Share

BAB 11 LOLOS UJIAN

Author: sugi ria
last update Last Updated: 2026-01-09 19:42:23
"Mohon tanda tangan di sini, Nona."

Kian menyerahkan satu berkas pada Valin. Gadis itu menerimanya dengan ragu. Valin langsung tercekat melihat kop berkas surat yang akan dia tanda tangani. Formulir pendaftaran pernikahan.

Jadi Zen serius dengan niatnya. Kian sendiri hanya diam, tidak bicara sama sekali. Pria itu sesekali memandang Vante yang berada di brankar. Benar-benar situasi yang menguntungkan Zen.

"Tuan, boleh saya bertanya? Kenapa Tuan yang menghandle perawatan adik saya. Apa tuan itu sangat berkuasa?"

Kian menarik sudut bibirnya. Berkuasa? Lumayan juga. "Iya, begitulah."

Valin mengerti keengganan Kian untuk menjawab. Pastinya Kian punya batas tertentu dalam menjawab pertanyaan mengenai sosok Zen. Sudah pasti identitas pria itu tidak boleh terbongkar.

"Jika Nona setuju, Nona bisa tanda tangan. Setelah ini saya akan antar Nona pulang."

Valin terdiam. Dia ragu. Beberapa saat dia hanya mematung. Sampai dia melihat bayangan Vante tersenyum di benaknya. Benar, dia ingin melih
sugi ria

halo teman-teman, selamat datang di buku baru othor. kisah Zen dan Valin. semoga kalian suka. terima kasih, lope lope sekebon teh buat teman-teman ❤️🫶🫶

| 6
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • PENGHANGAT RANJANG SANG MAFIA   BAB 19 MENCURI WAKTU

    Sementara itu di luar ruangan Vante. Valin berontak dalam pelukan Zen. Dia meronta ingin melepaskan diri. Tapi rengkuhan Zen terlalu kuat untuk dia lawan. "Lepaskan aku! Aku ingin melihat Vante!" "Tidak!" Tegas Zen tanpa kompromi. "Tuan, dia adik saya. Saya ingin bersamanya." "Nanti!" Satu kata yang membuat Valin bertambah liar. Zen sempat terkejut dengan perubahan kekuatan Valin. Tapi itu tidak lama, sesaat kemudian Valin menangis dalam dekapan Zen. Yang meski kuat tapi tetap menyisakan kelembutan bagi Valin. "Dengarkan aku! Tidak bisakah kamu menjaga emosi Vante. Dia sangat memerlukan itu untuk pemulihannya." "Jangan jadi kakak yang bodoh. Apa kamu tidak bisa sedikit menurunkan egomu. Tunggu sampai dia sembuh, setelah itu kamu bisa bertemu dengannya." Perkataan Zen membuat Valin kembali menitikkan air mata. "Jangan menangis. Jangan cengeng. Kamu yang lemah membuat Vante merasa bersalah!" Kalimat Zen begitu tajam, pedas tapi menyuguhkan sebuah fakta yang tidak mampu disan

  • PENGHANGAT RANJANG SANG MAFIA   BAB 18 PRIA ITU SIAPA?

    Semua orang menoleh ke arah pintu. Di mana Kian berdiri dengan tangan masuk ke dalam saku. Tatapannya sama mengancamnya dengan sang tuan.Mike mundur ke belakang sang mama. Sementara Madison tubuhnya gemetar. Kian dan Zen sama sadisnya. Madison tidak pernah mendapat sikap ramah dari dua orang itu.Jika tidak ingat tujuannya menempel pada Zen demi sang putra. Madisonpasti sudah menjauh, sejauh mungkin dari Zen atau Kian."Apa tadi dia bilang?" Kian bertanya pada Valin."Ibu dari anak tuan Zen," balas Valin kalem.Madison membelalakkan mata. Dia tidak menyangka kalau Valin adalah tipe pengadu. "Benar kau bilang begitu?" Tembak Kian setengah mencibir."Be-benar begitu. Janjinya seperti itu," jawab Madison terbata."Tapi tuan Zen tidak pernah menyebut Mike anaknya atau bakal jadi anaknya. So, lebih baik kau mundur, jangan pernah muncul di sini. Apalagi membuat kekacauan seperti ini.""Dia kemarin melakukannya, dan Zen tidak marah." Sela Madison tidak terima.Kian melipat tangan di depan

  • PENGHANGAT RANJANG SANG MAFIA   BAB 17 PERDEBATAN YANG PANAS

    Langkah Zen terhenti demi mendengar pertanyaan Valin. Kakak Vante masih berdiri dengan tubuh tegang dan napas memburu. Perdebatannya dengan Zen barusan. Seluruh pendapat Zen yang baru saja dia dengar, cukup untuk menunjukkan kalau Zen bukanlah orang yang murah hati. Apalagi punya belas kasih.Kejam adalah sifat yang sejak awal Valin temukan dalam diri Zen. Selain itu dominan, tidak sudi dibantah adalah karakter yang harus Valin hadapi.Sebagian besar argumen Zen memang benar. Valin tidak menyangkal akan hal itu. Hanya saja, dia tidak percaya. Ada manusia sekonsisten Zen yang sama sekali tidak tersentuh hatinya.Hati pria itu dingin, bahkan mungkin beku. Valin tidak apa yang sebenarnya terjadi dalam hidup Zen. Hanya saja sikap Zen membuat dada Valin sesak.Dan kini rasa sesak itu berubah jadi debar tak terlukiskan. Ketika Zen berjalan mendekatinya. Valin sontak menahan napas kala aroma mahal Zen kembali melingkupi dirinya.Tatapan pria itu tajam, tapi ada sesuatu yang sulit Valin jela

  • PENGHANGAT RANJANG SANG MAFIA   BAB 16 ANAK DAN ISTRI

    Lima jam berlalu. Langit di luar kamar Vante sudah berubah pekat. Valin menghela napas berkali-kali. Perasaannya tidak tenang. Firasatnya mengatakan ada hal buruk terjadi pada adiknya.Valin berulang kali melihat ke arah pintu. Berharap ada sesiapa saja yang melintas. Dia ingin bertanya soal operasi Vante. Tapi kamar Vante dan lorong di depan tempat itu sama sunyinya.Kegelisahan Valin kian memuncak. Dia sungguh takut. Takut jika dia kehilangan sang adik. "Ayah, Ibu, jangan bawa Vante pulang. Aku perlu dia untuk bertahan di dunia ini."Doanya dengan telapak tangan saling terkait. Mata hazelnya terpejam dengan tubuh menghadap langit malam.Tak berapa lama pintu ruangan terbuka. Valin menoleh, dia lekas menyambut tubuh Vante yang masih tidak sadarkan diri."Vante," sebutnya dengan air mata berlinang."Maaf, Nyonya. Ada sedikit masalah dengan operasi Tuan Vante. Tapi kami berhasil mengatasinya. Dia akan sadar besok pagi. Jadi Nyonya bisa pulang untuk istirahat. Kami akan mengawasinya. In

  • PENGHANGAT RANJANG SANG MAFIA   BAB 15 OPERASI

    Valin seketika menoleh begitu mendengar kalimat tadi. Matanya memicing curiga, sebelum menyadari kalau orang yang barusan bicara adalah Zen."Tuan, Anda ada di sini?" Tanya Valin coba menguasai diri. Dia gugup, takut juga kesal. Teringat kejadian tadi pagi. Dia lupa melihat Zen di lobi waktu dia baru datang untuk bekerja."Terserah padaku mau pergi ke mana. Sana keluar!"Zen langsung mengusir Valin begitu lift terbuka. Mereka berada di jembatan penghubung dengan gedung sektor satu.Tanpa membalas, Valin bergegas keluar dari sana. Pintu gedung sektor satu seketika terbuka begitu Valin memindai kartu pengenalnya.Hanya mereka yang punya akses yang bisa masuk ke tempat itu. Begitu Valin masuk ke sektor satu, Zen segera menghubungi Kian."Batalkan rencana operasi Cyntia Whitmore."Hanya sebaris kalimat yang terucap, Zen kembali mematikan ponselnya. Pria itu lanjut naik lift, lalu keluar di sebuah lorong yang terhubung dengan kamar Vante.Dari balik dinding kaca, Zen bisa melihat Valin mem

  • PENGHANGAT RANJANG SANG MAFIA   BAB 14 LAWAN SAMPAI HABIS

    Valin hampir terlambat pergi ke rumah sakit. Untungnya ada taksol yang bersedia menjemputnya. Meski dia harus berlari ke gerbang komplek yang lumayan jauh.Ditambah lagi ulah Madison dan Mike yang coba mencegahnya pergi. Andai tidak ada Molly, Valin mungkin benar-benar akan terlambat. Molly kembali mencakar Madison, membuat wanita itu lari tunggang langgang dengan mulut mengucapkan sumpah serapah tiada henti.Gadis itu ambruk setelah melakukan scan menggunakan kartu tanda pengenalnya. Dia berharap masih punya waktu untuk mengambil sarapan. Kalau tidak, dia akan tumbang betulan.Satu yang Valin sesali adalah dia tidak bisa mampir ke tempat Vante. "Dasar pembunuh, punya rumah saking elite-nya. Sampai taksol gak bisa masuk."Valin menggerutu soal rumah Zen, juga soal biaya yang harus dia keluarkan jika tiap hari musti naik taksol.Belum lagi dia tadi sempat melihat Zen bicara dengan Kian di lobi rumah sakit. Rasa kesal Valin membumbung tinggi.Zen yang tampil rapi, berbanding terbalik

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status