LOGIN"Kian mana?"Vante melirik sang kakak ketika nama Kian terucap dari bibirnya."Kamu curiga padaku?""Tidak juga. Akan aneh jika setelah sekian lama Kakak baru melirik dia," sindir Vante.Valin manyun mendengar balasan sang adik. Padahal dia hanya ingin bertanya soal mereka yang kemarin membuat masalah, sudah beres atau belum.Keduanya baru saja keluar dari ruangan Andreas. Pria itu telah sadar dari koma yang dia derita sejak kecelakaan dengan Beck hari itu.Satu kabar gembira di tengah kedukaan yang masih menimpa. Zen masih belum ditemukan hingga hari ini. Walau begitu mereka tetap optimis. Zen baik-baik saja di luar sana.Harapan yang hingga detik ini membuat Valin mampu bertahan. Dalam kondisi hamil yang seringkali menyeretnya dalam kepayahan.Bayinya justru berulah di usia kandungan yang lumayan. Tidak seperti kebanyakan perempuan hamil lainnya."Aku tidak akan berpaling. Kalau iya, aku sudah melakukannya dari dulu."Vante angkat tangan. Tak ingin membuat tensi kakaknya naik. Merek
Langit sudah berubah gelap saat Carry membuka mata. Ketika dia melihat sekitarnya, dia rupanya berada di sebuah kamar. Bukan di ruang kerja Bryan."Ini di mana?" Gumamnya seraya menggeliat. Dia meringis. Tubuhnya terasa remuk redam. Pinggangnya seperti mau patah. Dan area pribadinya perih tak terkira.Bryan, lelaki itu benar-benar .... Ingin memaki tapi faktanya Carry sangat menikmati percintaan mereka tadi. Ingin memuji nyatanya tubuhnya seperti dicabik-cabik."Impoten apanya. Bohong! Ular kadutnya saja setinggi orangnya. Siapa yang menciptakan gosip tanpa bukti itu. Memangnya mereka sudah pernah berurusan dengan benda purba milik Bryan. Senggol sedikit langsung respon."Astaga! Carry pilih kembali rebahan. Rasanya malas untuk bangun. Perempuan itu naikkan kembali selimut guna menutupi kemeja yang ia kenakan."Pasti punya orang gila itu," gerutu Carry.Ingatannya kembali ke beberapa waktu lalu. Bryan benar-benar seksi. Tubuhnya penuh pilihan otot kekar. Jika pemiliknya menegang, ben
"Sudah kubilang pergi sana! Kenapa juga kamu masih ada di sini?!"Amarah Jody kembali meledak. Dia baru saja bangun tidur. Pulas dan lama, tanpa gangguan seperti keinginannya.Dia bahkan tak tahu kapan langit berubah gelap. Satu yang pasti, saat dia keluar kamar dia dapati Kian menjadikan ruang tengahnya sebagai kantor dadakan.Laptop, berkas juga sejumlah map bertebaran di meja dan karpet. Bagaimana Jody tidak langsung meradang."Aku kan punya tugas untuk merawatmu," balas Kian kalem."Siapa juga yang minta?" Hardik Jody tajam."Rasa bersalahku.""A-apa?" Jody menganga mendengar jawaban Kian.Jody mengerjap cepat guna mendapati wajah super tampan Kian dalam bingkai kaca mata. Gila! Sejak kapan lelaki di depannya jadi rupawan level dewa begini."Aku yang sudah bikin kamu luka parah. Karena kebodohanku. Jadi, izinkan aku merawatmu sampai sembuh. Oke?""Gak, gak perlu. Aku bisa, eh mau apa?"Jody menepis tangan yang ingin melepas outernya. Setelah Jody tanpa sadar didudukkan di sofa."O
Ruangan seketika heboh. Athena melemas dalam pelukan Arthur. Sedang pria itu seperti kehilangan nyawa."Tolong, bawa dia kembali. Selamatkan anakku. Aku mohon." Tangis Athena luruh, lirih sebab dia kehabisan tenaga. Tali pusat dipotong. Dengan Valin lekas melepas tali pusat yang melilit leher si bayi. "Satu lilitan, pantas tidak terlihat waktu di USG.""Dokter, pasien pendarahan." Seorang staf memberi tahu Paula."Lin, urus bayinya. Aku tangani ibunya."Apa?" Valin nyaris protes. Tapi dalam situasi genting seperti ini, tak ada gunanya protes. Yang ada situasi akan tambah runyam.Athena perlu menstabilkan emosinya atau semua akan kacau. Valin berpaling, dia tempelkan bayi kecil itu di dadanya yang terbuka.Dia peluk penuh kasih bayi mungil tadi. "Sayang, bangunlah. Papa dan mamamu menunggu. Mereka telah menanti lama kedatanganmu. Bangun ya."Bisik Valin. Entah kenapa yang dia lakukan seperti mengalir begitu saja. Seolah bayi dalam dekapannya punya ikatan dengan dirinya.Di tengah usa
"Bukaan enam."Valin terhenyak. Bukaan enam? Dia ternganga mendapati Athena bisa langsung ke bukaan enam tanpa rasa sakit yang berarti.Otaknya seketika melayang ke ucapan Sissy, istri Shane yang seorang obgyn. "Suaminya pandai buat jalan."Saat itu Valin tidak ngeh maksud ucapan Sissy. Sampai sang dokter yang dulu sering makan bareng di kantin itu berbisik di telinganya, barulah dia paham."Aku keluar kalau begitu."Valin buru-buru undur diri. Dia tahu ini bukan ranahnya. Tapi Luis segera menahannya."Mau ke mana?""Kalian yang tangani kan?""Mana bisa begitu. Arthur akan ngamuk kalau kami para laki yang menangani persalinan Athena. Seja awal dia sudah order, semua harus perempuan," sambar Luis cepat."Karena dia lahiran di luar prediksi, sejujurnya kami tidak siap. Dan seperti yang kamu lihat, kita kekurangan staf perempuan. Jadi, kamu tinggal. Bantu kami."Paula si dokter kandungan turut bicara."Ta-tapi?""Sudah pernah membantu persalinan sebelumnya?""Sudah, sekali.""Good, itu c
Carry nyaris melayangkan pukulan pada Bryan. Enak saja pria itu minta dilayani di kasur hanya untuk meloloskan keinginan Viona."Enggak sudi.""Ya sudah. Pintu keluar ada di sana." Bryan menunjuk pintu dengan dagunya. Bibir tipis lelaki itu melengkung sedikit. Carry menggigit bibir di tempatnya duduk. Jika dia pulang dengan tangan kosong. Viona pasti akan menangis. Meski diam-diam. Viona terlalu tangguh untuk menunjukkan kelemahannya di depan Carry. Lagi pula ini adalah kali pertama gadis itu mendapatkan barang yang sangat dia inginkan.Sembilan ribu dollar. Kerja sampai patah tulangpun mungkin Carry tak sanggup mendapatkannya. Namun di tangan Bryan, uang sebesar itu terbilang sedikit.MDE adalah salah satu PH (Production House/ rumah produksi) dengan banyak artis besar bernaung di bawahnya.Jumlah series, drama, film juga variety show yang diproduksi sebagian besar sukses di pasaran. Bisa dibayangkan sekaya apa Bryan. Satu hal yang tidak Carry ketahui. Selain CEO MDE, Bryan punya
"Apa ini?" Valin menyentuh kotak tersebut."Kata adikmu aku cuma main-main menikahimu. Padahal tidak. Aku serius."Valin dan Vante saling pandang. Lantas sama-sama membuka kota itu. Bola mata Valin melebar cantik. Sedang Vante langsung melotot melihat sebentuk cincin di dalamnya."Ini untukku?" Val
"Jangan bohong padaku!" Suara Zen meninggi."Aku tidak bohong. Dan kenapa juga Tuan mendadak peduli pada keadaan saya. Hubungan kita cuma sebuah kontrak. Tidak perlu sampai begitu jauh."Zen sesaat tercekat. Namun detik berikutnya dia tersenyum. Inilah Valin, istrinya bisa balik menggigit bila teru
"Mereka sudah ditangkap, tapi mereka pilih mati dari pada buka suara."Mark melapor dengan wajah masam. Dia paling benci kalau misinya gagal. Mark adalah salah satu yang paling kejam di antara mereka. Boleh dikatakan dia setara dengan Zen soal kesadisan.Shane yang berdiri di sebelahnya hanya mengg
Sementara itu di luar ruangan Vante. Valin berontak dalam pelukan Zen. Dia meronta ingin melepaskan diri. Tapi rengkuhan Zen terlalu kuat untuk dia lawan. "Lepaskan aku! Aku ingin melihat Vante!" "Tidak!" Tegas Zen tanpa kompromi. "Tuan, dia adik saya. Saya ingin bersamanya." "Nanti!" Satu ka







