Se connecterCarry nyaris melayangkan pukulan pada Bryan. Enak saja pria itu minta dilayani di kasur hanya untuk meloloskan keinginan Viona."Enggak sudi.""Ya sudah. Pintu keluar ada di sana." Bryan menunjuk pintu dengan dagunya. Bibir tipis lelaki itu melengkung sedikit. Carry menggigit bibir di tempatnya duduk. Jika dia pulang dengan tangan kosong. Viona pasti akan menangis. Meski diam-diam. Viona terlalu tangguh untuk menunjukkan kelemahannya di depan Carry. Lagi pula ini adalah kali pertama gadis itu mendapatkan barang yang sangat dia inginkan.Sembilan ribu dollar. Kerja sampai patah tulangpun mungkin Carry tak sanggup mendapatkannya. Namun di tangan Bryan, uang sebesar itu terbilang sedikit.MDE adalah salah satu PH (Production House/ rumah produksi) dengan banyak artis besar bernaung di bawahnya.Jumlah series, drama, film juga variety show yang diproduksi sebagian besar sukses di pasaran. Bisa dibayangkan sekaya apa Bryan. Satu hal yang tidak Carry ketahui. Selain CEO MDE, Bryan punya
"Digugurkan," gumam Valin.Dia masih ada di balkon. The Palace benar-benar tempat yang menawarkan ketenangan yang hakiki. Tidak berisik tapi tetap memberi kesan hangat.Meski sepi tapi nyaman untuk ditinggali. Ditambah hamparan hutan pinus di depan sana. Valin seperti diajak healing tiap saat.Perasaan itu membuat suasana hati Valin terasa lebih baik. Pikirannya jernih meski kelebatan bayangan Zen selalu muncul di benaknya.Di mana dia? Pertanyaan itu datang silih berganti di benaknya. Pria itu, dia suaminya dan dia mencintainya. Kini dalam rahimnya tumbuh buah cinta yang selama ini tak pernah terlintas akan dia miliki."Aku harus apa?" Katanya penuh kebimbangan.Valin masih menerawang ketika pintu kamarnya terbuka. Dia menoleh guna mendapati seorang wanita berambut hitam mendekat ke arahnya.Di tangannya ada dua piring berisi hidangan yang menguarkan aroma yang menggugah selera Valin. Hanya ketika sang wanita telah berdiri di hadapannya, Valin baru menyadari kalau perempuan tadi ham
"Pergi sana!" Jody berniat menutup pintu. Namun Kian menahan benda persegi tadi menggunakan kakinya."Dy, biarkan aku masuk.""He! Siapa kamu bisa masuk ke rumahku.""Aku kan tamu. Masak gak dibiarin masuk.""Aku gak ngundang kamu.""Tamu kan memang gak diundang."Jody melotot mendengar jawaban Kian. Sungguh menyebalkan.Adu dorong pun terjadi. Sudah bisa ditebak siapa pemenangnya. Hanya dengan satu sentakan, Kian memenangkan adu dorong pintu itu.Jody nyaris tersungkur, andai Kian tak menahan pinggangnya."Maaf," kata Kian sambil memperhatikan Jody yang terkejut.Kian tak kalah kaget melihat tampilan Jody. Rambut panjang yang messy tapi seksi. Juga tank top longgar yang memperlihatkan kulit mulus Jody. Sesuatu yang tidak pernah dia lihat sejak mereka kenal tiga bulan ini."Lepas!"Eh! Serba salah Kian jadinya. Dia ikuti Jody yang berjalan dengan langkah limbung ke sofa. Di sana dia langsung mendudukkan diri. Tak peduli pada Kian.Pria itu berdiri diam di tengah ruangan. Memindai tem
"Tekanan yang dia alami pasti sangat besar.""Itu sudah jelas," sambar Arthur.Arthur dan Lexi sedang menunggu Valin ditangani. Wanita itu tidak sadarkan diri dengan darah mengalir sepanjang kaki.Saat ini ada Luis, Max, Sylus dan Iriana di dalam sana. Ditambah seorang dokter kandungan yang turut merawat Valin."Aku heran. Dia mana Zen. Kita sudah melakukan pencarian. Menyisir sungai dari ujung ke ujung. Menggeledah hutan. Mencari via satelit. Tapi dia belum ketemu juga. Dia belum meninggal kan?"Kalimat terakhir dibisikkan oleh Lexi. Dia takut ada yang dengar lalu dia kena tembak. Bagaimanapun keadaan Zen belum pasti. Mereka sepatutnya tidak sembarangan bicara. Termasuk Lexi."Aku pikir belum. Lebih mudah menemukan mayat. Dibandingkan mencari orang yang masih hidup." Arthur memberikan pandangannya."Tapi cari orang mati juga susah. Jika dia terkubur di air.""Mereka akan menemukannya jika Zen telah meninggal. Tapi kali ini, aku yakin dia masih hidup."Bersamaan dengan itu pintu tempa
"Ibu." Teriak Vio dengan wajah berbinar senang. Sejak kemarin dia tak melihat Carry. Kali ini mereka bisa bertemu lebih awal. Biasanya Vio hanya bertemu ibunya saat pagi hari sebelum berangkat sekolah.Carry sering pulang larut malam. Dia akan tiba di rumah setelah Vio tidur."Ngapain kamu di sini?" Carry buru-buru mendekati Vio. Sang putri sudah berganti pakaian. Gaun cantik dengan rambut dikuncir dua. "Nemenin Papa kerja." Telunjuk Vio mengarah pada Bryan yang duduk di balik meja berpelitur mewah. Gayanya sungguh seperti CEO betulan.Ah, tapi Bryan memang CEO MDE. Jadi dia tidak bohong."Sudah makan?""Sudah.""Jangan kentang goreng.""Enggak. Dia makan siang dengan menu komplit sama sayur dan buah. Kamu bisa cek kalau tidak percaya."Jawaban Bryan membuat Carry menoleh. "Apa maksudnya itu?""Aku hanya berbagi tugas denganmu. Kamu sibuk, aku bisa urus Vio.""Ibu mah sibuk terus," protes Vio.Carry mendelik. Sedang Bryan hanya mengangkat bahunya. Seolah ingin mengatakan, "See, aku
"Bagaimana bisa?"Perkataan Kian yang sedikit meninggi membuat Jody mengerjap. Dia perlahan membuka mata, guna mendapati ruangan bernuansa putih menyambut visualnya.Rumah sakit, Jody yakin itu. Ditambah aroma desinfektan yang lumayan mengganggu indera penciumannya.Dia menoleh, saat itulah dia melihat sosok Kian berdiri membelakanginya. Lelaki dengan punggung lebar terbalut kemeja hitam sedang bicara dengan Mark melalui ponsel."Kiehl dibawa Arthur artinya dia bakal tamat. Lucio sudah pasti mati. Lalu Zen?"Kiehl sudah ditangani. Itu maknanya dia sudah aman. Organisasi tak mungkin memburunya. Jody menghela napas. Rasanya sesak dan menyakitkan. Semua selesai, dan dia bisa pergi. Tepat ketika Jody berusaha bangun. Kala itulah Kian melihatnya. Pria itu lekas membantu, tapi Jody hanya memberinya tatapan tajam penuh peringatan."Maafkan aku," ucap Kian dengan dada sama sesaknya. "Tidak perlu minta maaf. Urusan kita selesai sampai di sini. Terima kasih sudah menolongku.""Apa maksudmu se
"Halo, Lin. Bagaimana kabarmu?""Aku baik, kamu?"Satu panggilan datang dari Xavier. Pria itu memang sudah lama tidak muncul. Zen sengaja membuatnya sibuk. Bagaimana bisa? Pria itu selalu punya cara untuk menjaga wilayah teritorialnya.Keduanya berbincang cukup lama, sampai suara pintu yang dibuka
"Zen, aku pulang. Mau mandi. Mau meluk bear dan si putih.""Mandi aja di sini."Zen menjawab sambil berkacak pinggang. Valin memejamkan mata lelah. Zen marah lagi."Gak punya baju ganti." Tubuhnya terasa lengket. Dia ingin berendam kalau bisa. Dan kamarnya di The Dream adalah tempat ternyaman untu
"Sudah datang?"Zen mengangguk guna menjawab pertanyaan Mark. Mereka sedang ada di gudang senjata. Bukan untuk pengiriman, tapi untuk sebuah misi.Beberapa waktu terakhir senjata mereka sering dipalsukan. Dikirim ke beberapa pembeli lokal menggunakan nama kelompok Zen. Mereka menjualnya dengan harg
Di tempat lain pula, ada sepasang manusia yang masih tidur saling berpelukan. Vante bertelanjang dada, sedang Maria masih mengenakan kemeja. Walau begitu kancingnya nyaris terbuka semua. Selain itu bekas merah nyaris biru keunguan terlihat jelas di dada dan leher Maria. Di bahu pun ada.Ketika Mar







