaratkan bokongnya di sebuah kursi semen yang di sediakan disana.
Teringat saat dia kecil, mama papanya sangat sibuk sehingga hanya sesekali saja menemani bermain di luar rumah dan itu pun di arena permainan sebuah mall. Selainnya mereka bermain di rumah dimana sudah dibangunkan satu ruangan khusus untuk permainan anak-anak.
Beruntung Oma dna Opanya baik dan masih sehat, membawa mereka bermain di luar ketika datang berkunjung.
"Oo, kamu Ella, kan?"
Ella menoleh dan mengerutkan kening mendapati pria yang juga berkeringat berdiri di sampingnya.
"Tian, lupa?" tanya laki-laki itu sembari tersenyum dan menepuk dadanya beberapa kali.
Satu sudut bibir Ella langsung naik lalu menjauhkan pandangannya dari pria ini.
Pria yang menyeretnya dan memperkenalkannya sebagai pacar pada keluarga besarnya. sialnya lagi, pria ini juga lancang mencium puncak kepalanya hanya karena di awasi suruhan orang tuanya katanya.
"Boleh berbagi?"
"Silahkan, ini bukan punya saya. Umum," jawab Ella seraya menggeser sedikit bokongnya agar tidak bersentuhan dengan pria itu.
Pandangannya tetap mengarah jauh pada sekelompok anak-anak yang masih asyik bermain gelembung sabun pemberiannya tadi. Sesekali anak-anak itu memangggilnya dan dia hanya menjawab dengan lambaian tangan.
"Tinggal di dekat sini?" tanya Tian mulai kepo. "Baru kali ini aku melihat kamu di taman ini," lanjutnya lagi.
Ella segera menoleh dan menjawab dengan pelan, "Ya!"
Tian terdengar menggumam, "pelit sekali!" tapi Ella masih bisa dengar sehingga dengan segera dia menajamkan matanya pada Tian.
Dengan gerakan canggung Tian menggaruk tengkuknya untuk merespon tatapan tajam Ella sembari nyengir yang membuat Ella muak.
Ella menganggap salah satu kesialan yang dia punya akhir-akhir ini adalh bertemu dengan pria ini dan tanpa menunggu persetuajuan langsung menyeretnya ke hadapan orang tua.
"Kamu--"
"Maaf soal waktu itu."
Keduanya bicara bersamaan hingga Ella menarik nafas dan mengurungkan kata-kata yang hendak dia keluarkan ketika melihat Tian menunduk setelah meminta maaf.
Terdengar helaan Tian lagi sebelum dia mengangkat kepala dan menatap Ella, "and thanks," ujarnya sembari tersenyum.
"Kalau nggak ada kamu waktu itu, sekarang aku pasti udah jadi suami dari perempuan yang tidak aku cintai. Tapi sekarang aku di kejar-kejar terus kapan bisa bawa kamu lagi ke rumah," ujar pria itu semakin pelan di akhir kalimat.
"Di kasih hati minta jantung," gumam Ella.
"Iya, benar. Aku tidak tahu diri yah, Hehehehe," jawab Tian.
Tiba-tiba ada sebuah ide terlintas di pikiran Ella. Dengan segera dia menatap Tian dengan tajam lalu memegang tangannya dengan erat.
"Kamu ingat kan apa yang kamu janjikan sama aku waktu itu?" tanya Ella dengan tatapan serius. "Kamu akan melakukan apapun untuk membalasku, kan?" ujar Ella lagi memastikan dan dia menghela nafas lega ketika melihat Tian mengangguk dengan pasti.
"Kalau begitu, lakukan sesuatu untukku. Ini akan menguntungkan kita berdua."
Interaksi intens pasangan itu hanya berlaku pada saat di kunjungi saja.Setelah Ida pulang ke rumah setelah menginap dua malam, malamnya Bastian langsung kembali ke apartemennya dengan tergesa karena sedari kemarin ponselnya sudah ribut terus dan Ella yakin itu dari kekasihnya.Setelahnya, sampai dua minggu mereka tidak bertemu pun tidak berbagi kabar.Ella sibuk dengan pekerjaannya yang sedang berada di tahap akhir semester sementara Bastian sibuk dengan usaha dan persiapan masuk semester bulan depan.Pasangan aneh memang, selama libur semester pun Ella tidak menggubris Bastian malah dia pergi pelesiran ke Jogja selama seminggu.Menikmati kota wisata itu sendirian dan merasa bahagia.Pergi ke kampus tempat papanya mengajar dimana mamanya juga kuliah disana.Ella tersenyum membayangkan wajah mamanya jaman dulu yang tersipu malu ketika berpapasan dengan papanya."Sampai hari ini aku masih yakin ma yang kecintaan," gumamnya.Dia dan saudaranya tidak percaya seratus persen pada cerita ma
Bastian menatap Ella dengan tatapan lekat sebelum kemudian dia mengalihkan pandangan ke langit-langit.Tak satu pun kata yang bisa dia ucapkan sebagai jawaban untuk pertanyaan Ella.Dia menghela napas panjang kemudian dia mengubah posisi menjadi berhadapan dengan Ella.Dia merapatkan matanya dan mencari-cari apa yang ada di dalam benaknya.Disana dia hanya melihat wajah seseorang yang sedang merajuk manja, sedang marah lalu tersenyum manja lagiSetelah dia membuka mata, dia melihat pahatan wajah Ella yang sangat sempurna sebagai wanita. Sangat membanggakan sekali apabila bisa memiliki Ella sepenuhnya dalam hidup ini. Namun dia tidak merasakan debaran apa pun walau dia hanya berjarak dua jengkal dari Ella."Jika kita pasangan normal, aku adalah pria brengsek yang sampai kapan pun tidak akan kamu temui lagi," ujarnya membuat Ella mengernyitkan keningnya karena tidak paham. Otak cerdasnya tetap tidak sampai."Aku berbaring di dekat kamu sambil bercerita tapi pikiranku sepenuhnya pada ora
"Mami pikir nggak ada orang, kamu lama bangat buka pintunya," ujar Ida ketika pintu sudah di buka.Ella hanya tersenyum sembari melangkah satu langkah di belakang mertuanya."Bastian ada?""Ada Mi. Bantar Ella panggil.""Eh eh, nggak usah. Mami kesini cuma mau lihat kamu aja, bukan dia," ujar Ida sembari cemberut. Melihat tingkah mertuanya yang kekanakan membuat Ella tersenyum geli.Ida duduk di sofa dan melihat sekeliling apartemen. Dalam hati dia bicara "Nggak salah memang aku memilih besan"Perabotan yang minimalis namun langsung terlihat mewah dan mahal."Mami bawain ini buat kalian. Simpan aja di kulkas. Panaskan pas mau makan. Udah sengaja Mami kemas per sekali makan."Wanita itu mengeluarkan beberapa wadah kecil dari goodi bag yang dia bawa tadi dan Ella dengan sigap mengangkatnya ke meja makan agar di tata di kulkas.Tak berselang lama, Bastian keluar dari kamar dengan rambut yang sedikit berantakan. Penampilannya yang urakan membuat Ida tersenyum simpul karena menduga sesuatu
"Ternyata karena ini kamu kirimkan aku surat pernyataan bercerai? Hahah" Bastian langsung mencerca Ella ketika keduanya berada di dalam lift menuju lantai unit Ella. Sejak keluar dari cafe tadi dan bertemu Bastian di pintu masuk cafe, Ella tidak menyapa tapi Bastian mengikuti langkah Ella hingga mereka berada di lift. Kebetulan yang sangat kebetulan, tidak ada orang lain di dalam lift. "Terserah kamu mau mikir dan ngomong kayak gimana," jawab Ella mengendikkan bahu dan menyenderkan punggungnya di dinding sembari menatap angka yang menunjukkan posisi mereka di dalam lift. Lagi-lagi Bastian mendengus ketika melihat langsung dan mendengar respon Ella pada sindirannya. Dia mendekat pada Ella dan menarik lengan gadis itu dengan kasar, "kamu sadar nggak sih udah menghancurkan hidupku? Tiba-tiba paksa menikah, tiba-tiba cerai. Suka-suka kamu aja." Meski Ella sadar bahwa apa yang Bastian katakan adalah kebenaran, namun dia mencoba sekali lagi berpengang teguh pada alasan yang dia buat k
Selama hampir dua bulan Ella dan bastian tidak bertemu sejak pertengkaran mereka di telepon kapan hari. Setelah Ella mencetak surat perjanjian cerai, dia menandatangani dan mengirimkannya pada Bastian tapi sampai hari ini tidak ada balasan. Beberapa kali orang tua Bastian mengajak Ella hangout dan meminta agar Ella menginap di rumah mereka tapi Ella selalu beralasan sedang sibuk karena pekerjaannya yang sedang banyak di akhir semester.Selama dua bulan ini juga, Ella sudah dua kali di datangi oleh Jere ke apartemen tapi Ella tidak mempersilahkan Jere masuk bahkan tidak mau menyapanya.Kali ini, Jere datang lagi dan memohon agar Ella membuka pintu dan mau bicara dengannya menyelesaikan yang menurutnya belum selesai."Tunggu aku di cafe di bawah. Aku akan datang sebentar lagi," ujar Ella dari balik pintu untuk merespon Jere yang tetap memaksa untuk bertemu dengannya.Lima belas menit kemudian, Ella turun sembari menyandang tas kecil di bahunya yang ternyata berisi alat kejut kecil da
Dering ponsel yang tidak henti-henti membuat Ella menyelesaikan mandinya dengan terburu-buru. Dia mengenakan bathrobe lalu berjalan cepat sembari membungkus rambutnya."Sabar! Sabar!" teriaknya pada ponsel yang berdering itu. "Ya ellah, dia lagi," ujarnya begitu melihat nama pemanggil. Seperti orang tak sabaran, ketika panggilannya tidak di jawab, panggilan selanjutnya langsung berdering lagi. "Hmmm!" "Bukain pintu. Aku di depan." Ella memutar matanya malas begitu mendengar nada sok mengaturnya Bastian. "Aku nggak di apartemen. Kamu balik aja ke apartemen kamu. Aku nggak pulang malam ini." Terdengar tawa sumbang di seberang sana membuat Ella mengerutkan keningnya. "Nggak pulang? Hahaaaa," Tanpa sadar Ella mengangguk mengiyakan. "Lagi dimana kamu? ketemuan sama mantan kamu itu?" "Ngomong apa sih," ujar Ella menanggapi. "Kalau nggak mau ke apartemen kamu, aku kirimkan kode pintu," ujarnya hendak mengakhiri panggilan. Dia malas berdebat dengan Bastian yang ternyata mulutnya t







